Hari pernikahan Winter dan Landon tiba. Emma yang menjadi bridesmaid Winter terharu melihat Winter sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang anggun. Winter kelihatan seperti seorang princess. Selama ini Winter memang jarang dandan heboh tetapi hari ini pulasan make up artist tersohor itu berhasil menonjolkan kecantikan Winter dengan sempurna.
"Em, menurutmu Landon akan muncul atau tidak ya di altar?" tanya Winter gugup. Sudah lebih dari tiga hari, Winter tidak bertemu Landon. Entah di mana pria itu berada. Tidak lucu jika dia ditinggal di altar pernikahan disaksikan ribuan tamu. Mau ditaruh di mana wajahnya? Winter sungguh bersyukur Emma selalu ada untuknya menjelang hari pernikahan. Diacuhkan oleh Landon, membuat Winter sering main ke apartment Emma untuk menghibur diri.
"Tenanglah dia pasti muncul... Masa sih dia setega itu... Mungkin kemarin-kemarin ini dia sangat sibuk mengurus pekerjaan sebelum hari pernikahan." hibur Emma, memijat bahu Winter yang sedang duduk di meja dandan. "Sudah jangan menangis... Luntur nanti dandananmu..."
"Aku takut, Em... Aku benar-benar takut..." aku Winter langsung memeluk Emma.
Syukurlah ketakutan Winter tidak terbukti. Ketika memasuki ruang pemberkatan didampingi Grayson Purnama, Landon sudah berdiri di altar menunggunya bersama pendeta, beberapa bestman, dan Mason, yang menjadi man of honor. Landon dan Mason kelihatan ekstra tampan dengan tuxedo. Ketampanan Landon sudah tidak perlu diragukan lagi. Winter bisa melihat kalau tatapan para wanita tertuju pada calon suaminya itu. Mungkin seisi ruangan sudah sangat terhibur bisa melihat Mason dan Landon berdiri berdampingan. Pemandangan yang bikin ambyar.
Winter melihat Landon sedang menatap ke arahnya. Wajah Landon tak berekspresi. Mungkin bagi pria itu, hari ini adalah hari eksekusinya dimulai. Dia akan diturunkan dari tahta dengan kejam oleh Papanya sendiri. Grayson Purnama mengantar Winter ke hadapan puteranya dengan beribu rasa haru. Winter dan Landon pun berdiri berhadapan. Pendeta memberikan wejangan pernikahan singkat lalu mempersilakan kedua mempelai membaca janji pernikahan. Landon mengucapkan janji nikah lebih dulu, setelah selesai membaca teks di secarik kertas itu, dia memasangkan cincin kawin di jari manis Winter. Syukurlah cincin itu pas dan kelihatan sangat cocok di jarinya. Kini giliran Winter membaca janji pernikahan. Landon seperti memberi ekspresi muak mengetahui semua yang mereka janjikan adalah omong kosong. Dengan lembut, Winter meraih tangan Landon dan memasangkan cincin di jari manis suaminya. Pendeta pun memimpin doa memberkati kedua mempelai. Setelah doa usai, belum apa-apa mata Winter sudah berkaca-kaca menatap Landon. Dia sangat bahagia. Akhirnya kini dia tidak sebatang kara lagi. Dia memiliki keluarga.
Melihat Winter mewek, Landon buru-buru menyodorkan sapu tangan. Landon terusik dengan gestur Winter tersebut. Pernikahan mereka hanya permainan, mengapa Winter sangat menghayatinya, batin Landon resah.
"Baiklah hadirin... Sekarang Landon Purnama dan Winter Mulia telah resmi menjadi sepasang suami isteri di hadapan Tuhan dan manusia... Mempelai pria boleh mencium mempelai wanita..." umum pendeta penuh sukacita.
Sontak ruangan langsung ramai. Para tamu bertepuk tangan. Grayson Purnama melepas kacamata seraya mengusap matanya yang basah. Hatinya diselimuti haru dan kebahagiaan. Fabio merupakan bestmen yang paling heboh. Dia joget-joget seperti sedang nonton bola saat tim kesayangannya menang. Mason pun tak menyangka sepupunya yang bandel itu sekarang sudah tidak lajang lagi. Sudah menjadi dewasa dan beristri. Mason tak sabar melihat perubahan positif pada diri Landon.
"Pak Landon, sekarang Bapak sudah boleh mencium Ibu Winter..." ulang pendeta mengingatkan sebab Landon masih mematung, tidak menunjukkan tanda-tanda mau menyosor bibir istrinya sementara Winter terus menunduk karena malu.
Landon pun mengangguk. Dengan ragu, diremasnya kedua bahu Winter lalu dimiringkan wajahnya. Winter menatap Landon dengan takut dan gugup. Tubuhnya terasa lemas kehilangan tenaga. Perlahan Landon mencium bibir Winter. Winter merasakan sengatan listrik ketika bibir suaminya menempel di bibirnya. Rasanya manis. Winterpun memejamkan mata menikmati sentuhan bibir suaminya yang hanya berdurasi dua detik itu. Keduanya saling menatap sejenak sebelum akhirnya Landon melepaskan pegangannya dari diri Winter. Tepuk tangan dan sorak sorai terdengar semakin heboh.
Pembawa acara mengarahkan pengantin untuk bersimpuh pada kedua orang tua maka Winter dan Landon pun bersimpuh di hadapan Grayson Purnama dan mengucapkan terima kasih. Grayson mewek. Pria itu tampak sangat bahagia dan tidak terganggu dengan tampang bete putera tunggalnya.
"Landon, Winter... Papa tidak minta apa-apa cuma minta cepat-cepat diberi cucu saja!"
Winter langsung terbatuk mendengarnya.
"Pa, please don't ask too much!" sahut Landon judes. Grayson pun menyengir melihat kedongkolan anaknya.
Setelah bersimpuh pada Grayson, keduanya beralih ke Mama Landon. Wanita itu bernama Belinda Subroto. Sangat cantik. Sembilan puluh persen keelokkan paras Landon berasal dari Mamanya. Aura sosialitanya sangat dominan. Winter sampai terpesona. Sejujurnya penampilan Lana Mulia, Mamanya, tidak ada apa-apanya dibandingkan Belinda Subroto. Winter sendiri heran mengapa Om Grayson tidak bisa mencintai istri yang kecantikannya bagai dewi tersebut.
Belinda memberikan tatapan jijik pada Winter. Sapaan Winter pun tidak diindahkannya. Winter dianggap tidak ada. Wanita itu hanya mempedulikan kehadiran anaknya.
"Landon, jika wanita ini tidak bisa mengurusmu dengan baik. Mama akan mencarikanmu wanita lain yang lebih pantas! Bilang saja pada Mama..." kata Belinda terang-terangan. Winter menunduk, merasa sakit hati tetapi dia memakluminya sebab Belinda dan Mamanya adalah musuh. Kedua wanita itu saling merampas kebahagiaan satu sama lain.
"Tidak usah Ma. Kami hanya akan menikah selama enam bulan, benar kan Winter?" jawab Landon menatap Winter tajam. Winter terkesima suaminya itu jelas-jelas tidak mengindahkan janji nikah yang baru saja mereka ucapkan. Hatinya langsung patah.
Mau tidak mau Winter mengangguk. Masa dia mau bilang dia berharap pernikahan mereka berlanjut sampai dunia akhirat di hadapan dua orang yang membencinya setengah mati?
"Syukurlah... Ternyata kau tahu diri juga, Winter." kata Belinda tersenyum sinis. Winter tidak menyahut, menatap lantai dengan suram.
Winter menggamit lengan Landon berjalan menuju mobil pengantin. Sepanjang menyusuri aisle, para tamu melempari mereka dengan bunga. Di depan gereja, para wartawan sudah menunggu. Begitu mereka muncul, mereka langsung difoto dari segala arah. Landon membimbing Winter menuruni tangga. Dilindunginya Winter dari serbuan wartawan yang menghalangi langkah mereka. Para bodyguard juga sudah disiapkan untuk menjaga keselamatan kedua mempelai. Landon membantu Winter masuk ke dalam mobil sebab gaun megah gadis itu membuat gadis itu susah bergerak. Keduanya bernapas lega ketika berhasil duduk di dalam mobil dengan selamat. Mason duduk di kursi depan sementara Fabio menyetir. Di belakang mobil pengantin, bestman dan bridesmaid beserta keluarga besar Purnama mengikuti. Kurang lebih ada selusin Rolls Royce mengiringi mobil pengantin.
Mereka menuju ruang resepsi yang berlokasi di salah satu hotel Purnama. Landon mengendorkan kancing kemejanya begitu sampai mobil. Kepalanya berdenyut-denyut berkat mengkonsumsi terlalu banyak alkohol. Semalam Mason, Nico, James, Fabio, dan Jack mengusulkan bachelor party. Landon baru pulang jam lima pagi. Tadi saja hampir dia tak bisa bangun. Untung ada Fabio dan Mason yang dengan susah payah menyeretnya ke aula pernikahan.
Landon pun memejamkan mata, berharap bisa tertidur sejenak dalam perjalanan menuju Hotel. Winter melirik suaminya. Ternyata suaminya itu tetap cakep biar kata mata bagusnya terpejam.
"Winter, mengapa kau senyum-senyum sendiri? Kau sudah tak sabar menerjang suamimu?" goda Fabio terkekeh.
"Hei siapa yang sedang senyum-senyum?!" bantah Winter malu. "Fabio, mengapa kau memperhatikan kami lewat kaca spion?"
"Siapa yang sedang memperhatikan kalian? Aku sedang memperhatikan kaca spion eh ternyata wajahmu bisa kelihatan." kata Fabio jayus sambil tergelak.
"Winter, Landon, selamat atas pernikahan kalian. Moga-moga kalian langgeng dan bisa cepat punya momongan." kata Mason diikuti anggukan Fabio yang juga memberikan selamat.
"Terima kasih." kata Winter manis sementara Landon tak menyahut, tak peduli.
"Sepupu, sekarang kau sudah beristri, jangan suka pulang pagi lagi. Ada seseorang yang menunggumu di rumah. Kasihan kan nanti si Winter sendirian terus." kata Mason memberi nasehat.
"Benar, Lan... Jangan main p*****r lagi. Sekarang kau sudah punya isteri yang bisa kau bolak balik kapanpun kau mau. Bebas. Gratis lagi tak usah bayar... hahaha... Iya kan Win?" canda Fabio tak pakai filter. Wajah Winter langsung semerah udang. Mason tertawa, mengangkat dua jempol atas keberanian Fabio menasehati bosnya. Cari mata dia, rutuk Mason geli.
“Lan, malam pertama jangan kasar-kasar! Winter belum pengalaman, masih perlu dibimbing.” lanjut Fabio cengengesan. Mason ikut tertawa.
Landon membuka mata iritasi. "F*ck Mason, Fabio! Shut up! I'm trying to get some sleep!" sungut Landon kesal.
***
Ballroom termewah dan termegah di Hotel Purnama telah disulap menjadi Winter Wonderland. Dekorasinya sangat memukau. Semuanya serba putih, menampilkan kesan elegan dan suci. Ribuan bunga impor terpasang apik di mana-mana. Kue pengantin sepuluh tingkat berdiri dengan anggun di tengah ruangan. Makanan berlimpah tersaji di sepanjang ruangan, mulai dari makanan barat sampai makanan lokal. Winter takjub melihat pernikahannya sendiri. Tak pernah bermimpi sekalipun, dia akan memiliki pernikahan semewah itu. Entah berapa miliar telah dihabiskan Grayson Purnama untuk merancang pernikahan semegah itu. Tamu yang datang berasal dari kalangan pengusaha, artis, dan pejabat. Winter terkejut, beberapa artis favoritnya, menyalaminya di atas plaminan. Bukan dia yang minta salaman tetapi malah mereka yang menghampiri Winter dan memberikan selamat. Winter merasa dia benar-benar berasal dari dunia yang berbeda dengan Landon.
Teman-teman Winter datang memberikan selamat. Mereka semua memuji keberuntungan Winter. Winter telah berhasil mendapatkan suami konglomerat yang tampan. Tak sedikit juga yang mencibir dan memberi tatapan iri pada Winter. Perempuan-perempuan sosialita yang menyukai Landon memberi tatapan seperti ingin membunuhnya. Tak sedikit perempuan dan artis yang mencoba mencium pipi Landon atau memeluk pria itu di pelaminan tetapi Landon buru-buru menghindar. Bagi pria itu, bagian tubuhnya yang boleh dipegang hari itu cuma sebatas telapak tangan. Tangan Winter rasanya hampir patah menyalami ribuan tangan. Landon pun sempat beberapa kali memijit-mijit dan mengibaskan tangannya karena pegal.
"Tanganmu sakit Landon?" tanya Winter khawatir.
"Lumayan." jawab Landon cuek tanpa balik bertanya. Di pelaminan Winter dan Landon tidak mengobrol. Sedikit banyak Winter merasa bersalah atas ketidakbahagiaan Landon di hari pernikahan mereka. Menyesali mengapa dia tak cukup cantik atau seksi sehingga bisa membuat suaminya tertarik. Paling tidak bisa membuat suaminya tidak sebete sekarang. Syukurlah waktu makan malam tiba, wajah Landon kelihatan sedikit ceria. Landon rupanya cukup lapar. Winter takjub ternyata suaminya itu makan cukup banyak. Entah bagaimana tubuh Landon bisa tetap ramping. Mereka makan dalam keheningan tetapi diam-diam Winter memperhatikan makanan apa yang disukai oleh suaminya. Dia mau belajar untuk memasaknya.
Di luar dugaan, Landon hanya meminum segelas Champagne. Winter pikir suaminya bakal mabuk di hari pernikahan mereka ternyata tidak. Winter dan Landon mengikuti arahan WO dengan tertib. Landon memang tidak kelihatan antusias tetapi pria itu juga tidak menimbulkan kekacauan. Dia hanya berharap resepsi bisa cepat selesai.
***
Dengan gelisah, Winter menunggu Landon di kamar malam pertama mereka. Dia sudah mengikuti saran Emma untuk mengenakan lingerie super seksi. Warna hitam seperti warna kesukaan Landon. Dia belum pernah berhubungan seks sebelumnya termasuk belum pernah memakai pakaian seterbuka itu di hadapan lelaki. Itulah sebabnya dia sangat deg-degan. Dulu waktu bersama Jeremy hubungan mereka baru sampai ciuman tidak pernah lebih. Winter ingin menjaga keperawanannya untuk suaminya seorang. Mungkin itu juga alasan Jeremy merasa bosan dengannya.
Akhirnya Landon masuk kamar. Pria itu mencopot jasnya, mengambil sebotol air mineral dan menghempaskan diri ke sofa. Landon kelihatan kelelahan dan penat. Meladeni berjibun tamu dan kolega bisnis sangat menguras tenaga.
"Landon... Kau sudah kembali?" tanya Winter takut-takut. Gadis itu mengenakan jubah transparan untuk menutupi lingerienya meski sebenarnya tak terlalu menolong. Dia berdiri di hadapan Landon dengan kikuk.
Landon tersentak melihat gadis setengah telanjang di depan matanya. "Jeez... Winter... Pakai bajumu! Kita tidak akan bercinta malam ini atau malam-malam berikutnya!" hardik Landon seraya melempar jasnya kepada Winter.
Winter tercengang. Merasa malu dan terhina. "Mengapa kau tidak mau melakukannya denganku? Aku hanya ingin melakukan kewajibanku sebagai istri." kata Winter spontan. Detik itu dia merasa seperti p*****r yang mengemis cinta.
Landon tertawa kecil. "Kita bukan suami istri sungguhan. Apa kau lupa perjanjian kita? Kita hanya akan jadi teman serumah selama enam bulan! Jangan berharap aku akan jatuh cinta padamu! I just can't do it!"
Winter pun berlari ke dalam dan segera mengenakan pakaian tidur biasa. Dia bersembunyi di balik selimut merasa kecewa. Ok di sini cuma ada satu ranjang. Landon akan tidur di mana?
Landon membuka laci untuk mengambil kunci mobil.
"Landon, kau mau kemana?" tanya Winter. Dia sungguh tak mau ditinggalkan sendirian di malam pertama mereka.
"Aku mau kembali ke mansion. Kau saja yang tidur di sini malam ini."
"Boleh aku ikut denganmu? Please..."
Landon mendengus. "Mengapa? Apa kamar ini kurang bagus untukmu?"
"Tidak, aku cuma ingin ikut denganmu. Di mansion aku berjanji tidak akan masuk ke kamarmu. Aku tidur di kamar biasa. Tolong jangan tinggalkan aku sendirian di hotel." kata Winter memohon. Landon menimbang sebentar. Winter memang terlalu lemah lembut. Dia seperti anak kucing yang hanya akan menangis jika ditindas tanpa melakukan perlawanan.
"Baiklah... Aku menunggumu di depan..." tukas Landon. Winter pun buru-buru ganti baju dan mengambil tas, setengah berlari menyusul suaminya. Winter tak percaya akhirnya dia bisa masuk ke dalam McLaren putih milik Landon. Duduk berdampingan dengan Landon saja sudah membuatnya sangat bahagia. Landon kelihatan cool di balik kemudi. Namun Winter agak ketar ketir sebab Pria itu menyetir sangat kencang apalagi jalanan pada malam hari cukup sepi.
***
Berkali-kali Landon menggunakan sidik mata untuk membuka pintu gerbang mansion tetapi pintu gerbang itu tak kunjung terbuka. Sepertinya seseorang telah meriset sistem kemanan atau sistemnya sedang error. Anehnya entah di mana para satpam dan sekuriti yang selalu bertugas di sana. Landon menghela napas, bete. Diapun menekan intercom, minta seseorang membuka pintu. Dalam beberapa menit, Bapak Matius, asisten pribadi Grayson Purnama muncul. Dia seperti sudah bisa menebak Landon tidak akan tidur di hotel malam itu. Landon dicegat oleh pria gemuk berusia di atas empat puluh tersebut di pintu gerbang. Matius tersenyum melihat Landon masih belum menyerah mencoba membuka pintu dengan sidik mata.
"Tuan Landon, percuma saja Anda mencoba. Berapa kalipun Anda mencobanya pintu tidak akan terbuka." kata Matius setelah menghampiri Landon dari pintu samping yang cuma bisa dilalui manusia. "Sistemnya sudah diriset."
Landon sungguh tak percaya dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam mansionnya sendiri. "Bloody hell Matius... Open the gate now! I'm so tired!" seru Landon naik pitam. "Ini adalah rumahku. Mengapa aku tidak boleh masuk?!"
"Itu perintah Tuan Besar. Mulai hari ini mansion ini bukan milik Anda lagi. Anda juga sudah bukan CEO Purnama Department Store. Besok Anda tidak perlu ke kantor. Kantor Anda sekarang pindah ke Landon Winter Foundation. Kartu kredit Anda juga semuanya sudah diblokir termasuk black card milik Anda. Cuma ATM ini saja yang bisa Anda gunakan. Isinya ada lima juta saat ini." kata Matius menyodorkan sebuah kartu dengan sopan.
Napas Landon memburu dilanda emosi. Dilemparnya langsung kartu itu ke tanah. "F*ck Papa!!" seru Landon memukul setir mobil. "I need to call him."
Setelah menunggu beberapa menit, ponselnya pun terhubung dengan milik Papanya. Dengan adanya Bluetooth di mobil, Winter juga dapat mendengarkan percakapan Landon dan Papa Mertuanya.
"Papa kau tidak bisa melakukan ini padaku!" sergah Landon marah. "Mengapa kau tidak membunuhku saja sekalian?"
"Aku tidak bercanda Landon. Semua fasilitasmu akan kukembalikan jika dalam enam bulan kau bisa memimpin Landon Winter Foundation dengan baik. Itu berarti kau kompeten untuk memimpin perusahaan yang lebih besar. Jika kau gagal, jangan harap kau bisa menginjakkan kakimu di kantor. Kau boleh kerja di mana saja tetapi tidak di Purnama Corp!"
"Akan kubuat foundation sialan itu bangkrut!” tekad Landon bulat. “Lalu aku harus tidur di mana malam ini dan seterusnya?Aku cuma punya akses ke Sky Tower?"
"Tidak."
"Bahkan aku juga tidak bisa ke sana? Lalu Papa mau aku dan Winter tidur di mana? Di pemukiman kumuh dari mana dia berasal?" tanya Landon murka. Jleb, lagi-lagi d**a Winter nyeri setiap kali mendengar Landon bicara. Jahat sekali sih suaminya, keluh Winter mengurut d**a.
"Aku berubah pikiran. Kau dan Winter bisa tinggal di Blissful apartment. Minta swipe key sama Matius. Papa sudah kasih dia."
Wajah Landon menegang. "Papa, aku setuju tinggal di Sky Tower seperti awal perjanjian kita. Forget Blissful!" tolak Landon mentah-mentah.
"Kudengar dari para pelayan, selama dua minggu Winter tinggal denganmu, kalian nyaris tidak pernah bertemu. Jadi Papa menyimpulkan bahwa rumah yang terlalu besar hanya akan membuat hubungan kalian menjadi renggang. Sky Tower punya empat kamar dan terlalu luas untuk kalian. Yang ada kalian juga bisa tidak saling melihat satu sama lain. Blissful yang paling cocok untuk pengantin baru. Kamarnya cuma satu jadi kalian bisa cepat-cepat punya momongan... hehehe... Oh ya di bawahnya juga shopping centre, kalian bisa berkencan setiap hari... Ideku cemerlang bukan?"
Landon mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Are you kidding me, Papa? You still can throw a lame joke in this situation?" tanya Landon jengkel.
"Ya sudah dulu Lan, pacar Papa sudah menunggu nih. Memang kau saja yang mau honeymoon?" kata Grayson lalu mematikan ponsel. Landon tertegun. Diaturnya napasnya untuk meredam kekesalannya. Dia tak percaya dia adalah anak kandung Grayson. Mungkin anak tiri bisa mendapat perlakuan lebih baik.
"Tuan Muda, untuk saat ini lebih baik pegang kartu ini. Ini satu-satunya sumber pendapatan Tuan. Sama ini sekalian kunci apartment kalian. Ada dua set. " kata Matius sehabis memungut kartu ATM yang dilempar Landon.
"Get rid of that things out of my sight!" bentak Landon geram.
"Pak Matius, berikan saja padaku...." kata Winter buru-buru sebelum Landon meledak.
***
Landon memijat pelan area di antara kedua alisnya. Berpikir bagaimana cara dia keluar dari neraka yang baru dimasukinya.
"Kau tidak apa-apa, Lan?" tanya Winter khawatir melihat Landon begitu frustasi dicopot gelar tuan mudanya.
"Menurutmu?" balas Landon sinis.
"Landon, menurutku kondisi kita tidak terlalu buruk. Kita masih punya tempat tinggal, mobil, dan uang. Lima juta cukup untuk kita untuk seminggu. Dan kalau irit kita bisa menabung..."
Landon tertawa pahit. "Itu untukmu bukan untukku. Kau mungkin bisa bertahan dengan uang lima juta bahkan untuk sebulan tetapi dalam sehari paling tidak aku menghabiskan lima puluh juta! Aku tak mengerti mengapa kau datang menghancurkan hidupku?"
Winter pun berhenti bertanya setelah diskakmat oleh Landon.
Landon menjalankan mobil menuju toko minuman keras. Kepalanya penat dan dia butuh kenyamanan lewat alkohol.
"Tunggu sebentar!" perintah Landon pada Winter ketika mereka sudah parkir. Seperti biasa Landon tidak menunggu Winter menjawab.
Landon pun mulai berbelanja minuman keras. Dibawanya berbotol-botol bir, spirits, dan wine ke kasir. Dikeluarkannya salah satu kartu kredit. Kartu pertama ditolak. Kartu kedua sampai kedelapan semuanya ditolak, bahkan black cardnya juga tak berfungsi. Semua kartu kreditnya ternyata benar-benar sudah diblokir oleh Ayahnya. Landon pun menggesek kartu debit dan hasilnya sama. Kartu itu seperti kartu monopoli. Benarkah dia bahkan tak berhak menggunakan uang tabungannya sendiri? Kasir mulai tersenyum aneh ke arahnya. Antrian di belakang juga mulai tak sabar menunggu.
Landon menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Dikeluarkannya uang cash dari dompet. Duitnya tidak cukup sehingga dia harus mengurangi beberapa botol. Landon pun kembali ke mobil dengan tampang kusut. Baru kali ini dia merasa malu saat belanja.
Winter tak berkomentar ketika melihat Landon memuat setroli minuman keras ke dalam mobil. Mereka berjalan dalam keheningan. Kali ini Landon menuju mesin ATM. Dia tak percaya kartu debitnya bersaldo nihil.
Benar saja ketika dia mengecek saldo. Uangnya nol. Padahal seingatnya seharusnya dia memiliki uang paling tidak sepuluh miliar di kartu tersebut. Landon mengerjap-ngerjapkan mata untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Bagaimana mungkin sekarang kartu itu kosong? Lalu dia teringat dia menabung di bank Purnama. Tak mustahil jika pemilik bank main belakang sedikit apalagi notabene pada anak sendiri. Dan kartunya itu memang atas nama perusahaan. Landon tertawa frustasi. Landon pun terduduk di tangga, memegangi kepalanya. Tak percaya kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari dalam mobil, Winter cemas melihat suaminya yang biasanya sangat kental aura Tuan Mudanya terduduk lunglai seperti itu. Dia pun segera turun dari mobil.
"Landon, yuk kita pergi dari sini!" ajak Winter duduk di sebelah suaminya.
"I'm completely broke. I have nothing. Not even a penny." kata Landon depresi. "Are you happy now?"
Winter terdiam mendengar keketusan Landon. "Landon, banyak orang tidak bisa makan sama sekali dan tinggal di kolong jembatan, mereka saja bisa survive. Kenapa kita tidak?"
"Stop lecturing me!" sergah Landon lalu berjalan ke mobil.
Mau tidak mau mereka kembali ke hotel. Landon tidak sudi ke Blissful apartment. Dia akan bicara pada Papanya besok. Jika Papanya tak setuju terpaksa dia harus minta bantuan teman-temannya. Mason pasti tidak akan berpangku tangan melihat hidup sepupunya sengsara.Hari sudah pukul tiga pagi ketika mereka tiba di Hotel termewah Ibukota tersebut. Landon dan Winter sama-sama sudah kelelahan. Landon langsung menuang Hennessy ke gelas dan meneguknya habis seraya menghempaskan diri ke sofa.
Winter tampak cemas melihat Landon begitu kacau. "Landon, berhentilah minum... Sebaiknya kau beristirahat... Kau sudah kurang tidur kemarin dan sekarang sudah subuh. Tubuhmu butuh istirahat. Kau tidurlah di ranjang. Biar aku tidur di sofa."
"Shut up! Just go to bed and leave me alone!" usir Landon lalu kembali menuang Hennesy.
"Tapi..."
"No buts! Get lost!" kata Landon dengan mata berkilat.
Akhirnya Winter menurut. Dia pun pergi menyikat gigi dan mencuci muka seraya memandangi bayangan seorang gadis yang sedang menangis tersedu-sedu dalam cermin.
***