Winter menemukan Landon tertidur pulas di sofa sementara meja dipenuhi kaleng bir dan botol alkohol lain. Winter buru-buru mengambil selimut. Diselimutinya suaminya tanpa menimbulkan suara. Winter takut Landon masuk angin sebab temperatur udara cukup rendah. Winter pun menaikkan temperatur AC. Setelah itu, Winter segera memesan sup ayam, obat sakit kepala dan sarapan lewat telepon. Sambil menunggu makanan datang, Winter pergi mandi. Dia harus membereskan wajahnya yang sembab. Landon tak boleh tahu kalau dia menangis semalaman.
Landon terbangun dengan kepala yang terasa berat. Dia mengerang pelan memijat-mijat pelipisnya. Landon cukup terkejut menemukan sebuah selimut dengan rapi membungkus tubuhnya. Didengarnya suara hair dryer dari toilet. Landon agak terlonjak menyadari ada kehadiran orang lain di ruangan itu. Oh iya dia telah menikah, tak heran bila kini ada makhluk lain dalam kamarnya. Pasti Winter sedang mengeringkan rambut dan Winter juga yang telah menyelimutinya, pikir Landon. Landon mencari remote TV. Dia mau tahu ada berita apa di pagi hari. Tiba-tiba Landon merasa mual. Dia pun bergegas ke toilet.
"Winter, buka pintu! Aku mau muntah." seru Landon sambil menggedor pintu. Winter mematikan hair dryer, cepat-cepat membuka pintu. Landon menghambur masuk lalu langsung membungkuk di hadapan toilet, berusaha mengeluarkan isi perutnya. Refleks, Winter memijat-mijat tengkuk Landon untuk membantu. Akhirnya Landon muntah. Tubuhnya terasa lebih baik meski kepalanya masih pusing. Diflushnya toilet lalu dibalikkan tubuhnya. Winter berdiri di hadapannya, menatapnya cemas. Gadis itu sudah terlihat cantik dengan make up tipis dan rambut panjangnya tergerai. Pakaian gadis itu casual tetapi Landon tak bisa menampik kalau sebenarnya cara berpakaian Winter cukup baik meski tidak bisa dibilang berkelas. Aroma tubuh gadis itu juga cukup wangi.
"Landon, kau baik-baik saja? Apakah kau perlu ke dokter?" tanya Winter seraya menyodorkan sebotol air mineral yang kebetulan tersedia di toilet. Winter sudah membuka tutupnya, Landon tinggal minum.
Landon pun menerimanya. Dia heran, Winter bisa menyediakan apa yang dibutuhkannya dengan cepat. "I'm good. Get out! I need to wash up..."
Winter buru-buru keluar. Dia manyum melihat pagi-pagi suaminya sudah pasang tampang cemberut. Tapi dia tak akan menyerah begitu saja. Perhatian Landon adalah piala yang ingin dia capai.
Setelah mandi, Landon membuka kulkas. Dia kelaparan. Tingtong, suara bel pintu ditekan. Dilihatnya Winter buru-buru membuka pintu. Pelayan hotel masuk mendorong troli berisi makanan, kemudian menatanya dengan rapi di meja. Winter berterima kasih dan memberi tips pada pelayan tersebut.
"Landon, breakfast sudah datang!" kata Winter ceria. Winter deg-degan melihat Landon begitu segar setelah mandi. Rambut pria itu masih agak basah. Wajahnya pun masih bengkak khas wajah bangun tidur tetapi bare face Landon sungguh memikat.
"Mengapa kau memandangiku seperti itu? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Landon ketus membuyarkan lamunan Winter. Winter buru-buru menggeleng. Landon menarik kursi, duduk di sebelah Winter. Seperti biasa, mata Landon langsung berbinar-binar melihat makanan.
Disantapnya piring berisi sosis, jamur, ommelete, hash brown, dan salad dengan lahap. Winter gembira setiap kali melihat Landon makan. Landon jadi seperti anak kecil yang disuguhi cokelat. Begitu riang dan semangat.
Landon tertawa kecil. "Kau memesan sup ayam pagi-pagi, Winter? Apa tidak salah?" tanyanya dengan tampang mengejek.
"Oh sup ini untukmu. Kau baru mabuk. Kuharap sup hangat ini bisa membuatmu merasa lebih baik." kata Winter jujur. "Oh ya... Ini aku juga memesan obat sakit kepala. Kau bisa meminumnya setelah makan."
"Winter, apa yang kau lakukan?" tanya Landon iritasi.
Winter mengernyit. "Memesan makanan dan obat?"
"I mean you act like you are my real wife."
"Bukan... Bukan... Jangan salah paham. Aku memang begini pada semua orang. Tidak ada maksud apa-apa. Aku menganggapmu sebagai anak teman Mamaku. Itu saja. Lagipula kita teman serumah selama enam bulan bukan?"
Bibir Landon sedikit merengut. "Ok but don't blame me if you're hurt someday if you involve unnecessary feeling."
Winter mengangguk ringan. "Tentu saja Lan... Sudah ah jangan dianggap terlalu serius. Ini cuma obat dan sup ayam. Makan gih nanti keburu dingin lho."
Landon pun menyantap sup ayam lalu meminum s**u hangat yang dituang oleh Winter. Entah mengapa ditemani makan oleh Winter mengingatkannya pada Mamanya yang dulu selalu sarapan bersamanya setiap hari. Masa-masa itu merupakan kenangan terbahagianya waktu kecil.
***
Sehabis sarapan Landon dan Winter meninggalkan hotel. Winter harus ke kampus sementara Landon memutuskan untuk ke kantor pusat menemui Papanya.
"Lan, ini kartu ATM kau pegang saja. Just in case ada apa-apa di jalan... Kau sama sekali tidak pegang uang kan?" kata Winter menyodorkan kartu ATM di lobby.
"Pegang saja... Aku yakin bisa mengembalikan isi kartu debitku setelah bertemu Papa atau Mason..." kata Landon penuh percaya diri. Winter tetap khawatir jadi dia menaruhnya di saku jas Landon dan buru-buru memanggil taksi.
Kehebohan berita pernikahannya dengan Landon dan Winter sampai ke kampus. Winter jadi pusat perhatian dan turunnya Winter dari taksi langsung jadi bahan pergunjingan. Lho kok istri konglomerat naik taksi? Kemana mobil Maserati yang biasa dibawa Winter? Terus kenapa baju Winter biasa saja, bahkan tasnya tak bermerek. Winter baru saja menikah dengan super konglo mengapa tidak honeymoon tetapi langsung kuliah? Semua orang sangsi Winter benar-benar menikah dengan Landon Purnama. Para mahasiswi juga merasa Winter terlalu kebanting kalau disandingkan dengan Landon Purnama yang amat sempurna, tentu di luar kebandelannya, tapi siapa yang peduli? girls like bad boys. Positif Winter langsung tak disukai banyak kaum hawa di kampus. Semuanya jealous.
Jane yang dari SMU tidak suka pada Winter terpukul habis-habisan melihat foto Winter dan Landon Purnama di internet. Rupanya Winter benar-benar menikah dengan konglomerat. Hatinya langsung mencibir. Merasa Winter tak ada bagus-bagusnya jadi istri orang kaya. Kok bisa sih Landon Purnama yang tampan dan tajir mau sama Winter? Pasti ada yang tidak beres. Dia akan mencari tahu dan akan mempermalukan Winter pada waktunya.
"Hai Winter!" sapa Jane pada Winter yang sedang celingak celinguk mencari Emma.
"Hai Jane." sahut Winter. Dia agak heran Jane yang selama SMU suka membulinya sekarang malah menyapa duluan.
"Selamat ya atas pernikahanmu. Beritanya ada di mana-mana. Kok tidak ngundang-ngundang sih?"
"Sori Jane... Pernikahannya dilaksanakan buru-buru... Aku tak sempat menyebar banyak undangan... Maaf ya...”
"Lho kok kamu tidak honeymoon malah langsung ke kampus?"
"Suamiku sibuk. Jadi honeymoonnya ditunda." kata Winter berdalih.
"Suamimu saking sibuknya sampai tidak bisa mengantarmu ke kampus?"
"Hmmm... Dia ada meeting, harus ke kantor pusat pagi-pagi... Aku juga sudah biasa naik taksi jadi tidak apa-apa..." kata Winter dengan senyum.
"Mana Maseratimu yang keren itu?"
"Di rumah."
"Cerita dong bagaimana kau bisa mengenal Landon Purnama?"
Winter terdiam sesaat. "Jane, sori nih aku sudah telat. Kita lanjut ngobrolnya nanti ya. Bye."
***
Landon sudah punya feeling, swipe keynya untuk masuk gedung pencakar langit milik keluarganya tidak akan berfungsi dan itu memang benar. Dia bahkan diasingkan dari kantornya sendiri?! rutuk Landon dalam hati. Landon sampai harus minta bantuan receptionist untuk bertemu dengan Papanya sama seperti tamu yang lain. Parahnya lagi Papanya tidak available untuk ditemui. Landon tahu Papanya pasti sengaja tidak mau menemuinya. Damn!
Landon menelepon Fabio. Papanya memang jahat tetapi sekretarisnya selalu baik hati. Fabio pasti akan menolongnya.
"Halo Pengantin Baru... Bagaimana malam pertamamu?" sapa Fabio usil.
"Fab, kau di mana? Temui aku di lobby!" perintah Landon.
"Lan, kalau kau butuh bantuanku karena dihukum Pak Grayson aku sama sekali tidak bisa membantu. Pak Grayson sudah wanti-wanti semua orang dari pagi. Mulai hari ini kau harus mandiri. Kau tidak bisa menggunakan segala embel-embel Purnama Corp. Ini semua tuh demi kebaikanmu sendiri, Lan."
"Persetan! Apanya demi kebaikanku? Sekarang aku bangkrut dan aku harus menghidupi satu orang lagi!"
"Maaf Lan... Aku takut dipecat... Kau pasti bisa lah hidup lima juta seminggu..."
"Are you insane?! You know exactly how much I spend everyday. Jangan jadi penghianat deh, Fab!"
"Minta tolong Mason saja, Lan... Sori deh..."
"Damn it Fabio! Fine! Just pay the money you owe!"
"Lan, kata Pak Grayson hutangku padamu bisa diextend sampai setahun."
Landon langsung mengumpat. "Hey, you owe me not that old man!"
"Duitmu juga kan berasal dari Pak Grayson. Please Lan, don't put me in a difficult situation..."
Landon terkekeh, sikap Fabio bisa berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam sehari. "You know what? I'll fire you as soon as I get my position back!" kata Landon berang lalu mematikan ponsel.
Sekarang Landon menghubungi Mason. Dia tahu sepupunya tak mungkin sepengecut Fabio. Lagipula Mason berdarah Purnama. Apapun yang dilakukan Mason tidak akan membuatnya kehilangan saham atau posisinya di perusahaan. Semua itu hanya mungkin terjadi pada anak kandung Grayson Purnama.
"Hai Lan..." sapa Mason ramah. "What's up, Bro?"
Landon pun menceritakan secara singkat apa yang telah menimpa dirinya.
"Mase, aku butuh bantuanmu. Bisakah aku meminjam uang? Aku ingin membeli saham di Purnama Department Store supaya aku bisa memegang kembali jabatan CEO dan pinjamkan aku mansionmu di selatan."
"Lan, untuk saat ini, aku tak bisa membantu segala sesuatu yang berbau perusahaan atau uang atau tempat tinggal. Kau harus mandiri dan menghidupi isterimu dengan perjuanganmu sendiri. Itu tujuan Om Grayson menyuruhmu menikah. Aku setuju sebab hal itu memang baik untukmu. Untuk kalian."
"Mase, kali ini Papa sangat keterlaluan. I can't take it! Please help me. You're my only hope." kata Landon memohon.
"Sorry Lan... I can't help..." kata Mason lalu klik ponsel dimatikan.
Landon melongo. Selama 25 tahun mengenal Mason tak pernah sekalipun Mason mematikan telepon secara sepihak. Ini benar-benar gila! Entah teknik cuci otak apa yang telah disebar oleh Grayson Purnama.
Landon menghubungi beberapa temannya tetapi respon mereka sama seperti Fabio. Semua orang yang biasanya selalu mencarinya kini kabur serentak saat dibutuhkan. Mereka terlalu takut dengan pengaruh Grayson Purnama. Landon sempat bergidik ketika menyadari kalau saat ini satu-satunya orang yang ada di sisinya cuma Winter.
***
Landon duduk di balik kemudi. Sekarang tinggal list teman-teman wanitanya tetapi Landon tidak ingin terlibat dengan wanita. Mereka adalah makhluk paling complicated dan banyak tuntutan. Tak sedikit yang suka pamer jika Landon jalan bersama mereka. Selebritis yang pernah tidur dengannya juga menggunakan dirinya untuk menaikkan popularitas padahal Landon berhubungan dengan wanita hanya demi seks. Dan Landon selalu membayar karena Landon tak mau terikat. Dia muak dimanfaatkan orang.
Landon merasa lapar. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Akhirnya Landon memutuskan kembali ke hotel. Dia bisa makan siang di kamar hotel. Sialnya ternyata seseorang sudah mencheck-outkan kamarnya dan dengan uang lima juta di ATM tak akan sanggup menutup biaya kamar sehari. Landon juga gengsi menggunakan ATM laknat tersebut.
Ok, dia kelaparan, no friends, jobless, dan homeless. Dia sekarang mau kemana dan harus ngapain? Tepat di jalan buntu. Mamanya menelepon.
"Iya Ma?" gumam Landon lesu.
"Lan, kamu di mana? Mama dengar kamu dipecat oleh Papamu?"
Landon mendengus. "Dia bukan Papaku lagi!!"
"Kau butuh bantuan Mama? Sudah makan, Nak? Datanglah ke rumah..."
"Om Reagan ada?"
"Tidak ada. Om Reagan di Sydney, dia tidak ikut pulang."
Dalam waktu setengah jam, Landon tiba di puri megah milik Mamanya. Landon disambut dengan gembira oleh Mamanya. Digandengnya Landon, dan diajaknya ke ruang makan. Aneka hidangan sudah tersaji di meja. Landon pun segera mengisi perutnya dengan makanan lezat. Di akhir hidangan, Landon teringat Winter. Haruskah dia membungkus beberapa makanan untuk gadis itu? Winter bisa jadi juga tidak memegang uang secara ATM mereka ada di tangannya. Kasihan juga kalau gadis itu kelaparan. Namun Landon langsung mengurungkan niatnya. Mengapa dia harus mempedulikan wanita yang telah menghancurkan hidupnya?
"Istrimu mana Lan?"
"Kuliah."
"Lan, kalau kau tak ada pekerjaan. Kerja saja di perusahaan Mama. Mama bisa mengaturnya mumpung Mama belum kembali ke Sydney."
"Mama, aku sudah bilang berkali-kali, aku tak suka pada Om Reagan jadi jangan suruh aku bekerja di perusahaan itu!" kata Landon gusar. Mamanya telah kawin lagi dengan salah satu permilik perusahaan saingan Purnama Corp. Landon tidak menyukai Om Reagan sebab setelah menikah dengan Om Reagan, Mamanya seperti dimonopoli hanya untuk keluarga barunya. Landon merasa Mamanya direbut oleh Om Reagan dan dua saudara tirinya. Sampai kini Landon masih belum bisa ikhlas Papa Mamanya bercerai. Reagan dan Mamanya kerap bolak balik Jakarta Aussie untuk mengurus perusahaan.
"Bagaimana si Winter?”
"Biasa saja..."
"Ingat ya Lan... Mamanya Winter itu yang menghancurkan keluarga kita. Mama akan sangat sakit hati padamu jika kau benar-benar jatuh cinta padanya. Setelah enam bulan cepatlah bercerai!"
Sorot mata Landon langsung diliputi dendam mengingat tragedi di masa kecilnya.
"Lan, besok Mama terbang ke Aussie... Mama tahu kamu dalam kesulitan jadi nih pegang kartu ini. Ada kurang lebih tujuh miliar sekarang. Mama bisa mengirim uang rutin tiap bulan. Jadi kau tak perlu mengandalkan Purnama Corp lagi. Kau masih punya Mamamu, Lan."
Landon menatap Mamanya gundah. Dia masih merindukan wanita cantik itu.Tak disangka Mamanya akan kembali ke Sydney secepat itu. Wajar, mengingat kini Mamanya bukan Mamanya seorang. Mamanya sudah menikah lagi dan memiliki dua anak dari pernikahan barunya. Saudara tiri Landon semuanya tinggal di Sydney. Mamanya sudah sibuk dengan keluarga barunya dan juga hidup lebih bahagia ketimbang waktu masih bersama dengan Papanya.
"Mama tak perlu cemas. Ada Mason yang membantuku. Aku tak akan sengsara dipecat oleh Papa. Uangku masih cukup." kata Landon berbohong. Dia tak mau mengganggu ketenangan keluarga baru Mamanya dan apa pendapat Om Reagan jika beliau tahu Landon dikirimi uang tiap bulan. Kurang lebih itu sama saja dengan Landon menumpang hidup pada keluarga mereka. Reputasinya bisa tercemar.
"Oh iya kau memiliki Mason yang selalu di sampingmu. Syukurlah... Mama jadi tak perlu cemas. Tapi kau harus berjanji pada Mama jika kau dalam kesulitan, kau harus menghubungi Mama. Walau Mama telah menikah lagi tetapi Mamakan tetap Ibu kandungmu, Lan."
***
Kesialan Landon tak berhenti di situ, bensin di mobilnya menipis. Dia harus segera isi bensin. Landon langsung mengumpat mengetahui kini dia tak punya pilihan lain selain menggunakan kartu ATM laknat tersebut. Landon pun masuk ke tempat isi bensin. Kurang lebih delapan ratus lima puluh ribu ludes. Mobilnya tak bisa diisi bensin murah. Terkatung-katung di jalan, akhirnya Landon memutuskan untuk pergi ke Gym. Untung saja tas Gymnya selalu siap di mobil.
Lorena, teman ngegym sekaligus cewek yang naksir Landon langsung kesenangan begitu melihat Landon muncul.
"Tak kusangka kau ke gym sehari setelah hari pernikahanmu. Istrimu tidak kau ajak?" tanya Lorena yang langsung ikut lari di sebelah treadmill Landon.
"Kuliah."
Landon menghela napas. Mengapa hari ini semua orang yang bicara dengannya selalu membawa-bawa Winter. Beginikah yang terjadi kalau sudah menikah?
"Lan, dia kan biasa saja kok kau mau sih menikah dengannya? Aku mengerti Papamu yang mengatur tetapi dia bukan orang yang sekelas dengan kita. Kupikir tipemu adalah wanita cantik dan seksi. Apa sih ancaman Papamu sampai kau menurut?" kata Lorena merajuk. "Walau kau sudah menikah aku akan tetap menyukaimu. Kita bisa pacaran diam-diam, Lan."
Landon langsung mematikan treadmillnya. "Lorena sejujurnya kukatakan padamu. Saat ini aku tak punya apa-apa lagi. Aku sudah ditendang dari Purnama Corp. Di dompet aku hanya punya uang tiga juta seratus lima puluh ribu rupiah. Siapapun yang menolongku, jika ketahuan si tua bangka akan diputus hubungan bisnisnya dengan perusahaan. Kau masih mau pacaran denganku?"
Mata Lorena membesar. Shok. "Benarkah itu?"
"Iya. Untuk apa aku berbohong?"
Lorena tersenyum. "Tapi kau masih tetap menawan. Aku bisa jadi teman bercintamu karena sekarang kau tak sanggup membayar p*****r elitmu. Ikut aku ke pole dance class yuk! Aku baru mempelajari gerakan baru.
"Aku malas, Lo... Just go by yourself!"
Lorena tidak peduli. Digandengnya pria itu ke kelas pole dance yang tidak sedang digunakan. Lorena mengunci pintu. Dia pun mulai menari dengan gerakan eksotis dan menggoda, berharap bisa membangkitkan libido Landon. Karena Landon tidak juga bergerak menerjangnya. Lorena berjalan sambil menari lalu duduk di pangkuan Landon dan mulai memeluk pria itu. Dicumbunya Landon dengan liar, bibir dan leher pria itu. Bahkan tanpa malu Lorena bermaksud meremas area pribadi Landon ketika Landon tak juga membalas ciuman-ciumannya. Landon segera menepis tangan Lorena dan langsung bangkit berdiri, melepaskan tubuhnya dari cengkeraman gadis itu.
"Kenapa Lan, tidakkah kau menyukainya?" tanya Lorena frustasi.
"Lorena, aku sedang tidak mood dan aku tidak akan memiliki hubungan gelap dengan wanita manapun." tukas Landon kemudian membuka pintu.
"Baiklah kau tidak mood hari ini tetapi kapanpun kau butuh seks. Kau tahu di mana bisa menemuiku." kata Lorena tidak putus asa.
***
"Bagaimana malam pertamamu dengan si Tuan Muda? Seberapa liar dia di ranjang?" goda Emma ketika dia dan Winter makan siang. Winter yang sedang menyeruput es kelapa langsung tersedak.
"Ya ampun, Win... Kemarin Landon tuh cakep banget... Perfect abis! Positif kamarin jadi hari patah hati nasional. Kau sangat beruntung..."
Winter menunduk lesu. "Kemarin kami tidur satu kamar tetapi Landon tidur di sofa. Dia mabuk berat. Landon benar-benar kehilangan semua hak istimewanya. Dia kehilangan mansion dan jabatannya sebagai CEO. Landon sangat terpukul dan dia menyalahkanku. Memang sih kalau aku tak muncul mungkin Landon tak perlu diperlakukan sekeras ini oleh Om Grayson."
"Win, jangan sedih... Pelan-pelan dia juga bisa bersikap baik padamu... Apa rencanamu?"
"Aku akan berusaha membuatnya senang tinggal denganku selama enam bulan, untuk menebus semua masalah yang aku timbulkan untuknya... Em, sepertinya aku jatuh cinta benaran padanya. Aku sayang dan menginginkan Landon. Dia sangat mempesona."
“Ya ampun Win, itu mah kau cari penyakit. Landon tak akan membalas perasaanmu. Kau bukan tipenya. Selain itu kalian sangat berbeda. Bagai langit dan bumi. Ditambah lagi dia menganggapmu sebagai musuh, anak dari orang yang menghancurkan keluarganya. Jangan libatkan perasaan! Percaya padaku kau akan patah hati!" kata Emma memberi nasehat.
Mendengar celotehan Emma, Winter seperti terkena serangan triple kill.
***
Setelah dari gym, Landon tak punya tujuan lain. Dia mau ke bar menyusul teman-temannya tetapi dia belum mandi dan ganti pakaian. Dia masih mengenakan jaket sportnya dan celana training. Landon mengerang frustasi. Tak ada jalan lain, dia harus ke Blissful Apartment. Itu berarti dia harus mencari Winter sebab kunci apartment mereka Winter yang pegang. Lalu Landon menyadari dia tak punya nomor telepon Winter. Landon terlalu bete untuk mencari tahu lewat Mason maupun Fabio setelah penghianatan yang mereka lakukan padanya siang tadi. Akhirnya Landon memutuskan pergi ke kampus Winter.
Kedatangan McLaren putih keluaran terbaru menajadi pusat perhatian seisi kampus. Tanpa berdosa, Landon memarkir mobilnya di pintu masuk gedung kampus jurusan ilmu sosial. Biar sudah turun derajat, kelakuan sultannya masih mendarah daging. Landon segera turun dari mobil. Setelah mobilnya jadi pusat perhatian kini pengemudinya yang jadi bahan tontonan. Orang-orang mulai berbisik-bisik. Mereka mengenali sosok pewaris tunggal Purnama Corp.
Dengan tampang bete, Landon masuk ke dalam gedung. Tatapan mata orang-orang membuatnya risih. Merasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami, Landon akhirnya bertanya pada salah satu orang yang lewat.
"Sori, Ada lihat Winter Mulia?"
Wanita yang dicegat Landon, menatapnya dengan mata sebesar bola tenis. "Kau Landon Purnama ya?"
"Iya." jawab Landon tak nyaman.
"Wah berita pernikahan kalian ada di mana-mana. Kau ternyata lebih keren aslinya. Boleh foto bareng?"
Landon mendengus. "Aku sedang tidak ingin difoto. Winter mana?" ulang Landon nyelekit.
Wanita itu pun cemberut. "Winter ada di toilet sepertinya dia sedang dikeroyok cewek-cewek senior."
"Apa?" gumam Landon terkejut. Dia pun segera melesat ke toilet wanita.
***
Rupanya Jane masih belum puas menindas Winter terlebih sekarang ditambah kecemburuannya atas nasib baik Winter. Melihat Winter tak diantar atau dijemput oleh suaminya, Jane jadi tidak segan mengulangi tindakan yang kerap dilakukannya semasa SMU. Landon mana mungkin jatuh cinta sama si yatim piatu miskin itu. Jane membenci Winter karena gadis itu baik, berwajah manis dan disukai banyak orang meski miskin sedangkan Jane memiliki segalanya tetapi kalah populer.
Winter didorong ke pojok toilet oleh tiga kakak senior.
"Jane ada apa ini?" tanya Winter merasa terancam sehabis diseret paksa ke toilet.
"Lily, Rosa, tampar dia biar dia tidak belagu lagi mentang-mentang sudah menikah dengan konglomerat!" perintah Jane. Kedua teman Jane pun mulai menjambak Winter. Salah satu dari mereka menampar Winter beberapa kali. Sehabis mereka puas menampar, Jane membuka kaleng minuman soda dan menyiramnya ke kepala Winter.
Winter basah seketika. Dia sendiri bingung kapan dia pernah bersikap belagu pada Jane.
"Dengar Winter, kamu memang sudah menikah dengan orang kaya tapi kamu itu tetap saja babi. Sebagus-bagusnya baju atau perhiasan yang kamu pakai, kamu tetap akan menjadi babi yang suka main lumpur!" maki Jane.
"Apa salahku pada kalian? Aku sungguh tak mengerti." gumam Winter sakit hati.
"Salahmu adalah kau tidak tahu tempat berani-beraninya menikah dengan Landon Purnama!" seru Rosa yang ternyata fans berat Landon. "Dia itu milik kita semua bukan milik satu orang! Kau berani merampasnya dari kami!"
"Itik buruk rupa berani menikah dengan pangeran angsa!" timpal Lily kembali menjambak rambut Winter.
Setelah puas memukul dan memaki Winter; Jane, Lily, dan Rosa meninggalkan toilet.
Winter menyalakan keran. Dia terheran-heran dengan makian ketiga seniornya. Inikah yang terjadi ketika menikah dengan pria yang digandrungi para wanita? Dia akan menjadi musuh semua orang?
Winter langsung membersihkan pakaian dan wajahnya yang kotor. Dia tak ingin menangis tetapi perasaan diperlakukan tidak adil membuat emosinya meluap yang kemudian tumpah menjadi air mata. Sebenarnya dia sudah biasa dihina sejak kecil. Namanya juga anak tanpa ayah yang miskin, hinaan adalah makanan sehari-hari tetapi entah mengapa setiap kali dia ditindas selalu saja dia menangis.
***
Jane bergidik melihat Landon Purnama sedang berjalan tergesa-gesa ke toilet wanita. Lily dan Rosa pun sama-sama merinding melihat pengusaha muda itu dari kejauhan. Mereka pun buru-buru balik arah takut terciduk oleh Landon. Ketiga wanita itu terpukul mengetahui ternyata Landon peduli pada Winter. Buktinya dia datang ke kampus untuk menjemput istrinya.
Koridor kampus telah sepi terutama di daerah toilet yang terletak di pojokan. Landon tak mungkin masuk ke toilet wanita jadi Landon memanggil Winter dari luar.
Jantung Winter nyaris putus mendengar suara seseorang yang amat familiar memanggil namanya. Winter bersyukur dia telah berhasil membersihkan soda dari rambutnya tapi bajunya kotor semua. Mana ada muka dia menghadapi Landon dalam keadaan sekacau itu. Akhirnya Winter memutuskan akan diam di toilet sampai Landon pergi.
"Winter kalau kau di dalam, cepat keluar! Aku menunggumu!" panggil Landon lagi.
Selama lima menit, jantung Winter berdetak tak beraturan. Sampai kapan Landon akan menunggunya?
“Winter, aku akan hitung sampai sepuluh kalau kau tidak keluar. Aku akan masuk!” ancam Landon. Winter tambah kalang kabut. Winter buru-buru mengambil lebih banya tisu membersihkan noda merah soda di kaosnya. Suramnya Landon masuk sebelum sepuluh detik habis.
Landon tercengang melihat rambut Winter basah dan bajunya berantakan. Basah dan bernoda warna pink. Benarkah Winter baru dibully?
“Landon mengapa kau masuk ke toilet perempuan?” tanya Winter gusar tertangkap basah sedang kacau.
Landon tampak iritasi melihat keadaan Winter. Dilepaskannya jaket sportnya dan diberikannya pada Winter. “Pakai ini!”ujarnya. “Aku menunggumu di mobil. Jangan lebih dari lima menit!”
Setelah penampilannya rapi, Winter langsung mencari Landon. Mobil mentereng Landon dengan mudah ditemukan. Landon sedang duduk di balik kemudi memainkan ponsel.
Ketika Winter berjalan mendekat, Landon menyadari kehadirannya. Winter pun buru-buru masuk mobil. Landon menyadari Winter telah melepas pakaiannya yang basah. Penampilannya sudah rapi meski memar bekas tamparan di pipi gadis itu tak dapat disembunyikan.
“Maaf Lan membuatmu menunggu. Aku tidak tahu kau akan menjemputku ke kampus." kata Winter.
"Aku butuh kunci masuk ke apartment."
Jlep! Winter seharusnya sadar tak mungkin seorang Landon Purnama datang ke kampus khusus untuk menjemputnya.
"Oh iya ini kuncinya." kata Winter menaruh kunci di tengah.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Landon seraya menjalankan mobil.
"Melakukan apa?" balas Winter. Mungkinkah Landon tahu dia baru saja dikeroyok kakak kelas?
"Siapa mereka dan mengapa mereka mengeroyokmu?" ulang Landon.
"Jadi kau tahu?" gumam Winter dengan kedua alis terangkat. "Mereka menyukaimu Landon dan mereka membenciku karena aku menikah denganmu. Mungkin kau tidak tahu tetapi kau sangat populer di kampus." jawab Winter apa adanya.
Landon agak terkejut. "Apakah semua yang kau lalui worth it cuma demi kuliah?" tanya Landon mencibir. "You marry a stranger, got bullied because of a fake husband, and will be a widow in six months?"
Pertanyaan Landon bisa dibilang cukup sadis. Winter tersenyum lirih. "Landon, mungkin bagimu kuliah adalah hal sepele tetapi itu tidak untukku. Mamaku bekerja mati-matian demi mengumpulkan uang kuliahku. Sulit sekali bagi kami untuk mengumpulkan uang sebab Mamaku sakit-sakitan dan uang tabungan kami habis untuk membeli obat. Namun demi aku kuliah, Mama walaupun sakit dengan tekun bekerja dari subuh sampai sore. Itu sebabnya kesehatannya memburuk dan akhirnya kritis. Cita-cita Mama cuma satu. Dia ingin aku menjadi sarjana. Ketika Mama meninggal, aku belum sempat mewujudkan impiannya."
Landon melirik sekilas dan dapat melihat kesedihan Winter dengan jelas.
"Landon, sejujurnya kukatakan padamu. Aku sudah tak punya apa-apa atau siapa-siapa. Aku bahkan tak dapat bayar kontrakan setahun di muka. Para tetangga kerap mengasihiniku. Mereka sering memberikanku makanan dan uang. Aku malu Landon. Aku tak mau hidup dari belas kasihan orang lagi. Saat itulah Om Grayson muncul. Mungkin aku memang egois. Aku tak memikirkan perasaanmu tetapi aku sungguh ingin hidup mandiri dan mewujudkan impian Mama."
"Aku heran, bukannya Papa selalu membiayai edukasimu dari dulu kenapa kali ini Papa tidak langsung membiayaimu kuliah sebelum Mamamu meninggal."
"Setelah lulus SMU, Mama melarikan diri dari Om Grayson. Aku tak mengerti alasannya tetapi Mama tiba-tiba mengajakku pindah rumah dan ganti nomor telepon. Sejak itulah hubunganku dan Om Grayson yang cuma sebatas SMS terputus."
Landon tak bersuara tetapi menyimak. Perasaannya dilanda prahara mendengar cerita Winter.
“Landon, maaf kalau aku membuatmu menjadi korban, tapi aku berjanji padamu, aku tak akan memanfaatkan harta keluarga Purnama atau merepotkanmu. Om Grayson cukup membayar uang kuliahku saja. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatmu lebih mudah melewati pernikahan bohongan kita. Just bear with me for six months. That's all I ask." tutur Winter memohon.
Landon menatap Winter lalu menarik napas dalam. "I don't know what to say. Let see how it goes..." katanya datar.