Kerajaan Haeryeong selalu terlihat indah dari kejauhan. Dari puncak bukit di luar ibu kota, orang-orang biasa dapat melihat atap-atap istana yang berlapis genting berwarna biru mengilap, menara pengawas yang berdiri kokoh, serta bendera kerajaan yang bergerak lembut mengikuti arah angin. Bagi rakyat kecil, istana adalah simbol kejayaan mutlak: tempat di mana seorang raja tinggal, tempat keputusan besar dibuat, dan tempat masa depan seluruh kerajaan ditentukan. Namun bagi seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang tinggal di balik tembok tingginya, istana bukanlah tempat yang penuh keajaiban.
Istana adalah tempat dengan terlalu banyak aturan.
“Yang Mulia, punggung Anda harus tetap tegak. Seorang pewaris tahta tidak boleh sedikit pun menunjukkan kelemahan.”
Suara guru etika kerajaan terdengar dingin dan memenuhi ruang belajar yang luas dan dingin. Pangeran Lee Seon Hwa perlahan memperbaiki posisi duduknya; punggung kecilnya yang sudah lama terasa pegal dan lelah kembali ditegakkan sekuat tenaga. Di depannya menumpuk kitab sejarah kuno, catatan pemerintahan rumit, dan dokumen-dokumen yang bahkan sebagian besar orang dewasa berpendidikan pun sulit memahaminya.
“Ya, Guru,” jawabnya lembut, tanpa berani menatap lurus ke depan.
Itulah jawaban yang selalu ia berikan, hari demi hari, tahun demi tahun.
Ya, Guru.
Ya, Ayahanda.
Ya, Yang Mulia.
Sejak hari ia lahir, semua orang di sekelilingnya telah memberitahunya bahwa ia adalah anak yang paling istimewa di seluruh negeri: Putra pertama Raja Lee Mu Jin, Pewaris sah Kerajaan Haeryeong, calon pemimpin yang akan menentukan nasib ribuan rakyat. Namun tidak ada satu pun yang pernah bertanya apakah seorang anak kecil benar-benar ingin memikul semua itu. Tidak ada yang bertanya apakah ia lelah. Tidak ada yang bertanya apakah ia sesekali ingin berlari, tertawa lepas, atau sekadar bermain seperti anak-anak lain yang tinggal di luar tembok istana.
Ketika pelajaran panjang itu akhirnya selesai, Seon Hwa berjalan perlahan menyusuri lorong panjang berlantai batu pualam menuju kediamannya. Para pelayan dan pengawal segera membungkuk dalam-dalam saat ia lewat, serempak mengucapkan salam penghormatan. Namun di balik senyum sopan dan tatapan hormat itu, tidak ada satu pun yang benar-benar mengenalnya. Mereka hanya melihat jubah sutra halus, tanda jabatan di ikat pinggangnya, dan mahkota kecil yang diletakkan di kepalanya—bukan anak laki-laki yang kesepian di balik semua kemegahan itu.
Malam itu, Seon Hwa duduk sendirian di ambang jendela kamarnya yang luas namun terasa kosong. Dari tempat itu, ia bisa melihat kerlap-kerlip cahaya lampu dari desa-desa yang berjejer di kejauhan. Terkadang terbawa angin suara yang tidak pernah ia dengar dari dalam tembok istana: suara tawa riang, suara anak-anak berteriak memanggil teman bermain, suara orang-orang menyapa satu sama lain hanya dengan nama, tanpa gelar panjang yang memisahkan mereka.
Ia menempelkan telapak tangannya yang kecil pada kaca jendela yang dingin. “Seperti apa rasanya hidup di luar sana?” tanyanya pada sunyi, tanpa sadar melontarkan pertanyaan yang dilarang dibicarakan. Ia tahu seorang pangeran tidak seharusnya penasaran dengan kehidupan rakyat biasa. Namun semakin banyak orang mengatakan dunia luar tidak penting baginya, semakin besar keinginannya untuk melihatnya sendiri—karena mungkin, di luar sana, ada tempat di mana seseorang mengenalnya hanya sebagai Seon Hwa, bukan sebagai pewaris tahta yang harus selalu sempurna.
Beberapa hari kemudian, keinginan itu akhirnya menemukan jalan. Bukan karena diizinkan, bukan karena direncanakan, tapi karena rasa penasaran seorang anak yang rindu kebebasan akhirnya mengalahkan rasa takutnya pada teguran. Saat para penjaga berganti tugas di sore hari yang hangat, Seon Hwa melangkah perlahan menuju gerbang timur istana. Gerbang itu menjulang sangat tinggi, terbuat dari dua papan kayu merah kokoh yang dihiasi ukiran naga melambangkan kekuatan keluarga kerajaan. Selama hidupnya, ia hanya pernah melihat gerbang itu dari sisi dalam—batas tegas yang memisahkan dirinya dari seluruh dunia yang belum ia kenal.
Tangannya hampir menyentuh permukaan kayu yang kasar itu ketika sebuah suara tenang menghentikannya.
“Yang Mulia?”
Seon Hwa tersentak dan segera berbalik. Di sana berdiri Kang Min Jae, pengawal muda yang bertugas mengawasi area kediamannya—salah satu dari sedikit orang yang tidak selalu menatapnya dengan ketakutan berlebihan.
“Apa yang Yang Mulia lakukan di sini?” tanya Min Jae dengan sopan namun lembut.
Seon Hwa diam sejenak, menundukkan pandangannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban “benar” yang siap dilontarkan. Ia hanya seorang anak kecil yang ingin tahu.
“Aku ingin melihat dunia di luar,” akunya pelan.
Min Jae terdiam, sejenak terkejut mendengar permohonan yang begitu sederhana namun begitu dalam. “Di luar tidak seperti yang mungkin Yang Mulia bayangkan. Ada kesulitan, kemiskinan, dan bahaya yang tidak ada di dalam tembok ini.”
Seon Hwa mendongak, menatap lurus ke arah celah kecil di antara daun gerbang. “Di dalam juga ada kesepian,” jawabnya, suara kecil itu memuat beban yang jauh lebih berat dari usianya.
Kalimat itu membuat Min Jae bungkam. Untuk sekejap, ia lupa bahwa anak di hadapannya adalah calon penguasa negeri. Ia hanya melihat seorang anak yang rindu ditemani, rindu diperlakukan selayaknya manusia biasa. Akhirnya, dengan persetujuan hati-hati dan pengawasan ketat, Min Jae menuntunnya melangkah melewati gerbang besar itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, angin dunia luar menyentuh wajah Seon Hwa. Angin ini berbeda dari angin yang berhembus di halaman istana: tidak membawa aroma dupa harum dan bunga yang ditata rapi, tidak disertai suara langkah kaki seragam atau bisikan sopan. Angin ini membawa aroma tanah basah, bunga liar, dan asap masakan dari rumah-rumah penduduk. Bagi Seon Hwa, itu adalah aroma kebebasan yang sesungguhnya.
Ia melihat pedagang berteriak menawarkan buah segar, anak-anak berlari mengejar layang-layang di lapangan terbuka, dan keluarga berjalan berdampingan tanpa perlu menunduk atau takut salah bicara. Semuanya sederhana, kadang berantakan, namun semuanya terasa hidup.
“Apakah mereka selalu terlihat bahagia seperti ini?” tanyanya pada Min Jae.
“Tidak selalu, Yang Mulia. Rakyat juga memiliki beban dan kesedihan masing-masing,” jawab pengawal itu lembut.
Seon Hwa menatap sekelompok anak yang tertawa lepas saat saling kejar. “Tapi mereka bisa tertawa tanpa harus meminta izin.”
Kata-kata itu kembali membuat Min Jae terdiam. Ia sadar pangeran kecil ini tidak benar-benar ingin meninggalkan kewajibannya—ia hanya menginginkan sedikit ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Saat matahari mulai condong ke barat, mereka berjalan kembali menuju gerbang istana. Sebelum melangkah masuk, Seon Hwa menoleh sekali lagi ke arah jalan berdebu tempat orang-orang berlalu-lalang. Ia belum tahu bahwa hari itu hanyalah awal dari perubahan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya. Ia belum tahu bahwa takdir telah menyiapkan seseorang yang akan datang dari dunia luar itu—seseorang yang tidak akan menunduk takut padanya, seseorang yang akan berani bicara jujur tanpa topeng, seseorang yang kelak akan menjadi tempat pulang yang paling ia rindukan.
Dan saat langkah kecilnya kembali menyentuh tanah halaman istana, di sudut Taman Timur yang sunyi, di bawah pohon plum tua yang sedang mekar indah, benih sebuah pertemuan yang tak terlupakan sudah mulai ditanam takdir. Dunia di balik gerbang itu mungkin masih tertutup rapat baginya, namun satu hari nanti, seseorang akan membuka pintu itu lebar-lebar—bukan untuk memberinya kekuasaan, tapi untuk memberinya kesempatan dicintai apa adanya.