(Justin)
Aku membuka mataku dengan pelan saat mendengar sebuah dentingan suatu benda. Aku memutar kepalaku ke arah kiri untuk mencari di mana sumber suara itu berada. Aku menyipitkan mata agar untuk bisa melihat lebih jelas.
"Oh, maaf menganggu tidurmu."
Mataku membulat saat melihat seorang perempuan berambut panjang berwarna coklat brunette, pandangan matanya membuatku tercekat. Kedua bola matanya yang berwarna coklat keemasan atau amber membuatku menahan nafas. Kedua bola mata unik itu yang sangat cantik jika terkenal pantulan cahaya, membuatku ingin terus mengajaknya ke tempat terang. Kedua bola mata itu juga yang membuat ingatan masa lalu melintas lagi di otakku.
Bola mata itu.. Ya.. Kedua bola mata itu!
"Er... Justin?"
Suaranya membuatku tersadar setelah berpikir beberapa saat. Aku terbatuk pelan dan menyumpah dalam diriku. "Maaf. Warna bola mata anda sangat indah dokter," jelasku asal agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman di antara kami berdua. Ia tertawa kecil dan tersenyum padaku, melihat cara tertawanya dan senyumnya membuatku teringat akan seseorang yang nyaris kulupakan selama ini.
Ini sebuah kebetulan atau apa?
Jantungku berdetak tidak karuan melihat perempuan yang berdiri di hadapanku ini. Aku menggigit bibirku pelan dan mencoba menarik nafas dengan stabil setelah menyadari bahwa beberapa kali sudah menahan nafas, dan mulai timbul perasaan aneh ketika dengan melihat perempuan ini.
Ia berdeham pelan, "Vania akan membawakan makan pagi untukmu nanti. Jika butuh sesuatu tinggal tekan tombol di samping ranjang." Ia menunjuk tombol yang di maksud lalu berjalan. Namun baru beberapa langkah berlalu, ia pun kembali berhenti tepat di depan ranjangku. "Barusan aku menyuntikkan obat. Jika kau merasa mengantuk itu wajar. Semoga lekas sembuh,” ujarnya seraya tersenyum.
Senyum itu! Senyum yang selalu kuingat saat aku tidur di malam hari. Senyum yang selalu aku kurindukan selama 20 tahun. Senyum yang selalu kucari...
"Justin! Justin! Look!"
Suara perempuan dan senyum lebarnya yang khas kembali menghampiri ingatanku. Aku menggigit bibir pelan dan membuka selimutku dengan kasar. Aku harus memastikannya, dia orang yang kucari selama ini atau bukan.
"Hei, Just—apa yang kau lakukan?"
Kepalaku terangkat melihat kedua saudaraku yang baru saja masuk. Tangannya menunjuk kakiku yang sudah berada di pinggir ranjang, aku berniat lari untuk mengejar dokter perempuan itu. Aku mencoba meredakan rasa penasaran dan menggunakan sendal rumah sakit. Di otakku hanya ada satu hal. Aku harus tahu dia orang yang kucari atau bukan.
"Wow, wow... Justin! Kembali ke ranjangmu sekarang." Nicholas menahanku yang baru saja mau berdiri. Aku mengerang karena ia mencoba sebaik mungkin menghalangi tindakankuku. "Kau butuh istirahat Justin."
Aku mengacak rambutku frustasi. "Kau tidak akan percaya apa yang kutemukan!"
Nicholas berdecak dan menatapku dengan tatapan tentu-saja-aku-tahu, "Perempuan cantik lainnya? Kau harus menghentikan kebiasaan playboy milikmu Justin."
Aku mengernyit dan menatap Nicholas dengan tajam. "What? No! Dia cantik tapi—"
"Nah, dia playboy," kata David, adikku, membenarkan Nick.
Aku menatap s***s mereka berdua yang sudah berjabat tangan penuh kemenangan. "Kalian mau dengar atau tidak?!" tanyaku kesal dan mulai kehilangan kesabaran. Di saat kami masih beradu pendapat, pasti dokter itu sudah menjauh dari sini.
"Kita hanya bercanda Justin-Boy. Baiklah, apa yang kau temukan?" tanya Nick yang sedang melipat kedua lengan berototnya di depan d**a.
Aku menarik nafas dalam. "Angela. Our Angela." kataku serius.
Prang!
Kepala kami bertiga menoleh ke arah pintu di mana sumber suara itu berasal. Mataku membulat melihat vas yang pecah bertebaran dengan bunga dan air yang sudah berantakan di lantai. Pandanganku menatap naik dari lantai sampai ke ibuku yang sudah menatap dengan tatapan kaget. Tubuhnya bergetar sambil dan berjalan ke arahku dengan menahan air mata.
"W..who?" Suara seraknya membuatku menelan ludahku dengan susah payah.
"Kau serius Justin?" Kali ini ayah dan kakak menatapku dengan tatapan kaget.
Aku menelan ludah sekali lagi dan mengangguk pasti. "Dokter tadi pasti Angela! Kedua bola mata uniknya yang membuatku ingat akan kembaranku sendiri!"
"O..our Ang...Angela?" bisik ibuku terbata-bata, mencoba mengulang apa yang kumaksud. Ayahku meremas tangan ibu dengan kuat sambil terus berbisik di telinganya agar bersikap tenang.
"Aku bisa buktikan. Ia bilang jika aku butuh sesuatu aku bisa memanggilnya. Biarku panggil," kataku sambil menekan tombol di samping ranjang.
Tidak lama kemudian seorang suster datang. Ia sempat berhenti melangkah karena kaget melihat pecahan vas tidak jauh dari tempatnya ia berdiri.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan rasa penasaran ditambah melihat pecahan vas bunga, ia berpikir mungkin telah terjadi sesuatu di sini.
"Kami ingin bertemu dengan dokter yang tadi memberikanku obat." Aku menunjuk beberapa bungkus obat di meja samping ranjangku.
Suster itu mengerutkan kening dan tampak untuk berpikir sejenak. "Ah..… Dokter Angela sedang melakukan tindakan darurat untuk pasien yang baru masuk. Begitu ia selesai, saya akan memberitahunya." Ia membungkuk pelan. "Saya akan panggilkan seseorang untuk membersihkan pecahan vas ini. Permisi." Ia membungkuk lagi dan berjalan keluar.
Aku menunjuk kedua saudaraku yang sudah membatu. "Kalian dengarkan?! Itu Angela!"
Nicholas berdeham dan menatapku kaku. "Let's hope she is our Angela.."
-----
(Angela)
Aku merenggangkan otot-otot tubuh yang sudah mulai meminta istirahat. Entah kenapa UGD hari ini sangat ramai. Tanganku memijat bahu perlahan dan kuletakkan tubuh ke kursi ruang kerja dengan kasar. kemudian meletakkan kepala ke sandaran kursi lalu perlahan memejamkan mata yang mulai terasa sakit. Sepertinya aku harus melepaskan softlens karena mataku mulai terasa lelah.
Aku berjalan kembali menuju tempat cuci tangan di sudut kanan ruangan, bertolak belakang dari arah ranjangku. Tanganku mengeluarkan softlens dari kedua bola mata dan meletakkannya pada tempat semula. Aku mengernyit, menyadari penglihatanku yang buruk. Sebagian besar apa yang kulihat buram atau berbayang. Aku dokter yang tidak bisa menjaga kondisi mata. Nice. Aku berjalan dengan pelan dan hati-hati kembali menuju ke tempatku semula untuk menggunakan kacamata.
Tok tok tok!
"Masuk," ucapku seraya merapikan mejak kerja.
Mejaku terlalu berantakan. Banyak kertas bertebaran di sana sini dan lagi tumpukan laporan yang belum sempat kulihat semuanya. Hanya beberapa yang sudah kuperiksa. Lalu ada kertas medis lainnya yang belum kusentuh dalam beberapa jam. Kurasa setelah pekerjaan selesai, aku harus tinggal lebih lama untuk merapikan meja kerja ini.
Vania berjalan masuk dan memberiku sebuah kertas tambahan. Lagi. Aku melihat kertas itu, mengecek isinya, lalu menandatanganinya sebelum aku menyerahkan kembali pada Vania.
"Pasien VIP Justin Keith ingin bertemu dengan Anda."
Aku mengerutkan keningku, kenapa lagi?
Aku mengangguk dan mencoba mencatat dalam pikiranku untuk menemuinya nanti saat jam kerja sudah selesai. Kurasa Emily bisa menunggu sebentar untuk pertemuan nanti sore. "Akan kutemui setelah jam kerjaku selesai."
Vania membungkuk sopan dan berjalan keluar ruanganku. Aku menatap tumpukan kertas dan laporan di mejaku dengan malas. Kurasa sudah mulai harus menyicil kucicil pekerjaan yang menumpuk ini.
Tanganku meraih laporan dengan malas. Aku membuka laporan dan membacanya serius. Sesekali tanganku bergerak untuk memberikan keterangan tambahan sebelum menandatanganinya supaya sah. Tanganku berhenti bergerak saat mendengar suara pintuku terbuka.
"Hei! Lunch!" Josh masuk dengan sekantung penuh makanan.
Aku mengerutkan keningku dan tersenyum kecil. "Aku tidak lapar,” jawabku asal.
Josh memandangku dengan pandangan tentu-kau-lapar, kemudian ia menarik lenganku ke arah sofa di sebelah kami. "Ini sudah jam 2 siang, kurasa perut dokter Angela sudah meminta makan walau pemiliknya tidak menyadari. Look, aku membawa makanan favoritmu lengkap dengan minuman teh madu."
"Nah, aku suka kopi." Sudut bibirku sedikit terangkat, membentuk senyum usil di wajah.
Josh menggeleng datar. "Terlalu sering minum kopi tidak baik untuk kesehatan Angela," ucap dengan nada memperingatkan. Di saat seperti ini ia membuatku teringat pada ibuku.
Aku mengangguk selagi tanganku menerima makanan yang sudah dibawakan Josh. "Thanks."
Josh mengangguk dan mengambil porsi miliknya. Gerakan tangannya berhenti ketika menatap wajahku. "Kacamata? Jarang sekali kau pakai kacamata."
"Mataku lelah menggunakan softlens." Aku menunjuk kedua mataku.
Josh tersenyum kecil, "Kau cantik menggunakan apapun."
Perkataannya membuatku tersedak dan mengalihkan pandangan padanya. Pipiku memanas saat mataku menatap tepat di kedua bola matanya. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan perutku terasa aneh... seperti ada sesuatu dalam perut yang berterbangan.