(Angela)
Aku merapatkan jaketku dan menyeberangi jalan dengan cepat saat lampu jalanan berubah warna menjadi hijau. Mataku mengintip jam tangan sekilas lalu mengutuk diriku sendiri.
Emily pasti marah besar...
Emily pasti siap membunuhku...
Emily pasti siap menelanku...
Aku menggelengkan kepalaku pelan untuk menghapus pikiran itu. Kakiku berlari semakin cepat menuju sebuah butik yang tampak bunga bermekaran di depannya. Lavender House. Itu adalah butik pribadi milik Katie, sahabat baik Emily. Aku membuka pintu dengan cepat, dengan rasa panik melihat sekelilingku dan nafas terengah tentunya.
"Ehm, ruang VIP?" tanyaku pada seorang pegawai yang menatapku ragu. Ia menunjuk sebuah lorong kecil untuk menjawab pertanyaanku. "Di sebelah sana, pintu kedua."
Aku bergumam terima kasih dan dengan cepat aku mencari pintu itu.
Krek.
"Maaf aku terlambat," kataku sambil tersenyum minta maaf.
Katie menggeleng dan menyambutku dengan sebuah pelukan. "Angela! No problem. Emily masih sibuk mencoba gaunnya. Mau lihat? Ini gaun tersulit yang pernah kurancang. Semua ini demi sahabatku."
"Kau mulai berlebihan, Katie!" sahut Emily dari balik tirai. "Dan aku belum memaafkanmu karena datang terlambat, Angie!" teriaknya sekali lagi.
Aku tertawa kecil mendengarnya memanggilku Angie lagi. Dulu sewaktu kami kecil, Emily tidak bisa menyebut namaku secara benar jadi ia memanggilku Angie. Setelah ia bisa mengeja namaku secara benar, ia bilang namaku aneh dan ia sudah terbiasa memanggilku Angie. Tapi panggilan itu akhir-akhir ini hilang karena saudara sepupu Edward ada yang bernama Angie.
"Sorry,. UGD sangat ramai hari ini,” ujarku sambil merebahkan tubuh di sofa yang empuk. Katie menuangkan secangkir teh hangat untukku dan berjalan menuju rak bajunya.
Tidak lama kemudian ia kembali dengan sebuah gaun rapi di tangannya. "Yang ini milikmu. Warna sama dengan punyaku tapi model, Boom! Punyamu lebih menunjukan dirimu. Kurasa." Ia tersenyum antusias.
Aku menerima gaun yang ia berikan padaku. Mataku memandang warna dasar gaun itu yang berwarna mint. Warna yang menyegarkan sekaligus membuat nyaman dan tentunya tidak teralu mencolok. Model gaun itu one-shoulder dan memiliki panjang sampai kaki dengan taburan permata putih di bagian tertentu. Desain yang tampak sederhana namun terkesan elegan. Tidak lupa dengan tambahan bunga-bunga mawar kecil hasil jahitan tangan yang menempati beberapa titik dalam gaun itu membuat kesan yang segar.
Aku menaikkan sudut bibirku, puas akan gaun di tanganku. "Waw. Thanks."
Ia mengangguk dan menunjuk tirai. "Setelah Emily kau bisa langsung coba. Kudengar kau sedang sibuk. Kau yakin saat acara pernikahan nanti akan baik-baik saja? Tanpa panggilan tentunya."
Aku mengangguk pasti. "Aku sudah mengosongkan jadwalku untuk hari itu. Josh yang menggantikanku untuk tugas siang. Dia akan bekerja dobel untuk bagiannya dan bagianku. Malamnya ia akan datang ke pesta pernikahan Emily. Ia sudah berjanji."
"Jika kau menghilang di hari terbaikku, kau bukan adikku lagi Angie!" sahut Emily cepat dengan nada memperingatkan.
Aku dan Katie tertawa lalu tenggelam dalam pembicaraan kami mengenai karier masing-masing selagi Emily masih berkutat dengan gaunnya. Tidak lama kemudian tirai dibuka dan Emily muncul dengan wajah khawatir. "Bagaimana?" Ia menatap kami dengan semakin khawatir. "Kurasa aku harus diet." Tangannya mengitari bagian perut sambil membungkuk.
Aku menggeleng pelan, menolak segala ide tentang dirinya yang gendut. "Itu bagus. Sungguh."
Katie mengangguk setuju sambil berjalan ke arah Emily. Tangannya membetulkan beberapa kain yang mengantung, merapikan bagian mengembang, dan meluruskan bagian sarung tangan gaun Emily dengan cekatan. Ia memandangi Emily dengan pandangan meneliti kemudian tangannya membetulkan lokasi bunga yang terpasang di bagian pergelangan tangan kiri dan di bagian perut Emily. "Perfect."
Aku mengangguk setuju. Mataku memandang gaun Emily yang sangat cantik, baik dari segi desain maupun segi karakter. Gaun itu cantik dengan aksen yang sedikit glamor. Warna dasarnya adalah putih cream dengan campuran biru muda dan beberapa permata, serta bunga mawar jahitan tangan yang berwarna senada dengan warna dasar gaun. Tubuh Emily yang tinggi layaknya model catwalk membuatnya ia terlihat semakin cantik dan gaun itu berhasil membuatnya seperti seorang putri.
Emily tersenyum kecil melihat pantulan dirinya di kaca yang terlihat begitu anggun terbalut gaun karya Katie. "Gaunnya cantik."
"Aku yakin Edward tidak akan berhenti memandangimu karena kagum." Katie menepuk tangannya puas.
Emily tertawa kecil, "Well, dia harus berhenti untuk mengucapkan janji di depan semua orang."
Aku dan Katie tertawa membayangkan Edward yang ragu antara mengucapkan janji atau terus memandang Emily selama acara berlangsung.
Katie berdeham pelan untuk meredakan tawanya, "Okay ganti dengan bajumu semula. Hap hap!" katanya sambil memberi kode untuk berganti baju. Tangannya merapatkan tirai yang menggantung lalu kembali mengobrol denganku.
-----
"Bagaimana persiapan Emily?"
Aku berhenti memeriksa kertas laporan. Sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyum kecil untuk Josh yang membawa sebuah minuman berwarna coklat. Aku meminumnya sedikit, alis mataku terangkat melihatnya yang sudah tersenyum simpul. "Cocoa?"
"Better than coffee." Ia menaikkan bahunya dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana yang digunakan.
"Not bad."
Aku melanjutkan minum cocoa yang masih hangat. Cocoa yang ia berikan rasanya sangat berbeda dengan cocoa yang pernah kucoba di toko-toko. Cokelat dalam cocoa ini tidak terlalu kental, sehingga membuat yang meminumnya ingin menghabiskannya bahkan kalau bisa ingin tambah. Sayangnya aku tidak terlalu menyukai cokelat jadi aku tidak terlalu maniak dengan cocoa ini.
Ia menarik kursi yang ada di depanku lalu duduk dengan tenang. "Jadi bagaimana dengan persiapan Emily?"
"Sebentar lagi selesai. Tinggal memastikan buket bunga yang cocok dipadukan antara Lily putih hybrid yang memiliki ujung pink dengan beberapa jenis bunga yang berwarna senada. Emily mau bunga Lily dalam buket itu menonjol karena bunga Lily adalah main-point dalam buketnya. Buket itu dilengkapi dengan kain berwarna cream dan pita yang melingkar di buket berwarna mint." Tanganku menulis laporan dengan cepat lalu menutupnya. "Bagaimana kabar Lotty-ku?" tanyaku dengan antusias.
"Charlotte?"
"Yup. Charlotte adikmu bukan pasien Mark." Aku menunjuk Charlotte pasien Mark yang kemarin baru saja masuk karena permasalahan pernafasan sederhana.
Josh tertawa kecil lalu mengeluarkan handphonenya. Ia memainkan handphonenya sejenak lalu mengarahkannya padaku. "Lotty memintaku untuk menunjukkan gambar ini."
Aku tersenyum melihat foto Lotty yang sedang memakan strawberry cake di perempatan jalan yang tidak jauh dari Rumah Sakit ini. Strawberry cake ini menjadi andalan dari Cake Cafe yang ada di sana. Charlotte, aku, dan Josh seringkali pergi ke sana hanya untuk memakan cake-cake dengan rasa yummy apalagi tempatnya sangat nyaman untuk hangout.
"Dia ingin membuatku jealous atau apa?" tanyaku dengan pipi menggembung, pura-pura iri dengan kue yang ia makan.
Ia mengangguk. "Lotty bilang ingin membuat kau jealous karena tidak bisa ikut dengannya. Ia juga bilang kesibukanmu sangat-sangat tidak bisa di toleransi."
Mataku membulat, "Serius? Dia baru berumur 7 tahun dan sudah bisa berceloteh begitu banyak?"
Ia mengangguk-angguk. "Yup. Jangan remehkan anak berumur 7 tahun. Kemarin saja ia belajar masak pada ibuku."
Aku bersandar pada kursi, "Super. Aku 7 tahun saja hanya bisa menunggu makanan."
Josh tertawa dan mengulum senyum sebagai jawaban atas pernyataanku. Aku tersenyum kecil, cukup puas melihat Josh yang merasa senang hanya dengan pernyataanku. Akhir-akhir ini Josh kelihatan lelah, melihatnya bisa tertawa lepas seperti tadi membuatku cukup senang.
Matanya melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan, "Sebaiknya kita kembali. Kita memiliki janji untuk mengadakan praktek bagi dokter magang."
Aku melirik jam tangan dan mengutuk diri karena lupa dengan janji untuk dokter magang. Aku berdiri mengikuti Josh yang sudah berjalan di depanku.
-----
Aku melihat jam dinding yang cukup besar terpajang di dinding dekat meja informasi UGD. Jam 1 siang. Kurasa aku bisa mengunjungi Justin. Kemarin saat mengunjunginya ia tidak ada di ruangan, mungkin sedang berjalan-jalan di sekitar sana. berhubung Kamarnya terletak di lantai delapan, di mana kamar VIP berada, ada sebuah taman outdoor yang cukup besar.
Aku berjalan ke arah lift dan menekan tombol 8. Tidak lama kemudian lift itu terbuka di lantai yang kutuju. Aku berjalan ke kamar Justin. Tanganku terangkat untuk mengetuk pintunya.
Tok tok tok!
Tanganku turun menuju gagang pintu lalu membukanya secara pelan, aku tidak ingin menganggu kegiatan Justin di dalam karena mungkin saja ia sedang tidur siang.
Krek.
Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum ke arah Justin dan keluarganya yang berada di ruangan ini. "Selamat siang. Saya datang untuk memeriksa keadaan Justin." Aku tersenyum ramah.
Mataku mulai menatap ragu saat semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatapku kaget. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik menatapku dengan tatapan kaget dan penasaran.
Apakah kehadiranku membuat mereka merasa tidak nyaman? Atau ada sesuatu dalam diriku yang membuat mereka seperti orang kaget layaknya melihat hantu?
Aku menggigit bibir pelan, ragu ingin melanjutkan tugas atau tidak di ruangan ini setelah melihat respon seperti ini. Kakiku siap melangkah mundur.
"“Siapa namamu, Dokter?"
Langkahku terhenti saat mendengar suara itu. Aku melihat seorang pria yang bertubuh kekar, berambut coklat gelap, mata yang berwarna coklat tua melihatku dengan tenang. Reaksinya sangat berbeda dengan reaksi pertama kali aku masuk.
Aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokankan yang sudah kering. Aku tidak tahu kenapa rasanya tegang seketika. Juga mulai merasa khawatir dan entah kenapa merasa bahwa akan terjadi sesuatu. Telapak tanganku mulai basah karena keringat. Aku memaksakan sebuah senyum di wajahku yang mulai terasa kaku. Kedua bola mataku bergetar pelan karena suasana yang terbendung sangat dingin. Aku membuka mulutku, "Angela. Angela Marie White."
-----