Winter tak yakin dia mengerjakan kuis dengan baik. Berkat Landon main p*****r dan ditangkap polisi semalam membuatnya tak bisa konsentrasi belajar. Mudah-mudahan, dia bisa menutupi nilainya dengan kuis berikutnya. Winter pun mengecek ponsel. Ada lima panggilan tak terjawab. Winter menelepon balik nomor tersebut dan langsung berkeringat dingin mengetahui nomor yang diteleponnya adalah kantor polisi. Pak Bambang ingin bicara padanya.
“Halo Bu Winter. Selamat siang.”sapa Pak Bambang setelah anak buahnya menyambungkan telepon di kantornya dengan Winter.
“Pak Bambang... Apakah Pak Bambang menelepon karena cek yang diberikan suami saya adalah cek kosong?” tanya Winter was-was.
Pak Bambang langsung tertawa. “Ibu ini ada-ada saja. Cek suami Ibu valid kok. Sudah diproses pagi ini.”
“Lalu ada apa Bapak menelepon?”
“Bu Winter, tolong ke kantor polisi sekarang. Nanti saya jelaskan apa yang terjadi dengan Bapak Landon.”
Lagi-lagi Winter kocar kacir mencari taksi untuk membawanya ke kantor polisi. Apa lagi yang telah dilakukan oleh Landon? Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk menebus kesalahan Landon kali ini? Pas sekali ada mini market di sebelah kantor polisi. Winter segera membeli s**u stroberi just in case Landon meledak di kantor polisi, paling tidak s**u tersebut bisa mendinginkan kepalanya. Winter sedikit shok menemukan ada beberapa wartawan di depan kantor polisi.
Winter masuk lewat pintu samping. Tergesa-gesa mencari Pak Bambang. Begitu sampai di kantor, Winter melihat Landon duduk bersebrangan dengan pria berkulit hitam sementara Pak Bambang di tengah. Wajah pria hitam babak belur. Pasti ulah Landon sebab wajah Landon memar sedikit. Mereka pasti habis berkelahi. Tapi apa penyebabnya?
“Landon, kau tidak apa-apa?” tanya Winter resah melihat tampang cakep suaminya lebam. Jidat Landon juga ditempel band aid menunjukkan Landon terluka di bagian kepala. “Kepalamu terluka? Sakit tidak?”
Landon segera menepis tangan Winter. “I’m fine.”
“Apa yang terjadi, Lan?”
Landon cuma cemberut tidak menjawab. Akhirnya Pak Bambang memberi penjelasan. Winter mengelus d**a mendengarnya.
“Pak Landon, Bapak tetap bersalah karena Bapak tidak menjaga jarak aman sehingga tabrakan tidak terhindarkan ketika ada hazard. Bapak harus mengganti kerugian mobil Bapak Garry. Dan Pak Garry juga bersalah karena Bapak memukul Pak Landon duluan. Itu namanya main hakim sendiri. Bapak harusnya meminta maaf pada Pak Landon tetapi karena keadaan Anda lebih parah maka saya tidak akan menjatuhkan sanksi apa-apa atas perkelahian yang terjadi. Untuk masalah ganti rugi kalian berdua bisa bicara baik-baik. Saya juga yakin Pak Landon ada asuransi pasti. Jadi untuk apa masalah ini diperpanjang?!” kata Pak Bambang mencoba mencari solusi terbaik untuk kedua belah pihak. Winter buru-buru mengeluarkan s**u stroberi untuk membungkam mulut suaminya.
“Tapi...”kata Landon hendak memprotes tetapi tidak jadi ketika Winter sudah mencolok sedotan dan menyodorkan s**u kepadanya. Minuman itu kelemahannya, tak mungkin dia tolak apalagi ia memang haus. Dia butuh s**u. Landon pun segera meminumnya.
“Landon minum dulu. Biar aku yang bicara pada Pak Bambang dan Pak Garry ok.”
Winter mendekati Pak Garry dan tersenyum.“Perkenalkan saya Winter, istri Landon. Pertama-tama saya minta maaf atas kerusakan mobil Pak Garry juga luka-luka di wajah Bapak. Saya akan telepon asuransi sekarang untuk melaporkan tabrakan tadi jadi ganti rugi bisa segera diurus.”
Winter pun minta beberapa informasi dari Landon mengenai mobil Landon kemudian menelepon asuransi di koridor sepi. Winter shok mendengar dari customer service kalau asuransi Landon sudah dibatalkan dari sebulan yang lalu. Jadi tidak ada kerusakan apapun yang akan dibayar oleh pihak asuransi. Winter kembali ke kantor dengan gugup. Dia takut Landon akan lebih meledak jadi dia meminta bicara pada Pak Garry secara pribadi.
“Pak Garry, kira-kira berapa biaya kerusakan yang harus kami ganti?” tanya Winter. “Asuransi suami saya sudah dibatalkan oleh perusahaan.”
Pak Garry berpikir sebentar. “Kurang lebih tiga puluh juta, Mbak.”
“Apa?” pekik Winter. “Cukup mahal biayanya.”
“Ya habis Pak Landon kencang nabraknya. Untung saya masih hidup, Mbak.” Kata Pak Garry dongkol.
“Sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan suami saya... Pak Garry, kami lagi ada kesulitan keuangan. Saya akan bayar ganti rugi tetapi bisa dicicil tidak ya? Saya bisa transfer sepuluh juta sekarang. Sisanya boleh saya minta waktu sebulan? Tolong Pak dibantu.”
“Mbak, masa konglomerat tidak ada uang tiga puluh juta? Bohong kali si Mbaknya!”
“Benar Pak, saya tidak mengada-ngada. Saya janji sebulan lagi saya lunasi.”
Melihat Winter begitu memelas, Pak Garry jadi kasihan. Suami istri kok tabiatnya beda sekali. Yang satu arogannya minta ampun, yang satu lemah lembut dan sopan.
“Mbak Winter kan yang menggalang dana untuk biaya sekolah anak-anak SD yang tidak mampu kan?”
Winter mengangguk. “Iya benar Pak. Kami memang rutin mencari donasi.”
“Saya pernah lihat Ibu menggalang dana di acara kelurahan.”
“Oh yah? Bapak tertarik untuk jadi orang tua asuh?”
“Saya sudah ikut kok.”
“Terima kasih Pak atas bantuan Bapak pada anak-anak.”
“Ya sudah Mbak Winter, karena Mbak orang baik, bayar sepuluh juta dulu tidak apa-apa, sisanya boleh dicicil.”
Senyum Winter merekah. “Terima kasih banyak, Pak Garry.” kata Winter menyalami pria itu. Mereka pun kembali menemui Pak Bambang. Pak Garry bersedia mencabut tuntutannya dan menyelesaikan perkara secara damai. Winter bernapas lega ketika mereka diperbolehkan pulang tanpa sanksi. Pak Garry keluar kantor polisi buru-buru setelah urusan usai. Dia masih ngeri menghadapi kebuasan Landon.
Di ruang tunggu, Landon duduk dengan anteng berkutat dengan ponsel sambil minum s**u.
“Gimana?”
“Sudah beres. Yuk kita pulang.”ajak Winter.
“Asuransi cover semuanya?”
Winter menggeleng. “Polis asuransimu sudah dibatalkan sejak kita menikah.”
“What the hell?!”seru Landon. “Lalu bagaimana dengan mobilku. Mobilku sudah dibawa ke bengkel oleh mereka. Mobil itu hampir tidak bisa jalan tadi!”
“Kita bisa mengumpulkan uang untuk membayarnya.”
“Dengan lima juta seminggu? Sampai kapan Winter? Until our next life?!”
Winter membisu.
“Lalu mobil orang itu bagaimana kita menggantinya?”
“Landon, dia minta tiga puluh juta. Aku sudah bayar sepuluh juta. Sisanya dicicil.”
Landon terperangah. “Sepuluh juta itu uang dari mana? Papa pasti diam-diam sering mengirimkan uang untukmu, iya kan?! Cuma aku saja yang seperti orang bodoh. Damn you, Winter!”bentak Landon.
Winter tertegun dibentak oleh suaminya.“Landon, itu bukan uang Papa. Sepuluh juta itu uang dari orang-orang terdekat Mamaku ketika di pemakaman. Aku sama sekali tidak pernah berbohong padamu! Kau bisa cek buku tabunganku. Kau juga bisa cek seluruh barang-barangku kalau memang aku menyembunyikan uang.”kata Winter emosional. Landon selalu berprasangka buruk padanya sejak awal. Di mata Landon, dia bukan wanita baik-baik padahal dia memperlakukan Landon sebagai suami dengan sepenuh hati. Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan.
Landon agak shok melihat Winter terluka. Dia memang sedang mengalami bad day tetapi Winter tidak salah. Gadis itu terus berada di sisinya saat dibutuhkan. Memberinya makan, membersihkan rumah, bahkan datang ke kantor polisi dua kali di hari yang sama akibat ulahnya.
Landon tak meminta maaf. Dia berjalan mendahului Winter. Winter buru-buru mengejar dan menyetop langkahnya.
“Landon, tunggu! Ada wartawan di luar. Kau harus menutupi wajahmu. Pakai ini dulu!” ujar Winter mengeluarkan hoodie Landon dan masker kertas.
Landon mendelik mengenali hoodie yang dibuangnya. “Hoodie ini kan...”
“Ya, aku mengambilnya kembali dari tempat sampah. Sudah kucuci. Pakailah. Jangan sampai mereka bisa melihat wajahmu!”
Landon pun menurut. Dia terkejut melihat ada bordiran LW di bagian pegelangan tangan hoodie. LW? Landon Winter?
Winter sedikit tersipu Landon menemukan bordiran inisial nama mereka di hoodie itu. Tapi tampaknya Landon tak peduli. Tadi pagi memang sebelum kelas mulai, Winter mampir dulu ke tukang bordir. Dia memutuskan akan membawa hoodie itu kemana-mana. Just in case cuaca dingin atau lebih tepatnya biar berasa Landon selalu bersamanya. Karena Hoodie sudah dibuang berarti bebas dong melakukan apapun pada benda itu, termasuk membordir inisial nama mereka.
“Kita pulang naik apa, Winter? Tidak lucu aku naik taksi di hadapan wartawan.”
“Tenanglah Lan... Mason sudah menunggu.”
“Mason? Kau meneleponnya?”tanya Landon ketus.
“Tidak. Dia yang menelepon. Aku bilang aku mau ke kantor polisi terus dia bilang, dia mau menyusul. Barusan Mason SMS dia sudah tiba. Ada di parkiran.”
Landon tersenyum lega. “Aku tahu Mason tak mungkin benar-benar mengacuhkanku.”
Landon menarik napas dalam-dalam siap menghadapi serbuan wartawan. Benar saja, begitu keluar dari kantor polisi, wartawan langsung mendekat seperti semut berebut gula. Jepretan kamera tak terhindarkan. Landon bersyukur Winter telah menyediakan hoodie dan masker. Beberapa wartawan melontarkan pertanyaan. Landon tak menggubris tetapi ada satu pertanyaan wartawan yang mengena di kepalanya.
“Ibu Winter, apakah Ibu melakukan kegiatan sosial untuk memperbaiki reputasi Pak Landon di mata masyarakat?”
Seorang polisi mengawal mereka sampai mobil Mason. Rupanya ada Fabio juga. Jadilah mereka berempat kembali duduk semobil seperti waktu hari pernikahan.
“Cousin, what the hell happened this time?” tanya Mason cemas.
“Mase, antar Winter pulang lalu bawa aku menemui si srigala tua! I need to talk to him right away!”tukas Landon.
“Kenapa lagi, Lan?” tanya Mason penasaran.
“Your brother, Austin, stole something from me again! This time He took away my project that I’ve done with blood and tears for years and claimed it his own! What a bastard!” sahut Landon keki.
“Chill Cousin!” sahut Mason. “Tell me the story!”
Landon pun menceritakan garis besar perbuatan laknat Austin terhadap dirinya dan tim kerjanya pada Mason. Winter shok mengetahui selama ini ternyata Landon tidak idle di rumah. Pria itu bekerja keras untuk bisa mandiri, terlepas dari bayang-bayang Purnama Corp. Sekarang Winter mengerti dari mana asal uang setengah M Landon untuk membayar denda menyetir sambil mabuk. Sayang akhirnya uang hasil keringat Landon harus melayang begitu saja.
Mereka pun tiba di Blissful Apartment. Landon langsung melepaskan hoodienya dan menyerahkannya pada Winter.
“Thanks, Mason, Fabio...”kata Winter sebelum turun dari mobil.
“Sama-sama Win.” Sahut Fabio sementara Mason mengangguk sambil tersenyum.
“Lan, kau akan makan di rumah kan? Aku akan memasak teriyaki salmon dan udang goreng tepung untukmu.”kata Winter.
Landon mengangguk. “Hmmm.” jawab Landon cuek.
Winter pun turun dari mobil.
***
Tanpa mengindahkan cegatan satpam dan sekretaris Papanya, Landon menerobos ruang kerja Grayson Purnama. Landon membuka pintu dan langsung menguncinya.
Grayson yang sedang minum teh kelabakan. “Di mana sopan santunmu? Kau tidak mengetuk pintu, boro-boro membuat appointment!”
“Papa, bagaimana mungkin Papa bisa tega meluncurkan game Mad Lad tanpa persetujuanku? Bahkan Papa menyuruh Austin untuk mengambil alih semuanya. Game itu adalah kerja kerasku selama bertahun-tahun. Setiap kali aku ingin meluncurkannya, Papa selalu menolak dengan berjuta alasan tetapi ketika Papa tahu aku ingin bergabung dengan Positive Future, Papa langsung mengumumkan tanggal rilisnya? Apa maksudmu Papa? I despise you for doing this!”
“Well, my money funded the project anyway. It belongs to the company, not you at the first place!”
“But it’s all my idea and design! Can you even consider that? Are you really my father?”
“Papa tidak mau dengar apa-apa lagi Landon. Saat ini kau cuma bisa menjalankan foundation amalmu dengan Winter. Setiap donasi yang masuk, Purnama Corp akan membayarmu 10%. Jadi kerja keraslah! Gunakan bakat dan kemampuanmu untuk menggalang acara amal dan mengumpulkan donatur!”
Landon tersenyum sinis. “I won’t do that! Papa, you know what, start from now I’m not your son anymore! Austin is! I’m done with you! You disgust me!” kata Landon berang dengan mata berkilat-kilat.
“Dalam lima bulan ke depan kau masih boleh mencariku kalau kau butuh apa-apa.” kata Grayson tenang.
Landon menyeringai. “Trust me, this is the last time I consider you as my parent.”
“I’m so glad. Kau pikir Papa tidak tahu kau berurusan dengan polisi lagi? Wartawan baru saja mengirim fotomu keluar dari kantor polisi barusan. Baguslah kalau aku tak punya anak good for nothing seperti dirimu lagi!”sahut Papanya ikut tersulut emosi.
Landon pun meninggalkan kantor dengan kemarahan sampai ke ubun-ubun.
***
"Lan, kau tidak mau minta maaf pada Papamu? Bagaimana kau bisa hidup tanpa Purnama Corp?” tanya Fabio resah di mobil. Fabio akan mengantar Landon kembali ke apartment. “Sudahlah ikuti saja kemauannya selama lima bulan ini. Kau jalankan LW foundation bersama Winter. Cari donatur sebanyak-banyaknya. Papamu Hepi, kau dapat uang lalu setelah enam bulan, kau cabut. Kembali jadi CEO di Purnama Corp. Winter bisa melanjutkan LWF bersama tim kalian. Apa susahnya si Lan?!”
Landon terlalu terpuruk untuk sanggup meladeni Fabio. Game adalah passionnya sejak dulu. Dia selalu ingin menciptakan game online sendiri. Memang Papanya tidak suka dengan hobinya sebab ketika main game Landon sering lupa waktu sehingga nilai-nilai akademisnya selalu di bawah garis kemiskinan. Namun hobi itu terus melekat sampai dia besar dan dia ingin game bisa memberinya makan, itulah sebabnya Landon bekerja keras bersama tim kerjanya untuk merilis game perang online Mad Lad. Sekarang hasil kerja kerasnya hilang begitu saja diambil oleh orang yang dibencinya. Papanya yang memuluskan prosesnya. Landon benar-benar patah arang. Hidupnya kini terasa hampa.
Fabio khawatir dengan keadaan Landon. Dia lebih biasa kalau Landon mencak-mencak tetapi begitu Landon diam dengan wajah suram membuatnya kebakaran jenggot.
“Are you OK, Lan?” Tanya Fabio cemas.
“I’m fine, Fabio.” Jawab Landon singkat padat jelas.
Fabio makin kalang kabut dengan jawaban irit Landon. Setelah Landon turun dari mobil. Fabio buru-buru Menelepon Winter.
“Iya Fabio?” kata Winter mengangkat telepon.
“Win, Landon gawat! Dia ribut besar sama Papanya. Landon sudah putus hubungan dengan Pak Grayson gara-gara gamenya disabotase. Sekarang Landon kayak mayat hidup, mati segan hidup tak mau. Tolong hibur dia, Win. Aku benar-benar khawatir padanya. Aku takut dia bunuh diri.”
***
Landon telah kehilangan segalanya. Orang tua. Karir. Uang. Mobil. Passion. Landon bahkan tak menemukan satu alasan pun mengapa dia harus hidup sampai besok. Untuk apa? Dia tak punya apa-apa. Dia tidak tahu mau ngapain. Begitu membuka pintu, Winter menyambutnya dengan senyum. Aroma makanan sedap pun tercium oleh hidungnya. Namun saat itu dia sama sekali tidak nafsu makan meski dia belum makan apa-apa sejak bangun tidur. Cuma s**u stroberi yang dibawakan Winter yang mengisi perutnya.
Landon duduk untuk mencopot sepatu namun Winter langsung buru-buru melepaskan sepatunya. Landon tertegun memperhatikan Winter mencopot sepatunya dengan perlahan lalu dipakaikan kakinya dengan sandal rumah. Lagi-lagi gadis itu tersenyum ke arahnya. Sepertinya Winter selalu gembira ketika dia pulang.
“Landon, makan malam sudah siap. Aku juga sudah masak nasi yang banyak jadi kau bisa nambah sepuasmu. Dan aku akan membuat banana split sebagai hidangan penutup.” kata Winter ceria.
Landon hanya tersenyum samar. “Aku tidak lapar.” kata Landon kemudian berjalan ke kamar. Winter memandangi Landon sampai pintu memblokir pandangannya. Winter tertular Fabio ikut mencemaskan Landon. Hello... Landon tak pernah menolak makanan! Landon biasanya selalu aktif, tidak pernah tak b*******h seperti itu. Biasanya kalau sedang bête Landon akan pergi Gym atau jogging atau main game tetapi tidak malam itu. Setelah mandi, Landon berbaring di ranjang, bersembunyi di balik selimut.
“Landon, kau belum makan dari pagi. Kau mau makan sekarang? Kalau kau sedang tak enak bandan, Aku bisa menyuapimu.” Tawar Winter khawatir. “Atau kau lelah mau aku pijat?”
Landon hanya menggeleng. Pria itu duduk bersandar kemudian menyuruh Winter duduk di sampingnya.
“Winter, kurasa ini saatnya kita menyudahi pernikahan kita. Aku dan Papa sudah putus hubungan. Kau bebas sekarang sebab aku yang tak bisa memenuhi perjanjianku dengan Papa. Aku tidak menginginkan perusahaan lagi. Pergilah! Kau tak perlu terus mengurusiku. Besok aku akan minta Fabio untuk mengantarmu ke Sky Tower. Papa bilang Sky Tower adalah imbalanmu karena kau bersedia meladeniku selama ini. Tinggallah di sana. Untuk sementara aku akan tinggal di sini sampai aku bisa mendapatkan apartment untuk kusewa. Aku akan menjual mobil untuk modal awal. Mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari Kakekku jadi Papa tak berhak mengambilnya.”
Winter terkejut tiba-tiba Landon mengucapkan perpisahan. Dia langsung sedih.“Landon aku tak mau meninggalkanmu.”
Landon terkekeh, heran mengapa Winter masih mau bersamanya saat dia tak memiliki apa-apa. “Untuk apa, Winter? Kau mau menyia-nyiakan waktumu? Sekarang kau sudah bisa kuliah, kau punya rumah, kau punya social foundation seperti impianmu. Semua impianmu sudah tercapai. Untuk apa kau masih mau bersamaku? Sudah saatnya kau menemukan seseorang yang akan menjadi suamimu yang sesungguhnya.”
Winter menggeleng. “Landon, kau adalah impianku. Aku cuma ingin berada di sampingmu. Entah sejak kapan tetapi aku telah jatuh cinta padamu.” kata Winter sambil menunduk malu.
Landon terenyak lalu tertawa frustasi.“Winter, aku tidak mencintaimu.”
Winter menggigit bibir. Pahit amat ditolak langsung.“Aku tahu... Tapi bisa melihatmu setiap hari, memasak untukmu, makan denganmu, aku sudah sangat bahagia. Aku tak akan meminta lebih. Jadi bisakah kau tetap bersamaku paling tidak sampai lima bulan lagi?” pinta Winter sungguh-sungguh.
Landon mendengus. “It’s not good for us.”
“Landon, please... I promise just five more months. Don’t leave now! I’ll do everything to make you happy.”
Landon menatap Winter dan bisa melihat kalau mata Winter sudah berkaca-kaca. Gadis itu pasti akan menangis jika dia menolak. “Ok five more months, Winter, then we’ll get divorced!”
Winter tersenyum penuh kelegaan. “Thanks Landon.”
***
Pada masa kelam Landon, Winter tak jemu menghibur dan merawatnya. Landon sempat tak makan apa-apa selama dua hari, begitu makan setengah piring juga tidak habis. Landon tidak mandi. Tidak keluar kamar. Hanya berbaring di tempat tidur. Winter sampai shok Landon yang super bersih bisa tak ganti baju berhari-hari. Seperi mayat hidup, cocok seperti yang dikatakan Fabio. Mason dan Fabio datang, Landon juga tak bersedia ditemui. Winter benar-benar cemas. Akhirnya setelah seminggu, Winter memutuskan akan mengambil tindakan keras. Landon cuma makan sedikit sekali, Winter cemas Landon mati kurang gizi. Winter pun menjatuhkan Landon dari ranjang pagi itu.
“Winter, what the heck are you doing?” protes Landon yang sudah terduduk di lantai. Winter tak menyahut. Dia mati-matian menarik Landon ke kamar mandi, membasuh wajah Landon dengan facial wash. Bahkan bermaksud menggosok gigi pria itu. Dongkol, Landon pun menggosok gigi sendiri dan menyuruh Winter keluar sebab dia tak mau Winter juga memandikannya.
Selepas Landon mandi, Winter sudah menyiapkan sarapan. Landon tak peduli, dia kembali ke ranjang. Winter anti putus asa, dibawanya makanan ke kamar dan terus memaksa Landon untuk makan. Akhirnya Landon mengalah karena kegigihan Winter. Winter tak berhenti mengoceh dan itu membuat kepala Landon pusing. Winter pun menyuapi pria itu makan, tanpa menghiraukan tampang bête Landon. Sehabis makan Winter memberi Landon vitamin sebab dia cemas Landon akan jatuh sakit jika mogok makan dan depresi seperti itu.
Winter yang tak suka game akhirnya belajar main game untuk menemani Landon supaya pria itu tak bosan. Winter juga berkorban bangun pagi-pagi mengajak Landon ngegym sebab pria itu kini malas bergerak. Meski iritasi, akhirnya Landon lama-lama menurut karena Winter sangat annoying. Itulah rutinitas Winter sekarang. Ke gym atau jogging bersama Landon di pagi hari, memasak, menyuapi Landon, bersih-bersih, menemani Landon main game atau nonton, memberi Landon vitamin dua kali sehari dll. Kurang lebih dia kini memiliki bayi besar. Apapun akan dilakukan Winter demi kebaikan Landon. Tanpa disadari, Winter sebenarnya sedang memforsir tubuhnya sendiri.
***