Perlahan, kubuka kembali kedua mataku yang terpejam untuk beberapa saat. Seketika retina mataku menangkap cahaya matahari yang kurasa sedang tersenyum padaku. Dan mendapati itu, aku menyadari sesuatu. Tak peduli berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk mengenang masa itu maka yang kulihat akan selalu tetap sama, yaitu hari-hari di mana aku masih menyesali perbuatan burukku. Sekarang aku tahu apa makna sebenarnya dari penyesalan. Andai aku menyadarinya lebih cepat tentu semua itu tak akan terjadi. Bayangan kesakitan Kiandra yang tergeletak ketika memilih untuk menyelamatkanku begitu menyiksaku. Hingga kini. Lebih menyiksa lagi karena aku tau, seharusnya aku yang menjadi korban Alex. Dan pria itu sudah kupastikan tak akan mampu melihat dunia luar dalam waktu yang sangat lama. Ia memang harus membayarnya. Untuk apa yang ia lakukan, ia memang harus membayarnya.
Tapi, aku juga.
Itu yang tak pernah dimengerti orang-orang yang datang padaku waktu itu sambil berkata bahwa aku adalah korban. Aku bukan korban. Aku hanya orang yang selama bertahun-tahun menanam sesuatu dan baru terkejut ketika benda itu tumbuh.
Sebelas hari.
Selama sebelas hari aku duduk di kursi yang sama, memegang tangan yang sama, dan berbicara pada seseorang yang tak menjawab. Aku menceritakan segalanya padanya di sana. Hal-hal yang bahkan tak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tentang siang di mana Mama pergi. Tentang malam di mana aku menghilangkan nyawa orang lain. Tentang betapa aku ingin mengulang malam empat puluh hari itu dan tak keluar ke pagar.
Dokter berkata jangan berharap terlalu banyak.
Perawat-perawat itu, yang setiap pagi mengganti infusnya, memanggilnya dengan sebutan yang berbeda. Mereka menyebutnya keajaiban. Aku ingat aku sempat marah mendengarnya. Kupikir mereka hanya sedang menghibur pria yang sudah tak punya apa-apa lagi untuk dipegang.
Lalu di hari kesebelas, jari kelingkingnya bergerak di dalam genggamanku.
Aku tak berteriak. Aku juga tak menangis. Aku hanya diam beberapa detik seperti orang bodoh, memandangi tanganku sendiri, takut kalau-kalau itu cuma karanganku sendiri. Lalu gerakan itu datang lagi. Dan barulah aku berlari ke lorong sambil berteriak memanggil siapa saja.
Ia membuka matanya sore itu.
Yang pertama ia cari bukan aku. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu, dan bibirnya bergerak di balik alat itu tanpa suara. Butuh beberapa saat sampai aku mengerti apa yang sedang ia tanyakan.
Nura.
Tentu saja Nura.
Aku tertawa. Aku tertawa dan menangis dalam waktu yang sama seperti orang gila, lalu kukatakan padanya bahwa anak kami sehat, bahwa anak kami gemuk, bahwa anak kami menghabiskan susu sebotol penuh pagi itu.
Dan Kiandra menangis. Air matanya mengalir ke pelipis, membasahi rambutnya, dan aku menyekanya dengan ibu jariku berkali-kali.
&
Pemulihannya tidak secepat yang kubayangkan.
Limpanya diangkat, dan itu artinya tubuhnya tak lagi sekuat dulu dalam melawan penyakit. Ia harus divaksin. Ia harus lebih berhati-hati daripada orang kebanyakan. Setiap kali ia demam, walau hanya sedikit, aku selalu menjadi orang pertama yang panik.
Ada garis panjang di bawah tulang rusuk kanannya. Pada bulan-bulan pertama ia selalu menutupinya. Ia bilang bekas itu jelek. Ia bilang ia malu.
Aku ingat malam ketika akhirnya aku menahan tangannya dan tak mengizinkannya menutupi bekas itu.
“Ini bukan luka jelek, Kian.”
Ia hanya menunduk.
“Ini tempat di mana kau berdiri untukku ketika seharusnya kau lari,” kataku. “Setiap kali aku melihat ini, aku ingat aku masih hidup karena seseorang memilih untuk tidak menyelamatkan dirinya sendiri.”
Ia tak menjawab. Ia hanya menangis di dadaku sampai tertidur. Dan sejak malam itu, ia tak pernah lagi menutupinya di depanku.
Air susunya berhenti selama ia dirawat. Ia sempat berusaha keras sekali agar bisa kembali menyusui Nura, dan ketika ternyata tak bisa, ia menangis diam-diam di kamar mandi. Aku berdiri di balik pintu itu dan mendengarkan semuanya. Kupikir itu adalah salah satu jenis sakit yang tak akan pernah bisa kupahami sepenuhnya sebagai laki-laki.
Nura akhirnya belajar menerima botolnya. Anak itu, entah bagaimana, selalu tahu kapan harus mengalah pada ibunya.
&
Alex disidang delapan bulan setelah malam itu.
Aku datang di setiap persidangan. Duduk di baris paling belakang. Tak sekali pun ia menoleh ke arahku. Rekaman CCTV hotel itu akhirnya diputar juga, berbulan-bulan terlambat, di ruangan yang salah, di hadapan orang-orang yang salah. Sherryl duduk di kursi saksi dan mengaku bahwa foto-foto itu ia buat sendiri. Ia mendapat bagiannya sendiri di depan hukum, dan aku tak pernah mencari tahu bagaimana kelanjutan hidupnya.
Hakim menjatuhkan hukuman yang berat.
Aku menjenguknya satu kali. Hanya satu kali. Kami duduk berhadapan dengan kaca di antara kami dan tak satu pun dari kami yang tahu harus berkata apa. Pada akhirnya, sebelum waktuku habis, aku mengatakan satu-satunya kalimat yang berhasil kukumpulkan.
“Aku memaafkanmu, Lex. Bukan untukmu. Untukku.”
Ia menunduk. Kulihat tato di lengannya, ukiran yang sama dengan yang ada di lenganku. Lalu ia mengangguk sekali, sangat pelan, dan itulah terakhir kali aku melihatnya.
Aku pulang malam itu dan menghapus tato itu beberapa minggu kemudian. Sakit sekali prosesnya. Kiandra menemaniku dan menggenggam tanganku setiap kali laser itu menyala. Ia bertanya kenapa aku tak membiarkannya saja.
Kubilang padanya, ada hal-hal yang harus dibawa seumur hidup dan ada hal-hal yang cukup diingat saja.
&
Sekarang aku sedang duduk di bawah pohon itu.
Ayunan buatanku masih di sana. Bentuknya masih memalukan seperti dulu, tali-talinya sudah kuganti dua kali, tapi Kiandra tak mengizinkanku menggantinya dengan yang baru. Katanya ini ayunan tercantik yang pernah ia lihat, dan aku sudah lama berhenti berdebat soal itu.
Nura berlari-lari kecil di halaman. Ia sudah pandai berjalan, dan sekarang ia lebih suka berlari daripada berjalan. Rambutnya sebahu dan selalu berantakan. Ia mewarisi wajah ibunya, alisku, dan entah dari siapa, kebiasaan bertanya yang tak ada habisnya.
“Papa!” Ia menghambur dan menabrak lututku. “Nen! Nen!”
Ia sedang belajar menyebut Nenek. Nenek datang ke rumah ini hampir setiap minggu sekarang, membawa makanan yang tak akan pernah habis kami makan. Kakek datang lebih jarang. Kami masih tak banyak bicara. Tapi, ia selalu membawa sesuatu untuk Nura, dan kubiarkan Nura duduk di pangkuannya. Kupikir untuk pria seusia itu, mungkin memang cuma itu cara meminta maaf yang ia tahu.
Papa masih bersama kami. Ia masih di kursi rodanya, masih tak bisa mengucapkan satu kata pun dengan jelas. Tapi, pagi ini Nura menyuapinya bubur dan Papa membuka mulutnya untuk anak itu tanpa perlu dibujuk sedikit pun. Aku menonton mereka dari kejauhan dan kupikir, kalau ada satu hal yang benar-benar kulakukan dengan benar seumur hidupku, mungkin itu adalah membawa Papa pulang.
Aku tak lagi pergi ke tempat-tempat itu. Bukan karena aku menjadi orang baik. Aku tak pernah mengklaim diriku baik. Aku hanya sudah tahu berapa harganya.
Beberapa bulan setelah Kiandra keluar dari rumah sakit, Kakek menyerahkan satu perusahaan kecil padaku. Bukan yang besar, bukan yang penting. Kupikir itu semacam ujian, dan mungkin memang begitu. Aku menerimanya bukan karena aku menginginkannya, melainkan karena aku ingin Nura tumbuh dengan melihat ayahnya berangkat pagi dan pulang sore. Bukan ayah yang pulang subuh dengan bau alkohol dan tangan yang gemetar. Aku belajar dari nol dan aku banyak sekali melakukan kesalahan di sana. Tapi, setiap kali aku ingin berhenti, aku hanya perlu mengingat garis panjang di bawah tulang rusuk itu.
Kiandra keluar membawa dua cangkir teh. Ia berjalan pelan, seperti biasa, dengan satu tangan yang tanpa sadar selalu menjaga sisi kanannya. Ia duduk di ayunan dan aku berdiri di belakangnya, mendorongnya pelan seperti dulu.
“Kau melamun lagi,” katanya.
“Aku sedang mengingat sesuatu.”
“Yang itu lagi?”
Aku tak menjawab.
Ia meraih tanganku yang ada di bahunya dan menggenggamnya. “Rick, sudah lama sekali.”
“Aku tahu.”
“Dan aku ada di sini.”
“Aku tahu itu juga.” Kucium puncak kepalanya. “Justru itu yang membuatku sulit percaya.”
Dulu aku menulis bahwa cinta adalah dongeng. Bahwa itu hanya permainan kata-kata dari orang-orang yang berharap hidupnya bisa bahagia. Aku masih menyimpan pikiran itu di suatu tempat di kepalaku, dan sesekali aku mengeluarkannya untuk kutertawakan sendiri.
Karena orang seperti aku tak seharusnya mendapatkan ini. Aku tahu persis apa yang pernah kulakukan. Aku tahu persis berapa banyak orang yang kusakiti sebelum sampai di halaman ini. Dan tetap saja, di sinilah aku sekarang, mendorong ayunan yang kubuat dengan tanganku sendiri, dengan seorang anak yang berlarian di rumput dan seorang wanita yang seharusnya sudah tak ada di dunia ini.
Kalau itu bukan keajaiban, entah apa lagi namanya.
Kiandra menghentikan ayunannya dengan ujung kakinya. Lalu ia menoleh padaku, dan aku langsung tahu ada sesuatu. Setelah sekian lama bersamanya, aku hafal betul wajah itu. Wajah yang ia pasang setiap kali ia menyimpan sesuatu yang belum berani ia katakan.
“Ada apa?”
Ia menggigit bibirnya. “Kau janji tak akan marah?”
Dan seketika, tanpa alasan yang jelas, jantungku berdetak dua kali lebih cepat.
&
bersambung ....