PERINGATAN: HATI-HATI MEMBACA BAB INI.
**************************************
Hari ini Nura tepat berusia empat puluh hari dan aku tanpa menolak sedikit pun menyetujui keinginan Nenek untuk mengadakan syukuran. Maka malam itu rumahku yang selalu sepi mendadak ramai. Para tetangga dan keluarga semuanya berkumpul malam itu. Di sampingku Kiandra dengan setia menjaga Nura dalam gendongannya. Dan mataku selalu tertuju pada mereka. Kini kurasa aku tak perlu berpura-pura lagi untuk terlihat bahagia. Kurasa seperti inilah wajah orang yang bahagia.
Mereka yang datang mendekat silih berganti untuk sekadar dapat melihat Nura dari dekat. Mereka mengatakan betapa cantiknya, imutnya, dan aku tahu, mereka semua benar. Bagaimana mungkin bayi mungil ini tak cantik? Ia benar-benar mirip dengan Kiandra. Hanya sepasang matanya saja yang menurun dariku. Dan diam-diam aku bersyukur untuk hal itu. Cukup satu itu saja yang ia ambil dariku. Selebihnya, biarlah ia menjadi salinan ibunya.
“Alisnya alismu,” celetuk Nenek sambil menepuk lenganku. “Coba lihat kalau ia mengantuk. Berkerut persis seperti kau waktu kecil.”
Aku hanya tersenyum. Malam itu aku memang tak banyak bicara. Tapi, kupikir tak ada satu pun orang di sana yang keberatan. Mereka semua terlalu sibuk dengan Nura.
Di sudut beranda, Papa duduk di kursi rodanya. Kiandra yang menempatkannya di sana sejak sore, tepat menghadap halaman, agar ia bisa melihat semuanya tanpa perlu bersusah payah menoleh. Kudorong kursi rodanya sedikit lebih dekat ketika Nenek memanggil kami untuk memulai doa. Dan ketika doa itu dibacakan, kulihat jemari Papa yang kaku bergetar di atas pahanya. Aku tahu apa arti getaran itu. Ia sedang menangis dengan caranya sendiri.
Aku menunduk. Sepanjang hidupku aku tak pernah merasa punya hak untuk meminta apa pun. Tapi, malam itu, entah bagaimana, aku turut mengamini doa mereka. Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang benar-benar ingin kujaga.
Selesai doa, Nura diarak berkeliling. Gunting kecil itu berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, mengambil ujung rambutnya sedikit demi sedikit. Ia menangis di gunting yang ketiga dan Kiandra langsung merebutnya kembali. Semua orang tertawa.
“Ia tak suka keramaian,” kata Kiandra padaku sambil menepuk-nepuk punggung Nura. “Sama seperti ayahnya.”
Aku mendengus geli. Kupikir memang begitu.
Ketika aku keluar untuk mengambilkan air minum Papa, seorang tetangga menghampiriku. Ibu-ibu yang dulu selalu mengintip dari balik pagarnya setiap kali terjadi keributan di rumah ini. Ia mengatakan sesuatu yang tak kuminta dan tak kuduga.
“Sekarang rumah ini kelihatan seperti rumah, Nak.”
Aku tak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya mengangguk dan menyodorkan piring padanya. Tapi, kalimat itu tertinggal cukup lama di kepalaku. Dulu rumah ini hanya menjadi tontonan. Orang-orang berkumpul di depan pagar untuk mendengar suara barang pecah dan suara Mama yang berteriak. Malam ini mereka berkumpul untuk melihat seorang bayi. Dan yang mengubah semua itu bukan aku. Aku tahu persis siapa yang mengubahnya.
Malam itu berjalan lambat dan aku membiarkannya berjalan selambat yang ia mau. Kulihat Nenek memaksa tiap tetangga untuk menambah nasi. Kulihat Kakek duduk di kursi paling ujung, tak banyak bicara, namun beberapa kali kudapati matanya sedang mengawasi Nura. Kami tetap tak saling menyapa. Kupikir kami memang tak akan pernah bisa. Tapi, malam itu aku memilih untuk tak memusingkannya.
Tommy datang paling akhir dan pulang paling awal. Ia menyalamiku sedikit lebih lama dari biasanya.
“Jaga adikku.”
“Aku tahu.”
“Dan jaga dirimu.” Ia menepuk bahuku. “Kau kelihatan jauh lebih waras sekarang.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. Kupikir itu adalah pujian terbaik yang pernah kuterima seumur hidupku.
&
Menjelang pukul sebelas, halaman rumahku kembali sepi. Beberapa asisten rumah tangga membereskan kursi-kursi plastik yang berserakan, sedang aku membantu Pak Budi menggeser meja panjang ke samping rumah. Kiandra sudah lebih dulu masuk untuk menidurkan Nura. Dan aku ingat, sebelum ia masuk, ia sempat berbalik dan mengatakan sesuatu yang belakangan selalu kuulang-ulang sendiri di kepalaku.
“Jangan lama-lama di luar. Nanti masuk angin.”
Hanya itu. Kalimat sepele yang diucapkan semua istri di dunia ini pada suaminya. Tapi, sampai kapan pun aku tak akan bisa melupakannya.
Aku sedang mengumpulkan gelas-gelas kertas ketika kudengar deru mobil berhenti di depan pagar. Kupikir ada tamu yang barangnya tertinggal. Kuletakkan gelas-gelas itu dan aku berjalan ke depan.
Dan aku terpaku di sana.
“Alex.”
Ia bersandar di kap mobilnya. Kemejanya keluar sebelah, rambutnya berantakan, dan bau alkohol menguar bahkan dari jarak sejauh ini. Ia tersenyum. Tapi, aku mengenal senyum itu. Aku sudah terlalu lama mengenalnya untuk tak tahu apa yang ada di baliknya.
“Kau mengadakan pesta,” katanya, “dan kau tak mengundangku.”
“Ini bukan pesta.” Aku melangkah mendekat. “Kau mabuk. Biar kusuruh orang mengantarmu pulang.”
“Aku tidak mabuk!” Suaranya meninggi dan sontak aku melirik ke arah rumah. Lampu kamar kami masih menyala. “Aku sadar, Rick. Aku bahkan terlalu sadar.”
Kuhela napas panjang. “Apa yang kau inginkan?”
Ia mengeluarkan ponselnya. Dan seketika, bahkan sebelum layar itu menyala, aku sudah tahu apa yang akan kulihat di sana.
Foto itu.
“Sherryl menunjukkannya padaku dua minggu yang lalu,” ujarnya sambil mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. “Dua minggu, Rick. Dan selama itu aku menahan diri untuk tak datang ke sini. Kau tahu kenapa? Karena aku masih berusaha memercayaimu.”
“Itu tak pernah terjadi.”
“Ia menangis di depanku!”
“Ia berbohong padamu, Lex.” Aku berusaha menjaga suaraku tetap rendah. “Malam itu aku mabuk berat. Petugas hotel yang menggotongku sampai ke kamar. Ada rekaman CCTV-nya. Besok pagi kita ke sana. Kita minta rekamannya. Kita lihat sama-sama.”
Sejenak ia terdiam. Dan di detik itu aku sempat berpikir bahwa semuanya masih bisa diselesaikan.
Aku salah.
“Kau tahu bagian yang paling lucu?” Ia terkekeh dan suaranya pecah di tengah. “Aku menjengukmu di rehabilitas ketika keluargamu sendiri tak sudi datang. Aku yang membayar minummu waktu kau tak punya apa-apa. Lalu kau menikah, kau dapat rumah, kau dapat anak, dan kau menghilang begitu saja. Seolah kami ini sampah yang kau tinggalkan di belakang.”
“Lex...”
“Sembilan bulan, Rick! Kau tak pernah mengangkat teleponku!”
Dan aku terdiam. Karena bagian yang itu benar. Bagian yang itu tak bisa kubantah.
“Untuk yang satu itu aku minta maaf,” kataku pelan. “Tapi, aku tak menyentuh wanitamu.”
“Kau menganggap dirimu lebih baik dari kami sekarang.”
“Aku tak pernah merasa lebih baik dari siapa pun.” Kutatap matanya. “Aku hanya sedang berusaha untuk tak menjadi lebih buruk.”
Ia tertawa. Tawanya panjang dan aku benci mendengarnya.
“Kau tahu apa yang paling kubenci darimu, Rick? Kau selalu bisa keluar. Sejak dulu selalu begitu. Ketika kita jatuh, selalu ada yang menarikmu naik. Dan aku? Tak ada yang datang untukku.”
“Kalau kau butuh sesuatu, katakan sekarang. Apa pun itu akan kuurus besok pagi.”
“Aku tak butuh uangmu!” Ia meludah ke tanah. “Aku butuh kau merasakan apa yang kurasakan.”
Lalu tangannya masuk ke dalam saku.
Aku tak langsung mengerti. Sungguh. Bahkan ketika kulihat kilat logam itu di bawah lampu jalan, otakku masih menolak menerjemahkannya. Ini Alex. Ini pria yang pernah tidur di lantai kamarku ketika aku sakau. Ia tak mungkin.
“Turunkan itu,” kataku.
“Kau merusak hidupku.”
“Alex, turunkan.”
Kutatap matanya. Dan di sana tak ada Alex. Entah apa yang ia telan malam itu, tapi yang berdiri di hadapanku sudah bukan lagi temanku.
“Rick?”
Suara itu datang dari arah rumah.
Dan seluruh tubuhku membeku.
Kiandra berdiri di ujung jalan setapak, masih dengan daster panjangnya, rambutnya digelung asal. Ia pasti mendengar suara kami dari kamar. Ia pasti turun karena aku terlalu lama berada di luar.
“Masuk, Kian!” teriakku. “Masuk!”
Aku berbalik ke arah Alex dan tepat saat itulah ia bergerak.
Semuanya terjadi jauh lebih cepat dari yang bisa kuceritakan sekarang. Aku ingat aku mengangkat tanganku. Aku ingat aku memundurkan satu kakiku. Dan aku ingat, tepat ketika kupikir aku akan merasakan sakit itu, seseorang menabrakku dari samping.
Tubuh sekecil itu.
Tubuh yang bahkan belum benar-benar pulih dari melahirkan.
Kiandra mendorongku sekuat yang ia bisa hingga bahuku membentur pagar. Dan aku, yang selama ini selalu menjadi orang yang paling cepat berkelahi di antara teman-temanku, malam itu hanya bisa menonton.
Kulihat langkah Alex terhenti. Kulihat wajahnya berubah. Kulihat tangannya yang masih memegang benda itu bergetar hebat.
Lalu kulihat Kiandra menoleh padaku.
Ia tersenyum. Demi apa pun, ia tersenyum.
“Kau tak apa-apa?”
Aku tak sanggup menjawabnya. Karena saat itu kulihat warna merah menjalar cepat di dasternya, tepat di bawah tulang rusuknya, melebar seperti tinta yang tumpah di atas kertas.
Dan lututnya luruh.
Aku menangkapnya sebelum kepalanya membentur tanah. Kudengar suara logam jatuh. Kudengar Pak Budi berteriak memanggil orang-orang. Kudengar seseorang, yang mungkin saja aku sendiri, meraung seperti binatang.
Kutekan luka itu dengan telapak tanganku. Hangat. Terlalu hangat. Dan hangat itu terus saja keluar, tak peduli sekuat apa pun aku menekannya.
“Kian.” Kutepuk-tepuk pipinya. “Kian, lihat aku. Lihat aku!”
Matanya masih terbuka. Bibirnya bergerak. Dan aku harus mendekatkan telingaku untuk bisa mendengar apa yang ia katakan.
“Nura...,” bisiknya, “...belum kususui.”
“Kau sendiri yang akan menyusuinya!” Suaraku pecah. “Kau dengar aku? Kau sendiri yang akan menyusuinya!”
Aku mengangkat tubuhnya. Aku berlari. Aku tak tahu dari mana datangnya tenaga itu. Yang kutahu hanyalah tangannya yang menggenggam bajuku perlahan-lahan melonggar. Dan sepanjang jalan aku berteriak padanya agar ia tak melepaskannya.
Aku pernah berjanji padanya bahwa aku tak akan melepas tangannya.
Malam itu, akulah yang memohon padanya untuk melakukan hal yang sama.
&
bersambung ....