Sejak hari pertama ia melangkahkan kaki melewati gerbang timur istana, sesuatu dalam diri Lee Seon Hwa berubah. Bukan perubahan besar yang bisa dilihat oleh para pejabat atau pelayan istana. Ia masih bangun sebelum matahari terbit, masih duduk berjam-jam mendengarkan pelajaran sejarah kerajaan, dan masih harus menegakkan punggung sekuat tenaga saat menerima nasihat dari para guru. Di mata semua orang, ia tetaplah Putra Mahkota yang patuh dan terdidik. Namun di dalam hatinya, ada sebuah dunia kecil yang baru saja terbuka—sebuah dunia yang tidak dikelilingi tembok batu tinggi, tidak memanggilnya dengan sederetan gelar panjang, dan membuatnya sadar bahwa di luar pagar istana, kehidupan tetap berjalan tanpa menunggu perintah seorang raja. Sejak hari itu, gerbang timur yang dulu hanya terlihat seperti batas tak terlewati, kini berubah menjadi sebuah janji yang selalu ia pandangi dengan harapan samar.
“Yang Mulia terlalu sering melihat keluar jendela.”
Suara Kang Min Jae membuat Seon Hwa tersentak dan menoleh perlahan. Pengawal muda itu berdiri tegak di dekat meja belajar, tangannya bertahan di gagang pedang yang terselip di pinggangnya, namun tatapannya lembut.
“Aku hanya berpikir,” jawab Seon Hwa pelan.
“Seorang putra mahkota seharusnya berpikir tentang strategi kerajaan dan kesejahteraan negeri, bukan jalanan berdebu di luar tembok ini.”
Seon Hwa mengerutkan dahi kecilnya. “Apakah rakyat bukan bagian dari kerajaan?”
Pertanyaan itu begitu sederhana, namun membuat Min Jae terdiam lama. Ia tahu benar bahwa jawaban di baliknya tidak semudah mengucapkan kata-kata itu sendiri.
“Kau berubah sejak hari itu,” kata Min Jae akhirnya. “Dulu Yang Mulia hanya menerima apa pun yang dikatakan orang dewasa tanpa menanyakan alasannya. Sekarang Yang Mulia mulai berani bertanya.”
Seon Hwa menunduk menatap tumpukan kitab tebal di depannya. “Ayahanda selalu mengatakan seorang raja harus memahami rakyatnya. Lalu bagaimana aku bisa memahami mereka jika aku hanya melihat mereka dari balik jendela tinggi dan tembok tebal?”
Min Jae tidak menjawab lagi. Namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal yang pasti: pangeran kecil ini berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui. Ia tidak hanya memikul beban takdir—ia mulai mencari makna di baliknya.
⸻
Beberapa minggu kemudian, musim semi datang menyapa Kerajaan Haeryeong dengan kehangatan yang lembut. Bunga-bunga bermekaran di setiap sudut halaman, udara terasa segar dan penuh kehidupan, dan seluruh istana yang biasanya tampak kaku kini berubah menjadi lautan warna. Di antara semua tanaman yang ditata rapi di taman kerajaan, ada satu pohon yang paling sering menarik perhatian Seon Hwa: pohon plum tua yang berdiri sendirian di sudut paling sunyi Taman Timur. Dahan-dahannya melengkung anggun, dipenuhi bunga putih bersih yang sesekali luruh perlahan seolah menari mengikuti tiupan angin. Tempat itu jauh dari keramaian bangunan utama, jarang dilewati pejabat atau pelayan—seolah disiapkan takdir khusus bagi mereka yang butuh tempat untuk bernapas lega. Bagi Seon Hwa, di bawah naungan pohon itu, ia bisa melupakan jubah berat dan gelar yang melekat padanya. Ia hanya seorang anak laki-laki biasa.
Sore itu, setelah pelajaran selesai, Seon Hwa menyelinap pergi menuju tempat kesayangannya. Ia duduk bersila di atas tanah berlumut sambil menopang sebuah kitab di pangkuannya, namun matanya sering melayang menjauh dari baris kalimat, telinganya menanti suara langkah kaki yang belum tahu ia harapkan. Baru beberapa halaman dibuka, suara langkah ringan terdengar mendekat—bukan langkah tegap pengawal, bukan langkah pelayan yang berhati-hati. Langkah itu ringan, bebas, seolah pemiliknya tidak sedang takut salah melangkah.
Seon Hwa segera menutup bukunya dan menegakkan badan. Dari balik rimbunnya ranting, muncul seorang gadis kecil mengenakan hanbok sederhana berwarna putih dengan hiasan merah muda pucat. Rambut hitamnya dikepang rapi dengan pita kain sederhana, dan di tangannya tergenggam beberapa gulungan kertas. Saat melihat sosok Seon Hwa, gadis itu terhenti sejenak, matanya membelalak sedikit karena terkejut, lalu dengan sopan ia menundukkan kepala.
“Maafkan saya, saya tidak bermaksud mengganggu.”
“Kau tidak mengganggu,” kata Seon Hwa cepat, lalu bertanya: “Kau siapa?”
Gadis itu mengangkat wajah perlahan, menatapnya dengan mata yang jernih dan tenang. “Saya Han Seo Yeon. Ayah saya adalah pejabat dari daerah selatan, kami datang untuk urusan istana.”
Nama itu terdengar asing di telinganya, namun entah mengapa terasa pas—seperti aroma bunga yang mengisi udara sore itu. “Lalu mengapa kau berada di sudut taman yang sepi ini?”
Seo Yeon melirik sekeliling, lalu menunjuk ke arah pohon plum yang rindang. “Saya mencari tempat yang tenang. Di dalam ruangan, semua orang hanya bicara pajak, panen, dan aturan yang membingungkan. Saya ingin tempat di mana saya bisa bernapas dan membaca dengan damai.”
“Kau suka membaca?” tanya Seon Hwa sedikit terkejut. Biasanya orang datang ke taman untuk berjalan-jalan atau menikmati pemandangan, bukan membawa buku.
Seo Yeon mengangguk mantap. “Ayah saya berkata, seseorang yang banyak membaca akan memiliki dunia yang lebih luas. Karena tidak semua orang bisa pergi ke setiap tempat, tapi melalui buku, seseorang bisa melihat, merasakan, dan memahami hal-hal yang belum pernah ia temui.”
Jawaban itu membuat Seon Hwa terdiam lama. Rasanya gadis itu sedang mengucapkan hal yang selama ini tersimpan di dalam hatinya—tentang kerinduan akan dunia yang tak bisa ia jangkau karena tembok yang mengurungnya.
“Kau tahu siapa aku?” tanyanya tiba-tiba, pertanyaan yang keluar tanpa direncanakan.
Seo Yeon memiringkan kepalanya sedikit, tampak sungguh bingung. “Haruskah saya tahu? Apakah kau seseorang yang sangat penting?”
Seon Hwa menelan ludah. Sepanjang hidupnya, semua orang sudah tahu siapa dirinya sebelum ia membuka mulut. Semua orang membungkuk, berbicara dengan hati-hati, dan menatapnya seolah ia bukan manusia biasa. Namun gadis ini berdiri tegak, menatap matanya lurus-lurus, dan tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.
“Aku Lee Seon Hwa,” ucapnya pelan. “Aku adalah Putra Mahkota.”
Seo Yeon mengangguk perlahan, senyum tipis masih menghiasi wajahnya. “Senang bertemu denganmu, Yang Mulia.”
Hanya itu? Tidak ada panik, tidak ada permintaan maaf berlebihan? Seon Hwa menatapnya lekat-lekat. “Kau tidak takut padaku?”
“Apakah saya harus takut?” tanya Seo Yeon balik dengan lembut. “Kalau Yang Mulia adalah Putra Mahkota, pasti banyak orang yang menghormati dan menaati Anda. Tapi…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang tulus: “Apakah ada orang yang benar-benar mengenal Anda?”
Pertanyaan itu menembus langsung ke dalam hatinya. Selama ini semua orang hanya memikirkan tugasnya, masa depannya, tahta yang kelak akan dipikulnya. Tidak ada satu pun yang bertanya tentang dirinya—tentang apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan, atau siapa Lee Seon Hwa di balik gelar itu.
Mereka berbicara begitu lama hingga matahari mulai merunduk ke barat. Mereka membicarakan isi buku yang dibaca Seo Yeon, tentang keindahan tempat-tempat jauh yang belum pernah dikunjungi Seon Hwa, tentang bunga plum yang tak mempedulikan siapa yang melihatnya, dan tentang hal-hal kecil yang biasanya tak pernah layak dibahas oleh seorang putra mahkota. Dan di tengah percakapan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Seon Hwa tertawa lepas—bukan senyum kaku yang diajarkan guru etika, bukan senyum panggung untuk para pejabat, melainkan tawa riang seorang anak kecil yang akhirnya merasa dimengerti.
Seo Yeon menatapnya dengan pandangan lembut. “Yang Mulia ternyata bisa tertawa begitu lepas.”
“Aku memang harus selalu serius untuk menjadi raja kelak,” kata Seon Hwa sambil menahan sisa tawanya.
“Tapi sebelum menjadi raja,” ujar Seo Yeon pelan, menatapnya dengan pandangan yang seolah menanamkan kekuatan: “Anda tetap seorang manusia. Manusia berhak tersenyum, berhak lelah, dan berhak memiliki tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya.”
Kalimat itu begitu sederhana, namun bagi Seon Hwa terasa seperti jawaban yang selama ini ia cari tanpa tahu apa yang ia cari.
Belum sempat ia menjawab, suara panggilan Min Jae terdengar mendekat, memecah kesunyian sore itu. “Yang Mulia! Kita harus kembali!”
Seon Hwa segera berdiri, tahu waktu luangnya telah habis. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh kembali ke arah gadis yang berdiri di bawah rimbunan pohon. “Seo Yeon… besok kau akan datang lagi ke sini?”
Seo Yeon tersenyum, menunjuk ke arah kelopak bunga yang perlahan jatuh di antara mereka. “Jika pohon plum ini masih mengizinkan saya.”
Saat itu, Seon Hwa belum mengerti makna mendalam dari pertemuan sederhana itu. Ia belum tahu bahwa gadis yang berdiri di hadapannya bukan hanya seseorang yang akan mengisi masa kecilnya dengan kehangatan. Ia belum tahu bahwa kelak, gadis inilah yang akan menjadi alasan terbesar mengapa ia harus belajar melepaskan sesuatu yang paling dicintainya. Karena terkadang, hal yang paling indah dalam hidup seseorang… adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dimiliki selamanya, namun akan selalu bersinar menerangi jalan—persis seperti bulan yang terlihat jelas di langit, namun tak pernah bisa digenggam tangan siapa pun.