Seandainya aku mengatakan semua tentang aku, apa kamu akan menyesal?
-Nata-
●●●●●
"WOI Yuan, udahan lah! Daripada nanti pingsan, mending ke UKS aja sono!"
"...," Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
Luiara.
"Nata dengan ejaan 'a', aku anterin kamu ke UKS." Lui menarik paksa gadis itu hingga dirinya bisa merasakan betapa Nata kesulitan berdiri tegak. Terbukti saat cara berjalannya yang limbung dan beberapa kali hampir terjatuh apabila Lui tidak menahannya.
"Eh, lagi dihukum aja sok-sokan sakit segala. Dasar manja!"
"Jangan-jangan dia nyogok kayak tante semoknya kemarin lagi?"
"Hah? Tante semoknya nyogok? Idihhh...malu-maluin sekolah kita aja. Emang sekolah kita semurahan dia?!"
Bla bla bla...
Murid-murid yang mengelilingi mereka kembali berbisik hal buruk mengenai Nata. "Nggosipnya kurang keras, ibu-ibu," tegas Lui membuat semuanya bungkam. Seruannya barusan bukan lagi sebuah sindiran karena telah disampaikan secara terang-terangan. Kuasanya sebagai Wakil Ketua OSIS, membuat Lui bisa dengan mudah mencari jalan keluar menebas kerumunan. Mau tidak mau mereka satu persatu menyingkir ke belakang, membentuk deretan panjang layaknya jalan.
Sebelum melewati jalan tersebut, Lui sempat menengok ke arah Roland yang sepertinya tidak sadar ikut berhenti berlari dan kini malah terdiam menyaksikan dirinya menjauh bersama Nata. "Nggak ada alasan buat kamu ikut berhenti, Land. Aku ngawasin kamu," peringatnya terhadap Roland membuat laki-laki itu tersentak sebelum akhirnya kembali melanjutkan hukuman.
"Awas aja lo dasar Mak Lampir indigo," seru Roland kesal. Padahal ia hanya berniat untuk membantu.
"Awas aja lo dasar Mak Lampir indigo" gumam Lui menirukan perkataan Roland dengan gaya konyolnya. "Mak Lampir ndyasmu!" sungutnya membuat Nata melirik sedikit.
"Kalian serasi," goda Nata walau dalam keadaan lemas.
"Ssttt. Orang mau pingsan nggak boleh goda-godain."
Lui memapah Reinata menuju UKS. Ia tahu Nata tak punya tenaga lagi walau hanya sekedar membuka mata. Ia tahu Nata akan terjatuh bila saat ini dirinya lengah memeganginya sedikit saja. Lui pun bisa merasakan deru nafas Nata yang sungguh tak beraturan. Mereka berhenti di tengah lorong ketika mendapati seorang siswa menghalangi mereka. Dia membawa jus buah gelasan di tangannya.
Bara. Salah satu pemilik mobil yang menjadi korban kejahilan Nata kemarin.
"Hei hei hei, ada sasaran empuk, nih." Bara menyeringai. Ada sarat kebencian yang terdengar dari nada bicaranya. Dan ia tidak percaya Reinata sakit.
"Bar, please jangan sekarang." Mau tidak mau mereka berhenti berjalan.
Bara mempersempit jarak di antara mereka sambil menitik fokuskan mata elangnya hanya kepada Nata. "Lo pikir dengan hancurin kendaraan orang lain, bisa bikin lo ditakutin? Sadar dong, lo itu cuma aib di sini."
"Bara! Bisa minggir dulu nggak, sih? Dia tu lagi sakit dan nggak akan denger sama apa yang kamu omongin!"
"Okay, silakan. Sambil diminum nih jus mangganya." Begitu terkejutnya Lui ketika jus itu tertumpah tepat di leher Nata.
Reinata tak bergeming. Dia terlalu lemah untuk melawan. Nafasnya makin berat dan mendesak, disertai bunyi 'nging' mendominasi indera telinganya. Pandangannya pun kian kabur dan kelopak matanya sulit untuk terbuka.
Ahh, aku udah nggak kuat!
BRUKKK...
Nata terkulai lemas di lantai. Setengah beban tubuhnya yang bertumpu pada Luiara membuat wakil ketua OSIS tersebut ikut limbung. Dia terkejut bukan main. Termasuk Bara yang masih membawa gelas pelastik bekas jus yang ia tumpahkan.
Lui kembali masuk bersama Dokter Dina yang berlari ke arah Reinata. "Siapa namanya?!" Kedua orang itu bersimpuh di samping tubuh Nata, saling berhadapan.
"Nat Nata," sahut Lui terbata. Saking paniknya sampai Luiara tidak sadar bahwa sosok Bara telah menghilang ditelan bumi.
"Longgarin semua sama lepas sepatunya. Tinggikan kakinya juga!" titah Dokter Dina terhadap Lui sembari membenarkan posisi Nata hingga terlentang. Luiara dengan sigap menuruti semua yang Dokter Dina perintahkan. Kemudian Dokter Dina berlari mengambil tabung oksigen dan segera memasangkan selang kanul nasal tersebut ke hidung Reinata.
"Nata? Bisa kamu dengar saya? Ayo, jangan tidur! Buka matanya! Jangan biarin mata kamu nutup, Nata! Lemesin juga tangan kamu!" Wanita itu memijat kedua tangan Nata agar ketegangan gadis itu memudar. Beberapa kali Dokter Dina pun menepuk-nepuk pipi gadis itu, berusaha membuatnya terjaga.
"Nata, kamu denger suara kami, kan? Ngomong sesuatu Nata!" Lui ikut menimpali. "Apa pun itu omongin. Atau nangis aja kalo nggak bisa ngomong! Nat, jangan pingsan, dong!"
Sisa kesadaran Nata membuatnya menurut. Perlahan, isakannya mulai terdengar. Sangat lirih. Air matanya mengalir perlahan dan terjatuh ke bawah. Lui mengambil beberapa lembar tisu, lalu membersihkan sisa tumpahan jus Bara dan mengusap bulir-bulir keringat yang keluar dari dahi hingga lehernya.
"Nad...Nad....," ucapnya hampir tak terdengar. Antara isak tangis bercampur deru nafas berat. Begitu sulitnya gadis itu mengeluarkan suara. Kedua tangannya menegang. Matanya terlihat sulit untuk dipertahankan agar tetap terbuka. Dadanya naik turun tak karuan disertai kepala sedikit menengadah karena kesulitan bernafas.
"Lui, ajak dia ngomong terus. Jangan sampai dia nggak sadar. Lemesin tangannya juga kayak gini. Selalu ingetin dia supaya tetep sadar, ngerti? Ibu mau ambilin selimut buat Nata dulu." Lui menangguk singkat. Begitu Dokter Dina pergi, secepat kilat Lui mengirim pesan kepada Revan.
'KE UKS SEKARANG ATAU KAMU BAKAL NYESEL!'
"Nata? Inget kata Dokter Dina, kan? Ayo, matanya jangan ditutup, kamu nggak boleh tidur, ingat? Aku janji akan manggil kamu dengan ejaan 'a' di belakang kalau kamu nggak tidur sekarang. Tangan kamu kaku lagi, Nata. Lemesin! Ngomong sesuatu. Kamu suka berimajinasi, kan? Nah, ceritain sama aku apa imajinasi kamu hari ini! Ngomong Nata!" Lui berusaha menyadarkan Reinata dengan cara apapun.
"Nad...Nad..."
".....Nada..."
Dokter Dina kembali datang membawa selimut. Ia menyelimuti Nata dari pinggang hingga ke lututnya yang meninggi karena posisi kaki Nata yang lebih tinggi.
Lambat laun nafas gadis itu mulai stabil. Namun, dirinya masih menangis.
"Nata harus ngomong sesuatu." Perintah Dokter Dina. Wanita itu kembali menepuk-nepuk ringan pipi Nata.
"Nad...Nada....aku...me...nyakit....tinya.." butuh waktu setengah menit Nata mengucapkan itu. Mungkin bagi Dokter Dina, apa yang Nata ucapkan bukanlah hal penting. Namun, berbeda dengan Lui. Kedua alisnya tertaut.
"Kalau gitu ngomong. Ceritain aku siapa itu Nada?"
"...S...sa...sudara....ku..."
"Kamu sayang sama dia?"
"..Sa...sang....sangat.."
"Di mana dia sekarang?"
Nata menggeleng. "Mer...merka....jahat....sam...ma....a...ku..."
"Nat Nata! Jangan tutup matanya, Nata! Lanjutin ceritamu. Terusin. Aku pengen denger." Paksa Lui. Ia kembali menepuk-nepuk pipi Nata.
"K-kang Supri..."
"Iya, Kang Supri kenapa?" Lui menanggapi serius seakan Kang Supri adalah teroris internasional dan Lui penggemar fanatiknya.
"A...anjing...nya......mati tadi...malem...ka..kar...rena...kena ra...bies..."
"Oh, lalu gimana?"
"Kang...Sup...supri...nggak sedih...kar...na...d-dua...hari lalu...an...anjingnya...n-numpah...hin sel...selusin...kecap..."
"Kang...Sup...supri...em...emang....bego...," lanjutnya.
Satu jam.
Satu jam tiga puluh menit kemudian.
Mereka bertiga masih dalam posisi yang sama. Namun, kali ini, Nata dapat menguasai dirinya kembali.
"Udah baikan, kan, Nata?" tanya Dokter Dina. Gadis itu hanya mengangguk. "Saya tinggal, ya? Kalau kamu udah bisa berdiri, pindah istirahat di kasur."
Dokter Dina pun meninggalkan mereka berdua.
Lui di sampingnya tertawa pilu sembari mengusap wajah saking leganya. Diusapnya mata karena sedikit berair bersamaan dengan gerakan bahunya yang akhirnya mampu melemas.
"Huh, aku kira kamu..., kamu bakal..., kamu..., ah lupain aja."
●●●
Luiara tersenyum miring. Derap angkah iblis seolah merasukinya. Keganasan gerakan yang bahkan melebihi lelaki itu menghentak menuju tengah lapangan. Matanya membidik sosok ksatria kegelapan yang tengah berdiri di hadapan Roland. Membicarakan suatu hal. Bernegosiasi, mungkin?
Roland yang semula duduk berselanjar penuh keringat mengucur di dahi hingga leher, kontan beranjak hendak berlari menyalamatkan diri ketika mengira Luiara sedang mengincarnya.
"Sumpah, Mel, gue nggak berhenti lari! Gue udah lari tujuh puluh putaran. Lo bisa lihat dedemit, kan? Coba aja lo tanya mereka!" Roland membela diri dengan tampang panik berlebihan sebelum Lui sampai di tempat mereka. Revan yang berdiri memunggungi Lui kontan menoleh.
Tepat saat itulah Lui mengeluarkan serangan dahsyat kepada cowok di hadapannya. Lui memutar tubuh, mengangkat kakinya tinggi dan mengarahkannya tepat ke ulu hati Revan. Satu serangannya cukup membuat Revan Alford membungkuk kesakitan. Setelahnya, Lui kembali berdiri anggun. Sembari tersenyum ganjil, kedua tangannya saling ia gesekkan pertanda 'beres!'.
Roland tertegun. Dirinya berasa diguncang!
Ternyata bukan dia yang tereksekusi. Tapi Revan. Kakak kelas Lui. Teman Lui. Sang Ketua OSIS. Atasan Luiara.
"f**k," Roland mengumpat saking tidak percayanya.
Sebelah tangan Revan memegangi tiang sedangkan satunya mencengkram bekas tendangan Lui yang terasa bedenyut. Kepalanya tertunduk. "Sialan lo, Ra," lirihnya membuat Lui sedikit puas.
"Harusnya lo nggak main-main sama dia, Van." Roland terkekeh. "Mel, Melon, Mas pulang dulu, ya?" goda Roland seraya menaik-turunkan alis tebalnya.
"Apaan, sih?" Lui membentaknya sebal.
"Bye! Gue mau ngemil wortel sambil nonton Masha and The Bear." Roland menyampirkan seragam di bahunya.
"Dasar i***t!" Rutuk Lui sebal.
"Dasar manis," balas Roland santai.
"Ihh!! Diem, Land! Sekali lagi kamu ngomong, aku cebokin, nih!" Lui menghentak-hentakkan kakinya sebal. Roland terkekeh melihat reaksi jengkel gadis itu kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Kamu pengecut, Van!" Ujar Lui begitu Roland telah berlalu.
"Egois!"
"Kenapa kamu nggak nyempetin buat dateng ke UKS?"
Revan tetap terdiam.
"Harusnya kamu bertanggung jawab, kan?"
"Oke, terserah lo mau ngatain gue apapun. Tapi, gue nggak sepengecut yang lo kira." Revan mengangkat wajahnya.
"Omong kosong!"
"Gue emang nggak masuk ke UKS, tapi bukan berarti gue nggak tahu apa-apa tentang Nata."
Lui mengerjap kemudian memiringkan kepala. Sejak kapan Revan panggilnya Nata? Bukannya dia kalau manggil Nata itu Yuan?
"Apa?"
"Nata? Kamu udah tahu kalau panggilannya bukan Yuan, tapi Nata? Berarti kamu denger percakapan kami tadi?" Lui menyipitkan mata.
Revan memutar bola mata kesal. "Gue akan tanggung jawab." Revan bangkit berdiri.
"Jangan-jangan kamu-...," kedua mata Lui membulat tak percaya.
"Apa?" potong Revan sebelum Lui menyelesaikan kalimatnya.
Lui mengangguk tidak jelas tanpa membalas pertanyaan Revan. "Udah ku duga, indera keenamku nggak mungkin meleset. Ada nenek-nenek yang bisikin aku tentang masa depan. Dia bilang akan ada sesuatu yang bakal terjadi di antara kalian." Gadis itu kemudian tertawa tanpa sebab.
"Maksud lo apaan, sih?" Rasa penasaran menyergapi Revan. Sebelah alisnya terangkat.
Lui tersenyum misterius, "Nggak akan aku beritahu."
●●●
Di lain tempat, Bara terdiam dalam kelasnya yang sunyi senyap. Duduk di bangkunya tanpa berniatan bangkit. Matanya menatap ke arah luar jendela tapi pikirannya melantur jauh kemana-mana.
BRUKKK...
Nata terkulai lemas di lantai. Setengah beban tubuhnya yang bertumpu pada Luiara membuat wakil ketua OSIS tersebut ikut limbung. Dia terkejut bukan main. Termasuk Bara yang masih membawa gelas pelastik bekas jus yang ia tumpahkan.
"Tuh, kan?! Kamu, sih!" sembur Lui kepada dirinya.
Hendak membela diri, Bara pun protes. "L-lho...kok gue, sih?"
"Udah liat sendiri dia sakit masih aja digangguin! Tanggung jawab, nih!" Kegaduhan mereka kontan membuat beberapa siswa menoleh sampai hendak mendekati mereka.
Sial, gue bisa disalahin, nih.
"Heh! Kamu kagak mau tanggung-," makian Lui terhenti tatkala tiba-tiba Bara langsung berjongkok dan mengangkat tubuh Reinata dengan kedua tangannya.
"Eh? Tunggu!" Butuh beberapa saat untuk Lui tersadar bahwa Bara telah membawa Nata pergi.
Tubuh mungil yang ia angkat tentu tidak akan membuat tenaganya habis. Reinata begitu rapuh dan Bara tanpa sengaja berpikir seperti itu. Diliriknya kepala Nata yang menengadah, memperlihatkan leher jenjangnya yang sedikit ternoda oleh jus mangga. Rambut gadis itu terjatuh mengayun ke bawah, membuat kulit wajah pucatnya secara langsung tersentuh angin. Bara kini bisa melihatnya dengan jelas--sebuah paras di balik poni berantakan yang selama ini menyembunyikannya dari orang asing--betapa manisnya dia.
Lantas Bara mengalihkan kesaksiannya dari wajah Nata kembali ke koridor. Cepat-cepat diusirnya pemikiran-pemikiran tidak masuk akalnya dari kepala. Sungguh, ia tidak boleh terlena. Gadis ini, gadis yang menyebabkan mobilnya rusak parah dan bahkan dia jauh berbeda dengan tipenya.
Lui berlari mendahului untuk membukakan pintu UKS. Dia kemudian mencari keberadaan Dokter Dina yang seharusnya berjaga tapi entah kemana tidak ada di sana. Munkin saja Bara terlalu salah tingkah sehingga dengan bodohnya menurunkan tubuh Nata di lantai dekat pintu masuk, lantas berlari meninggalkan UKS dengan tangan kiri menutup bagian bawah matanya, menyembunyikan rona merah yang sepertinya timbul akibat Nata.
Bara kembali tersadar di alam nyata. Dia pun menopang dagu dengan tangan bertumpu meja. "Kalau dilihat-lihat, ternyata Yuan nggak jelek, ya?" desisnya mengisi senyapnya ruangan.
●●●●●