Nomor dua belas, menjadi pemberontak. Cek!
-Nata-
●●●●●
"Lo telat tujuh menit lebih delapan belas detik." Revan berdiri tegap di gerbang sekolah seperti satpam, melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Sebelah tangan yang lain dia masukkan dalam saku celana, membuat pose cowok itu makin terlihat keren. Beruntung Revan dilahirkan dengan fisik di atas rata-rata. Lihat, hanya berdiri diam seperti itu pun ketampanannya tetap menarik perhatian para siswi yang lalu lalang melewatinya.
Sementara itu, Nata membungkuk dengan tangan menumpu lutut di hadapan Revan. Ngos-ngosan. Bahkan peluh sudah membanjiri dahi hingga lehernya. "Bentar," lirihnya membutuhkan waktu untuk mengatur nafas hiperventilasi-nya kembali normal. "Gila! Anjingnya Kang Supri tiba-tiba ngamuk. Aku jadi harus lari sampe sini. Padahal aku nggak telat kalau naik angkot. Tapi gara-gara Rediazford, si anjing rabies itu, aku jadi ketinggalan! Tapi kamu tadi bilang aku telat tujuh menit lebih delapan belas detik, kan? Padahal ini sudah jadi rekorku berangkat terpagi sejak sekolah," akunya setelah dirinya lebih tenang.
"Lo tadi sampai sini jam enam lebih tiga puluh tujuh menit delapan belas detik. Dua puluh dua menit empat puluh dua detik sebelum bel masuk. Tapi perjanjian tetap perjanjian. Walaupun kelebihan setengah detik pun namanya tetap terlambat," tegas Revan tanpa rasa iba.
Reinata menegakkan badan sambil bersidekap memutar bola matanya malas. "Please, jangan ngomongin hal teoritis begitu sama aku! Aku pusing pagi-pagi udah disambut minyak jelantah yang berdiri sok cool sambil bilang 'Lo telat tujuh menit lebih delapan belas detik'. LOL. Permisi, Bang? Sekolah manapun, jam enam lebih tiga puluh tujuh menit delapan belas detik itu belum telat, yes? Intinya aku bukan telat, tapi ditelatin itu saja!"
Revan tidak menyangkal. Tetap berdiri dengan posisinya yang sama. Dia sok keren banget. Nata jadi pengen ngupil gara-gara lihat gayanya. Sayangnya, dia emang keren. Nata nggak jadi ngupil. Kakinya bahkan nggak bergeser sesenti pun. Saat inilah Nata mulai bepikiran yang tidak-tidak. "Van, kakinya digeser sedikit bisa? Aku takut kakimu berakar lalu berubah jadi biji tanaman raksasa. Dan itu bikin aku ingat sebuah dongeng. Jack and Gigant Slayer. Dongeng yang paling nggak aku suka karena dalam dongeng itu ada tokoh raksasa. Sedangkan aku nggak suka raksasa. Raksasa itu kerjanya pasti habisin makanan. Susah bergerak kalau di dalam rumah. Bokongnya apalagi, pasti gede dan nggak ada semok-semoknya. Dan kalau buang hajat pasti segajah."
Revan menekuk alisnya. "Gue dua tahun lebih tua dan lo masih panggil gue 'Van'?"
Nata menyerah. Demi terhindar dari hajat segajah!
"Oke oke, KAK REVAN!" Reinata memutar bola mata untuk yang kedua kali. "Tapi kakinya digeser sedikit, please! Aku takut kakimu nanti berubah jadi akar dan akhirnya kamu tumbuh jadi pohon raksasa. Apa kamu nggak takut ada raksasa jahat yang turun ke bumi dan musnahin penduduk Constellations High?"
Hening.
"Jalan jongkok sampai ruang OSIS, sekarang!" titahnya sambil berlalu pergi.
Sial.
●●●
Beruntung Reinata berangkat pagi sehingga belum banyak mata-mata hina melihatnya berjalan jongkok menuju ruangan OSIS. Semua perintah Revan telah ia turuti termasuk memakai seragam biru putih dan papan nama bentuk beruang yang menggantung di d**a dan punggungnya. Demi video laknat Revan! Terkecuali pada tampilan rambut ombrenya yang masih sama saja.
Seorang siswi berpakaian olahraga sengaja melempar gelas plastik bekas milkshake cokelat ke rambutnya yang ia kuncir kuda. Sisa milkshake itu pun tumpah membasahi rambut kanan hingga seragam putihnya di bagian bahu. Reinata shock berat, langsung menegakkan badan hendak mengejar siswi kurang ajar itu.
Murid-murid yang menyaksikannya tertawa puas di sela bisik-bisik cemoohan mereka lagi. Nata tahu, sia-sia dia mengejar gadis sialan itu karena jarak mereka sudah terlampau jauh. Dia pun hanya mampu menghela nafas menyerah dan kembali berposisi jongkok, melihat punggung si gadis kurang ajar yang hampir tidak terlihat.
Dia melotot nyalang ke sekelilingnya. "Karma itu ada buat para orang yang ketawa lihat orang lain menderita! Keselek laler mampus lu pada!" sindirnya keras saat para murid mulai mengitari tempatnya berjongkok dan menertawakannya tanpa ampun.
"Haha...nggak ngaca lo? Itu kalimat harusnya buat lo, dasar g****k!" hujat seorang siswi dibenarkan oleh teman-teman sekomplotannya.
"Ih, keluar aja, deh lo daripada ngotorin sekolah ini."
"Jangan-jangan lo berandalan gini cuma tak-tik biar bisa deket sama Kak Revan, yah?"
"Sadar, dong. Cewek kayak lo mah tipe murahan! Sawer dikit aja mau...hahaha...,"
"Kok, diem aja? Mlempem gitu. Mau nangis, ya? Cengeng amat, sok-sok an banget."
Oke fix. Mereka berani sama aku kalau keroyokan bareng-bareng. Reinata tidak berekpresi atau bereaksi apapun. Dia meneruskan jalan jongkoknya tanpa peduli dan membayangkan bahwa komplotan pengecut itu tidak ada di sekelilingnya. Harapannya begitu. Tapi pada kenyataannya, seorang siswa bertubuh pendek tiba-tiba menendang kaki kirinya hingga Reinata terjerembab. Bersusah payah gadis itu kembali bangkit, sedangkan tawa mereka kian menggelora.
Hmm, jadi gitu toh, karma hanya ada buat orang-orang kayak aku. Hhaha..., dalam hati Nata tertawa masam.
Revan telah berdiri bersandar pada badan meja sambil bersedekap di depan d**a saat Nata buru-buru masuk ruang OSIS dan segera duduk di lantai, meluruskan kakinya di depan Revan. Laki-laki itu terdiam, memperhatikan kelakuan Reinata yang tidak ada manis-manisnya sama sekali. Sementara yang diperhatikan sibuk mengelap keringat dengan lengan seragamnya, tidak sadar manusia tampan yang sedari tadi terdiam itu tengah mengawasinya tanpa berpaling.
Hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu sehingga Reinata jadi lebih bebas melakukan apapun. Dia tidak peduli ada Revan di situ. Masa bodoh! Anggap saja laki-laki itu tanaman. Nata mengibas-ibaskan telapak tangan di depan wajah merasa kepanasan, sedangkan tangannya yang lain memijat betis yang tadinya ditendang, berharap rasa nyeri itu hilang.
"Nama belakang lo Fernanda?" tanya Revan tiba-tiba keluar topik.
Nata tertegun. "Ng? Iya. Kenapa?"
Revan menggeleng tidak mau mengaku. "Apa mau lo sebenarnya? Ngapain buat onar kalau tahu akhirnya bakal dapat hukuman?" tanyanya kembali ke topik.
"Bahagia, mungkin?" Nata mengedikkan bahu, ragu dengan jawabannya sendiri. Atau mungkin tidak mau mengakui alasannya melakukan semua ini. Revan menatapnya kian intens karena tahu Reinata tidak menjawab serius. Risih dipandangi tanpa henti seperti itu, Nata pun menyerah. "Oke, oke. Aku hanya nggak mau sekolah. Udah itu aja. Simple kan?" lanjutnya lebih serius berharap Revan percaya.
"I don't believe it yet."
"Bawel amat, sih, kamu jadi ketua! Gini lho, aku cuman pengen dikeluarin dari sekolah! Aku nggak akan bisa mengundurkan diri kalau bukan pihak sekolah sendiri yang ngeluarin aku! Karena apa? Karena aku nggak punya alasan buat mengundurkan diri. Orang tuaku ngancam, mereka nggak bakal mau ngirimin uang kalau aku ketahuan bolos sekolah, jadi satu-satunya cara terbaik adalah dikeluarin supaya mereka sadar aku benar-benar nggak cocok jadi anak sekolahan.
"Udah cuma itu. Dan sekarang? Aku malah kejebak sama orang-orang OSIS macam kalian, hingga aku jadi kesulitan buat ganggu hidupnya Pak Martin. Kamu sendiri tahu, kan, kalau aku nggak bakal dikelurin kalau nggak buat onar? Ya, itulah kenapa aku pengen ganggu hidupnya Pak M. Pertama, semakin aku kurang ajar, semakin cepat sekolah ngeluarin aku. Kedua, aku seneng lihat ekspresi noraknya Pak M tiap kali aku ngerjain dia karena dia bakal kelihatan uget-uget gemesih gimana gitu, deh, pokoknya," jelasnya panjang lebar, alih-alih takut Revan Alford menyadari ada ucapannya yang mengandung dusta.
Namun ternyata, cowok itu tidak mengungkitnya lagi. Artinya Revan sudah percaya. Yah, walaupun pertanyaan yang Revan lontarkan selanjutnya cukup membuat d**a Nata berdenyut ngilu. "Apa lo tau kalau di sini lo cuma jadi aib? Lo ganggu, tau?"
Sejenak, Nata menunduk. Samar-samar dia mengangguk tanpa mengangkat kepala. "Aku tau."
"Berapa lama waktu yang lo butuhin agar Pak Martin ngeluarin lo dari sekolah ini?"
"Oh, tentu saja aku nggak diharapkan sama semua orang. Kalian pengen aku pergi secepatnya, kan?" Gadis itu bangkit berdiri, berjalan mendekati Revan yang masih berdiri bersandar pada sisi meja hingga laki-laki itu harus menunduk menatap mata Reinata yang tidak lebih tinggi dari lehernya.
"Kurang lebih begitu." Masih pada posisi bersidekap, Revan mengangguk tenang.
Dalam tundukan kepalanya, gadis itu mengangguk-angguk paham. Kakinya mundur perlahan, tidak mau Revan melihat ekspresi terlukanya. Reinata menggigit bibir memberanikan diri mendongak menyatukan mata besarnya dengan mata elang Revan. "Oke, nggak sampai seminggu, aku pasti udah dikeluarin."
"Batas waktu lo seminggu. Kalau udah lebih dari seminggu...," Revan diam sejenak, memberi jeda pada kalimatnya sendiri. Diperhatikannya wajah Nata lebih dalam sebelum akhirnya mengeluarkan senyum sinis yang tampak angkuh. "Lo harus bersimpuh di hadapan setiap orang, seluruh warga Constellations High, ngaku kalau lo salah dan minta maaf. Termasuk sama Miko," lanjutnya puas.
"O-oke. Aku terima itu,"
Gadis itu melangkah cepat ingin segera keluar ruangan, meninggalkan Revan yang mengekori kepergiannya lewat netra legamnya kemudian menyadari Reinata berjalan pincang. Sempat terbersit di benaknya apa mungkin dia terlalu kejam. Tapi segera ditepisnya pikiran tersebut dari kepalanya. Hanya ini yang bisa dia lakukan mengingat kelakuan liar Nata yang tidak bisa diatur lagi.
Setelah terdiam agak lama, Revan merubah posisi kedua lengannya dari bersedekap menjadi masuk ke dalam saku celana abu-abunya. "Yuan," gumamnya pelan, seolah-olah tidak mau mempercayai nama itu. "Fernanda," gumamnya lagi dengan suara lembut, seakan pemilik nama tersebut akan hilang bila dia menyebutkan namanya terlalu kasar.
"Kalian agak mirip, sedikit," desisnya lagi dan lagi. Kali ini dia menghiasi kalimatnya dengan seulas senyum masam, mengingat memori kecil beberapa tahun silam, tentang kenangan manisnya bersama seseorang yang sampai sekarang belum bisa Revan lupakan.
●●●
Reinata memejamkan mata. Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lewat mulut. Matanya terbuka. Mobil SUV putih yang terparkir di depan tempatnya berdiri ini terpaksa menjadi pilihannya. Susah payah gadis itu mengangkat sebuah tas besar yang di dalamnya terdapat rantai baja.
Misi dimulai.
"Maaf, Pan. Tapi kamu sendiri yang memulainya," gumam Nata mulai berkerja sembari menggigit bibir merasa bersalah.
●●●
Onarisa berjalan kilat menuju ruangan kepala sekolah setelah menerima panggilan telepon tiga puluh menit yang lalu. Siswa-siswi yang ia lewati menatapnya dengan pandangan, 'IUUHHH', atau 'CUIT-CUIITT', atau 'Seksi bener tu tante-tante', atau 'gilakk! Itu pakaian dalam apa bikini?!', atau 'MasyaAllah'. Namun, wanita itu tidak peduli. Ekspresi wajahnya menyatakan 'PERANG' pada seseorang yang menjadi penyebab mengapa ia dipanggil ke Constellations High.
Begitu sampai di depan ruang Kepsek, ia disambut oleh seorang pria berkepala botak. Hal pertama yang terbersit di pikirannya ketika melihat Pak Martin adalah, 'Ada saat di mana orang buta beruntung nggak bisa lihat.'. Namun, pikiran buruknya ini seketika hilang saat matanya menangkap sosok yang hendak ia nyatakan 'PERANG'.
Seorang gadis bertubuh langsing menunduk di sudut ruangan. Bukan karena takut, tapi malas mendengarkan nasihat panjang lebar dari Pak Martin. Pandangan mereka beradu tatkala Nata menegakkan kepalanya kembali dan hal pertama yang ia lakukan selanjutnya adalah membuang muka dari Onarisa. Beberapa murid berdiri di sampingnya pula, namun sedikit menjauh karena enggan berdekatan dengan Reinata. Ekspresi mereka menunjukkan kekesalan dan amarah yang berkobar, kecuali seorang siswa yang terlihat paling tenang di antara mereka. Siapa lagi kalau bukan Revan?
Wanita berpakaian minim itu dipersilakan duduk dan mulailah perbincangan mereka diawali dengan perkenalan. "Langsung ke intinya saja, Pak," pinta Ona setelah mengenalkan diri.
Awalnya Pak Martin ragu harus memulainya dari mana, tampak dari raut muka dan kedua tangannya yang terus bergerak di atas meja. Namun, beliau segera menempatkan diri, berusaha menjadi pihak yang adil. Sekilas pria itu mengambil nafas dalam sebelum menjelaskan panjang lebar. "Baiklah, jadi begini Bu Onarisa. Yuan ini sepertinya sedang ada masalah. Entah apa tujuannya, tapi dia sudah melakukan kenakalan yang tentu saja mengganggu kenyamanan teman-temannya. Maaf sebelumnya, tapi total kendaraan yang mengalami kerusakan karena ulahmya ini ada tiga mobil dan delapan motor. Jadi, saya sebagai kepala sekolah meminta kesanggupan Ibu sebagai wali dari Yuanfei untuk membayar kerugian.
"Dan untuk kelanjutannya, apa Bu Onarisa sendiri sanggup membimbing Yuan agar tidak berbuat keliru lagi? Kalau tidak, masalahnya Yuanfei ini sudah sangat sering mengganggu kenyamanan warga Constellations High sendiri. Untuk rambut saya ini, saya sudah berbaik hati menganggap Yuan tidak sengaja menempelkan permen karet ke mantan rambut saya."
Terkejut mendengar pernyataan terakhir Pak Martin, Ona langsung melotot ke belakang tepat ke arah Nata dengan pandangan 'Kamu berani-beraninya berbuat gitu sama Kepsek botak ini?!'. Reinata mengedikkan bahu seakan perbuatan bejatnya itu setara dengan mengagetkan orang lain.
"Begini, Pak, saya akan membayar berapa pun dan memperbolehkan putri saya mendapatkan hukuman apa pun, asalkan Anda jangan mengeluarkan dia. Saya selaku walinya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan putri saya, Pak," mohon Onarisa dengan segenap rupa ngenes-nya.
Sejenak Pak Martin berpikir, menimang-nimang bagaimana ia harus memutuskan. Setelah memilah banyak kemungkinan, Pak Martin pun mengambil sebuah keputusan. "Kalau Anda sanggup, maka akan saya beri Yuan satu kesempatan lagi."
"Apa? Saya nggak jadi dikeluarin, nih, ceritanya?" Orang pertama yang memprotes adalah Nata--yang mana sudah mewakili protesan murid-murid lain. "Please, deh! Bapak baik amat kayak jin di tipi-tipi yang selalu bilang 'Saya beri kamu satu permintaan' tiap kali dia keluar dari cawan emas. Pak Martin mah bukan jin tapi Saitama. Tau Saitama, nggak, Pak? Itu, lho, yang kayak Biksu Tong Sang Pencari Kitab Suci. Jangan marah, lho, Pak, yang penting, kan, saya nggak bilang kalau Bapak itu mirip Patkai Si Babi Ngepet. Ayolah, Pak, keluarin saya, dong. Masa iya bapak biarin muridnya menghujat kepala sekolahnya sendiri? Untuk permen karet kemarin saya juga nempelinnya sengaja, lho Pak."
Semua orang tertegun ke arahnya, kecuali Revan tentu saja.
Jauh dari ekspetasi, Pak Martin malah tertawa renyah mendengar argumen Nata. "Ya ya. Dasar kamu ini unik sekali. Kalau begitu, saya tidak akan mengeluarkan Yuanfei dan untuk ganti rugi memperbaiki kendaraan para siswa saya serahkan kepada Anda, Bu Onarisa." Kemudian Pak Martin berpaling ke Revan. "Apa Yuanfei masih dalam masa MOS?"
"Masih, Pak."
"Kalau begitu, saya serahkan hukuman Yuanfei sama kamu karena dia masih dalam masa orientasi. Tapi, jangan terlalu keras, ya," lanjutnya memperingatkan.
"Ya, Pak," sahut Revan tanpa emosi yang justru membuat Reinata makin curiga. Aura gelap Revan mendadak menguar menggelitik bulu kuduk Nata hingga berdiri, Tidak sengaja pandangan mereka beradu kurang dari tiga detik sebelum Nata lebih dulu memalingkan mukanya dari Revan Alford.
Habislah aku!
Entah mengapa pernyataan 'DAMAI' Revan terasa lebih mengerikan daripada pernyataan 'PERANG' Onarisa.
●●●●●