PERINGATAN : HATI-HATI MEMBACA BAB INI.
**************************************
Napasku memburu dan entah sudah berapa kali kutinju dinding rumah sakit. Aku benci pintu kaca yang memisahkan aku dan Kiandra. Aku harus bersamanya. Aku pernah mengatakan padanya bahwa aku tak akan melepas tangannya. Tapi, dokter-dokter itu tak mengizinkanku untuk bersamanya.
Entah sudah berapa lama aku berdiri frustrasi di sana hingga seorang perawat keluar dari sana dengan langkah yang tergesa-gesa. Kutahan tangannya.
“Ada apa?”
Ia tampak tersengal. “Pasien kekurangan banyak darah dan persediaan darah rumah sakit sedang kosong.”
Jantungku semakin berdetak dengan irama yang membuat aku semakin gila. “Golongan apa?”
“A.”
Sekejap perasaanku sedikit melega. “Darahku A. Tolong ambil darahku dan selamatkan Kiandra!”
Perawat itu mengangguk dan menarikku ke satu ruangan kecil di ujung lorong. Aku tak ingat bagaimana caranya aku sampai di sana. Yang kuingat hanyalah aku duduk, aku menggulung lengan bajuku sendiri, dan aku menyodorkan lenganku pada mereka sebelum mereka sempat memintanya.
Jarum itu masuk dan aku tak merasakan apa-apa.
Kutatap selang kecil yang perlahan berubah warna itu. Merahku mengalir pelan ke dalam kantong. Dan entah mengapa, di tengah semua kekacauan itu, satu pikiran bodoh melintas di kepalaku.
Seumur hidupku, baru kali ini darahku berguna untuk sesuatu.
“Ambil lagi,” kataku ketika kantong pertama penuh.
“Tak bisa, Pak.”
“Ambil lagi!” Aku menahan tangan perawat itu. “Aku sehat. Aku kuat. Ambil sebanyak yang kalian butuhkan.”
“Kalau Bapak pingsan, kami harus mengurus dua orang.” Perawat itu berkata dengan tenang, dan justru ketenangannya itu yang membuatku diam. “Yang Bapak bisa lakukan sekarang cuma satu. Duduk. Minum. Dan berdoa.”
Berdoa.
Aku menunduk menatap tanganku yang masih berkerak merah kecoklatan. Darahnya. Sampai di sela-sela kukuku. Dan lucunya, aku tak ingin mencucinya. Kupikir kalau aku mencucinya, seolah-olah aku merelakan sesuatu.
Kantong itu dibawa pergi. Beberapa kantong lain menyusul dari bank darah rumah sakit lain. Belakangan aku tahu, Tommy yang mengurus semuanya. Tommy juga yang menghubungi teman-temannya, satu per satu, memaksa mereka datang malam itu juga. Sepuluh orang datang. Aku tak mengenal seorang pun dari mereka. Mereka semua datang untuk adik seseorang yang tak pernah menjaganya dengan benar.
&
Tommy datang sekitar pukul satu pagi.
Ia berjalan cepat menyusuri lorong, dan aku bangkit menyambutnya. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Aku bahkan tak berniat menghindarinya.
Tinjunya mendarat tepat di rahangku dan aku terjengkang menabrak kursi tunggu.
Tak ada yang melerai. Beberapa orang berteriak, seorang satpam datang, tapi aku mengangkat tanganku pada satpam itu. Kubiarkan Tommy menarik kerah bajuku dan mengangkatku.
“Apa yang kau lakukan pada adikku?!”
Aku tak menjawab.
“Jawab aku!”
“Aku yang seharusnya di dalam sana,” kataku akhirnya. Suaraku bahkan tak kukenali sendiri. “Pisau itu untukku. Ia yang mendorongku.”
Dan aku melihat sesuatu retak di wajah Tommy. Cengkeramannya melonggar. Ia melepasku, mundur satu langkah, lalu duduk di lantai dengan punggung menempel di dinding. Pria yang menurut Kiandra bisa menghajar siapa saja itu menangis di lantai rumah sakit seperti anak kecil.
Aku duduk di sampingnya. Kami tak bicara sampai pagi.
&
Polisi datang menjelang subuh.
Alex tak sempat ke mana-mana. Pak Budi dan beberapa tetangga menahannya di halaman rumahku sampai mobil polisi tiba. Belakangan seorang petugas mengatakan padaku bahwa ia tak melawan sama sekali. Ia hanya duduk di aspal, memandangi tangannya, dan mengulang satu kalimat berkali-kali.
Bukan dia yang seharusnya.
Aku memberikan keteranganku pagi itu di ruangan sempit dengan kipas angin yang berputar terlalu berisik. Kuceritakan semuanya. Foto itu, hotel itu, rekaman CCTV yang tak pernah sempat kami tonton bersama. Kusebut nama Sherryl dan kukatakan pada mereka di mana ia bisa ditemukan. Aku bahkan menyerahkan nomor teleponnya.
Petugas itu menatapku lama. “Bapak yakin ingin melibatkan wanita itu?”
“Ia yang menyalakan apinya,” jawabku. “Dan aku yang menyediakan bensinnya selama bertahun-tahun.”
Karena itu memang benar. Aku bisa saja menumpahkan semuanya pada Alex. Aku bisa saja menumpahkan semuanya pada Sherryl. Tapi, siapa yang membawa mereka masuk ke dalam hidupku? Siapa yang selama bertahun-tahun memilih pesta di atas segalanya? Siapa yang tak mengangkat telepon selama sembilan bulan hingga seorang pria mabuk merasa perlu datang membawa pisau ke rumah yang di dalamnya ada bayi berusia empat puluh hari?
Aku.
Selalu aku.
&
Operasi itu berlangsung enam jam lebih.
Enam jam yang tak akan pernah bisa kuceritakan dengan benar sampai kapan pun. Nenek datang dan menangis di bahuku. Kakek datang dan berdiri di ujung lorong tanpa berkata apa-apa. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, kulihat pria tua itu tampak setua umurnya.
Dan Papa. Kiandra pernah bilang bahwa Papa selalu tahu kalau ada yang tidak beres. Pagi itu, kata perawat yang menjaganya di rumah, Papa menolak disuapi. Ia hanya menatap pintu.
Menjelang siang, Bi Sum datang membawa Nura.
Kuambil ia dan seketika aku merasa tanganku bukan tangan yang pantas untuk menggendongnya. Ia menangis. Ia menangis sejak malam dan tak mau berhenti. Botol yang disodorkan Bi Sum ditolaknya berulang kali. Ia memalingkan wajahnya, mencari, membuka mulutnya, lalu kembali menangis ketika yang ia dapatkan bukan yang ia cari.
Ia mencari ibunya.
Dan aku, ayahnya, tak punya apa pun untuk diberikan padanya.
Kudekap ia di dadaku. Kutepuk-tepuk punggungnya seperti yang selalu dilakukan Kiandra. Kudendangkan sesuatu yang bahkan aku tak tahu itu lagu apa. Dan pada akhirnya, entah karena lelah atau karena kasihan pada pria bodoh yang menggendongnya, Nura tertidur juga.
Saat itulah aku melakukannya.
Aku menunduk di kursi tunggu itu, dengan bayiku di dada, dan aku berdoa.
Aku tak tahu caranya. Sungguh. Aku tak pernah diajari. Aku bahkan tak yakin ada yang mau mendengarkan doa dari orang seperti aku, orang yang tangannya pernah menghilangkan nyawa orang lain, orang yang pernah menyuruh istrinya sendiri memilih antara dirinya dan bayi di kandungannya.
Jadi, aku tak meminta dengan indah. Aku hanya mengulang satu kalimat, berkali-kali, sampai bibirku kebas.
Jangan ambil dia. Ambil aku saja. Jangan ambil dia.
&
Dokter keluar pukul tiga sore.
Aku berdiri terlalu cepat hingga pandanganku sempat menghitam. Tommy menahan lenganku.
“Perdarahannya sudah kami hentikan,” kata dokter itu. “Lukanya merobek limpa. Kami terpaksa mengangkatnya. Ada satu robekan lagi di dekat lambung dan itu sudah kami jahit.”
Aku mengangguk cepat-cepat. “Jadi ia selamat?”
Dan dokter itu tak langsung menjawab.
Kalau kalian pernah berdiri di posisiku, kalian akan tahu bahwa jeda sependek itu bisa terasa seperti seumur hidup.
“Istri Bapak kehilangan darah terlalu banyak dan terlalu lama sebelum sampai ke sini. Tekanan darahnya sempat turun sangat rendah.” Dokter itu menghela napas. “Kami sudah melakukan semua yang bisa kami lakukan. Tapi, sampai sekarang ia belum sadar. Dua puluh empat jam ke depan sangat menentukan.”
“Apa maksudnya belum sadar?”
“Artinya kami menunggu, Pak. Sama seperti Bapak.”
Aku ingin marah. Aku ingin mencengkeram kerah baju putih itu dan menuntutnya memberiku jawaban yang lain. Tapi, aku tak melakukannya. Karena kulihat matanya. Pria itu sudah berdiri selama enam jam untuk menyelamatkan istriku, dan yang ia tawarkan padaku sekarang adalah kejujuran, bukan hiburan.
Aku diizinkan masuk sebentar malam itu.
Dan ketika pintu itu terbuka, seluruh keberanian yang kukumpulkan sepanjang hari langsung runtuh.
Ia terbaring di sana, sekecil itu, di antara selang-selang dan layar-layar yang berbunyi teratur. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Rambutnya yang semalam masih digelung asal kini terurai berantakan di bantal. Dan ada satu alat yang menutupi mulutnya, yang membuat dadanya naik turun dengan irama yang bukan iramanya sendiri.
Kutarik kursi. Kududuki. Lalu kuraih tangannya dengan kedua tanganku.
Dingin.
“Kian,” panggilku pelan. “Ini aku.”
Tak ada jawaban. Tentu saja tak ada.
“Nura sudah tidur. Ia menangis semalaman, tapi tadi ia mau tidur di dadaku.” Kucium punggung tangannya. “Ia tak mau susu botol itu. Ia mencarimu. Jadi kau harus bangun, kau dengar aku? Kau harus bangun karena hanya kau yang ia mau.”
Layar di sampingku berbunyi dengan irama yang sama.
“Kau ingat apa yang kukatakan di ambulans dulu?” Suaraku mulai bergetar dan aku tak lagi peduli. “Aku bilang aku tak akan melepas tanganmu. Aku masih memegangnya, Kian. Sekarang giliranmu. Kau yang tak boleh melepas.”
Kulihat tas kecilnya tergeletak di atas nakas. Bi Sum yang membawakannya siang tadi. Di dalamnya masih ada benang dan jarum rajut miliknya, beserta satu kaus kaki bayi yang belum selesai. Yang sebelah kiri sudah jadi. Yang sebelah kanan baru setengah.
Kuambil benda kecil itu dan kuletakkan di telapak tangannya yang terbuka.
“Kau belum menyelesaikan yang ini,” kataku. “Nura cuma punya satu. Kau tak mungkin membiarkan anakmu memakai kaus kaki sebelah, kan?”
Malam itu aku tak pulang. Malam berikutnya juga tidak. Aku duduk di kursi itu, dengan tangannya di dalam genggamanku, menghitung tiap bunyi dari mesin di sampingnya.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku benar-benar takut kehilangan sesuatu.
&
bersambung ....