Di belakang Landon, Winter cengar cengir keluar dari seafood market. Tampang pucat Landon dikerubungi Ibu-ibu sungguh sangat menghibur. Dia dari tadi mau tertawa tapi tidak enak. Namun Landon tak sengaja melirik ke arah Winter. Dia jadi tahu Winter sedang menertawakannya. Winter langsung pura-pura batuk. Landon berjalan cepat-cepat mendorong troli. Dia sebal ditertawakan oleh Winter.
“Lan, tunggu!”panggil Winter berusaha mengejar langkah Landon. Namun kerumunan orang membuatnya kehilangan pria itu meski dia sudah berjalan secepat mungkin. Naasnya sendalnya malah putus. Winter langsung panik. Ya Tuhan beberapa cantelan sandalnya copot. Apa yang harus dilakukannya? Masa dia harus bertelanjang kaki? Landon kemana lagi, batin Winter resah dan malu. Mungkin dia kualat menertawakan Landon. Winter pun mencari akal untuk memasang sendalnya kembali. Dia duduk di salah satu sofa mal.
“Winter, kenapa kau malah duduk di sini? Aku menunggumu tahu...”tegur Landon ketus.
Winter meringis. “Sendalku putus, Lan.”
Landon langsung melihat ke arah kaki Winter. Dilihatnya dua dari empat kaitan sandal Winter lepas. Tanpa bisa ditahan, sambil bertepuk tangan, Landon langsung tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya berguncang-guncang. Mata besarnya mengecil. Senyumnya terulas lebar, memperlihatkan deretan gigi rapi dengan jelas.
“Hahahaha...”terdengar suara tawa renyah Landon. Landon membekap mulutnya begitu melihat Winter merengut.
“Ini namanya you reap what you sow!” ejek Landon.
“Kau Jahat ih... Jadi bagaimana? Kita pulang yuk! Belanjanya besok saja.”
“Winter, kau bilang kita perlu belanja bumbu dan sayur untuk memasak. Kalau kita pulang bagaimana kau akan memasak?”
“Tapi masa aku harus tidak pakai sandal?”
“Kita beli sandal ok. Kau tunggu di sini. Aku taruh belanjaan di mobil dulu!”
Winter mengangguk. Landon pun mendorong troli ke arah parkiran.
Sepuluh menit kemudian Landon kembali. Pria itu langsung membungkuk membelakangi Winter.
“Kau sedang apa?” tanya Winter bingung.
Landon menyeringai. “I will carry you! Come on up!”
“Landon, kau mau aku naik ke punggungmu?”tanya Winter heran.
“Iya atau kau mau kakimu kotor?”
“Nanti dilihatin orang, Lan.”
Landon menghela napas.“Just hurry!” suruh Landon tidak sabar.
Winter tersipu digendong oleh Landon. Mukanya terasa panas. Namun tak bisa dipungkiri, dia berbunga-bunga bisa mendekap bahu Landon. Benar saja mereka jadi pusat perhatian. Para mata langsung melihat ke arah mereka. Landon kelihatan cuek. Dia tak peduli.
Mereka berhenti di sebuah butik desainer. Landon mendorong pintu, lalu menurunkan Winter di salah satu bangku yang tersedia.
“Lan, kita mau beli sandal di sini? Kata Emma sandal di sini kurang lebih harganya 12 juta sepasang Lan. Kita mana punya uang. Ayo kita keluar.”kata Winter kalang kabut.
“Tenang, Winter. Aku punya banyak kredit di sini... Ini butik langgananku...”
“Lan, aku cuma butuh sandal jepit yang tiga puluh ribu.”
“Well, I have no money. Duitnya kan untuk bayar valet parking.”
“Landon, kenapa sih kau tidak parkir di tempat biasa? Sayang kan uang seratus ribu untuk parkir.”
“Aku malas cari parkir. Kau memang ada uang ekstra selain untuk belanja?”
Winter menggeleng suram. Semua uang di ATM sudah ludes demi udang Landon sekarung. Ada juga tinggal dua ratus ribu untuk belanja. Besok baru mereka dapat jatah mingguan lima juta.
“Ya sudah cuma di sini kita bisa dapat sandal tanpa uang so just choose a pair that you like and be quite!”
“Selamat datang, Tuan Landon!” sapa Dio, pelayan toko yang perlente. Dia sangat hormat pada Landon. Mereka pun segera diantar ke lounge. “Mau minum apa?”
“Yang biasa, Yo.”jawab Landon.
“Kalau Nyonya?”tanya Dio sopan pada Winter.
“Air putih saja. Terima kasih.”jawab Winter kikuk.
Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita menghampiri mereka dan membantu Winter memilih-milih. Winter mencari yang harganya paling murah tetapi itu juga hampir sembilan juta. Rasanya dia lebih baik nyeker. Landon menunggu sambil main game.
Pelayan wanita tertawa kecil, Winter menatapnya heran.“Nyonya, mengapa dari tadi saya perhatikan Nyonya selalu melihat harga. Tuan Landon punya kredit masih banyak, hampir setengah M. Jadi Anda tak perlu cemas. Maaf kalau saya blak-blakan.”
“Banyak sekali kredit Landon!” seru Winter terkejut. Sebenarnya Winter was-was Om Grayson juga membekukan kredit Landon. Nanti mereka mau bayar pakai apa? batin Winter cemas. “Tuan Grayson tidak membekukan uang Landon?”
Pelayan wanita itu tersenyum. “Butik ini kan milik Nyonya Belinda, tidak ada hubungannya dengan Tuan Grayson.”
Winter menganga. Bukan cuma Ayah Landon yang kaya raya tapi Ibunya juga. Winter benar-benar takjub pada kekayaan Landon. Buat Winter menghabiskan uang sembilan juta untuk sandal sama sekali tidak masuk akal. Sembilan juta bisa membiayai uang sekolah anak di sekolah negeri selama dua tahun bahkan lebih.
Winter merasa cara hidup dirinya dan Landon sangat berbeda, bagaimana Winter bisa mengimbangin gaya hidup pria itu? Winter hanya ingin memiliki keluarga kecil yang sederhana dan bahagia. Rumah kecil, mobil keluarga, dan pekerjaan biasa, cukup bisa menunjang kebutuhan sehari-hari dan biaya liburan setahun sekali. Dia dan suami akan pulang sore hari lalu berkumpul bersama anak-anak mereka. Hanya itu mimpinya. Dia tidak membutuhkan barang-barang yang serba mahal dan mewah. Semua itu malah membuat Winter sama sekali tidak nyaman. Winter menyukai Landon, berharap dia dan Landon bisa selalu bersama selamanya tetapi itu rasanya mustahil untuk mereka berdua. Berat untuknya dan Landon.
Dio mengambil alih tugas pelayan wanita setelah dia selesai menyediakan minuman. Dia membawakan banyak produk baru. Pria itu dengan antusias melayani Winter. Akhirnya Winter memilih sandal simpel warna beige. Dio pun mengambil sandal ukuran kaki Winter ke dalam. Tak sampai lima menit, Dio keluar dengan senyum sumringah. Dia berlutut di hadapan Winter siap memakaikan sandal itu di kaki Winter. Winter langsung terbelalak.
“Tidak usah dipakaikan! Saya pakai sendiri saja.” cegah Winter.
“Dio, biarkan dia pakai sendiri!” kata Landon yang tiba-tiba sudah ada di area sepatu wanita. Winter menghela napas, memang dia benar-benar tak pantas ya dibantu pakai sepatu? batin Winter suram.
“Lho Tuan Landon, pelanggan di sini harus dilayani dengan excellent. Itu policy di sini. Yuk Nyonya Winter, julurkan kakinya. Masa wanita secantik Nyonya mencoba sepatu sendiri?” kata Dio bersikeras. Winter pun pasrah.
“Dio, biar aku yang memakaikannya!”kata Landon buru-buru. Entah mengapa dia iritasi melihat Dio menyentuh kaki Winter. Winter dan Dio melongo lalu Dio pun minggir.
“Aku pakai sendiri saja, Lan.” kata Winter buru-buru.
“Stay still!” suruh Landon.
“Aduh Tuan Landon, begitu saja cemburu...” goda Dio cengar cengir. “Pengantin baru bikin iri...”
“Dio, you talk too much! Do some works!” tegur Landon sewot. Dio pun mohon diri takut diadukan Landon ke manager.
Dengan hati-hati Landon memasangkan sandal di kaki Winter. Sumpah Winter merasa seperti tersetrum ketika tangan Landon menyentuh kakinya.
“Ukurannya pas.”kata Landon.
Winter mengangguk, memandangi kakinya yang mendadak terlihat cantik dalam balutan sandal mahal.
“Kau menyukainya?”tanya Landon menatap Winter.
Winter mengangguk. Wajahnya terasa panas.
“Coba kau pakai berjalan...”
Winter pun jalan mondar mandir dua kali. Perfect.
Landon dan Winter segera menuju meja kasir. Winter terenyak melihat Landon membeli sebuah tas besar seharga tiga puluh juta lebih.
“Landon, tas ini untuk apa?”
“Untuk belanja. Jadi next time tidak ada lagi kita bawa-bawa plastik sampah. Memalukan tahu?!”kata Landon santai. Dio berkali-kali mengucapkan terima kasih dan mengantar mereka sampai pintu. Winter mengurut d**a. Mereka belanja seafood hanya menghabiskan satu setengah juta sementara tas belanja dan sandal total hampir lima puluh juta. Mereka mau irit tapi kok malah tambah boros?
Winter dan Landon menuju ke supermarket mencari cemilan dan bahan-bahan memasak. Winter memilih semua yang sedang diskon. Bahkan dia nekat memanjat rak karena yang sisa tinggal di rak paling atas. Landon memergokinya. Winter meringis, buru-buru turun tentu setelah barang diskonnya dapat.
“Why did you need to climb the shelf?”tanya Landon terperanjat.
“Yang diskon tinggal satu di atas.” jawab Winter polos.
“Memang beda berapa sama yang di bawah?”
“Lima ribu. Lumayan kan?”
“You can break your legs just to save five thousand rupiahs. I really don’t understand how you people live.”kata Landon geleng-geleng kepala. Winter pun sama, dia tak mengerti bagaimana pola pikir orang-orang kaya seperti Landon yang beli sandal sampai jutaan.
***
Setelah menaruh barang-barang belanjaan di dapur. Landon langsung melepas hoodienya. Tanpa dosa Landon memasukkan benda itu ke tempat sampah. Winter sampai melongo apalagi ketika dia melihat tubuh polos Landon tanpa baju. Winter menemukan six packs Landon tertata sempurna di tubuh pria itu. Bohong jika Winter tidak tergiur untuk menyentuhnya tetapi tentu saja Winter buru-buru melenyapkan segala imajenasi binalnya.
Landon segera masuk ke kamar mandi. Diam-diam Winter memungut kembali hoodie milik Landon. Jika Landon sudah tidak mau, tak salah kan jika dia menyimpannya. Winter pun mulai memasak setelah menyimpan hoodie Landon di ruang belajar. Winter memanggang salmon dengan Asian marinated. Menu yang didapatkannya dari buku perpus. Tak lupa dia memanggang kentang dan wortel sekalian. Winter ingin memastikan Landon selalu makan makanan sehat.
Landon makan dengan lahap sampai nambah dua kali. Dia minta Winter untuk memasak salmon teriyaki, salmon steak, honey garlic salmon, salmon soup, grilled salmon sushi dan sashimi untuk hari-hari berikutnya. Winter agak bingung dengan permintaan Landon sebab menu tersebut asing di telinga tetapi Winter akan cari info lewat internet.
Sehabis makan, Landon menerima telepon. Landon berbicara di balkon. Pria itu kelihatan bersukacita begitu menutup telepon. Winter mengintip dari dapur ketika mencuci piring. Landon masuk kamar dan dua puluh menit kemudian keluar, sudah mengenakan setelan jas yang keren sekali. Rambut pria itu pun sudah tertata rapi. Winter sampai terpana melihatnya. Dia sendiri sampai sekarang masih tak percaya Landon adalah suaminya.
Lagi-lagi seseorang menelepon, Landon bicara sambil berjalan keluar apartment. Winter kecewa Landon tak terpikir untuk memberi tahu kemana pria itu pergi. Bahkan pamit saja tidak.
Winter menonton TV tanpa gairah sebab Landon tak ada di rumah. Walaupun mereka tidak di satu ruangan tetapi jika Landon ada di rumah, Winter merasa senang. Diam-diam dia suka mengamati Landon dengan penuh kekaguman. Tingkah laku Landon begitu cool dan sangat tuan muda sekali. Makanya seperti mimpi hari ini Landon menggendongnya di punggung serta memasangkan sendal di kakinya. Winter jadi makin suka pada Landon.
Tiba-tiba intercom apartment berbunyi. Winter setengah berlari menuju intercom. Mungkinkah itu Landon yang lupa membawa kunci? Batin Winter penuh harap. Landon memang baru pergi satu jam tapi Winter sudah kangen. Wajah pria yang gantengnya kelewatan langsung terlihat di layar.
“Mason?”gumam Winter bingung.
“Hai Winter.” Balasnya tersenyum. Winter pun membuka pintu untuk pria itu.
Mason lumayan kaget menemukan apartment sepupunya dalam keadaan rapi dan bersih. Dia pikir tanpa pembantu, hunian Landon akan kacau balau kayak kapal pecah. Rupanya berkat Winter, apartment itu jadi terawat. Mason lumayan salut. Mason datang untuk mengecek keadaan Winter. Pamannya khawatir Landon membuat Winter sengsara jadi Pamannya meminta Mason untuk mengawasi pasangan baru tersebut dan memberi laporan. Pamannya tahu Landon sangat dekat denganya dan selalu mendengar omongannya. Well Mason pun tak keberatan membantu Paman Grayson apalagi itu juga demi kebaikan sepupunya. Winter menyambut Mason dengan hangat, dipersilakannya Mason duduk sebelum Winter ke dapur mengambil minuman.
“Apa kabar Winter?”
“Baik. Kau sendiri, Mase?”
“Baik. Landon mana?”
“Landon pergi.”
“Kemana?”
Winter mengangkat bahu. “Dia tidak ngomong tapi dia tadi pakai baju rapi.”
Mason menyeringai, mengetahui kemana sepupunya pergi. Tapi Landon dapat modal dari mana? Batin Mason heran.
“Bagaimana hubunganmu dengan Landon? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”
Winter mengangguk. “Landon sangat baik. Dia cukup perhatian.”
Mason tahu Winter berbohong demi menjaga nama baik suaminya. Istri yang baik, batin Mason.
“Kau sudah makan, Mase?” tanya Winter.
“Belum, kupikir habis ke sini aku mau makan di shopping centre.”
“Makan di sini saja! Kami tadi berbelanja salmon diskon 80%. Landon mengambil banyak sekali. Dua puluh pak! Tapi sepuluh pak dikasih ke Nenek yang membutuhkan. Dia mengambil udang rebus juga sampai sekarung. Kantong delapan liter hampir penuh! Gerakan Landon gesit sekali mengalahkan pengunjung lain. Tangan copet kalah cepat. Aku sampai shok. Jadi tadi aku masak banyak grilled salmon untuk dinner.” kata Winter dengan mata berbinar-binar.
Mason tertawa kecil. “Seru sekali sih kalau kau sedang membicarakan suamimu!”
Winter tersipu. “Ah tidak kok. Ya sudah aku siapkan makanan untukmu ya!”
“Tidak usah, Win. Aku tak mau merepotkan.”
“Tidak repot! Duduklah di meja makan. Aku akan segera kembali.”kata Winter lalu bergegas ke dapur menghangatkan makanan.
Mason dapat mencium aroma masakan Winter sangat wangi. Perutnya yang memang belum diisi jadi makin terasa lapar. Tak lama kemudian Winter muncul dengan senampan makanan. Salmon panggang dengan aneka sayuran dan kentang goreng. Sungguh menggoda selera. Dia baru tahu kalau Winter pandai masak.
“Wow kelihatannya masakanmu lezat...Wanginya enak, Win.”puji Mason antusias memandang makanan di depannya.
“Kalau begitu makan yang banyak, Mase!” kata Winter tersenyum.
“Ok. Aku makan ya...” kata Mason lalu memasukkan potongan salmon ke mulutnya. Mason mengunyah sambil mendeteksi tingkat kelezatan masakan Winter. Wow enak. Tidak kalah dengan restoran.
“Bagaimana?” tanya Winter khawatir makanan sederhananya tidak sesuai dengan selera orang kelas atas seperti Mason.
Mason tersenyum lebar. “Enak sekali. Ternyata kau jago masak. Asik dong Landon tiap hari makan enak. Apalagi dia kalau makan kan kayak orang tak dikasih makan seminggu.”candanya.
“Aku memang hobi memasak dari dulu. Landon makan banyak tapi aku heran badannya sama sekali tidak gemuk?!”
“Ya aku juga heran. Mungkin cacingan.” kata Mason tergelak. Sambil makan mereka pun mengobrol ringan. Di luar dugaan Mason, Winter cukup nyambung diajak ngobrol biar kata gadis itu berasal dari lingkungan yang amat berbeda dengannya. Mungkin karena Pamannya menyekolahkan Winter di sekolah elit. Mason menyukai senyum Winter yang manis dan tatapan gadis itu yang polos. Mason sempat berpikir jika bukan dari keluarga miskin, Winter sebenarnya cukup seimbang untuk Landon. Winter cantik, pintar, baik, pandai memasak, dan bersih. Itu semua adalah kriteria wanita yang dibutuhkan Landon. Mason tahu Landon sangat apik dan doyan makan sementara Winter rapi dan jago masak. Pas bukan? Paras keduanya juga tidak terlalu kebanting satu sama lain. Winter hanya perlu dipoles make up sedikit.
Obrolan Winter dan Mason terhenti ketika ponsel Winter berbunyi. Rupanya ada pesan yang masuk. Pesan dari Jane. Mata Winter membesar melihat video yang baru dikirim oleh Jane. Dadanya langsung nyeri.
Tertulis pesan SMS dari Jane: ‘Sudah kuduga Landon Purnama tak mungkin benar-benar jatuh cinta pada cewek kere sepertimu. Video ini sudah kusebar ke seantero kampus. Makanya jadi orang jangan belagu!’
“Ada apa Winter? Apa sesuatu yang buruk terjadi?” tanya Mason cemas melihat perubahan mimik ceria Winter berubah pucat.
“Mase, kau tahu di mana Chronicle Club?”
Mason mengangguk. “Tahu, kenapa?”
“Mase, maukah kau mengantarku ke sana?”
***
Landon memasuki hiruk pikuk bar yang amat padat. Hari ini Josh mengadakan party kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilan game buatan Landon lulus seleksi salah satu perusahaan game yang cukup terkenal. Desain Landon akan dikembangkan lagi sebelum dirilis. Kurang lebih mereka dalam proses editing dan developing. Josh langsung mentransfer uang yang jumlahnya lumayan ke rekening pribadi Landon sebagai uang muka, sisanya setelah game rampung. Landon tersenyum kini kartu debitnya tak berjumlah nihil lagi sejak bertemu dengan Josh. Josh benar-benar sahabat sejatinya. Bukan Mason, sepupu yang sangat disayanginya itu, yang selalu di sampingnya sejak lahir. Dia bahkan sempat berpikir dia dan Mason adalah saudara kembar, mengingat dulu Oma mereka sering mendandani mereka dengan baju kembar. Maklum mereka hanya selisih dua bulan. Makanya Landon cukup kecewa pada Mason.
Landon mulai tipsy setelah minum beberapa gelas. Salah satu temannya sudah pass out. Josh memesan lebih banyak minuman. Kini kondisi lima pemuda tajir sudah kacau balau. Setelah menghisap ganja, mereka mengobrol sambil tertawa-tawa. Tak lama kemudian lima perempuan panggilan masuk untuk menghibur Landon dan teman-temannya.
Teman-teman Landon tentu langsung memangsa perempuan-perempuan cantik, genit, dan seksi tersebut. Seorang gadis dengan rok super mini dan blouse super rendah di bagian d**a duduk di sebelah Landon. Memeluknya dan menciuminya. Awalnya Landon tak membalas namun karena gadis itu sangat getol akhirnya Landon meladeni serangan-serangan gadis itu. Diremasnya buah d**a gadis itu dan mulai dipagutinya leher dan belahan d**a si p*****r. Napas keduanya terengah-engah akibat ciuman yang rakus. Landon sudah sebulan tidak berhubungan seks. Kebutuhan lelakinya sudah menjerit-jerit, minta dipuaskan. Landon teringat Winter, bagaimana dia harus mati-matian tidak menyentuh gadis itu di tempat tidur ketika Landon sedang h***y. Dia khawatir jika dia tidak melepaskan hasratnya nanti Winter yang jadi korban. Akhirnya Landon membawa p*****r itu ke kamar yang memang tersedia di sana.
***
Mason agak khawatir dengan keadaan Winter. Gadis itu terpukul ketika menerima video Landon sedang mabuk bersama teman-temannya ditemani para wanita. Winter benar-benar ingin melihat dengan mata kepala sendiri. Mason sudah mewanti-wanti tidak perlu melakukannya tetapi Winter bersikeras. Dia ingin tahu bagaimana gaya hidup Landon. Dia ingin melihatnya langsung. Winter bahkan nekat mau naik taksi tetapi Mason tak mengijinkan karena sudah malam.
Mason sempat heran bagaimana Landon bisa tetap bersenang-senang setelah posisi direkturnya dan hak istimewanya dicabut, namun setelah melihat Josh dalam video. Mason tahu dari mana uang Landon berasal. Mason tak pernah suka Landon bergaul dengan Josh yang gila pesta. Bagi Mason, Josh membawa pengaruh buruk untuk sepupunya. Mason pun menelepon asistennya untuk menyelidiki apa yang dikerjakan Landon dengan Josh.
Setelah memarkir mobil, Winter dan Mason masuk ke dalam Club untuk mencari Landon. Mason tahu di mana tempat favorit Landon dan benar saja Landon ada di sana. Seorang p*****r sedang duduk di pangkuannya. Mereka berciuman penuh nafsu. Landon memeluk pinggul gadis itu lalu mencumbui belahan d**a si p*****r. p*****r itu tampak kesenangan. Senyum binal merekah di wajahnya saat pagutan bibir Landon mengantarkan kenikmatan.
Lutut Winter mendadak lemas, untung Mason buru-buru menyangganya.
“Sudahlah Win, ayo kita pulang!” ajak Mason ikut geram menyaksikan tingkah laku Landon. Memang sepupunya itu menikah terpaksa tetapi memelihara kebiasaan buruk ketika lajang sewaktu menikah bukan hal yang benar. Apalagi sampai ketahuan istrinya. Winter kan juga manusia yang punya perasaan.
Winter masih kekeuh berdiri memperhatikan suaminya bersenang-senang dari kejauhan. Tak lama kemudian Landon dan p*****r itu bangkit berdiri, pergi memisahkan diri dari teman-temannya.
“Winter, Landon akan membawa p*****r itu ke kamar.”gumam Mason mengetahui rasa ingin tahu Winter. “Sudahlah ayo kita pergi!”
Jantung Winter seperti dihujam benda tajam. Mata Winter berkaca-kaca lalu air matanya tumpah. Tak membantah, Winter menurut ketika Mason menuntunnya keluar Club. Di mobil, tangis Winter pecah. Dia sangat sakit hati mengetahui Landon berada di pelukan wanita lain saat ini. Wanita itu pasti sedang keenakan berada di pelukan suaminya. Menjelajahi setiap inci tubuh suaminya yang sempurna. Apalagi bisa merasakan kejantanan suaminya di dalam v****a kotornya hingga mencapai klimaks. Winter benar-benar tidak rela.
Mason diam membiarkan Winter menangis sepuasnya. Dia tahu hati Winter pasti hancur dan hanya menangis yang bisa mengurangi laranya.
“Mase, aku tahu dia tidak mencintaiku dari awal. Dia menikahiku terpaksa. Aku tahu mustahil Landon akan melirikku tetapi aku menyukainya. Aku berharap pernikahan kami akan menjadi pernikahan sungguhan. Mungkin aku memang tidak tahu diri, Mase.”kata Winter sambil terisak.
“Ya aku bisa melihat kau sangat peduli padanya tetapi dia tak pantas untuk kau cintai sedalam itu. Landon tak pernah benar-benar mencintai wanita manapun. Dia hanya mencintai dirinya sendiri. Kalau kau menggunakan perasaan kau pasti akan patah hati.”
“Aku tahu tetapi aku tak bisa menghentikannya. Aku mencintai Landon.” sahut Winter frustasi.
***
Sudah jam satu malam dan Landon belum juga kembali. Perasaan Winter campur aduk. Sedih, kecewa, marah, khawatir, frustasi. Winter menelepon Landon tetapi tak diangkat. SMS juga tak dibaca boro-boro dibalas. Landon pasti sedang berbahagia dengan p*****r jelitanya. Selama ini Landon tak pernah tidak pulang. Apakah hari ini Landon akan menginap di luar? Bisakah Landon menyetir ketika mabuk? Winter kesal tapi juga cemas.
Akhirnya kekhawatiran Winter terbukti. Jam tiga Winter menelepon Landon tetapi bukan Landon yang mengangkat melainkan polisi. Landon ada di kantor polisi. Dia ditangkap karena menyetir dengan kondisi mabuk. Winter pun buru-buru memecah celengannya untuk mengambil uang. Just in case mereka butuh uang untuk melepas Landon keluar dari kantor polisi. Setelah itu Winter mengambil jaket dan buru-buru memesan taksi online.
Winter terbirit-b***t masuk kantor polisi. Polisi penerima tamu sampai menyuruhnya untuk bernapas.
“Saya ke sini untuk menjemput Landon Purnama. Saya istrinya.”kata Winter panik. “Dia di mana, Pak?”
“Ada di ruang introgasi. Ibu tunggu di ruang tunggu saja. Ada Pak Bambang mau bicara.”
Winter pun segera menemui Pak Bambang yang ternyata salah satu petinggi di kantor polisi tersebut.
“Ibu ini siapanya Pak Landon?” tanya Pak Bambang.
“Saya istrinya, Pak. Apa yang terjadi dengan suami saya?”
“Jadi Bu, Pak Landon menyetir dengan kecepatan tinggi dan dengan kondisi mabuk. Ini adalah ketiga kalinya Pak Landon ditangkap karena menyetir dalam kondisi mabuk.”
“Tapi dia tidak apa-apa? Tidak terluka?”
“Pak Landon tidak apa-apa tapi dia tak bisa menyetir. Jadi Ibu saya suruh ke sini untuk membawa pulang mobilnya.”
“Pak, maafkan kesalahan suami saya. Bisakah dia pulang sekarang?”
“Maaf Bu. Pak Landon akan ditahan.”
Winter shok. “Jangan Pak. Kasihan suami saya. Berapa uang tebusannya biar saya bayar.”
Jantung Winter nyaris copot mendengar uang tebusan Landon setengah miliar. Uang celengannya boro-boro cukup.
“Pak mahal sekali. Minta keringanan Pak.” kata Winter memohon.
“Masa konglomerat seperti Pak Landon tak mampu bayar?” cibir Pak Bambang.
“Setelah menikah kami hidup mandiri, Pak.” Jelas Winter tetapi tentu Pak Bambang tak mau tahu.
Winter menghela napas memutar otak bagaimana dia bisa mendapatkan setengah M. Menelepon Mason? Tetapi Landon pasti mengamuk nanti. Om Grayson juga pasti akan semakin murka pada Landon jika sampai tahu. Om Grayson tak boleh tahu mengenai kejadian ini. Winter benar-benar di ujung tanduk.
Landon keluar dari ruang tahanan. Landon berusaha untuk berjalan normal tetapi alkohol dan pengaruh obat membuatnya berjalan terhuyung-huyung. Winter prihatin melihat kondisi Landon.
“Winter?” gumam Landon terkejut melihat gadis itu sudah ada di sana. Dia memicingkan mata memastikan penglihatannya tidak salah.
Winter langsung menghampiri Landon. “Landon kau tidak apa-apa?”
Landon menggeleng. “Aku cuma mau pulang.”
“Iya. Aku akan membawamu pulang sekarang. Sabar ya.”kata Winter.
“Pak, tolong lepaskan suami saya. Saya akan cicil uang tebusannya.” ujar Winter memelas pada Pak Bambang.
Pak Bambang tertawa mengejek. “Bu kalo semuanya bisa dicicil makin banyak nanti orang yang melakukan pelanggaran. Lagipula memangnya ini motor bisa dicicil?”
“Berapa uang tebusannya?”tantang Landon. Winter langsung pucat pasi. Landon sudah salah masih galak.
“Cuma lima ratus juta, Pak Landon.”jawab Pak Bambang menyengir lebar. Mata Landon berkilat menatap polisi korup tersebut.
Landon segera mengeluarkan sesuatu dari dompet. “Winter, Ambil pen!”
Winter pun buru-buru mengambil pen dari tasnya.
Landon menulis sesuatu di buku cek. “Winter, periksa detailnya benar atau tidak!”
Winter pun mencocokkan informasi yang diberikan Pak Bambang dengan tulisan Landon. Sudah cocok.
“Nih Lima ratus juta! Makan sana!”seru Landon seraya melempar cek ke hadapan Pak Bambang. Dia tahu polisi itu sangat mata duitan. Dia tak yakin lima ratus juta sepenuhnya jatuh ke Negara, bukan ke kantongnya. Landon soalnya sudah sering berurusan dengan Pak Bambang.
Pak Bambang manggut-manggut. Cek itu valid. “Pak Landon lain kali jangan menyetir dengan mabuk lagi ya! Lain kali takutnya Bapak harus mendekam di penjara. Saya tidak bisa membantu lagi.”
“Shut up!” hardik Landon langsung bergegas keluar. Winter asli jantungan melihat Landon bisa membentak polisi. Dia minta maaf pada Pak Bambang mewakilkan Landon.
Landon terlalu mabuk untuk bisa berjalan normal. Winter pun memapah Landon sampai mobil. Didudukkannya Landon di kursi depan penumpang. Winter sempat keder bagaimana menyalakan mesin dan menggerakkan mobil Landon. Akhirnya dia minta bantuan polisi. Polisi heran bisa-bisanya Nyonya Purnama tidak mengerti cara mengemudikan mobil mahal.
Sesampainya di apartment. Winter susah payah membopong Landon naik ke unit mereka. Landon sudah tertidur sejak mereka di mobil. Winter ngos-ngosan setelah membaringkan suaminya di ranjang. Rasanya dia mau pingsan. Winter pun melepas sepatu dan jas Landon. Diselimutinya tubuh suaminya dengan penuh kasih sayang. Winter bisa mencium aroma parfum wanita yang masih melekat di pakaian Landon. Winter sakit hati berat. Dia tak akan bisa ikhlas Landon disentuh wanita manapun! Meski p*****r itu hanya menjalankan profesinya tetapi tetap saja Winter benci pada semua wanita yang menyentuh suaminya.
***
Landon terbangun karena ponselnya berdering tak putus-putus. Landon langsung mengutuki siapapun yang mengusik tidurnya dengan seniat itu. Josh.
“Yes Josh?! Why are you calling me so eagerly? Is it the end of the day?! Can’t you wait until I call you back?” semprot Landon dongkol.
“Landon, we’re in deep s**t. Austin mencuri desain gamemu. Mereka akan merilis game itu bulan depan. Investor marah-marah tadi. Dia bilang kita yang mencuri game Purnama Corp. Mereka sekarang minta balik uang bayaran kita.”
Landon langsung terduduk. “F*ck! Are you sure?”
“Landon waktu kau memulai projek game ini, kau mengerjakannya di bawah nama perusahaan Ayahmu kan?”
“Yes but that game is completely my work. I designed everything from the scratch!”
“Tapi itu berarti game itu milik Purnama Corp, Lan. Sebab pembuatannya menggunakan finance dari Purnama Corp. Bukan milikmu pribadi. Investor ternyata melakukan sedikit inspeksi mengetahui kau adalah Putera Grayson Purnama.”
“Tapi Josh, Ayahku tak pernah menyetujui peluncuran game ini. Proposalku terus ditolak. Bagamana bisa dia tiba-tiba menyuruh Austin untuk merilisnya sekarang? Pasti ada sesuatu yang tidak beres! I’ll call you back!”janji Landon lalu mematikan telepon.
***
Landon menyetir dengan kecepatan tinggi menujur kantor pusat Purnama Corp. Dia menelepon Ayahnya tetapi tidak diangkat-angkat. Landon benar-benar murka pada pria paruh baya itu. Masih kurang cukup Ayahnya menghukum dirinya sampai tega mencuri hasil kerja kerasnya bertahun-tahun. Apalagi menyuruh Austin mengambil alih projeknya. Itu sama saja menabur garam di luka yang menganga. Karena terus tak diangkat, Landon mulai mengetik sms, matanya tak cuma fokus ke jalan tetapi juga ke layar ponsel.
“Brakkkkk!”mobil Landon sukses menabrak mobil SUV di depannya dengan cukup kencang. Kepala Landon sampai terbentur stir. Landon meringis. Terkejut dengan hantaman yang baru menerpanya.
“Sh*t!” umpat Landon seraya mengusap dahinya yang berdarah. Dia pun turun dari mobil. Supir mobil di depannya juga turun mengecek kerusakan mobil. Pria berkulit hitam tinggi besar itu berang. Hancur bagian belakang SUVnya. Landon juga sama, mengecek bagian depan mobilnya. Parah. Rusak habis. Mata Landon melebar, napasnya berat karena dia tak bisa menerima mobil kesayangannya hancur. Mobil-mobil di belakang mulai membunyikan klakson sebab Landon dan pemilik SUV tidak meminggirkan mobil dulu. Namun Landon tak peduli.
“Bapak harus ganti rugi kerusakan mobil saya!” kata pemilik SUV tidak ramah. tampangnya jutek.
“Bapak yang harus ganti rugi! Bapak yang mengerem mendadak!”sahut Landon nyolot.
“Motor di depan saya yang mengerem mendadak!” ralat pemilik SUV saling melempar kesalahan. “Tetapi tetap saja mobil saya tertabrak karena Bapak tidak jaga jarak aman!”
“It’s not my fault. I won’t pay anything. You pay!” maki Landon geram. “You know how much my car is? It’s more expensive than your life!”
Dihina seperti itu pemilik SUV tersinggung, dia langsung meninju muka Landon. Naasnya Landon tak sempat menghindar. Marah, Landon membalas pukulan si pria tinggi besar. Mereka pun berkelahi. Landon tak pernah takut berantem, dia adalah lulusan ban hitam taekwando. Benar saja si pria tinggi besar tak bisa mengalahkan Landon. Malah dia yang babak belur. Para pejalan kaki mencoba melerai tetapi Landon yang tersulut amarah sulit ditenangkan meski si pengendara SUV sudah berdarah-darah wajahnya. Akhirnya beberapa polisi lalu lintas datang. Barulah Landon dan pemilik SUV bisa diamankan.
***