Sesulit itukah aku menemukan bahagiaku, Tuhan?
-Nata-
●●●●●
SEBAGIAN tubuh mentari tertutup awan kumulus. Sedangkan angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Walau begitu, pagi ini cukup cerah menurut Ketua OSIS yang hendak memberi hukuman untuk para pelanggar aturan. Revan berdiri tegap menghadap jendela berkaca transparan dengan kedua tangan ia jejalkan dalam saku celana. Mata cokelatnya membidik ke arah luar. Tepatnya ke arah seorang gadis berambut panjang yang duduk riang di atas pohon depan ruang rapat anggota OSIS.
Di samping batang pohon, terdapat tangga lipat berdiri, maka sudah jelas bagaimana cara Nata memanjat. Gadis itu bersandar sambil mengayunkan kaki. Sesekali dia meniup permen karetnya menjadi seukuran bola pingpong, sebelum kemudian meletus dan ia kunyah kembali.
Dedauan segar berwarna kehijauan menyamarkan keberadaannya di tengah-tengah mereka. Nata terlihat seperti peri pohon dengan rambut panjang berayun lembut mengikuti arah angin. Entah mengapa Nata lebih anggun hinggap di pohon daripada menapak tanah.
Seperti hari sebelumnya, hari ini Nata memakai seragam biru putih. Namun, masih saja tidak ada tanda-tanda keberadaan 'rapi' di sana. Hari ini pula sesuai dengan keputusan Pak Martin, Nata akan menjalankan hukuman dari Revan.
"Beneran kamu mau kasih hukuman ini buat dia? Walau kurang ajar, dia tetep cewek lho, Van. Kalau Roland sih nggak masalah." Lui menghentikan langkah hingga berdiri di sampingnya.
"So what?" balas Revan sarkastik. Laki-laki itu berbalik dan kembali duduk, enggan memikirkan perkataan Luiara yang sangat tidak penting menurutnya.
Di tempat, Lui tertegun. "Apa semua cowok emang seberengsek kamu?" desisnya kontan membuat Revan sedikit melirik ke arahnya.
"Apa?"
"Bukan apa-apa."
"Gue kira lo bilang sesuatu." Kamudian Revan berdiri dan meninggalkan ruangan.
Fiuhh...hampir aja kedengaran!
●●●
"Eh, katanya sekarang Pak Martin pakai rambut palsu gaya kribo, ya?"
"Iya, Lin. Pasti lo nggak bakal percaya dia Pak Martin karena sekarang dia kelihatan lebih suram dari sebelumnya. Tadi waktu gue masuk gerbang, tiba-tiba aja dia ada di depan gue. Gue kaget banget. Dia kayak singa kriting-kriting gitu...." Lagi-lagi gosip tidak berkelas itu terpaksa menggetarkan indera pendengarannya. Akan tetapi, Reinata memilih untuk tidak bergeming hingga mereka tidak menyadari keberadaan Nata di atas pohon.
Mata berkontak lensa hitam itu melirik ke arah mereka lewat ekor mata sebelum kemudian terpejam. Bunyi tak berirama dari permen karet yang ia kunyah mengisi keheningan. Seperti inilah yang Nata sukai. Berada di tempat sepi dan sejuk lalu memulai ritualnya untuk berimajinasi. Dihirupnya dalam-dalam angin yang menghembus tubuh Nata, menerbangkan rambut di sekitar telinganya.
Nata kembali membuka mata, kemudian menuliskan sesuatu pada buku bersampul Minion di atas pangkuannya.
'Maksud style-nya Pak Medusa Kribo apaan, sih? Biar kayak Lady Gaga, gitu? Aku bahkan mikir dua kali buat ngelirik dia lagi. Rasanya gemes pengen nutupin itu kepala pake jamban. Begitu.' tulisnya tidak masuk akal.
"Hoi, turun!" Sebuah seruan dari bawah menyadarkan Nata. Dia pun meliriknya lewat ekor mata. Ternyata suara cempreng tersebut berasal dari Sang Wakil Ketua OSIS, Luiara. "Turun sekarang!"
"Salamnya mana? Mentang-mentang udah tua main nyinyir aja."
Lui mendengus kesal dan dengan bodohnya menuruti permintaan juniornya tersebut. Ditahanlah lidahnya sebelum melontarkan u*****n dengan tersenyum sangat lebar. "Assalamu'alaikum, Nat?"
"Wa'alikumsalam. Senyumnya biasa aja bisa nggak, Neng? Daripada nanti molor kayak dalemannya Kang Supri yang dijemur di samping warung buburnya. Ironis, kan?" lanturnya dengan rupa innocent sambil menyangga dagu di sebelah tangan.
Seketika senyum Lui pudar, berubah menjadi helaan nafas panjang. "Turun, Nat." Kini suaranya terdengar lebih dalam dan dia mengatakannya tanpa menengadah, membuat Reinata yakin kalau Lui sudah lelah bermain-main dengannya. Nata pun turun menggunakan tangga yang sudah ia siapkan.
"Aku turun cuma mau tahu dari mana kamu tahu nama panggilan itu?" Alis Nata sedikit mengerut, penasaran bagaimana Lui bisa memanggilnya dengan benar.
"Maksud kamu 'Nat'? Entahlah, aku cuma kepikiran kalau itu nama panggilan kamu, kan?"
"Oke. Demi cacing besar alaska, aku terharu. Ini pertama kalinya ada yang bener nyebut nama panggilanku, karena biasanya orang di sini manggil aku Yuan, Brutal, BJ atau apalah itu. Baru saja kamu panggil aku 'Nat'. Dan kalau boleh jujur aku nggak suka saat kamu panggilnya kayak gitu. Bisa nggak kamu mengeja namaku hingga huruf 'a' terakhir? Nat kedengeran kayak kacang busuk gitulah pokoknya. Tapi kalau kamu nyebutnya Nata, dengan ejaan 'a', itu kedengeran nyenengin jiwa raga. Entah kenapa aku selalu inget pohon cemara kalau ada yang manggil aku dengan ejaan yang benar." Nata meniup permen karetnya menjadi balon besar.
Lui tertegun.
Permen karet Nata meletus.
Lui masih tertegun.
Hening.
"Apa?!" Nata melotot galak.
"Eng...Nggak apa-apa(?)" sahutnya ragu sambil menggaruk kepala.
"Kamu jangan heran begitu. Nama itu penting. Tetanggaku dulu namanya Taira. Kedengaran bagus, sih, tapi waktu gede dia tenggelamin diri di rawa-rawa soalnya temen-temennya pada panggil dia 'Teh t*i'. Maksudnya Teteh Taira. Kasihan banget, kan? Kamu juga nggak mau, kan, kalau seandainya nama kamu itu artinya borok?"
"Emm,...terus aku harus gimana?" Untuk kedua kalinya Lui menggaruk tengkuk, hilang akal untuk berbicara.
"Temen Oom aku dulu punya temen, dan temennya punya simbah, simbahnya punya saudara, namanya Pisang Goreng karena dia laki-laki. Ibunya benci sama kaum laki-laki. Dia menikah juga karena terpaksa. Pisang Goreng waktu udah gede akhirnya ganti nama jadi Alexander."
"Terus, aku harus apa?"
"Nggak apa-apa, sih."
Luiara hanya mampu menghela nafas lelah mendengar ocehan aneh Nata, sementara gadis yang terus mengoceh itu tak henti-hentinya menggerakkan tangan seperti sedang berdeklamasi. "Aku kira itu nggak ada hubungannya sama nama kamu. Mending nama kamu itu artinya kacang. Coba kalau kutil?" Akhirnya Lui mampu menanggapi.
Nata manggut-manggut memberi penilaian pada susunan namanya. "Biasa aja."
"Stop, hentikan pembicaraan ini. Sekarang ikut aku ke lapangan!" Lui melangkah menarik tangan Nata secara paksa agar gadis itu mengikutinya. Reinata pun menurut, atau lebih tepatnya mengabaikan.
Revan, Devon, seorang teman seperjuangannya, Roland, telah berdiri di tengah lapangan menghadap tiang bendera. Roland itu sama-sama preman sekolah. Mungkin kali ini ia akan dihukum bersama Nata untuk pelanggaran-pelanggaran yang hari sebelumnya mereka lakukan. Persis seperti Nata, cowok itu pun memakai seragam SMP. Namun, postur tubuhnya yang bidang dan tinggi sama sekali tidak membuat orang-orang berpikir 'cocok' saat Roland mengenakannya. Walau dilihat dari wajah masih terlihat segar-segar saja. Sangat segar malah!
"Mau apa lagi, sih?" Nata mengerucutkan bibir dan memutar bola matanya malas.
"Lari keliling lapang lima puluh putaran tanpa berhenti," jelas Revan datar.
"Hah?! Kamu lagi nggak keselek laler, kan?" Nata melonjak walaupu ia tahu itu tidak akan berguna.
Sedangkan Roland hanya berkomentar, "Oh." Tidak, itu bukan komentar, melainkan persetujuan.
Udah cuma itu?! Cuma bilang 'oh' disaat aku masih shock kejang-kejang begini? Gilaaa... datar banget lagi wajahnya! Batin Nata masih dengan mulut menganga.
"Khusus Roland tujuh puluh putaran."
Tanggapan 'Oh' yang kedua dari Roland benar-benar membuat Nata ingin menyiramnya dengan air panas.
"Udah gue bilang lo nyerah aja. Keluar dari sekolah ini. Hukuman kayak gini lo nggak akan mampu." Devon ikut menimpali.
"Nyerah itu sama aja pengecut, Von," sindir Revan seraya menyunggingkan senyum ganjil.
Karena sindiran itulah kekesalan Reinata tersulut. "Cih, aku nggak sepengecut itu!" Nata pun mulai menghentakkan kakinya cepat, mengejar Roland yang lebih dulu berlari-lari kecil.
Revan beserta Devon meninggalkan mereka, diikuti Lui yang sesekali menengok ke belakang dengan pandangan resah. "Van, please. Jangan lakuin itu ke Nata." Lui akhirnya ambil suara setelah mereka berjalan sedikit jauh dari lapangan. Revan menghentikan langkah kemudian berbalik ke belakang, tepatnya ke arah Lui. Sedangkan Devon sudah menghilang entah kemana.
"Nata?"
Lui menggigit bibir, bingung harus menjawab apa. "Ermm...,"
"Oke, lupain soal 'Nata'. Jadi, lo kenapa, sih, dari kemarin begitu kalau menyangkut Yuan?"
Lui menggaruk tengkuk, ikut heran dengan dirinya sendiri. Padahal apapun yang Revan lakukan selama ini, dia well-well saja. Tapi entah mengapa sejak kemarin hatinya tidak rela bila Reinata mengalami hal buruk. Seorang gadis aneh yang bahkan tidak ia kenali asal-usulnya. "Aku juga bingung kenapa begini. Tapi rasanya ada yang nggak suka kalau dia dihukum seperti itu."
"Siapa yang nggak suka?"
Lui sempat ragu untuk menjawab. Namun kemudian, dia menelan saliva dan berkata, "Temenku."
Revan menyeringai. "Bukan rahasia lagi kalau seluruh siswa Constellations berharap Yuan nggak ada. Termasuk temen sekelas lo." Kemudian dia pergi meninggalkan Lui yang melemas.
"Ih, maksudnya bukan temenku yang masih hidup," Lui melirik ke lapangan yang dari sudut pandangnya terlihat jelas makhluk tak kasat mata. "...Tapi mereka."
Terlanjur. Revan sudah terlalu jauh untuk mendengar kalimatnya barusan.
●●●
"Aku ada biskuit kacang hijau. Mau nggak?" Nata mengeluarkan bungkusan kecil dari saku celana dan menawarkannya pada Roland saat mereka baru melalui satu putaran.
"Eh, ini bukannya yang gue kasih kemarin, ya?" Roland menerimanya.
"Hmm-mm," Nata mengangguk semangat karena mulutnya telah penuh, "aku heran kenapa makanan orang dewasa nggak bisa seenak makanan bayi kayak begini."
"Gue nggak peduli sama mana makanan orang dewasa atau mana makanan bayi. Yang penting gue suka. Berani taruhan, nggak sampai lima menit lo pasti udah ngos-ngosan?" Roland mengatakannya sembari menguap-uap.
Mereka berdua berlari-lari kecil dengan ritme yang berbeda. Tentu Nata lebih cepat melangkah sebab kakinya jauh lebih pendek dari Roland. Padahal Roland sudah meminimalkan kecepatan berlarinya selambat mungkin agar dia mampu mengiringinya--saking lambatnya sampai Roland merasa dirinya hanya melakukan jalan cepat.
"Nggak, kamu salah! Aku pasti udah ngos-ngosan sebelum menit ketiga."
"Perfect."
Hening. Hingga di menit ketiga, benar apa yang diucapkannya. Katakan saja gadis itu tak-ada-harapan. Merasa kasihan, Roland pun mengajaknya berbicara berharap beban Nata menjadi lebih ringan.
"Apa pendapat lo mengenai Pak Medusa?"
Topik suram.
"Aku nggak akan bisa selesai bicaraku kalau kamu tanya pendapatku tentang Pak M. Banyak hal aneh yang aku lihat darinya. Mulai dari jamban sampai limpahan ketombe di kepalanya. Tapi kalau kamu bertanya pendapat singkat dari aku, Pak M itu nggak ganteng. Itu aja."
"Beneran?" Sebegitu polosnya Nata hingga ia tidak menyadari Roland tengah menahan tawa di sela-sela kalimat innocent-nya dan berapi-api.
"Yah tentu saja. Pernah nggak kamu berpikir kenapa namanya Martin? Nama itu terlalu bagus buat orang kayak dia."
"Gue rasa itu nggak ada hubungannya." Roland pura-pura bingung.
"Tentu saja ada. Bayangin aja ada bunga mawar merah gelap yang mekar di depan wajah kamu. Mawar yang penuh keanggunan tanpa meninggalkan kesan misterinya. Dan aku bersyukur bunga yang mekar itu namanya mawar. Apa kamu pernah membayangkan mawar itu akan tetap indah atau tidak kalau namanya bukan mawar tapi, emm... t*i ayam? Sungguh nggak elegant banget. Oke begini aja, bayangin kalau Pak Martin namanya t*i ayam, sedangkan t*i ayam namanya martin. Mungkin telinga kamu akan denger 'Permisi Pak t*i Ayam? Liat ayam saya yang kemarin ngeluarin martin di sandalnya Bu t*i Ayam nggak?'. Itu bener-bener keren!"
"Lo polos apa b**o, sih?" Mereka berdua terkekeh hingga melupakan lelah selama beberapa saat. Roland pun terus mengajak Nata bicara, hingga di putaran ke lima, akhirnya Nata tak kuat lagi mengeluarkan kata-kata. Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswi mulai mengelilingi mereka berdua. Tak sedikit dari mereka yang mencela, memaki, berbisik, dan tertawa senang melihat Nata tersiksa.
"Kenapa, sih, dia nggak dikeluarin aja?"
"Denger-denger, sih, dia diasuh sama p*****r, ya? Pantes aja penampilannya kayak gitu."
"Apa? Dia diasuh sama p*****r? Hhahah...mungkin orang tuanya nggak kuat ngrawat dia kali!"
"Eh, jangan bilang kalau tante semok yang kemarin datang ke sekolah itu ibu angkatnya, ya?"
"Oh, tante girang yang pakek bikini kemarin itu? Ya, itu yang asuh BJ. Jorok, kan?"
"Bikini apanya? Itu dress, babe. Dress-nya waktu SD dulu, jadi super kekecilan gitu."
"Mama kemarin telepon gue. Kalian tahukan orangtua gue itu perhatian dan protectif banget sama gue. Gue ceritain BJ ke mama, eh dianya malah nyuruh gue pindah kelas. Kalau enggak dia mau dateng ke sekolah untuk nemuin Pak Martin agar BJ dikeluarin."
"Pantas aja nggak ada yang mau sama dia. Orang tuanya aja buang dia ke p*****r biar gedenya sama-sama kayak pengasuhnya...hhahahahaa..."
"Kapok lu, BJ! Mati aja sekalian!"
Pandangan Reinata kosong tatkala mereka mengejek dan menertawakannya. Dahinya berpeluh dan memucat. Deru nafasnya pun terdengar jelas di telinga Roland.
"Woi Yuan, udahan lah! Daripada nanti pingsan, mending ke UKS aja sono!"
"...," Tidak ada jawaban.
Ya Tuhan, aku udah nggak kuat lagi. Disisa umurku, beri aku kesempatan buat ngulitin Revan hidup-hidup, Ya Tuhan! Aku mohon! Kalau aku udah nggak punya kesempatan lagi atau mati setelah lari begini, tumbuhkan kutil segede codot di hidungnya. Dengan begitu aku mati dengan tenang. Nata hiperbola.
Buat juga Pak Martin datang bulan, Ya Tuhan.
Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
●●●●●