Sesampainya di apartment, Landon dan Winter langsung shok. Apartment itu kotor selayaknya apartment yang tak berpenghuni. Untungnya sudah fully furnished. Paling tidak, mereka tak perlu selonjoran di lantai. Winter yang mengetahui Landon super bersih dapat melihat pria itu jijik melihat ketebalan debu menyelimuti perabotan. Dia bahkan sempat bersin beberapa kali. Ternyata Landon alergi debu. Barang-barang mereka telah dipak dengan rapi dalam beberapa koper dan tergeletak bebas di lantai. Seseorang telah mengirim harta benda Landon dan Winter tetapi tidak sekalian membersihkan apartmemt.
Landon pun langsung menelepon seseorang.
"Bik Inah... Tolong ke Blissful sekarang. Aku butuh beberapa orang untuk bersih-bersih... Tuan bilang tidak boleh? Geez... Damn that old man! Just please quickly send some people here!" kata Landon langsung memutus sambungan telepon.
"I'm not too sure someone is coming to do some cleaning!" gerutu Landon. Meski cukup lelah, Landon bahkan tak tergerak untuk duduk di sofa letter L di hadapan mereka.
"Tidak usah khawatir... Biar aku yang bersih-bersih... Kau pergilah jalan-jalan di shopping centre bawah. Setelah bersih aku akan meneleponmu." usul Winter seraya tersenyum.
"Mau berapa lama kau membersihkan tempat ini?" tanya Landon tak yakin tempat itu bisa bersih dalam hitungan jam. Hitungan bulan kayaknya baru bisa.
"Serahkan saja padaku!" kata Winter optimis lalu mendorong Landon ke pintu. Meski ragu, akhirnya Landon pun pergi.
Winter memandang sekeliling ruangan bernuansa biru pastel. Apartment yang bagus. Ukurannya benar-benar pas untuk pengantin baru. Ruang tamu memiliki sofa yang nyaman dan TV besar, ruang makan cukup untuk enam orang, bersebelahan dengan dapur mungil yang apik. Ruang laundry terletak di belakang, tak terlalu besar tetapi dilengkapi dryer jadi Winter tak usah pusing mikir harus jemur baju di mana. Ada satu toilet, satu kamar dengan kamar mandi dalam, dan satu study room. Balkonnya juga nyaman dengan pemandangan menghadap ke dermaga. Winter bisa melihat kapal-kapal parkir di pinggir laut. Winter benar-benar heran mengapa Landon anti sekali tinggal di sana. Memang sih ukurannya lebih kecil dari kamar Landon di mansion tetapi apartment ini sama sekali tidak jelek. Ini bahkan jauh di atas harapan Winter. Apalagi di bawah apartment adalah salah satu shopping center terbesar di Jakarta.
Winter pun segera mencari alat bersih-bersih yang tersimpan di storage. Syukurlah peralatan perang cukup lengkap berserta dengan aneka cairan pembersih. Winter sudah terbiasa memberesakan rumah. Dulu dia sempat bekerja sebagai cleaner di rumah Emma guna menambah uang jajan. Syukurlah berkat bekerja di rumah Emma yang orang kaya, Winter jadi tahu bagaimana menggunakan alat-alat dapur dan alat elektronik yang canggih sehingga dia tak terlalu kampungan sewaktu masuk ke mansion Landon. Baru kali ini dia merasa sangat bersyukur pernah kerja jadi tukang bersih-bersih. Pertama-tama Winter mencuci seprai dan selimut beserta bantal dan guling supaya Landon bisa langsung tidur ketika pulang. Suaminya itu pasti sudah sangat kelelahan. Setelah mencuci, Winter pun mulai membersihkan kamar utama dulu. Dia memutuskan Landon akan tidur di kamar sementara dia akan tidur di study room yang bisa memuat satu single bad. Merasa dihadiahi hunian impian, Winter berbenah dengan penuh sukacita. Dua jam setengah kemudian, Winter menelepon Landon.
“Halo..." terdengar suara jernih Landon di antara suara bising.
"Landon, sudah bersih apartmentnya. Tinggal sedikit lagi. Besok akan aku lanjutkan, tetapi kamarmu sudah beres, kau bisa tidur dengan nyaman malam ini." lapor Winter antusias.
"Ok."
"Kau di mana? Apa kau sudah makan?"
"Aku sedang main bowling. Bye."
Winter termenung ditanggapi dengan cuek setelah dia bekerja seperti upik abu. Namun Winter tak mau mellow lama-lama. Dia langsung memusatkan pikirannya pada benda-benda apa yang mereka butuhkan di rumah. Winter pun membuat list dan segera pergi ke supermarket.
***
Landon baru pulang ke apartment jam dua pagi. Winter yang sejak tadi menunggu kepulangannya sudah terlelap di sofa sementara TV dalam keadaan menyala. Pria itu cukup takjub melihat hunian mereka kini layak tinggal. Semuanya tertata dengan rapi. Debu tebal yang membuatnya terbatuk-batuk pun sudah hilang. Ruangan itu sempit. Hanya pas untuk dua orang. Tidak ada ekstra ruang untuk dijadikan tempat kumpul-kumpul, juga tak ada ruangan untuk berpakaian. Parahnya cuma ada satu kamar mandi yaitu di kamar. Toilet depan tidak bisa untuk mandi cuma bisa buat cuci tangan dan buang air. Landon benar-benar tak habis pikir, tega betul Papanya memberikan apartment satu kamar. Landon rasanya mau menangis. Landon tak terbiasa berbagi space dengan orang lain, namun sekarang dia dan Winter harus sharing kamar mandi.
Landon menghela napas. Dilihatnya Winter sedang tertidur pulas di sofa. Haruskah dia memindahkan gadis itu kamar? Tetapi itu berarti mereka akan tidur sekamar atau dia yang tidur di sofa. Selama ini dia selalu tidur sendiri. Bahkan setelah berhubungan seks dengan wanita, Landon tak pernah benar-benar tidur seranjang sampai pagi. Setelah seks, dia akan pergi. Seks tak lebih adalah sebuah transaksi. Tak ada perasaan di dalamnya. Hanya ada nafsu.
Di tengah kegalauannya, Landon akhirnya ke dapur untuk mengambil minum. Oh ada makanan juga di meja. Ada pasta carbonara dengan banyak udang di atasnya, Wanginya cukup menggoda, batin Landon terkesima. Apakah Winter tahu kalau dirinya penggemar seafood? Landon mengerjap, heran bagaimana bisa Winter masih sempat memasak sehabis bersih-bersih. Mungkin Winter punya kekuatan super. Tiba-tiba Winter terbangun. Begitu menemukan Landon sedang menuang air ke gelas. Gadis itu langsung bangkit berdiri, senang melihat Landon sudah kembali.
"Landon, kau sudah pulang? Kau mau makan? Biar aku hangatkan makanan untukmu."
Landon menoleh. "Tidak usah. Aku sudah makan tadi.”
Winter sedikit kecewa, masakan pertamanya untuk Landon langsung menerima penolakan tetapi seperti biasa Winter selalu tersenyum. "Oh baiklah kalau begitu biar aku masukkan kulkas."
Winter pun memasukkan pasta ke dalam kulkas setelah membungkusnya dengan plastic wrap.
"Winter, pegang kartu ATM ini! Isinya sekitar tiga juta. Kau atur lah mau digunakan untuk apa." kata Landon.
"Bagaiman denganmu? Kau pegang saja. Aku masih ada sedikit tabungan."
"Lalu untuk biaya hidup sehari-hari bagaimana?"
Winter menimbang sebentar. "Emmm... Baiklah... Bolehkah aku minta satu juta supaya aku bisa memasak untuk kita? Segitu saja sudah cukup. Sisanya untukmu. Aku tahu kau lebih banyak keperluan..."
Landon tersenyum masam. Empat juta atau lima juta sama saja untuknya. "Ambilah 4 juta. Satu juta untuk makan, satu juta untuk urusan kuliahmu, dan dua juta untuk biaya sehari-hari. Kurasa Papa tak mungkin membantu kita membayar tagihan listrik dll! Raja Neraka lebih berprikemanusiaan dari dia!" kata Landon geram membayangkan Papanya sedang menertawakannya saat ini. "Aku cuma butuh uang bensin. Untuk minggu ini kau cukup-cukupkanlah uang yang ada di ATM."
"Kau bisa hidup hanya dengan satu juta seminggu?" tanya Winter takjub.
"No further question, Winter. Just do as I say!" kata Landon bete.
Winter pun mengangguk. "Terima kasih Landon..." gumam Winter patuh.
"Kau yang tarik ya uangnya. Aku malas ke ATM." pesan Landon lalu berjalan ke kamar mandi. Sebelum masuk, Landon memanggil Winter.
"Di mana bajuku?”
"Di lemari, sudah kulipat dan kugantung."
Landon pun bergegas ke lemari, mengambil handuk dan baju. Lagi-lagi Landon tertegun melihat isi lemarinya sudah disusun dengan rapi oleh Winter. Bahkan warnanya pun diatur dari yang gelap ke terang. Kalau enam bulan lagi Winter butuh pekerjaan, Winter bisa melamar untuk membantu Bik Inah di mansion. Landon tak keberatan memberi referensi. Landon pun pergi mandi.
Winter kembali menonton TV sambil selonjoran. Dia akan tidur di ruang tamu sebab belum ada kasur di ruang belajar. Untungnya tadi waktu menelepon Emma, temannya itu punya kasur single tak terpakai. Lumayan Winter bisa pinjam. Besok dia akan mengambilnya. Bon Bon teman mereka bersedia mengantar kasur tersebut ke apartment. Satu masalah selesai.
Setelah selesai mandi, Landon duduk di sofa agak jauh dari Winter. "So... Siapa yang akan tidur di kamar?"
Winter terpaku melihat Landon mengenakan pakaian tidur berwarna biru tua. Ini pertama kalinya Winter melihat Landon mengenakan pakaian tidur. Landon kelihatan segar dan tubuhnya harum. Winter heran mengapa dengan pakaian tidur saja, Landon bisa kelihatan begitu charming. Apalagi kalau tanpa pakaian? Winter menggeleng, buru-buru mengusir imajenasi liarnya.
Alis Landon bertautan. "Apa arti gelenganmu?"
Winter pun tersadar. "Maksudku, tentu saja kau yang tidur di kamar. Aku akan tidur di ruang belajar. Tapi malam ini aku akan tidur di sofa. Besok temanku mau meminjamkan kasur single jadi mulai besok aku sudah bisa tidur di ruang belajar.
"Aku tidak tahu ruang belajar bisa dijadikan kamar." kata Landon heran dengan ide Winter. Dia pun berjalan ke ruang belajar untuk melihat-lihat dan langsung berpendapat Winter tidak waras.
Landon menghela napas. "Winter, tidurlah denganku di kamar!"
Winter tercengang sampai rahangnya mau lepas. Apa dia sedang tidak salah dengar? Lidahnya kelu untuk menjawab.
"Gunakanlah ruangan ini untuk belajar. Bukankah kau ingin sekali menjadi sarjana?"
Winter masih membisu. Detik itu di mata Winter, Landon sama sekali bukan bad boy sesuai predikatnya.
"Kenapa sih kau diam terus dari tadi? Baiklah kalau kau keberatan tidak apa-apa. Terserah kau saja." kata Landon melengos.
"Landon, tentu saja aku tidak keberatan." kata Winter buru-buru menyusul.
"Ingat. Kita cuma tidur. Jangan mengharapkan lebih!" gumam Landon mewanti-wanti lalu masuk kamar.
***
Winter menutup pintu pelan-pelan. Dia gugup setengah mati. Dia tak pernah tidur sekamar dengan pria apalagi dengan orang yang disukainya dan Landon memenuhi kriteria keduanya. Dia takut juga berbunga-bunga. Winter tak tahu hal itu benar atau tidak. Terlepas bagaimana pun kondisi mereka, mereka telah sah menikah di hadapan Tuhan, bukan?
"Winter, matikan lampu!" perintah Landon. Winter menurut. Landon sudah berbaring di salah satu sisi tempat tidur dengan posisi terlentang. Matanya sudah terpejam. Dengan hati-hati Winter berbaring di sebelah pria itu. Dibelakanginya Landon sampai dia tidur di bagian ujung tempat tidur. Terlalu banyak yang melintas di kepalanya sehingga Winter tak bisa tidur.
Landon terbangun ketika tak sengaja tangan Winter memukul perutnya dengan cukup keras. Landon meringis. Dilihatnya Winter sedang tertidur dengan damai di sebelahnya. Landon menarik napas dalam-dalam. Ternyata Winter kalem kalau sedang sadar saja. Definitely not when she is asleep. Baru saja Landon ingin menjauhkan tubuhnya dari Winter, tangan Winter malah melingkari tubuhnya menjadikan tubuhnya sebagai guling. Tanpa dosa, kepala Winter juga bersandar di dadanya. Dan Winter terlihat sangat nyaman. Landon langsung menyesali keputusannya menyuruh Winter tidur sekamar. Rasanya Landon ingin mengamuk tetapi dia terlalu mengantuk untuk membuat kegaduhan.
Keesokkan paginya, Winter menjerit ketika membuka mata. Wajah Landon begitu dekat dengan wajahnya. Pertama-tama Winter belum ngeh siapa sosok tersebut. Winter cuma tertegun menatap paras elok di depan matanya. Kok bisa ada seorang pria di ranjangnya? Lalu matanya membesar ketika dia menyadari orang itu adalah Landon, dan apa yang terjadi padanya? Mengapa dia tidur di atas tubuh Landon??? Tak terhindarkan, Winter cuma bisa berteriak. Landon langsung terlonjak mendengar jeritan Winter. Dilihatnya Winter terbirit-b***t turun dari ranjang. Winter menggigit bibir melihat wajah masam Landon. Mata pria itu masih berat terbuka. Rambutnya pun acak-acakan.
"For God's sake Winter! It's still early!" sungut Landon iritasi seraya menutupi kepalanya dengan selimut dan kembali berbaring dengan kesal. Entah mengapa Winter buru-buru menutupi bagian dadanya. Diceknya adakah bagian dari pakaiannya yang terbuka. Ternyata tidak sama sekali. Semuanya masih tertutup. Lalu Winter menyadari kebodohannya, mana mungkin Landon tertarik untuk menyentuhnya. Lagipula tadi juga sangat jelas tangan siapa yang memeluk siapa.
"Maafkan aku Landon.... Aku akan segera membuat sarapan..." kata Winter buru-buru kabur.
***
Maka dimulailah kehidupan bersama Landon dan Winter. Winter tak menyangka Landon adalah orang yang suka bangun pagi. Pria itu rutin pergi ke Gym di lantai dua belas setiap pagi. Baru pulang sekitar jam sembilan. Landon akan sangat kelaparan sehabis olahraga. Winter menyajikan sarapan ekstra besar untuk Landon. Setelah itu Winter pergi ke kampus sementara Landon akan main game atau tidur lagi atau keluar. Winter selalu memastikan suaminya tidak kelaparan di rumah dengan menyetok banyak cemilan. Winter juga memasak bermacam-macam makan siang Landon untuk beberapa hari dan menyimpannya di Freezer. Semuanya ditaruh di container plastik dengan rapi. Jadi Landon tinggal menghangatkannya di microwave. Untuk makan malam, Winter selalu memasak setelah pulang dari melakukan segala aktivitasnya.
Winter kerap gelisah setiap kali Landon menerima telepon sebab kebanyakan dari wanita. Status pernikahan mereka tak menghentikan para wanita untuk mengejar Landon. Mereka malah lebih agresif. Winter mempelajari kalau Landon sering memblokir nomor orang dan ponselnya sering disilent karena terlalu banyak telepon atau message yang masuk.
Landon benar-benar tidak mempedulikan Landon Winter Foundation. Bagi pria itu, lebih baik tidak produktif di rumah daripada menginjakkan kaki di kantor. Berbeda dengan Winter yang selalu mampir setelah kuliah selesai. Bersama para karyawan, Winter sedang menggalang dana untuk mendirikan mini market serba gratis untuk para gelandangan dan orang miskin lainnya. Namun amat sulit mencari donatur sebab foundation mereka masih baru dan prospek mereka belum tersusun secara matang.
Kini Winter menjadi lebih ceria. Dia selalu ingin cepat-cepat pulang menemui suaminya. Dia pun gemar mengurus pekerjaan rumah terutama yang berhubungan dengan Landon. Mencuci, menyetrika, memasak, dan bersih-bersih untuk Landon terasa menyenangkan. Dia tak merasa lelah apalagi ketika melihat wajah sumringah Landon saat menyantap masakannya dengan lahap. Semua kerja kerasnya seperti terbayar. Winter juga memastikan s**u stroberi selalu ada di kulkas dan menyelipkan menu seafood setiap minggu.
Malam ketika mereka sudah berada di kamar menjadi momen favorit Winter. Mereka memang tidak banyak bicara boro-boro bermesraan. Asik dengan device masing-masing tetapi Winter senang diam-diam memperhatikan Landon main game di meja komputer. Melihat Landon mengumpat ketika kalah atau bersorak sorai ketika menang menjadi pemandangan yang enak dilihat. Bagi Winter sisi kekanak-kanakkan Landon sangat adorable.
Winter juga mempelajari kalau tidur, Landon seperti mayat, tidak bergerak, dan sulit dibangunkan. Aksen bahasa Indonesia Landon juga lucu secara Landon besar di luar negeri. Dia berbahasa Inggris lebih baik daripada berbahasa Indonesia. Winter ingin melakukan apapun untuk membuat Landon bahagia ketika bersamanya.
Saat keluar kamar, Landon sering memergoki Winter sedang bersih-bersih sambil bernyanyi. Winter bisa menyetrika sambil mengusap-ngusap pakaiannya seolah-olah pakaian itu hidup. Juga suka menyikat WC sambil berjoget-joget. Landon benar-benar heran pada tingkah laku Winter. Baru kali ini ada orang yang begitu bahagia saat sedang membersihkan rumah. Landon membuka kulkas, tersenyum lebar melihat minuman favoritnya berjejeran dengan rapi terus juga ada bermacam-macam snek. Dia pun selonjoran di sofa, menonton film dengan segambreng makanan ringan. Winter kadang mondar-mandir memvacumn lantai. Rumah yang bersih dan makanan berjibun membuat Landon cukup betah di apartment.
Setelah ditendang dari perusahaannya sendiri, Landon memutar otak untuk membuat Papanya menyesal. Dia ingin menunjukkan kalau tanpa Grayson Purnama, hidupnya akan baik-baik saja. Saking kesalnya dia ingin ganti nama belakang. Namun membayangkan Austin, sepupunya, akan mengambil alih semua miliknya membuat Landon terbakar. Kakak kandung Mason itu adalah musuh terbesarnya. Sejak kecil mereka selalu bersaing. Landon merasa Austin tak pernah mau kalah dan selalu ingin merebut apa yang dimiliki Landon. Sepupunya itu bahkan bisa mengambil hati Papanya sehingga menjadi keponakan favorit Grayson Purnama. Bisa dibilang Grayson lebih sering membanggakan Austin dibandingkan anak kandung sendiri. Di kantor pun karir Austin sangat gemilang. Dia dipercaya oleh Grayson untuk memimpin beberapa perusahaan sementara Landon hanya memegang satu perusahaan.
Kemarin sewaktu menunggu Winter membersihkan apartment saat mereka tiba di Blissful, Josh, salah satu teman lama Landon menghubunginya. Josh mengucapkan selamat atas pernikahan Landon dan Winter. Landon dan Josh dulu teman main musik dan setelah dewasa menjadi teman pesta. Syukurlah Josh tidak ikut-ikutan menghindarinya. Josh mengajaknya bertemu bersama teman-teman mereka yang lain. Mereka pun main bowling seraya membicarakan bisnis. Landon bermaksud melaunching game online yang dulu pernah dirancangnya. Game itu sudah rampung sembilan puluh persen tetapi tertunda karena Landon sibuk mengurus tender department store di luar negeri. Keinginannya untuk sukses secara instant membuatnya harus menderita kerugian 12 juta dolar. Partner bisnisnya menggelapkan ratusan ribu unit produk perusahaan dan mengambil uang yang harus dibayarkan kepada beberapa supplier. Landon yang terlalu percaya pada bekas teman junior high schoolnya di Inggris itu, tidak memeriksa segala dokumen dengan rinci sehingga kerugian tidak terelakkan. Kini keberadaan orang itu entah ada di mana. Mungkin sudah kabur ke Eropa Timur. Itulah yang terjadi ketika Landon tidak mau ambil pusing. Makanya Grayson Purnama mengamuk habis-habisan.
Kali ini Josh bersedia membantunya membentuk tim kerja dan mencari investor. Landon juga akan memasarkan desain gamenya pada pemilik perusahaan-perusahaan game online yang dikenalnya. Jika nanti pekerjaannya sukses, dia akan segera menyudahi pernikahannya dengan Winter. Dia akan kembali hidup bebas. Landon tidak sabar menantikan saat itu.
***
Landon tersenyum cerah setelah mendapat kabar kalau desain gamenya disukai beberapa perusahaan. Josh akan mengatur presentasi Landon di perusahaan yang tertarik. Sebagai sesama konglomerat yang terpandang, tak perlu banyak marketing bagi Landon dan Josh untuk memasarkan produk pada investor. Landon tinggal menunggu kabar. Josh juga sudah membayar sebagian hasil kerja Landon. Merasa impiannya akan tercapai sebentar lagi, Landon mulai sibuk mempersiapkan diri bersama timnya. Landon tak pernah menyangka justru teman pesta yang akan membantunya di saat genting. Bukan Mason apalagi Fabio, sekretarisnya yang super penakut.
Winter agak bingung melihat Landon jadi sering keluar rumah dan pulang larut malam. Landon juga jadi jarang makan malam bersamanya. Biasanya karena tak punya uang dan pekerjaan, Landon hanya bermalas-malasan di rumah atau berolahraga. Winter senang karena keberadaan Landon jadi gampang ditebak. Namun belakangan ini Landon selalu pulang dalam keadaan lelah tetapi wajahnya lebih ceria dari awal-awal mereka pindah ke apartment. Winter jadi penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya.
Untunglah semesta memperhatikan kegundahan Winter. Hari Senin Winter tak ada kuliah. Kantor juga libur karena mereka belum ada aktivitas sosial akibat keterbatasan dana. Jadi Winter memutuskan diam di rumah, belajar untuk kuis besok. Seperti biasa, Landon pulang dari gym sekitar jam 9 pagi. Winter sudah menyiapkan burger fish fillet plus waffle dengan es krim stroberi. Tak lupa Winter menambahkan pisang dan buah stroberi.
"Winter... Aku lapar!" seru Landon seperti anak kecil yang minta makan pada Mamanya. Ditaruhnya tas gymnya di sofa, sebelum dia menyusup ke dapur. Dilihatnya Winter sedang menyusun isi sandwich.
"Dua menit ya!" kata Winter menyuruh Landon menunggu. Landon pun langsung duduk rapi di meja makan.
Winter membawa dua piring untuk Landon. Satu piring berisi dua tangkup burger dan piring lain berisi dessert. Mata Landon berbinar-binar melihat makanan tersaji di meja.
"Kau menyediakan eskrim seperti untuk anak TK. Pakai dihias segala." komentar Landon tertawa kecil. "Aku heran dengan uang pas-pasan kau bisa masak masakan enak setiap hari. Apa Papa memberimu uang tambahan?"
Winter menggeleng. "Tidak Lan... Aku suka mengumpulkan kupon diskon dari internet, dari teman-teman, dari mana saja. Ini es krimnya aku beli buy one get one free." kata Winter bangga. "Sekarang aku lagi mencari diskon seafood. Cuma belum ada."
"Ternyata kau seperti aku, suka makan seafood."
Aku masak seafood untukmu, Landon! batin Winter gemas Landon tak menyadari perhatiannya.
"Enak burgernya. Yumm..." kata Landon sambil melahap burger kedua. "Kau tidak makan?"
"Aku sudah makan duluan. Bangun-bangun aku lapar." kata Winter. Dia memang sudah makan nasi dengan telur dadar. Burgernya dia berikan untuk Landon semuanya. Kalau dua-duanya makan enak, uang mereka mana cukup jadi Winter memilih memprioritaskan Landon. Winter sebisa mungkin melestarikan kehidupan Landon sebagai Tuan Muda.
"Hari ini acaramu ngapain, Lan?" tanya Winter sambil enjoy memperhatikan Landon makan.
"Paling tidur, main game." jawab Landon yang kini sedang menikmati eskrim dengan waffle.
"Kau tidak keluar?" tanya Winter kesenangan.
"Not today." jawab Landon dengan mulut penuh sementara matanya berkonsentrasi ke piring.
Winter gigit bibir, Landon tidak balik bertanya. Pria itu cuek sekali padanya, batin Winter mengurut d**a. Winter pun menuangkan segelas air untuk Landon, juga segelas untuknya. Dia takut Landon tersedak makan dengan mulut kepenuhan seperti itu.
"Lan, hari ini aku libur."
"Oh...”
"Kau mau pergi jalan-jalan denganku?" tanya Winter takut-takut.
"Aku sedang malas keluar." tolak Landon. "Kalau kau mau jalan-jalan pergilah dengan teman-temanmu."
"Oh ok..." kata Winter lesu.
Sehabis makan, Landon langsung masuk kamar. Winter tak ingin mengganggu, jadi Winter memutuskan untuk berbenah dan belajar. Dia berandai-andai kapan dia bisa berkencan dengan Landon. Sekali saja rasanya dia sudah bahagia sekali. Mungkinkah mereka akan bercerai tanpa sempat berkencan? pikir Winter suram.
***
Pukul lima pagi, Winter sudah membuat kegaduhan. Dia tak sengaja menjatuhkan jam meja ketika hendak mengambil dompet. Landon yang sedang terlelap pun terusik. Dilihatnya Winter meringis ke arahnya, meminta maaf.
"Tumben sekali kau bangun lebih pagi dari aku?" tanya Landon sambil mengusap-ngusap mata. "Mau kemana?"
"Aku mau ke seafood market di Mal Taman Hijau. Hari ini tuh perayaan ulang tahun ke 10 toko jadi semua seafood diskon 80% selama setengah jam pertama. Tokonya buka jam 7 jadi aku harus buru-buru ke sana, takut kehabisan. Pasti banyak orang yang akan mengantri.”
Landon langsung bangun. "Seafood??? Ada salmon impor?" tanya Landon tertarik. Dia sudah lama sekali tidak makan salmon sampai rasanya dia rela berdesak-desakkan demi ikan laut tersebut.
"Ada dong. Ini aku makanya mau beli salmon yang banyak buat stok. Ya sudah aku pergi dulu ya. Aku kan harus naik bis."
"Aku ikut.... I'll drive! Tunggu aku mandi!" kata Landon buru-buru turun dari tempat tidur.
Setelah mandi, Landon mencari hoodie hitam kesayangannya yang super nyaman. Maklum dia harus sikut kanan sikut kiri untuk memperebutkan salmon. Pakaian harus mendukung. Dicari-carinya hoodie itu tapi tak ketemu.
"Winter, di mana Hoodie hitamku yang ada garis putihnya?" seru Landon dari kamar.
"Di lemari, Lan. Pintu ke tiga, rak kedua dari atas. Sudah dilipat, kurang lebih posisinya di tengah." sahut Winter.
Landon pun mengikuti instruksi Winter dan dia takjub hoodienya tepat berada di sana.
Tak lama kemudian Landon muncul. Sudah rapi dan wangi. "Yuk pergi!" ajak Landon. Diambilnya kunci mobil di meja dekat pintu.
"Yuk!" kata Winter semangat.
"Kau bawa apa itu?" tanya Landon seraya membuka pintu.
Winter tersenyum lebar. "Plastik sampah buat memuat belanjaan. Cukup besar kan?"
Landon melongo. "Kau tidak malu bawa plastik sampah ke Mal?" tanya Landon merasa aneh.
"Tidak. Yang penting belanjaan muat. Aku takut troli habis dipakai orang. Jadi kita tak perlu khawatir lagi kalo ada ini." jelas Winter.
Landon terdiam sejenak, heran akan ide konyol Winter. "Terserah kau saja."
Landon dan Winter tiba pukul setengah tujuh. Sesuai dugaan, di depan pintu toko yang masih tutup itu, orang sudah berjejal-jejalan siap menerkam satu sama lain demi dapat barang diskon. Antrian tak jelas garisnya. Harusnya satu garis tetapi di tempat itu sudah ada sekitar delapan garis antrian yang kacau balau. Tampang Landon kusut melihatnya. Winter pun kelihatan gelisah, takut kehabisan stok.
"Kuncinya harus gesit, Lan. Nanti apa saja yang di depan mata kita ambil dulu saja."
“Aku cuma mengincar udang dan salmon." kata Landon tak setuju.
"Kau bete ya berdesak-desakkan seperti ini?" tanya Winter memperhatikan tampang jutek Landon. "Bagaimana kau duduk saja di sana, biar aku yang belanja. Aku akan ambil salmon sebanyak-banyaknya."
Landon agak iritasi sebab Ibu-ibu gemuk di belakangannya berisik mengobrol dengan rombongan tante-tante dan terus menempeli punggungnya seperti aji mumpung.
"I don't trust you." kata Landon singkat. Diam-diam Winter menahan tawa menyadari Ibu-ibu di belakang Landon seperti cari kesempatan dalam kesempitan. Posisinya terlalu mepet pada Landon. Landon seperti sedang dilecehkan tante girang.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Karyawan toko menghidupkan pintu otomatis sehingga pintu masuk terbuka lebar. Orang-orang pun langsung berhamburan ke dalam. Semua orang saling dorong-dorongan. Injak-injakkan kaki juga tidak terhindari. Winter terjepit, terbawa arus manusia yang mendorongnya dari segala arah. Kakinya juga sudah dizolimi oleh kaki-kaki lain. Belum apa-apa Landon sudah hilang. Winter pun memutar kepalanya, takut Landon jangan-jangan sudah terkapar di lantai jadi keset. Rupanya pemuda itu sudah jauh di depan Winter. Sudah masuk ke dalam toko. Pria itu sudah dapat troli pula. Bused, gesit sekali Landon seperti Ninja, batin Winter tercengang. Landon memang luar biasa kalau soal urusan makan.
Berbalapan dengan pembeli lain, Landon buru-buru melesat ke area salmon. Dengan lincah, dia menyelip di antara hiruk pikuk manusia. Untuk tubuhnya ramping dan bertenaga untuk menghancurkan tembok-tembok lemak para Bapak-bapak dan Ibu-ibu apalagi manula. Landon memasukkan banyak paket ikan salmon ke dalam troli, sekali ambil langsung sepuluh. Tangannya dilebarkan seperti baskom. Dia lempar semuanya secepat kilat ke dalam troli. Tak dipedulikannya orang kanan kiri yang kalah gesit. Tidak ada main toleransi. Landon juga tidak peduli ketika ada Ibu-ibu protes sebab dia tidak kebagian cukup salmon buat anaknya. Landon pura-pura tak peka dan langsung pindah ke tempat udang. Dia benar-benar kangen makan udang rebus ukuran XL. Kebetulan Winter lewat, diambilnya kantong sampah dari tangan Winter, dipakainya sarung tangan plastik yang tersedia lalu dimasukkannya berjibun udang ke dalam plastik sampah.
"Lan, kalo udang masukkan ke plastik yang disediakan. Tidak boleh ditaruh ke sini..." kata Winter memberi tahu.
"Don't worry Winter... Yang penting sama-sama plastik. Those plastic bags are too small!" sahut Landon tidak peduli. Akhirnya Winter malah ikut membantu Landon memuat udang. Kurang dari lima menit, udang sudah mencapai setengah kantong jumbo tersebut.
"What else do we need, Winter?"
"Kau bukannya cuma mau beli udang sama salmon saja?"
"I mean what else for you not for me. I've got enough."
"Aku ingin makan kerang tiram sih tapi sepertinya sudah habis."
"Wait for me... Make sure the prawns and salmons are safe and sound. Don't let anybody touch it!" pesan Landon serius lalu menuju arena kerang dkk. Benar saja kerang tiram yang diinginkan Winter sudh sudah habis. Yang tersisa hanya kerang bambu. Landon pun mengumpat. Diliriknya Ibu-ibu gemuk yang tadi menempelinya membawa troli berisi lima paket 1 kilo kerang tiram. Mata Landon pun membesar.
"Permisi." sapa Landon tanpa senyum sebab dia sebal sama wanita tambun itu. Sebaliknya si Ibu sumringah seperti menang lotere disapa oleh seorang pemuda ganteng.
"Iya, Dek?" katanya sambil berkedip-kedip memamerkan kibasan bulu mata tempelannya yang tebal seperti sapu. Landon jadi mual.
"Tante, boleh saya minta satu kilo kerang tiram milik Tante? Soalnya stoknya sudah habis. Setengah paket juga tidak apa-apa. Nanti biar saya yang bayar 1 kilo paketnya. Setengahnya saya kasih Tante gratis."
"Kasih tidak ya?" si Ibu malah bertanya balik, agak-agak flirting. Landon tersenyum kaku.
"Kalau tidak bisa ya sudah tidak apa-apa. Terima kasih." kata Landon berusaha tetap sopan.
Baru Landon mau membalikkan badan, Ibu-ibu itu menarik lengannya. Asli Landon ingin langsung membuang hoodienya yang tersentuh tangan Ibu-ibu itu.
"Boleh boleh... Boleh kok... Cepat amat sudah mau pergi?" kata Ibu-ibu itu menyengir lebar menyodorkan sepaket kerang tiram."
Agak curiga tiba-tiba Ibu itu mau memberi kerang, Landon pun dengan ragu menerima. "Terima kasih, Tante."
"Dek, boleh foto bareng tidak? Adek mukanya cakep seperti artis Korea." kata Ibu-ibu tambun mencegah Landon pergi.
Damn it, genit sekali Ibu-ibu gemuk itu. Dia tidak tahu umur apa??? She needs a mirror! batin Landon dongkol. Namun Landon merasa tidak enak karena sudah diberikan kerang lagipula dia melihat Winter dengan sepenuh hati menjaga barang belanjaan mereka seperti pagar. Orang melirik sedikit ke troli mereka saja, Winter langsung melotot. Kasihan kalau Winter tidak bisa makan seafood yang diinginkannya.
"Iya. Boleh." kata Landon terpaksa.
Mendadak Ibu tambun itu melambai-lambaikan tangan kepada rombongan Ibu-ibu lain. "Jeng, Jeng, kemari.... Foto nih sama oppa Korea..." serunya kegirangan. "Yuk cepetan!"
Landon pucat pasi diserbu Ibu-ibu kurang lebih ada enam orang. Semuanya rebutan ingin berdiri di sebelahnya. tak terelakkan dia pun dicolek-colek oleh emak-emak umur lima puluhan. Landon tak bisa menghindar cuma bisa pasrah.
"Siapa yang mau fotoin?" tanya salah satu Ibu-ibu tetapi tidak ada yang mau mengalah. Semuanya mepet pada Landon.
"Lan, sudah dapat kerangnya?" tanya Winter yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Winter heran kenapa Landon dikelilingi Ibu-ibu.
Landon mengangguk dengan tampang cemberut.
“Adek siapa?" tanya Ibu gemuk pada Winter.
"Saya..." gumam Winter. Dia mau mengaku sebagai istri, takut Landon marah. "Saya Adiknya dia."
"Ohhh adiknya toh.. Kirain pacaranya. Syukur deh. Dek, bisa tolong ambil foto kita?" tanya Ibu gemuk.
"Hah?" ujar Winter mengangkat alis.
"Fotoin kita semua dengan kakakmu." jelas salah satu teman Ibu gemuk.
"Oh iya bisa... Bisa kok." jawab Winter gelagapan. Maka enam Ibu-ibu itu menyerahkan ponsel masing-masing kepada Winter. Semuanya mau foto Landon langsung tersimpan di ponsel mereka sendiri, takut ada yang tidak mau share.
"Yuk semuanya hitung satu dua tiga... Oppa!!!" usul Ibu gemuk cekikikan. Jadilah Landon memasang tampang merana selama enam kali dijepret.
"Dek, Tante boleh foto berdua saja sama kamu, tidak?"tanya Ibu gemuk belum putus asa.
"Tante juga mau dong. Tante mau pamer ke suami!" ujar Ibu yang keriting.
"Maaf Tante, kami masih ingin belanja nih. Waktunya sudah mau habis. Lain kali ya." kata Landon buru-buru mendorong troli dan menarik tangan Winter.
Di antrian kasir, ada seorang Nenek menangis. Dia sedih tidak kebagian salmon. Padahal dia ingin masak sup salmon untuk ulang tahun suaminya. Nenek tua renta itupun menyatakan kekecewaannya pada sang cucu. Karena sedikit tuli, maka Nenek itu bicara dengan suara keras sampai banyak orang bisa mendengar.
"Lan, kasihan Nenek itu. Bagi sedikit salmon kita ya?" bujuk Winter iba.
"Tapi salmon itu buat acara ulang tahun. Mau kasih berapa banyak?" balas Landon.
"Kau mengambil dua puluh paket. Bagaimana kalau kita bagi setengahnya."
"Winter, I almost got killed for this salmon and you want me to give her half?" tanya Landon sewot.
"Ya sudah tidak usah." kata Winter kecewa. Diperhatikannya terus Nenek malang itu dengan kasihan.
"Ok... Give her half!" ujar Landon akhirnya. Dia tak tega juga melihat Nenek-nenek bersedih.
Mata Winter berbinar-binar. "Yang benar?"
Landon mengangguk kalem, meski ada sisa kemanyunan di wajah pria itu. Winter pun mengambil beberapa pak dan memberikannya pada si Nenek. Si Nenek kesenangan. Tangisnya mereda berganti senyum merekah. Cucu Sang Nenek mengucapkan terima kasih pada Winter. Winter menunjuk Landon, mengatakan kalau itu adalah ide Landon. Winter melambai pada Landon. Landai melambai samar. Sang cucu pun melihat ke arah Landon. Gadis itu rupanya mengenali Landon. Maka gadis itu bersama Winter menghampiri Landon. Ditinggalkannya Neneknya bersama seorang suster.
"Kak Landon? Terima kasih ya Kak, salmonnya." sapa si Gadis sambil tersenyum. Landon mengernyit merasa tidak kenal dengan gadis itu tersebut.
"Aku Melody, adik Josh, teman Kakak. Dulu waktu latihan band, Kak Landon suka main ke rumah. Ingat tidak?"
"Ohhh..." kata Landon teringat sosok anak SD berkuncir kuda yang suka ikut-ikutan nimbrung. Josh sangat menyayangi Melody dan tidak keberatan adiknya itu bikin rusuh ketika band mereka latihan. "Apa kabar, Melody? Kau sudah besar sekarang. Aku sampai tidak mengenalimu. Aku baru-baru ini sering bertemu dengan Kakakmu."
"Oh yah? Kak Landon main dong ke rumah. Aku sekarang sudah pintar masak lho, nanti aku masak makanan yang enak untuk Kakak..." kata Melody.
Entah mengapa Winter seperti third wheel di antara Melody dan Landon. Melody sepertinya naksir suaminya. Bisa dilihat dari gelagatnya yang begitu antusias dan manja. Landon juga merasa nyaman pada Melody sebab mereka saling mengenal sudah lama.
"Nanti deh kalau sempat aku main ke rumah." kata Landon tak janji. Melody pun berpamitan setelah mendapat nomor telepon Landon. Sikap ramah Melody agak berubah begitu tahu Winter adalah istri Landon. Winter bingung mengapa Melody yang tadinya begitu manis sekarang menatapnya sinis. Ternyata cukup melelahkan memiliki suami cakep dan kaya. Kayaknya dulu saat sedang bersama Jeremy, tidak pernah ada gangguan. Dia juga tak pernah dibuli para fans wanita.