“Xander, kau di sini.”
Xander tertawa ringan melihat wajah terkejut Leona, “Ya, aku di sini. Aku ingin bertemu dengan calon saingan terbaikku.”
Menghela napas sejenak, Leona menatap Xander dengan heran, “Kita tidak akan jadi saingan, Xander. Kita akan pergi ke akademi yang sama bahkan jika namaku berada di bawah namamu.”
Pemuda itu tertawa lagi, kali ini lebih keras, “Itu benar juga. Tapi aku tahu bahwa kau adalah sainngan terberatku dalam seleksi masuk White Mountain.”
“Aku sedikit tenang karena ternyata kita punya poin yang seri, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kau dapat lebih tinggi. Mungkin semua orang akan meragukanku sebagai calon Alpha dan mungkin juga untuk pertama kalinya Craven Pack akan memiliki Alpha dari garis keturunan yang bukan dari Alpha Craven Pack.” Ujar Xander setelah ikut duduk di samping Leona.
“Itu tidak mungkin, kau adalah anak Alpha. Kau bahkan terlahir lebih kuat dari anak werewolf lainnya.”
“Itu benar, tapi tetap saja. Anggota terkuat dalam kawanan akan menjadi Alpha, sekarang setelah aku tahu kau sama baiknya denganku aku harus bekerja keras agar menjadi lebih kuat darimu dan tidak membiarkanmu mengambil alih pack dariku.” Ujar Xander dengan penuh kegigihan.
Dengan tersenyum samar, Leona mengatakan pada Xander, “Mungkin saja jika kita Kembali dari White Mountain, aku akan menjadi warior di sini.”
Mendengar itu, Xander menatap tak percaya pada Leona, “Warior? Aku tiidak pernah tahu jika ada werewolf yang menjadi warior setelah pergi ke White Mountain. Jika kau tidak cukup dominan sebagai Alpha, maka posisi Beta atau Gamma. Kau tidak mungkin hanya jadi warior ketika kau punya kemampuan yang hebat.”
“Berawal dari rogue kemudian menjadi omega adalah sebuah kehormatan, sekarang aku bisa masuk ke White Mountain dan posisiku bukan lagi omega. Lalu kau mengatakan setelah kembali dari akademi dan bergabung bersama kamawanan kita lagi, aku mungkin akan dapat posisi yang lebih tinggi.” Leona sedikit menghela napas seolah lelah dengan sesuatu sembari menghisap sedikit demi sedikit s**u hangat yang dia bawa.
“Mengingat kau adalah rogue dulunya, aku tidak bisa membayangkan jadi dirimu,” Leona memandang Xander dengan sebelah alis terangkat setelah mendengar itu, tapi Xander dengan buru-buru melanjutkan, “maksudku, werewolf tidak bisa hidup tanpa kawanan dan kau bahkan masih kecil saat warior perbatasan menemukanmu. Hidup sebagai lone wolf diusia yang sangat kecil, orang tuamu mungkin tidak sengaja kehilanganmu.”
Tidak sengaja?
“Sekarang aku benar-benar penasaran, dari kawanan mana kau berasal? Kau ditemukan diperbatasan timur yang dekat dengan Anubis Pack, mungkinkah kau dari sana?” Xander mencoba untuk membuka pembicaraan lain. Ya, sebuah topik pembicaraan yang tidak pernah diharapkan Leona.
“Bagaimana kau bisa berpikir aku dari sebuah pack?” Tanya Leona dengan nada terkejut.
Xander memandang Leona dengan tatapan penuh arti, “Tidak sulit menebaknya, kau datang kemari disaat usiamu masih sangat muda. Sangat langka menemui rogue yang mau memiliki anak, mereka memutuskan untuk hidup tanpa kawanan, memiliki anak artinya mereka akan membuat kawanan mereka sendiri.”
“Sejak kedatanganmu, ayahku menghubungi satu persatu pack yang berhubungan baik dengan kami, terutama mereka yang berwilayah di timur. Ayah menanyakan pada mereka apakah mereka kehilangan anak tapi tidak ada yang menjawab hingga hari ini.”
Sebuah informasi untuk Leona, Alpha Rex berusaha untuk mengantarkannya pulang.
“Apakah Alpha mengatakan tentangku pada semua pack?” Tanya Leona.
“Tidak, beberapa pack tidak dekat dengan kita. Lagi pula jika kau benar-benar hilang dari kawananmu, kami tidak akan dituduh menculik, ada banyak bukti yang menunjukkan kau tidak memiliki tanda pengenal kawanan apapun saat itu.” Jawab Xander.
“Tapi tetap saja, ayahku masih menganggap ada kawanan di luar sana yang kehilangan dirimu.”
Mereka berdua duduk terdiam beberapa saat mencoba untuk memahami semua yang mereka bicarakan. Namun Leona sudah lebih dulu hanyut dalam pikirannya. Dia tahu apa yang sedang terjadi hari itu.
Tidak ada pack yang kehilangan kawanan muda, tapi anak kecil yang kehilangan kawanannya.
***
Waktu yang tidak terasa berjalan begitu cepat, hari ini mereka akan pergi ke akademi. Meskipun mereka hanya akan pergi selama empat tahun, ada rasa sedih dalam diri mereka karena harus jauh dari keluarga.
Mereka yang diterima di Wild Wood sudah berangkat setelah jam sarapan, perjalanan mereka tidak terlalu jauh dan masih berada di wilayah werewolf, meskipun berada di wilayah pack lain. Mereka menempuh perjalanan yang tidak mudah mengingat wilayah werewolf kebanyakan adalah hutan yang lebat sehingga sedikit memakan waktu.
Sementara murid Winterville dan Riverdale akan berangkat di siang hari, mengingat kedua akademi itu adalah akademi khusus yang dihadiri anggota Craven Pack dan masih berada di wilayah Craven Pack. Hanya sedikit jauh dari Pack House, meskipun dekat, mereka akan tetap tinggal di asrama.
Sebelum berangkat ke Winterville, Lidya masih sempat mendatangi Leona, apalagi jika bukan mengambil kesempatan membuat Leona merasa kecil hati.
“Apa kau berpikir bisa menjadi lebih baik dariku setelah kau diterima di White Mountain?” Lidya menatap merendahkan, sedangkan yang ditatap dengan percaya diri mengangkat kepalanya di depan Lidya, “Oh Lidya, aku yang diterima di White Mountain adalah sebuah bukti bahwa aku jauh lebih baik daripada kau,” balas Leona membuat Lidya menerbitkan raut marah di wajahnya.
Dengan sedikit arogan, Lidya maju semakin mendekati Leona dan mencengkram kerah bajunya, “Dengar aku baik-baik, Leona. Rank-ku tidak akan pernah berada dibawahmu, kau akan menunduk padaku seumur hidupmu. Aku belum selesai, saat liburan tiba, aku akan menghabisimu dan menetapkanmu diposisimu yang seharusnya,” ancam Lidya.
Bukannya takut, Leona sedikit tertawa kemudian menatap Lidya tepat di kedua matanya, “Kita akan lihat apa yang terjadi, sebelum liburan, selamat menikmati harimu di Winterville, jangan pikirkan tentangku, aku akan baik-baik saja di White Moountain.”
Dengan marah, Lidya melepaskan baju Leona dan berbalik kembali bergabung dengan yang lainnya dan sudah bersiap memasuki bus menuju Winterville.
Para anggota pack yang tinggal di Pack House dan dekat dengan Pack House tentu saja menyaksikan kepergian itu dengan haru, mereka tidak pergi jauh tapi tetap saja rasa rindu akan mereka rasakan juga.
Setelah kepergian bus Winterville dan Riverdale, sekarang tinggal 5 anak yang tersisa di pack house. Xander, Leona, Paul, Elliot, dan Samuel. Kelimanya tidak henti merasa gugup karena sebentar lagi juga akan meninggalkan rumah mereka.
“Apa barang-barang kalian sudah siap?” Tanya Luna Alethra. Meskipun pertanyaan itu ditujukan untuk lima anak muda di depannya, tapi mata sang Luna tetap tertuju pada putranya.
“Tidak perlu khawatir Luna, barang kami sudah siap sejak murid Wild Wood diberangkatkan” Jawab Samuel dengan semangat. Ya, rasa semangat yang diselipi rasa gugup luar biasa.
Luna Alethra tersenyum memandang Samuel, “Kau sangat bersemangat, seperti yang diharapkan dari seorang Samuel.”
“Luna senang dengan apa yang kulakukan? Itu artinya, aku sudah berada di jalan yang benar,” ujar Samuel dengan semangat. Semua orang tahu betapa Samuel sangat setiap pada pasangan Alphanya ini, dia bahkan menempel pada Luna sejak masih sangat muda.
Luna tersenyum sekali lagi sembari memandang Samuel, sebelum akhirnya menatap satu persatu wajah mereka berlima dan menghela napas Panjang, “Rasanya sangat berat melepaskan kalian, tapi inilah yang harus dilakukan. Ingat baik-baik, selama di sana kalian adalah kelompok kecil yang harus saling menjaga, jangan lengah, jangan kehilangan.” Luna Alethra meninggalkan mereka setelah memberikan nasehat yang sangat berguna.
Samuel memandang ke kanan dan ke kiri memperhatikan rekan belajarnya yang berwajah murung dan diam, “Kita tidak perlu khawatir apapun kan? Kita masih akan saling bersama.” Samuel terdengar meyakinkan, sebelum akhirnya Paul buka suara “Tidak perlu terdengar optimis kawan, kami tau kau ketakutan.”
Samuel pada akhirnya kehilangan senyumnya dan ikut berwajah sedih seperti yang lainnya.
Tiga jam sebelum keberangkatan, sebuah bus yang berukuran tidak terlalu besar sudah terlihat siap di halaman Pack House. Barang-barang bawaan sudah dimuat, hanya tinggal menunggu lima penumpang yang akan naik ke dalamnya.
Suasana masih biru namun jauh lebih baik dari siang tadi. Xander terlihat sedang duduk bersama Alpha Rex mendengarkan segala petuah yang disampaikan ayahnya. Elliot pun sama, dia sedang duduk bersama kedua orangtuanya mencoba untuk mengumpulkan semua kenangan dan ingatannya tentang kebersamaan mereka.
Sedangkan Samuel, Paul, dan Leona terlihat sibuk menghabiskan makanan di atas meja makan. Makan malam seharusnya berakhir 30 menit yang lalu, tapi mereka bertiga menolak meninggalkan meja makan. Ayam dan segala jenis daging lainnya sudah masuk ke dalam perut, mereka menikmati makan malam itu dengan hikmat seolah ini adalah hari terakhir mereka mendapatkan makanan layak.
Mereka bertiga tidak punya keluarga yang perlu mereka ucapkan selamat tinggal. Orangtua Samuel adalah gamma pack yang mati dalam perang, membuat Samuel berada di bawah asuhan Luna Alethra. Paul? Dia juga kehilangan keluarganya beberapa waktu yang lalu karena keracunan wolfbane, kedua orangtuanya adalah healer pack. Dan Leona? Dia hanya anak hilang.
Suasana kembali membiru saat mereka berlima sudah mulai memasuki bus. Sekali lagi Luna dan Alpha mengantarkan kelima anggota muda mereka untuk pergi ke tempat yang jauh.
“Ayah, aku berjanji akan menjaga mereka semua. Kami akan menjadi yang terbaik dan kembali menjadi lebih kuat.” Ucap Xander.
“Aku mengandalkanmu, nak,”
Dan itu lah hal terakhir yang mereka berlima dengar sebelum akhirnya bus mulai meluncur meninggalkan Craven Pack.