Dalam sebulan, perlahan-lahan Landon bangkit dari keterpurukan. Dia mulai melakukan rutinitasnya lagi. Nafsu makannya pun kembali. Winter tak perlu membangunkan Landon dan menyuapi pria itu lagi. Landon kembali menjadi Landon yang optimis dan bandel. Winter lega melihat Landon lebih semangat.
Di suatu sore ketika Winter kuliah, Landon sempat memikirkan berapa kali dia menyebut nama Winter dalam sehari. Belakangan ini dia melakukan apapun bersama gadis itu. Main, makan, olahraga, nonton TV, dll.
“Winter, makan!”
“Winter, sabun habis!”
“Winter, plaid shirt di mana?”
“Winter, close the light!”
“Winter... Winter... Winter...”
Winter adalah orang yang dilihatnya pertama kali ketika bangun, dan orang terakhir yang dilihatnya sebelum tidur. Landon jadi berpikir jika suatu hari Winter hilang, hidupnya akan seperti apa? Bibir Landon mengerut. Dia tak suka bergantung pada orang lain. He still doesn’t believe in love. Love only hurts. That’s it! Dia tak mau terjebak di dalamnya. Pas sekali Mason datang. Sepupunya itu membawakan pizza favorit mereka.
“Winter kuliah sampai jam berapa, Lan?”
“Mana kutahu.” kata Landon cuek sambil mengunyah pizza.
“Kalian tetap akan cerai dalam beberapa bulan atau kau pelan-pelan mulai jatuh cinta pada istrimu?”tanya Mason kepo.
“Cerailah! Kau tidak berpikir aku akan menghabiskan hidupku bersama satu wanita seumur hidup kan? Hahaha...”
“Tapi Winter cantik dan baik. Dia juga sangat peduli padamu.”
“Well... I can’t bother to have commitment with anyone. I love being free! I love freedom more than anything.”
Mason terdiam sebentar. “Lan, since we are cousins, I’d like to be honest with you... I have a crush on your wife...”
Landon tertawa kecil. “Are you serious? Kukira tipemu yang seperti Tiara. What’s so attractive about Winter?!”
Mason menerawang.“Her modesty. Her tenderness. Her kindness. Cantik. Murah senyum, bisa masak, mandiri...”
“Stop Mason! I don’t wanna hear it anymore. You know what, Cousin?! You want it you get it. We never have s*x anyway.”
“Semudah itu?”
“Yeah.”
“Seperti saat kau melepaskan Tiara? Although she was your biggest crush?”
“Yes, I guess.”
“You won’t regret?”
“Why should I?”
***
Winter memutar otak bagaimana caranya membayar cicilan mobil Pak Garry dan ongkos perbaikan McLarennya Landon. Mason memang sudah membayar lunas ongkos perbaikan mobil Landon tetapi Winter bersikeras untuk membayar sebab Landon pasti murka kalau tahu Mason membayar semuanya. Mason tak mau menerima uang Winter. Winter pun memaksa diberikan pekerjaan untuk membayar ongkos. Jadinya sekali-kali Winter ke kantor Mason membantu pekerjaannya sedikit-dikit. Winter akan mengambil mobil ketika utangnya lunas. Jangan sampai ketahuan Landon.
Utang pada Mason sudah diorganisir, sekarang tinggal pada Pak Garry. Winter tahu uang lima juta sangat pas-pasan terutama mereka harus bayar listrik, strata, dll. Jadi Winter harus cari tambahan. Akhirnya dia terima jasa apa saja di kampus. Dia pasang iklan di mading. Siapapun butuh bantuan akan dikerjakannya dengan harga yang pantas.
Winter menerima jasa pengetikan, jasa menggambar desain pakaian, bantu temannya yang fotografer untuk memegang alat foto sekalian merias model. Apa saja diembatnya. Dia tak mau jatah makan Landon terpotong untuk biaya perbaikan mobil Pak Garry.
***
Tahu dia tak produktif, Landon main judi bola untuk mendongkrak pendapatan. Duit satu juta seminggu digunakan untuk investasi pada tim kesayangannya. Untung di rumah ada parabola, jadi sekarang pekerjaan Landon adalah nonton bola. Malam itu Landon memasang seluruh uang yang ada pada Tim Inggris favoritnya. Itu adalah pertandingan akbar. Landon sudah duduk manis di TV dari tadi.
Winter baru pulang jam delapan malam. Gadis itu membawa banyak belanjaan. Landon terlalu fokus pada TV untuk peka membantu Winter membawa belanjaan ke dapur. Winter pun tak berharap dibantu. Dia tahu Landon seperti apa. Landon tidak mati suri di ranjang saja sudah bagus.
Tak lama kemudian Landon bersin-bersin. “Winter, kau masak apa? Chilli ya? Pedas sekali baunya!”
“Iya Lan. Aku lagi nguleg sambel terasi. Ada pesanan teman lima botol.” kata Winter sambil berlinang air mata.
“Can you do it after the game finish? hashuuuu...”tanya Landon sambil bersin. “The smell is too srong!”
“Sorry Landon tidak bisa. Nanti malam aku harus belajar. Sabar sedikit ya.”
Winter tertawa cekikikan memperhatikan Landon menonton bola sambil bersin tidak berhenti seperti kereta api.
“Dang it Winter! You’re trying to kill me!” protes Landon untuk kesekian kalinya.
“Sebentar lagi.”
“Hurry up!!!!” jerit Landon dengan mata basah.
Sepuluh menit kemudian Winter memasukkan sambal ke penggorengan. Bau terasi semakin semerbak.
“Winter, cancel the order! We’re not that poor!”perintah Landon keki mencium aroma terasi yang dibencinya.
“We are, Landon!”
Landon mendengus. “Whatever! Just make it quick! I can’t stand the bloody smell!” tukas Landon sambil menutupi hidungnya.
Setengah jam kemudian, Landon bersorak sorai seraya melompat-lompat.
“Hashuuuu! I won! I won Winter! I wonnnnnn!!! Hashuuu... Hashuuu... Hashuuuu...” seru Landon kegirangan. Pria itu langsung ke dapur. Matanya makin perih begitu menginjak dapur. Winter belum selesai membuat sambal. Air mata Landon menetes-netes, Landon pun buru-buru mengusap matanya. Meski mukanya banjir tetapi senyum di bibirnya merekah.
“Aku menang sepuluh juta, Winter!” seru Landon dengan mata berbinar-binar. Sangat bangga.
“Sepuluh juta? Benarkah?” tanya Winter ikut girang. Landon mengangguk penuh semangat. Winter tersenyum geli melihat Landon tertawa sambil menangis. Bagi Winter itu adalah ekspresi terlucu Landon yang pernah dilihatnya. Ekspresi Landon yang kegirangan seperti anak kecil sangat menggemaskan.
Landon memegang kedua tangan Winter dan mengajaknya berputar. Winter tergelak berputar bersama Landon. Asli deh tingkah Landon seperti anak kecil, batin Winter.
“Hmm.. Kau bau terasi, Winter!” kata Landon tersadar lalu melepaskan tangan Winter.
“Namanya juga sedang buat sambal terasi masa mau wangi parfum?”sahut Winter manyun.
Landon mengambil tisu dan mengelap keringat di dahi Winter. “Kau nguleg sampai keringatan begitu.” Gumam Landon seraya pelan-pelan mengusap dahi dan pelipis Winter. Winter membeku diperlakukan selembut itu oleh Landon. “Nah sudah bersih.”
“Te-terima kasih.”kata Winter terbata.
“Nanti uang sepuluh jutanya untuk bayar mobil Garry.”
“Kau tidak kangen pesta?”
Landon menggeleng. “Sisa hutangku pada Garry jadi tinggal berapa?”
“Kurang lebih tujuh juta lagi, Lan. Tapi ini aku lagi kumpulin uangnya.” kata Winter.
“Ok, aku juga akan cari tambahan.” kata Landon lalu mencari cemilan di kulkas.
Winter takjub Landon rupanya cukup bertanggung jawab.
***
Tidur Landon terganggu ketika dia merasakan ada semprotan air di wajahnya. Air apa ini? Batin Landon langsung membuka mata dan mengusap wajahnya. “s**t!” umpatnya ketika dia melihat anak anjing di ranjang. Diperhatikannya anjing itu sedang menggoyang-goyangkan ekor dan siap menjilati wajahnya kembali.
“Winter!!!!!” jeritnya naik pitam. Namun Winter tak kunjung datang. Landon mendengus melindungi wajahnya dari jilatan anjing. Anjing siapa ini? Batin Landon gusar. Dia pun buru-buru menjauhkan anjing dari wajahnya. Sialnya anjing itu malah sekarang buang air kecil di ranjang. Landon pucat pasi dan langsung mengangkat anjing, menurunkannya dari tempat tidur. Namun anjing itu kembali naik berkat bantuan kursi di samping ranjang. Landon kesal luar biasa. Dia paling benci kotor-kotoran. Oleh karena itu, Landon mencari dasi lalu mengikat tangan dan kaki anak anjing itu sekalian dengan moncongnya lalu tidur di sofa luar. Anjing itu merintih mencari pertolongan tetapi Landon tak peduli. Dibiarkannya anjing itu tergeletak di lantai sambil menangis.
Tak lama kemudian, Winter pulang membawa anak laki-laki kurang lebih berusia tujuh tahun. Winter melirik ke kanan dan kiri, mencari hewan berkaki empat yang tadi ditinggalnya untuk menjemput Reno di tempat kursus renang. Winter terlonjak menyadari seseorang sedang menatapnya dengan intens di ruang tamu.
“Hai Landon... Kau sudah bangun?”tanya Winter meringis.
“Siapa dia?” tanya Landon menunjuk Reno.
“Ini Reno anak tetangga sebelah. Aku baru menjemputnya di tempat les. Mamanya ada keperluan mendadak harus kerja jadi dia minta tolong aku untuk menjaganya hari ini. Tidak apa-apa kan?”
“Terus anjing siapa di dalam? He peed on the bed, you have to change the bed sheet now! Make sure everything clean!” kata Landon ketus.
“Ok Landon, akan aku lakukan sekarang. Terus Twinkle di mana?”
“Kamar!” jawab Landon jutek. Reno tersenyum pada Landon. Landon tersenyum samar. Dia jarang berurusan dengan anak kecil sebab baginya anak kecil itu berisik, banyak maunya, dan bandel.
“Halo Kak, namaku Reno. Aku kelas TK C. Aku suka menggambar. Cita-citaku kalau sudah besar mau menjadi astronot, aku mau ke bulan, Kak! Nama Kakak siapa?”Tanya Rena sambil mengulurkan tangan.
Landon mendelik. Siapa yang bertanya? batinnya.“Landon.”jawab Landon membalas salaman si bocah.
“Landon!” seru Winter seraya membawa Twinkle keluar. “Bagaimana kau bisa tega mengikat Twinkle kencang begini? Kau tidak kasihan? Dia cuma anjing kecil, Landon. Dia menangis nih. Bulunya sampai rontok!”
Sekarang Twinkle sudah keok, bersandar manja pada Winter seraya memandang Landon dengan takut. Ini pertama kalinya Winter menegur kelakuan Landon, habis Winter paling sayang dengan binatang. Dia tak bisa diam saja melihat anak anjing ditindas.
“Siapa suruh dia masuk kamar?” balas Landon santai. “Bagus aku tidak melemparnya dari balkon.”
“Ihhhh... Kau jahat sekali pada binatang! Twinkle masih bayi tahu!”kata Winter kesal lalu menaruh Twinkle di ruang belajar selama dia membersihkan kamar. Takutnya kalau dibiarkan berkeliaran Twinkle bisa dikuliti oleh Landon.
“Kakak tidak suka anjing ya?” Tanya Reno pada Landon.
Aku juga tidak suka anak kecil, batin Landon. “Aku tidak suka binatang.” Jawab Landon.
Sesuatu menarik perhatian Reno. “Wah Kakak punya Nintendo Switch, Reno boleh main tidak?”
Landon menghela napas. “Boleh.” Kata Landon lalu menyalakan TV dan menghidupkan game. Reno memilih game balap mobil.
“Kak, ajari mainnya bagaimana! Reno tidak mengerti.” pinta Reno tak menyadari kebetean Landon. Landon pun mengajari Reno dan akhirnya ikutan main sebab Reno bilang main berdua lebih seru.
Tak lama kemudian Winter sudah selesai membersihkan kamar. Landon menyuruhnya ke balkon sebab dia mau bicara pada gadis itu.
“Winter mengapa kau membawa pulang anjing dan anak tetangga ke rumah?”
Winter menyengir. “Lan, Twinkle itu anjingnya Bonbon. Bonbon lagi liburan ke Bandung sama keluarganya dan di tempat dia menginap tidak boleh bawa binatang peliharaan jadi dia menitipkan anjingnya padaku. Lumayan Bonbon memberi lima ratus ribu untuk merawat Twinkle tiga hari. Lalu Mamanya Reno juga membayar seratus ribu untuk menjaga Reno beberapa jam. Lumayan bukan untuk nambah-nambah bayar hutang mobil Garry.”
Landon menatap Winter tak percaya. “Jadi kau menjadikan rumah sebagai tempat penitipan segala jenis makhluk hidup buat cari uang?”
“Untuk sementara saja sampai hutang pada Garry lunas.”
Landon menarik napas dalam-dalam. “Tapi jangan mengharapkanku untuk membersihkan kotoran anjing atau mengurus Reno.”
“Iya tenang saja. Aku menerima jasa titip kalau sedang libur saja. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu.” janji Winter. Namun rupanya Reno terlalu menyukai Landon dan terus menempelinya. Makan siang mau sama Landon. Ketika Landon latihan boxing di balkon, Reno juga mau ikutan boxing. Mereka main game berjam-jam sampai Winter mengingatkan kalau Reno harus buat PR. Sekarang si bocah minta Landon menemaninya buat PR. Landon paling malas mengajari orang. Dia menolak, membuat Reno murung seketika. Winter memberi tanda pada Landon agar tidak membuat bocah itu bersedih. Akhirnya Landon duduk rapi di meja makan mengajari Reno bahasa inggris.
Sekitar jam dua siang, Winter menerima telepon yang membuat dia jantungan. Tugas kelompok antropologinya ternyata harus dikumpulkan kemarin. Sandra temannya menelepon menyuruh Winter ke kampus sekarang sebab dosen mereka kebetulan ada urusan di kampus sampai jam lima. Jadi mereka diijinkan mengumpulkan hari ini. Jika tidak nilai mereka nol. Mereka akan mengebut menyelesaikan tugas di perpustakaan sekarang juga. Winter kelimpungan. Siapa yang akan menjaga Twinkle dan Reno? Mau tak mau dia harus minta bantuan Landon.
“Landon, aku boleh minta tolong tidak?”tanya Winter takut-takut.
“Minta tolong apa?” sahut Landon sambil memeriksa pekerjaan Reno.
“Mendadak aku harus ke kampus. Tugas kuliah harus dikumpul hari ini dan belum selesai jadi aku mau ke perpus, menyelesaikannya bareng teman. Bisakah aku menitipkan Twinkle dan Reno padamu? Please...”
Seperti dugaannya, Landon memberikan tatapan tajam. “Are you kidding me?”
“Hanya beberapa jam Lan, aku akan kembali jam 6.”
“Itu masih empat jam lagi.”
Winter memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya dengan wajah memelas. “Kali ini saja, Lan.”
Landon menghela napas. “Ya sudah pergilah.”
“Landon, satu lagi, bisakah kau merebus daging untuk Twinkle? Kata Bonbon Twinkle cuma mau makan daging.”
Landon tertawa frustasi. “Merebus daging untuk anjing?! Aku saja belum pernah merebus apa-apa untuk diriku sendiri!”
“Reno juga mau daging, Kak.” kata Reno polos.
Landon menatap Winter suram. “Cepat pergi sebelum aku merebus daging Twinkle untuk Reno!”
Winter pun bersiap-siap dan langsung ke kampus. Landon akhirnya selesai membantu Reno buat PR. Dia mengeluarkan ice blocks untuk dirinya dan Reno. Udara memang cukup panas meskipun aircon menyala. Mata Reno berbinar-binar. Begitu diberi ice blocks, Landon langsung kelihatan seperti power ranger di matanya. Twinkle terus menggongong dari ruang belajar. Landon tidak peduli tetapi Reno kepo dan mengeluarkan Twinkle dari sana. Reno pun main sama Twinkle.
“Ren, if Twinkle pees or pups, you need to clean it otherwise keep him in the study room!”
“Kakak ngomong apa sih?” tanya Reno tak mengerti Landon bicara bahasa Inggris. Landon pun menggaruk-garuk kepalanya gregetan dan menerjemahkan kalimat yang baru diucapkannya ke dalam bahasa Indonesia.
“Ok Kak.” janji Reno. Landon sama sekali tidak yakin itu akan terjadi tapi Landon terlalu malas untuk berdebat. Kalau sampai membuat kotor biar nanti Winter yang membersihkan. Syukurlah akhirnya dia bisa main ponsel tanpa gangguan.
Ting tong terdengar suara intercom. Landon pun mengecek siapa yang datang. Rupanya Fabio. Lima menit kemudian Fabio sampai di depan pintu. Landon pun mempersilakan Fabio masuk.
“Lan, jogging yuk! Di sekitar sini tamannya dilengkapi dengan jogging track kan?”ajak Fabio. Pria itu datang dengan pakaian olahraga.
“Yuk boleh.” Kata Landon.
“Lho kau pelihara anjing? Terus itu anak siapa?”
“Anak tetangga. Anjing temannya Winter. Lagi dititip.”
“Winter mana?”
“Ke kampus.”
Fabio langsung terbahak-bahak mengetahui Landon jadi Nanny.
“Pas kau datang. Rebus daging gih buat Twinkle!” suruh Landon aji mumpung.
“Ya masa aku yang merebus?”protes Fabio.
“Cepetan!” tukas Landon galak. Mau tidak mau Fabio melakukan perintah Bosnya. Mereka memberi makan Twinkle dulu sebelum ke taman. Reno kesenangan diajak ke taman yang ada tempat bermainnya.
“Reno, Kakak dan Kak Fabio akan lari di jogging track. Kau main di sini ya. Ada apa-apa panggil Kakak. Jogging tracknya cuma di situ, jadi kamu bisa lihat Kakak. Jangan nakal, Ok?!” pesan Landon pada Reno. Reno mengangguk. Kebetulan di sana Reno bertemu teman sekolahnya yang datang bersama pengasuhnya. Pengasuhnya tak keberatan sekalian menjaga Reno. Jadi Landon bisa meninggalkan Reno dengan tenang. Twinkle nimbrung main sama Reno dan temannya. Everyone is happy.
“Kau tahu siapa yang kembali dari Amrik?” tanya Fabio pada Landon ketika mereka sedang jogging.
“Mana kutahu. Banyak sekali teman kita yang sekolah di Amrik.”
“Tiara, Lan! Dia balik for good so dia bakal tinggal di Indo.”
Landon mengerjap. Jantungnya sedikit berdebar mengingat satu-satunya gadis yang bisa membuat matanya tak bisa berpaling ketika mereka pertama kali bertemu. Landon pikir perasaan mereka mutual sampai akhirnya Tiara selingkuh dengan Mason dan keduanya hanya pacaran sebulan sebelum akhirnya Tiara terbang ke Amrik. Sejak itu Landon benar-benar ilfil pada gadis itu.
“Kupikir dia tak akan kembali ke Indo setelah menjadi supermodel di sana.”
“Tidak tahu. Ella teman baiknya yang cerita padaku. Katanya Tiara mencarimu makanya Ella meneleponku untuk minta nomormu.”
Landon menyeringai. “Untuk apa dia minta nomorku bukan Mason?”
“Nah itu juga aku bingung.”
“Jangan bilang kau beri dia nomorku?”
Fabio menyengir. “Tidaklah... Aku kan setia kawan... Aku tahu kau pasti marah, apalagi kau sudah menikah... Bisa dibunuh aku sama Papamu kalau sampai kau buat skandal.”
“Baguslah.”
Tiba-tiba Reno berteriak-teriak memanggil Landon sambil berlari. Landon dan Fabio pun segera berlari menghampiri bocah itu.
“Kenapa, Ren?” tanya Landon khawatir melihat Reno menangis.
“Twinkle tercebur, Kak Landon. Tadi aku sama Liam main lempar bola bareng Twinkle. Aku tak sengaja melempar bola ke dermaga. Eh Twinkle nyebur untuk mengambil bola, Kak. Sekarang Twinkle nyaris tenggelam. Kakak harus cepat menolongnya!”
Landon shok, seperti tersambar geledek“Di mana jatuhnya?”
“Di sana, Kak!” jawab Reno menunjuk ke arah salah satu dermaga. Landon pun berlari sekencang mungkin ke sana, diikuti oleh Fabio dan Reno.
Landon menemukan anjing itu sedang berusaha mempertahankan kepalanya tetap di atas air. Twinkle kelihatan tak berdaya gelagapan di air. Landon menjambak rambutnya, tertegun memandangi Twinkle dalam bahaya. Landon cukup panik. Reaksi Fabio juga sama.
“Fab, nyebur Fab... Selamatkan si Twinkle!” seru Landon.
“Aduh Lan, aku tidak bisa berenang. Yang ada aku bisa tenggelam. Kau saja lah!”kata Fabio memelas.
“Kak Landon buruan. Twinkle nanti bisa mati. Kasihan Kak... Tolong Kak Landon...”ujar Reno ketakutan sambil meremas baju Landon. Banyak orang mengerumuni mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Landon menarik napas dalam-dalam. Dia tak punya pilihan. Akhirnya dia melepas bajunya dan terjun ke dermaga. Landon buru-buru menyelamatkan Twinkle dan membawanya berenang ke tepi. Fabio sudah sigap mengambil Twinkle ketika Landon menjulurkan anjing kecil itu. Setelah Twinkle pindah tangan, Landon pun memanjat dermaga. Landon menyisir rambutnya yang basah dengan tangan lalu mengusap wajahnya dengan kaosnya. Damn it! Dosa apa dia hari ini? Sungutnya.
Sampai di atas Twinkle sudah pingsan. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Landon pun buru-buru melakukan CPR pada Twinkle takut anjing itu keburu mati. Air keluar dari mulut Twinkle setelah Landon menekan perut binatang itu tetapi mata Twinkle tetap tertutup.
“Kak, kayaknya Kakak harus melakukan pernapasan lewat mulut kayak di film-film. Biasanya bisa bangun, Kak!” usul Reno sok tahu.
Landon menatap Reno tak percaya. Gila apa dia harus melakukan CPR mulut ke mulut pada anjing. Dia lebih ikhlas Twinkle mati.
“Fab, lakukan CPR pakai mulut!” suruh Landon pada Fabio. “Kau dari tadi belum ngapa-ngapain. Aku sudah basah nih.”
“Tidak mau ah... Kau tega sekali sih Lan. Nyesal aku datang ke rumahmu!”gerutu Fabio.
“Cepat lakukan! Kalau tidak lima bulan lagi ketika aku kembali ke kantor, kau adalah karyawan pertama yang aku pecat!” ancam Landon.
“Lan, jangan jahat begitu dong!”
“Makanya cepat!!”
Fabio tersenyum getir. “Serius nih, Lan?”
Landon pun menarik Fabio sampai nyusruk ke tanah. Fabio menatap Landon minta belas kasihan tetapi Landon menatapnya galak. Akhirnya Fabio pun melakukan napas buatan pada Twinkle. Sialnya sekali tidak mempan. Akhirnya Fabio melakukannya beberapa kali sampai Twinkle melek. Landon tak bisa menahan tawa. Dia ngakak tanpa dosa.
“b******k kau, Lan!” maki Fabio cemberut karena Landon tak bisa berhenti tertawa.
“Syukurlah Twinkle bangun. Terima kasih Kak Fabio.” kata Reno sambil memeluk anjing malang itu.
Landon mengecek Twinkle. Anjing itu kelihatan lemas. Akhirnya Landon memutuskan membawa Twinkle ke dokter hewan, takut terjadi apa-apa pada anjing itu.
***
Winter terpana melihat rumah kacau balau ketika dia kembali. Dia merasa kelelahan hari itu, karena tugas dan jalanan macet. Sekarang dia harus memasak dan merapikan rumah. Setelah itu mengetik skripsi kakak kelas yang membayar jasa ketiknya. Keadaan tak bisa bertambah buruk ketika Winter mendengar dari Reno kalau Twinkle tercebur di dermaga. Winter pun langsung memeriksa keadaan Twinkle. Melihat Twinkle lesu, Winter jadi sedih. Dipeluknya anjing itu dengan kasih sayang sambil meminta maaf.
Landon menjelaskan kalau keadaan Twinkle tidak parah. Anjing itu akan kembali pulih dalam beberapa hari. Winter mengangguk, tak protes meski dia agak kecewa pada Landon membiarkan Twinkle bermain bersama Reno tanpa pengawasan. Setelah itu Landon main komputer. Tak lama kemudian, Ibu Laura datang menjemput Reno. Winter pun mulai memasak makan malam. Dia memasak sesuatu yang simpel sebab banyak hal yang harus dikerjakannya malam itu.
Ketika ke mini market, Landon meninggalkan ponselnya di ruang tamu. Karena ponsel itu terus berdering, Winter pun memberanikan diri mengangkat telepon, takut itu adalah telepon penting untuk Landon.
“Halo...” sapa Winter takut-takut sebab ini pertama kalinya dia menyentuh ponsel Landon.
“Halo...” sahut seorang wanita dengan suara yang merdu. “Bisa bicara dengan Landon?”
“Landon sedang keluar. Lupa bawa ponsel. Ini siapa ya?”
“Ini Tiara. Apakah kau Winter istrinya?”
“Iya.”
“Winter, aku ingin bicara terang-terangan denganmu. Aku adalah mantan kekasih Landon. Aku baru kembali dari San Fransisco. Aku kembali untuk Landon. Aku menyesal meninggalkannya lima tahun yang lalu. Kali ini aku tidak akan pergi lagi. Aku tahu kau menikah dengannya karena Om Grayson. Landon tak mencintaimu. Beside a girl like you don’t deserve him. I hope you know your position and where you come from. I’m the first person who made him fall in love and I know I’m still the one who will. Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku.”
Winter terdiam seribu bahasa.
“Halo... Halo...” panggil Tiara. Karena Winter tak menjawab akhirnya Tiara mematikan telepon.
Winter meletakkan ponsel Landon di meja. Berdiri mematung beberapa detik sampai akhirnya Landon pulang. Winter pun buru-buru kembali ke dapur.
Winter jadi lebih pendiam dari biasa membuat Landon heran.
“Kau marah padaku karena Twinkle tercebur?”
Winter menggeleng lemah. “Bukan salahmu. Apakah kau baik-baik saja setelah nyebur ke dermaga? Kau masuk angin tidak?”tanya Winter seraya memegang dahi Landon.
“Aku tak apa-apa. Tak perlu khawatir. Lalu kenapa kau jadi pendiam? Tugas kuliahmu sudah selesai kan?”
Winter mengangguk.“Sudah. Landon jika lima bulan lagi kita bercerai dan tidak tinggal bersama lagi. Will you miss us?”
Landon tertawa kecil. “Well I may miss your cookings.”kata Landon santai.
Winter tersenyum simpul, dalam hati merutuki dirinya tak tahu diri berharap pria itu akan merindukannya. “Mengapa aku jadi mellow seperti ini? Kau mau nambah nasi, Lan?”
Landon mengangguk. Winter pun mengambil nasi dari rice cooker. Setelah makan, Winter memaksa Landon minum sirup pencegah masuk angin untuk jaga-jaga. Biar tak suka baunya, melihat wajah Winter begitu mencemaskannya, akhirnya Landon pun meminumnya.
***
Setelah selesai bersih-bersih, Winter masuk ruang belajar dan menelepon Fabio. Dia ingin bertanya soal Tiara.
“Jadi Tiara sudah dapat nomor telepon Landon? Dapat dari mana ya?” kata Fabio balik bertanya.
“Aku juga tidak tahu. Tiara itu mantanya Landon, Fab?”
“Iya satu-satunya pacar Landon yang resmi. Mereka pacaran dua tahun sampai akhirnya Tiara selingkuh sama Mason. Habis selingkuh dia terbang ke SF terus putus deh sama Mason. Tapi memang dia baru-baru ini balik ke Jakarta. Kudengar kali ini dia pulang untuk menetap. Memang aku ada feeling dia mau balikan sama Landon tapi tak kusangka dia ngomong terang-terangan padamu. Tiara selalu tahu apa yang diinginkannya dan akan melakukan apapun supaya keinginannya tercapai. Bisa dibilang ambisius.”
“Fab, menurutmu apakah Landon masih memiliki perasaan padanya?”
“Aku tak tahu sih tetapi setahuku dulu memang Landon sangat sayang pada Tiara. Mereka berdua memang sangat cocok sih. Dua-duanya cakep, sama-sama konglo, sama-sama bisa main musik, sama-sama rebel. Si Tiara disuruh orang tuanya ke SF belajar bisnis eh malah jadi supermodel. Bandelnya sama kayak Landon. Cocok banget sih mereka berdua. Mereka mirip. Makanya wajar Landon suka pada Tiara.”
Entah mengapa mata Winter basah mendengar celotehan Fabio. Dia sangat takut kehilangan Landon. Apalagi jika dia bersaing dengan cewek sehebat Tiara, mana mungkin dia menang. Boro-boro menang, Landon pasti berpendapat Winter tak ada apa-apanya jika bersanding dengan Tiara. Seperti langit dan bumi. Winter pun menyudahi percakapannya dengan Fabio. Sambil menangis, Winter membuka laptop dan mulai mengerjakan pekerjaan mengetiknya yang numpuk. Mungkin malam itu dia tak akan tidur sebab semuanya deadline besok. Para kakak kelas membutuhkannya senin pagi jadi minggu siang harus selesai.
***