(Angela)
Aku menggenggam laporan dengan erat saat pandangan mataku bertemu dengan mata Josh. Aku nyaris berdecak saat ia mengalihkan pandangan pada pasien di depannya. Sudah lebih dari 5 kali pandangan kami bertemu dan ia mengacuhkanku terus. Dengan rasa lelah, aku masuk ke dalam ruanganku. Lalu mengikat asal rambutku dan lalu memukul keningku dengan tangan. "Argh!" teriakku asal. Aku frustasi. Aku dan Josh tidak saling bicara sejak kejadian kemarin. Saat pandangan kami bertemu pun ia hanya bersikap acuh.
"Hei hei. Kau sudah dengar? Dokter Joseph dan dokter Angela telah berpisah! Mereka tidak bekerjasama maupun bicara sejak kemarin. Aku dengar dari Vania kejadian ini terjadi setelah menangani pasien lansia yang pulang tadi siang."
Mataku menatap tajam ke arah suara itu berasal, aku yakin orang itu tidak bisa melihatku tapi pasti ia bisa merasakan tatapan tajamku.
"Sst! Kau bicara di depan ruangan dokter Angela!" Orang lain yang mungkin temannya menegur dengan pelan namun masih terdengar olehku.
Aku menghela nafas sekali lagi dan meraih handphone. Kemudian mengetik pesan untuk Emily yang menyatakan kalau aku tidak bisa pulang karena tugas night shift -ku hari ini. Mataku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 lewat. Aku merasakan perutku bergetar dan cacing di perut sudah demo. Aku bahkan lupa tadi siang sudah makan atau belum. Di saat aku lupa makan, Josh yang selalu mengingatkan namun sekarang ia tidak melakukannya. Aku cukup merasa kehilangan. Aku berjalan keluar ruangan menuju kantin rumah sakit.
"Good afternoon, dokter Angela"
Aku mengalihkan pandangan dari deretan makanan yang terpajang rapi di hadapanku. Aku tersenyum kecil melihat Laurent yang tersenyum menyapaku. Ia berdiri dan menarik bangku yang ada di sebelahnya. "Anda bisa duduk di sini. Ini kosong."
Aku mengangguk, "tunggu sebentar," jawabku singkat. Aku mengambil sepiring porsi makanan dan berterima kasih pada pegawai kantin tersebut. Kakiku berjalan menuju bangku yang tadi Laurent persiapkan. "Baru istirahat Laurent?"
Laurent menggeleng pelan, "Aku baru datang untuk night-shift."
"Ah, jadi rekanku hari ini adalah kau." Aku tertawa hambar.
Laurent melihatku serius, "Maaf, tapi apakah rumor itu benar? Anda dengan dokter Joseph—"
"Yeah," potongku cepat sebelum ia menyelesaikan perkataannya.
Laurent menelan ludah dan melanjutkan makanannya dalam hening. Aku berdeham merasakan keheningan yang sangat-sangat awkward. "Bisa tolong sampaikan pada Helena kalau aku memanggilnya ke ruanganku nanti?"
"Helena? Akan aku sampaikan, sepertinya ia belum pulang."
"Memang belum. Dia sedang membantu Josh melakukan pemeriksaan lengkap pada pasien yang akan pulang nanti," kataku sambil sedikit menyesal telah menyebut nama Josh.
Laurent menatapku dengan pandangan seperti menyesali apa yang terjadi padaku dan Josh. Ini bukan salahnya, tapi ia memandangku seolah-olah ini salahnya. Aku tersenyum kecil, "Makanlah kita harus memiliki stamina lebih untuk mengatasi rasa kantuk."
Laurent tertawa lalu mengangguk. "Yes Sir."
Aku menggeleng melihatnya yang bisa merubah ekspresi dengan cepat. Aku mengulum senyum dan memakan makananku dengan cepat.
-----
Tok tok tok
"Masuklah," jawabku tanpa melihat ke arah pintu. Aku masih fokus membaca buku.
"Permisi."
Mendengar suara itu aku mengalihkan pandangan dari lemari buku built-in di depanku. "Oh, hai. Bagaimana pemeriksaan terakhirnya?" Aku tersenyum sambil berjalan menuju meja kerjaku. Helena yang berdiri di depanku menatap bingung. Mungkin ia berpikir aku masih marah. Percayalah, emosiku lenyap setelah kejadian antara aku dan Josh kemarin.
Ia menatapku ragu sejenak namun akhirnya membuka mulut untuk menjawabku. "Pemeriksaan terakhir pasien yang jatuh itu menyatakan bahwa ia tidak mengalami luka serius."
Aku mengangguk lalu menyerahkan sebuah buku yang tadi pagi aku bawa dari rumah. Helena menatapnya ragu sejenak namun tetap mengambil buku itu. Kedua matanya yang lentik memandang buku itu dengan lekat seakan-akan takut kalau ada sesuatu di dalam buku itu. Tangannya membuka buku itu dan matanya membulat melihat isi di dalam buku.
"Buku itu aku gunakan saat aku masih kuliah dulu. Itu hanya copy dari buku aslinya. Di sana terdapat berbagai jenis obat serta cara pemakaiannya, dengan kata lain itu bisa disebut kamus obat-obatan. Bacalah ketika waktu senggang, karena buku itu sangat bermanfaat. Percaya atau tidak, aku juga sepertimu dulu. Selalu membuat kesalahan fatal. Sampai akhirnya seseorang berkata padaku jika hal terpenting dalam pekerjaan ini adalah berpikir jika kau berada di posisi orang tersebut, sehingga kau tahu hal tepat apa yang harus dilakukan." Aku memasukkan tangan ke dalam saku jas dokterku. Sudut bibirku terangkat, membentuk sebuah senyum. "Kesalahan terjadi untuk membuat orang menjadi lebih baik dan kuat, bukan membuat orang tersebut melarikan diri."
Helena menatapku dengan mata yang berkaca-kaca lalu membungkuk, "Terima kasih. Aku akan membacanya." Ia tersenyum ramah lalu segera pergi.
-----
"Angela.."
Aku mengerutkan kening sebelum berguling mendekati dinding. Sebuah tangan yang tak asing bagiku mencoba menggoyangkan bahuku supaya aku bangun. Aku mengerang lelah lalu membuka mata pelan. Tanganku mengusap wajah singkat sebelum meraih kacamata di pinggir ranjang. Aku menggunakannya dan terlihat sosok wanita paruh baya duduk di sampingku. "Morning, Angel."
Aku tersenyum kecil lalu duduk, menguap dan merenggangkan otot-otot tubuhku. "Hai, Mom." Beberapa saat kemudian mataku melebar, "Jam berapa sekarang?" tanyaku kaget saat melihat ibu sudah lengkap dengan seragam dokternya.
Ibuku tertawa kecil melihatku panik. "Jam 9 pagi. Tidurmu pulas."
Mataku semakin melebar mendengarnya. Aku mengutuk diri sendiri lalu berdiri dengan panik.
Jam kerjaku tinggal satu jam lagi dan aku baru saja bangun tidur..
Berapa lama aku tertidur?
Apakah ada keadaan darurat disaat aku tidur?
Tangan ibu meraih kedua bahuku, membuatku tenang dalam hitungan detik. "Tenanglah Angela. Sekarang duduk dan makan ini. Aku menyiapkan sarapan untukmu tadi. Siang nanti Emily ingin kau pulang ke rumah untuk beristirahat penuh."
Aku menurut dan duduk di sofa bersama ibuku.
"Aku mendengar rumor."
Kepalaku menoleh pada ibu dengan cepat. Rumor itu lagi? pikirku dalam hati.
Ibuku tersenyum dan merapikan rambutku yang sangat berantakan. "Ada apa kau dengan Joseph? Biasanya kalian selalu bersama sejak kuliah."
Aku menggeleng sambil memakan makanan yang ibu bawakan. Nasi dengan beberapa sayur dan ayam. Ini enak, tapi karena pertanyaan itu terputar lagi di pikiranku, aku merasa tidak bersemangat untuk mengisi perut. Aku tersenyum kecil dan menatap sendok dengan tatapan sedih. "Kami baik-baik saja. Ibu tidak usah cemas. Bagaimana dengan pekerjaan ibu?"
Ibuku melihat jam dan menghela nafas. "Ah, untung kau mengingatkanku. Beberapa menit lagi aku sudah janji mengadakan operasi. Maaf aku tidak bisa menemanimu sarapan."
Aku menggeleng pelan. "It's fine. Thanks for the breakfast!." ujarku dengan senyum secerah mungkin.
Ibu berdiri, berjalan menuju pintu lalu berputar melihatku singkat. "Saat aku datang, aku melihat itu," katanya sambil menunjuk sebuah gelas di meja kerjaku. Aku mengernyit hendak bertanya tapi ibu sudah menghilang dari ruanganku. Aku penasaran lalu berjalan mendekati meja kerja. Tanganku meraih gelas yang berisi cairan coklat pekat. Aku meminumnya sedikit, "Cocoa," gumamku pelan. Aku tahu siapa yang menaruh ini. Hanya orang itu yang bisa membuat Cocoa sesuai seleraku. Aku menggigit bibir pelan lalu melanjutkan makan.
-----
(Justin)
Aku memperhatikan sekretarisku, Junipher Fields yang sedang memakaikan dasi berhubung tangan kiriku masih kaku akibat gips. Tangannya bergerak merapikan dasi sebelum meraih jas kerjaku yang tergeletak di sofa. "Gerrald akan tiba sebentar lagi."
Aku mengangguk menerima jas lalu memakainya dengan sedikit bantuan June pada bagian tangan kiri. "Okay Thanks." Aku meraih handphone, mengirimkan pesan singkat pada keluargaku kalau hari ini aku keluar rumah sakit dan akan langsung bekerja.
June merapikan berkas-berkas kerja yang berserakan di ranjangku. "Mr. Edward menelepon anda tadi pagi. Ia ingin menanyakan apakah anda bisa datang ke pestanya lusa nanti setelah kejadian tempo hari."
Aku mengangguk pasti. "Tentu. Edward sahabatku, mana mungkin aku tidak datang." Setelah June selesai merapikan berkas, kami berjalan menuju lift. Akhirnya setelah beberapa hari di rumah sakit ini, aku bisa keluar sekarang. Ada perasaan sedikit kecewa karena tidak bisa memantau Angela secara diam-diam lagi, tapi sepertinya Gerrald akan memberikanku laporan bagus setelah ia selesai melakukan penyelidikan.
Aku berjalan masuk ke dalam lift lalu merapikan lipatan lengan kemejaku. "Jadwal hari ini?"
June membuka aplikasi iPadnya, "Makan siang bersama Mr. Cord untuk membahas perjanjian baru, lalu malamnya Mr. Edward meminta anda untuk makan malam bersamanya."
Aku menghela nafas lalu menegakkan punggung saat pintu lift terbuka lagi. "Okay." Aku berjalan menuju pintu keluar dan melihat Gerrald sudah siap dengan mobil baru.
"Hei, bos. Kuharap kau tidak keberatan dengan mobil ini sebagai pengganti mobil yang lama." Gerrald menatapku ragu.
Aku sangat menyukai mobilku yang lama tapi berhubung kecelakaan maut itu menyebalkan, aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah cukup kaget mendengar kabar mobilku hancur parah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Aku menggeleng pelan dan tersenyum pada Gerrald yang telah mencarikanku mobil baru, "No problem."
Aku membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil selagi Gerrald dan June masuk di bagian depan. Tergeletak sebungkus burger di sampingku dengan coke dan sebuah amplop coklat. "Apa ini Gerrald?" tanyaku dengan sebelah alis terangkat.
Gerrald tersenyum dari kaca, "Your presents. Cheese Burger dengan coke dan laporan Angela Marie White."
Angela Marie White...
Nama itu terulang di pikiranku sekali lagi. Otakku berputar mencoba berpikir sejenak dan mengingat nama itu.
Angela Marie White...
Ulangku sekali lagi.
Mataku melebar begitu menyadari nama itu. Aku menyambar amplop itu dengan kasar. Tanganku membuka dan mengambil beberapa lembar kertas di dalamnya. "June. Berapa waktu yang kupunya sebelum makan siang dengan Mr. Cord?" tanyaku pada June tanpa mengalihkan pandangan dari kertas tadi.
"Kurang lebih 2 jam bos."
2 jam? itu lebih dari cukup untukku.
-----