Landon heran sudah jam satu malam tetapi Winter masih belum masuk kamar. Kemana gadis itu? Tak terbiasa Winter tak ada di sisinya saat tidur, akhirnya Landon mencari Winter.
Landon menemukan Winter tertidur di meja belajar. Landon tersenyum prihatin.
“Winter!” panggil Landon. “Tidurlah di kamar!”
Mendengar suara Landon memanggilnya beberapa kali, Winter terbangun. Dilihatnya Landon sedang menatap ke arahnya dari pintu.
“Kau pasti lapar ya? Aku akan memanaskan makanan untukmu.” kata Winter bangkit berdiri dan setengah berlari ke dapur. Dilewatinya Landon yang berdiri di depan pintu begitu saja. Landon melongo melihat kegesitan Winter. Siapa yang minta makan? Mungkin di mata Winter, Landon selalu kelaparan setiap saat, ratapnya.
Brak! Tiba-tiba Winter terjatuh. Landon yang sedang memperhatikan Winter shok dan buru-buru menghampiri gadis itu. Dibantunya gadis itu berdiri. Landon terkejut merasakan tubuh Winter sangat panas seperti terbakar. Disentuhnya dahi Winter.
“Winter, kau demam!” seru Landon resah.
“Aku tak apa-apa, Lan! Kau mau makan udang atau ayam kalasan?”tanya Winter lemah dengan sorot mata redup. Landon cemas melihatnya.
Landon segera menggendong Winter ke kamar dan membaringkan gadis itu di ranjang. Diambilnya termometer dan diukurnya suhu tubuh Winter. 40 derajat. Landon panik apalagi tubuh Winter mulai gemetaran.
“Winter, aku akan membawamu ke rumah sakit...”kata Landon hendak menggendong Winter lagi tetapi Winter menahannya.
“Landon, kita tak punya uang bagaimana mau bayar uang rumah sakit. Aku cuma butuh tidur sebentar. Besok juga sembuh.” kata Winter tak mau Landon cemas.
Landon tak mempedulikan kata-kata Winter. Diambilnya jaket Winter di lemari lalu dipakaikannya pada gadis itu.
“Landon, kita tak punya uang.”
“Stop worrying about money!”
Landon pun memapah Winter keluar. Karena keadaan mendesak, Landon mengetuk pintu rumah Ibu Laura. Ibu tunggal itu membukakan pintu dengan mata terkantuk-kantuk.
“Tante, boleh saya pinjam mobil? Winter sakit dan saya mau membawanya ke rumah sakit sekarang.”
Melihat Winter kelihatan lemah, Ibu Laura langsung mengambil kunci mobil dan memberikannya pada Landon. Disuruhnya Landon buru-buru ke rumah sakit sebelum Winter makin parah.
Landon mendudukkan Winter di kursi belakang dan menyetir dengan kecepatan tinggi. Lima belas menit kemudian dia tiba di rumah sakit. Landon membeli air dan menyuruh Winter duduk di ruang tunggu. Landon pun menyerahkan sebotol air mineral yang baru dibelinya pada Winter. Winter tampak sangat lemah. Landon membiarkan gadis itu bersandar di bahunya. Mereka sudah menunggu lebih dari sejam tetapi belum juga dilayani. Landon memutuskan untuk bicara pada suster di reception.
“Suster, istri saya dalam keadaan gawat. Bisakah dia segera dibawa ke ruang perawatan?”tanya Landon. “Dokter kapan bisa memeriksa istri saya? Kami menunggu sudah cukup lama tapi tidak dipanggil-panggil.”
“Dokter jaganya memang terbatas hari ini sedangkan pasien banyak. Bapak mau kamar yang mana?”
“Yang VIP Suster.”
“Baik... Bapak ada kartu kredit?”
“Suster, saya pasti bayar biayanya. Tolong istri saya diurus dulu.”
“Paling tidak kalau VIP harus deposit lima juta. Maaf Pak soalnya banyak pasien tidak bayar. Kalau semuanya main masuk nanti kami bisa repot.”
Landon mengatupkan gigi karena emosi. Dia sama sekali tidak berdaya. Baru kali ini dia merasa di posisi terendah dalam hidupnya. “Suster, saya Landon Purnama, salah satu pemilik rumah sakit ini, mana mungkin saya kabur.”
“Maaf Pak itu aturan di sini. Lagipula masa Landon Purnama tidak punya kartu kredit?!”sahut suster senior tersebut sanksi Landon bicara jujur.
Landon menarik napas tak percaya ada orang sekejam itu. “Ok tunggu sebentar!”
Landon kembali ke sisi Winter. “Winter, mana kartu ATM?”
“Landon, kartu ATMnya tidak ada uang. Cuma ada tiga ratus ribu. Mana cukup. Kita pulang saja yuk!”
“Tenanglah biar aku yang mengatur semuanya. OK.” Kata Landon beranjak berdiri.
“Landon...” panggil Winter seraya menarik ujung baju pria itu. “Jangan pergi lama-lama ya!” kata Winter tak mau ditinggal.
Landon tersenyum lirih. Dikecupnya dahi gadis itu sekilas. “I promise I’ll be quick. Tunggu sebentar ya... Everything will be OK.”kata Landon seraya mengusap-ngusap pipi Winter.
Winter tertegun dicium oleh Landon. Winter pun mengangguk lalu memperhatikan kepergian Landon. Pasti Landon melakukannya sebatas iba, batin Winter tak berani berharap.
***
“Josh, aku bersedia main piano di acara ulang tahun Melody. Kau masih mau membayar lima puluh juta kan?”kata Landon di telepon.
“Serius, Bro? Ada apa tiba-tiba kau setuju? Kemarin-kemarin aku membujukmu kau bilang aku bayar 1M juga kau tak akan menyentuh piano lagi?!”balas Josh heran. Seminggu yang lalu dia memang menelepon Landon minta Landon main piano untuk Melody sebab adik kesayangannya itu mati-matian ingin Landon datang ke ultahnya dan main piano.
“Serius tapi transfer duitnya sekarang Josh! Aku lagi butuh uang...”
“Ok tapi benar besok kau datang ya?! Jam 7 di The Plaza.”
“Iya.” kata Landon memutus telepon.
Tak lama kemudian, Landon segera kembali ke reception, mengurus biaya administrasi. Akhirnya Winter pun dibawa ke kamar VIP dan diperiksa oleh dokter.
“Lan, bagaimana caranya kau bayar rumah sakit?”
“Mason.” Kata Landon berbohong. Winter mengangguk. Wajahnya kelihatan lega.
“Lan, besok kita bisa pulang pagi-pagi tidak? Pekerjaanku masih banyak Lan. Aku belum selesai mengetik buat Kakak kelas. Deadline besok siang.”
“Winter, kau masih sempat-sempatnya mengurusi hal itu. Kau tak dengar dokter bilang kau harus dirawat tiga hari?! Kau kena tipes karena kelelahan dan makan sembarangan! Dokter juga bilang kemungkinan kau anemia. Itu akibatnya kalau kau menerima banyak pekerjaan sampingan. Aku tahu kau melakukannya untuk membayar mobil Garry tapi kau terlalu memaksa dirimu!”kata Landon gusar.
“Tapi nanti skripsi mereka bagaiman, Lan?! Kalau begitu, bisakah kau membawa laptopku kemari?”
Landon melipat tangan di d**a, menatapnya dongkol.
“Oh iya, bisakah kau bawa juga buku sketsa di meja sekalian pensil warna. Aku sudah selesai gambar desain tinggal perlu mewarnai.”
Landon mengerjap tak percaya. “Just have a sleep, Winter!” kata Landon ketus.
Menyadari Landon marah, Winter pun langsung memejamkan mata. Dia takut disemprot lagi.
Landon menatap Winter dengan iba. Hari itu Landon baru menyadari dia tak pernah memperhatikan Winter sampai tak tahu kalau Winter telah memaksa tubuhnya bekerja terlalu keras untuk bayar hutang Garry. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk dirinya. Sebaliknya Landon selalu cuek pada Winter. Mata Landon terbuka, Winter ternyata bukan cewek matre. Dia adalah gadis baik yang sayangnya bernasib buruk.
Landon berada di samping Winter sampai Winter terlelap. Napas Winter terdengar pelan dan tidurnya gelisah. Hal itu meresahkan Landon. Landon pun menggenggam tangan gadis itu. Masih tinggi termperatur Winter, wajar tidurnya gelisah, pikir Landon. Merasakan tangannya digenggam Landon, mata Winter perlahan terbuka.
“Landon, mobilmu sudah selesai diperbaiki. Kau jangan sedih lagi ya, kalau kau sedih, aku jadi ikut sedih.” kata Winter mengigau lalu kembali memejamkan mata. Landon tertawa kecil melihatnya. Sudah terkapar saja, gadis itu masih memikirkannya.
***
Landon pulang ke apartment. Dia memutuskan akan melanjutkan pekerjaan Winter. Dia pun ke dapur mengambil makanan ringan untuk menemaninya bergadang. Landon melihat ada kotak makanan Winter untuk besok gadis itu mengajar di sekolah minggu. Landon pikir daripada basi mending dia makan sekarang sebab mustahil besok Winter bisa mengajar. Landon pun membuka kotak makanan itu. Landon terenyak. Kotak makanan itu hanya terisi nasi dan telur ceplok. Landon memeriksa isi kulkas, dia menemukan masih ada salmon, udang, dan ayam di sana tapi mengapa Winter cuma makan nasi dan telur? Lalu Landon menyadari Winter menyimpan makanan yang enak untuk dirinya semua. Gadis itu pasti takut kalau dirinya kekurangan makanan sampai cuma makan telur ceplok. Hati Landon terenyuh. Dia terpukul telak.
Landon bersandar pada tembok, membenamkan wajahnya. What the hell is Winter doing? Batin Landon kalut, berusaha mencerna kelakuan Winter. Saat itulah dia menyadari Winter is the only girl he doesn’t deserve. Gadis itu terlalu baik untuk berurusan dengan b******n seperti dirinya.
***
Winter menelepon Mason untuk mengucapkan terima kasih telah membantunya membayar biaya rumah sakit. Mason malah shok mengetahui Winter ada di rumah sakit. Winter jadi tahu kalau Landon berbohong. Mason segera meluncur ke rumah sakit pagi itu. Dibawakannya karangan bunga dan buah-buahan untuk Winter. Semuanya dibungkus dengan manis. Winter tersenyum melihatnya. Jarang sekali ada orang yang memberinya bunga apalagi yang sebagus yang dibawakan Mason.
“Mason, kau tak perlu repot-repot membawa apa-apa ke sini.”kata Winter seraya menghirup buket bunga yang memang aromanya wangi.
“Apa yang terjadi padamu?”
“Kena tipes. Mungkin karena aku suka makan sembarangan di kampus. Kurasa aku tak perlu dirawat cuma Landon memaksa membawaku ke rumah sakit.”
“Dia di mana?”
Winter angkat bahu. “Subuh tadi dia pulang dan belum kembali. Mungkin sekarang masih tidur.”
“Jam 12 masih tidur?”Tanya Mason heran.
“Mason jika dia tidak menggunakan uangmu untuk bayar rumah sakit, kira-kira dia dapat uang dari mana ya?”
Mason tertawa kecil. “Kau tak perlu khawatir, Landon temannya banyak. Mamanya juga kaya raya jadi kemungkinan dari mereka.”
“Oh iya Mase, aku ingin bertanya sesuatu padamu tapi kau jangan tertawa ya.”
Mason tersenyum. “Ok tanya saja!”
“Hmmm... Apakah kau sudah punya pacar?”
Mason tertawa sekarang. “Mengapa memangnya?”
“Teman-temanku banyak yang menanyakanmu. Aku jadi pusing. Mereka ngefans padamu. Mereka mau tahu statusmu.” kata Winter tersenyum malu.
“Aku masih single.”
“Bagaimana mungkin orang sepertimu masih single?”tanya Winter terpana.
“Well why not?”
“Mase, kau tahu Isla temanku? Dia naksir padamu. Maukah kau hang out dengannya?”
“Hmmm... Aku lebih suka hang out denganmu.”
“Ya kita bisa hang out berempat. Kalau Landon mau.” kata Winter semangat.
“Aku hanya ingin pergi berdua denganmu saja.”
Winter melongo, menatapnya tegang. Mason pun tertawa.
“Mason, kau kalau bercanda jangan kelewatan. Jantungku mau copot.”protes Winter menepuk-nepuk dadanya. Dia lega Mason cuma bercanda. Kenapa sih orang ganteng suka ngerjain orang?! Tidakkah Mason sadar pesona pria itu amat mengintimidasi ditambah kelakuannya manis, wanita mana yang sanggup menolak Mason?
“Wajahmu saat panik sangat lucu, Winter.”goda Mason tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi.
***
Landon pergi ke kampus Winter. Dia segera mencari Emma. Untungnya ada nomor telepon Emma di ponselnya. Dulu Winter pernah meneleponnya menggunakan nomor Emma. Emma terkejut dicari oleh Landon. Rupanya Landon mau minta tolong Emma untuk memberikan ketikan skripsi pada pelanggan Winter juga sketsa gaun pesta buatan Winter.
“Ada apa dengan Winter, Lan?”tanya Emma penasaran.
“Winter di rumah sakit, kena tipes.”
Emma terkejut.“Kondisinya bagaimana?”
“Tidak terlalu parah. Lusa dia bisa pulang.”
“Jadi ini semua kau yang bikin?”tanya Emma takjub menunjuk tumpukan kertas yang diberikan Landon.
Landon mengangguk. “Em, tolong bilang pada pelanggan Winter, mulai sekarang dia tak menerima jasa pengetikan atau jasa-jasa yang lain. The business is officially closed.”
Emma manggut-manggut. Landon pun pergi. Emma sampai bengong mengetahui Landon mengerjakan pekerjaan Winter yang menumpuk. Seratus halaman skripsi dan sebuah desain pakaian. Emma sanksi Landon yang ditemuinya adalah Landon Purnama si arogan dan rebel apalagi saat itu Landon hanya mengenakan baju casual. Landon terlihat seperti orang biasa. Walau Landon masih tetap menawan, Emma dapat melihat lingkaran hitam di bawah mata pria itu. Pasti pria itu tidak tidur semalaman.
***
Winter termangu mendengar cerita Emma kalau Landon mengantar pekerjaan Winter ke kampus. Apa dia tak salah dengar? Winter senyum-senyum sendiri ketika mendengar dari Emma kemungkinan Landon mulai suka pada dirinya. Kemarin juga Landon mengecup dahinya serta mengusap pipinya. Itu tanda orang suka kata Emma. Winter jingkrak-jingkrak di ranjang ketika tak ada orang. Dia tak sabar ingin bertemu Landon. Winter mengirim sms tetapi tidak dibaca. Ditelepon juga Landon tak mengangkat. Winter memilih berpikir positif, mungkin Landon sedang tidur setelah pria itu bergadang menyelesaikan pekerjaannya. Winter pun pergi mandi. Dia tak mau kelihatan kumal ketika Landon datang. Syukurlah tadi Emma datang membawakan beberapa helai pakaian.
Namun hingga hari berganti malam, Landon juga tak kunjung muncul bahkan sampai tengah malah tak ada kabar. Winter jadi sedih. Landon bahkan tidak mencarinya ketika dia sakit, meski sekedar mengirim SMS untuk menanyakan keadaannya.
***
Dengan segan, Landon memasuki ballroom The Plaza bersama Fabio. Sebenarnya dia tak ingin menyentuh piano lagi sebab itu membawa kenangan yang setengah mati ingin dilupakannya. Dulu ketika masih sangat mencintai musik, dia sering bermain piano ditemani oleh Tiara. Tiara akan bermain biola atau gitar untuk mengiringin permainannya. Itu ada kegiatan favoritnya bersama Tiara. Dulu Landon sempat berpikir, Tiara adalah pelengkap hidupnya. His partner in everything. Mereka sama-sama suka musik, game, dan fashion. They were made for each other. Landon menemukan dirinya selalu bahagia bersama Tiara. Tiara is his healing and became his massive wound when she dumped him for Mason. Setelah itu Tiara melanjutkan sekolah di Amrik sementara Landon sekolah di Inggris. Itu adalah akhir kisah mereka.
Josh menyambutnya dengan heboh. Digiringnya Landon kepada Melody yang langsung kegirangan begitu melihat Landon, terlebih malam itu penampilan Landon begitu menawan bak prince charming. Teman-teman Melody juga ikut histeris. Beramai-ramai mengerubungi Landon. Mereka langsung mengajak ngobrol dan minta foto bareng. Landon bilang dia tak ingin difoto tetapi tetap saja beberapa wanita mengambil fotonya diam-diam. Fabio buru-buru kabur mencari makanan sebab dia juga ngeri dikerubungi wanita seperti lebah.
Setelah acara tiup lilin dan potong kue, para tamu dipersilakan menikmati sajian makan malam. Kini tiba saatnya Landon main piano. Landon pun berjalan menuju sebuah grand piano di sebelah podium. Landon menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Entah sudah berapa lama dia tak main instrument tersebut. Landon duduk dan mulai memencet tuts-tuts piano. Ruangan mendadak senyap tersihir dengan penampilan Landon yang memukau apalagi cewek-cewek. Landon memainkan lagu I’ll never love again Lady Gaga sesuai permintaan Melody. Entah mengapa dadanya nyeri ketika mulai memainkan piano. Dia teringat masa-masa indahnya bersama Tiara. Senyum cantik dan tawa renyah gadis itu. Tetapi Landon bertahan sebab dia ingat Winter butuh biaya rumah sakit dan dia ingin melunasi hutang Garry sehingga Winter tak perlu bekerja sampingan lagi.
Tiba-tiba di tengah permainan, seseorang memeluknya dari belakang. Landon merasakan tangan perempuan melingkar di dadanya. Jari-jari gadis itu lentik dengan kutek warna marun. Aroma tubuh gadis itu amat familiar. Landon tersentak ketika matanya bertemu dengan sepasang mata bulat yang indah. Tiara. Seketika Landon menghentikan permainannya.
“What are you doing?” tanya Landon dingin, menepis tangan Tiara dari pundaknya.
“I miss you, Landon. I always have.” kata Tiara tersenyum.
“We’re done Tiara.”kata Landon lalu bangkit berdiri. Melody hendak protes tetapi ekspresi Landon terlalu mengerikan untuk bisa dihentikan. Dia takut Landon mengamuk. Landon menjauh dari keramaian. Tiara mengikuti Landon. Kali ini dia tak akan kehilangan Landon lagi. Fabio pucat pasi melihat kejadian itu. Bisa gawat kalau Landon dan Tiara difoto wartawan dan beritanya sampai ke Winter atau Grayson Purnama.
Landon akhirnya berhenti di luar ballroom ketika Tiara terus mengikutinya. Kebetulan tempat itu sepi.
“What do you want?” tanya Landon ketus.
“Landon, aku kembali untukmu. I went back as soon as I knew you are married. This time I won’t let you down. I know you don’t love your wife, You always love me. Let give second chance for our relationship. I know you are the happiest when you’re with me.”
Landon tersenyum mengejek. “Don’t you remember you cheated on me with Mason? We’ll never get back together, Tiara.”
“Landon, kau tahu alasan mengapa aku selingkuh dengan Mason? Itu karena aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku. Akankah kau mempertahankanku atau kau akan merelakanku untuk sepupu kesayanganmu itu. Aku sedikit cemburu pada kedekatan kalian. Mason terus memonopolimu. Ternyata kau menyayangi Mason lebih dariku. Tapi aku mengerti aku kekanak-kanakan saat itu. Aku tak seharusnya mengetesmu dengan cara konyol seperti itu. Itulah sebabnya hubunganku dan Mason hanya bertahan sebulan sebab aku tak pernah mencintai Mason dari awal. Aku minta maaf. Aku tak bisa melupakanmu selama ini, Lan.”
Landon mendengus.“Tiara, I’m married now.”
“Everyone knows your marriage will end in few months. I’ll wait. I cannot afford to lose you this time.”
“Forget it Tiara! We are over. My wife is sick and I need to see her.”kata Landon hendak pergi namun di luar dugaan Tiara memeluknya kemudian mencium bibirnya. Landon heran menemukan dirinya tak bisa bergerak. Dan entah ada setan apa yang merasukinya dia membalas ciuman Tiara. Mereka baru berhenti berciuman ketika Landon menyadari ada seseorang yang memotret mereka. Kali ini Landon benar-benar pergi, tak dihiraukannya Tiara yang berusaha menahan.
***
Landon pelan-pelan membuka pintu kamar rawat Winter. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Pasti Winter sudah tidur. Benar saja Winter sudah tertidur dengan damai di ranjang rumah sakit. Landon memperhatikan Winter sambil tersenyum. Diperbaikinya letak selimut gadis itu. Landon heran mengapa Winter kalau tidur tak bisa anggun. Mungkin saat tidur, Winter tukeran roh dengan orang lain. Landon pun membaringkan tubuhnya di sofa dan menggunakan jasnya sebagai selimut.
Winter membuka mata ketika sinar sang surya mengintip dari balik tirai. Winter sumringah menemukan Landon terlelap di sofa. Paling tidak Landon tak mengabaikannya total. Winter heran melihat Landon berpakaian rapi. Pasti Landon pergi ke pesta lagi semalam. Pantas pria itu tidak nongol di rumah sakit. Tanpa menimbulkan suara, Winter duduk di lantai memperhatikan Landon tidur. Wajah pria itu seperti bayi. Bibir Landon sangat menggiurkan. Ingin sekali dia merasakan sentuhan bibir pria itu di bibirnya. Mereka hanya pernah berciuman super singkat di hari pernikahan mereka. Entah kapan Winter bisa merasakan ciuman menggebu-gebu dari suaminya. Setelah puas memandangi Landon yang sedang terlelap. Winter pun kembali ke tempat tidur mengecek ponsel.
Alangkah terkejutnya Winter membaca headline berita seleb dalam negeri. Terpampang foto Landon sedang bermain piano dirangkul oleh seorang perempuan cantik blasteran dari belakang. Mereka berdua terlihat bagai lukisan sebab keduanya sama-sama berparas elok. Begitu cocok satu sama lain. Di bagian tengah artikel ada foto lain. Kali ini hati Winter hancur melihatnya. Foto Landon sedang berciuman dengan gadis itu, bahkan ada video singkat saat keduanya saling melepas kerinduan dengan ciuman panas. Meski disensor, semua orang bisa menebak apa yang sedang dilakukan mereka. Landon bersama Tiara Cipta. Tiara rupanya adalah pewaris Mal Cipta yang cabangnya ada di mana-mana. Di mana ada Mal Cipta di dalamnya pasti ada Purnama Department Store. Winter sama sekali tidak ada apa-apanya dengan Tiara. Tidak seujung kukupun dia lebih baik dari gadis itu. Tiara cantik, tinggi, tubuhnya sempurna selayaknya model, kaya, berasal dari lingkungan yang sama dengan Landon. Bahkan kedua keluarga juga merupakan rekan bisnis.
Dadanya sesak, tak tertahankan Winter pun menangis. Dia langsung membekap mulutnya. Dia tak mau Landon terbangun dan melihatnya menangis. Jadi kemarin Landon tidak datang karena Landon berkencan dengan Tiara. Pria itu masih mengenakan jas yang sama dengan yang dipakainya di foto. Landon sama sekali tidak peduli dengannya bahkan ketika dia dirawat di rumah sakit. Winter turun dari tempat tidur. Dia tak mau bertemu Landon lagi. Dia mau kembali saja ke pemukiman kumuh dari mana dia berasal. Dia tidak pantas bermimpi menjadi angsa sementara dia adalah itik buruk rupa. Winter pun segera merapikan barang-barangnya.
Namun belum sempat Winter membuka pintu, Landon sudah keburu bangun. Dia terkejut menemukan Winter tergesa-gesa meninggalkan ruangan.
“Winter kau mau kemana?”tanya Landon heran. Dia mengusap-ngusap matanya yang masih dikuasai kantuk seraya menguap. Winter tak menyahut. Gadis itu keluar kamar dan berlari. Otomatis Landon memakai sepatu.
Winter mempercepat larinya ketika melihat Landon keluar dari kamar rawat. Diabaikannya para suster yang mencoba menghentikan langkahnya. Winter berlari sekuat tenaga. Landon tak putus asa mengejar gadis itu dan karena Winter masih lemah, Winter sempat ambruk di lantai. Dia segera bangkit berdiri namun beberapa detik kemudian tangan Landon berhasil menggapainya.
“Winter kau kenapa, kenapa kau lari dariku?” tuntut Landon minta penjelasan. Winter buang muka tak menjawab.
“Tatap aku Winter!”
“Lepaskan tanganmu, Lan. Tanganku sakit...”
Shok, Landon pun melepaskan cengkramannya. “Sorry, Tapi kenapa kau lari?”
Karena Winter menunduk maka Landon menangkup wajah Winter. Dia tertegun menemukan wajah sembab Winter. Gadis itu menangis.
“Kenapa Winter? Siapa yang menyakitimu? Apa para dokter menindasmu karena kita tak punya uang? Kau tenang saja aku punya cukup uang untuk membiayai semua ongkos pengobatanmu. Katakan yang mana orangnya!”kata Landon berang. Winter malah tambah mewek membuat Landon serba salah.
Dua orang suster datang dan menyuruh Winter kembali ke kamar. Mau tak mau Winter pun pasrah digandeng dua orang suster ke kamar. Winter segera diperiksa dan diberi minum obat. Landon memperhatikan dengan seksama. Setelah Suster keluar, Landon berusaha bicara pada Winter tetapi gadis itu tidak menyahut malah bersembunyi di balik selimut. Frustasi melihat kelakuan Winter, Landon pun menghidupkan TV.
Landon terpana melihat dirinya bersama Tiara terpampang di layar TV. Landon segera mengganti saluran TV tetapi saluran TV lain juga membahas tentang dirinya dan Tiara. Siapa yang membocorkan foto dan videonya dengan Tiara ke wartawan? Bukankah kemarin adalah acara ulang tahun pribadi bukan publik? Akhirnya Landon mematikan TV.
“Winter apa kau menangis karena headline hari ini?” tanya Landon penasaran. Winter tak menyahut. “Please talk or I’ll go.”
Tanpa dosa Landon mulai melangkah. Takut benar-benar ditinggal Landon, Winter pun keluar dari balik selimut. “Landon, jangan pergi!”
“Kalau begitu jelaskan padaku mengapa kau menangis?”kata Landon tegas.
Landon menatap Winter resah. Ditariknya sebuah kursi ke sisi ranjang. Winter duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Menatap pria yang dicintainya dengan terluka. Winter menggigit bibirnya menahan tangis. Hatinya masih berantakan melihat Landon berciuman dengan Tiara.
Winter menunduk. “Landon, kemarin Tiara meneleponmu sewaktu kau ke mini market. Aku menjawabnya sebab dia menelepon berkali-kali, aku takut itu adalah telepon penting untukmu. Ternyata Tiara. Dia kembali untukmu, Landon. Aku tahu aku tak berhak marah atau cemburu tetapi aku terluka melihatmu bersama dengannya. Bisa kulihat kalian begitu serasi. Aku tidak mau jadi orang ketiga. Jadi kuputuskan, aku ingin kembali ke tempatku berasal. Aku mau bercerai denganmu sekarang. Aku tidak mau mengganggu hidupmu lebih lagi.”
Landon menyeringai. “Kau yakin mau bercerai sekarang?”
Winter menggigit bibir, mengangguk namun air matanya langsung berderai. Bagi Winter itu sangat berat tetapi dia akan melakukannya untuk Landon. Kalau memang Landon bisa bersama Tiara, mengapa tidak?
“Tiara sudah kembali, Landon.”ulang Winter.
“Silly, I won’t get back with her no matter what. She is my past. Aku tak akan menerima orang yang pernah berselingkuh untuk alasan apapun.”
“Tetapi mengapa kau menciumnya, Lan? Bisakah kau bisa mencium seseorang sedalam itu tanpa cinta?”
Landon tersenyum masam.“Aku b******n, Winter. Aku bisa berciuman bahkan bercinta dengan siapapun yang aku mau tanpa perasaan.”
“Tetapi kenapa kau tak pernah melakukannya terhadapku, Lan? Apakah aku begitu menjijikkannya di matamu? Apakah aku bahkan berada di bawah p*****r-p*****r yang kau sewa? Sejujurnya aku iri pada mereka, Lan. Kalau bisa, aku ingin menjadi p*****r yang bisa kau cium dan kau peluk.”
“Winter! Stop talking non sense!” bentak Landon.
Tangis Winter makin jadi.
“Winter, I just don’t want to ruin you. I’m not a good man for you.”kata Landon melunak.
“I don’t mind to be ruined or to be destroyed as long as I can make you happy, as long as I can be with you.”
Selama beberapa detik mereka bertatapan dengan emosi membara dalam nurani masing-masing. Entah mengapa Landon memutuskan Winter akan menjadi wanita pertama yang tidak akan dihancurkannya. Dia akan menjaga Winter baik-baik sampai perceraian mereka tiba.
“Enough... What would you like for breakfast?”
“Aku tidak lapar.”
“Well I’ll get something from cafeteria.”kata Landon lalu meninggalkan kamar rawat Winter.
Landon kembali ke kamar Winter membawa makanan. Ketika dia berada di cafeteria untuk memesan makanan, Landon baru menyadari kalau dia sama sekali tidak tahu makanan apa yang disukai oleh Winter. Dia tak tahu apa-apa soal gadis itu. At all! Akhirnya Landon memesan roti peri-peri chicken dan s**u stroberi.
Winter tak mau makan. Masih terus menangis hingga Landon frustasi.
“Tell me Winter, until when are you gonna cry? Until all the liquid in your body runs out?”tanya Landon dingin. Sebenarnya dia ingin menenangkan Winter, membuat perasaan gadis itu lebih baik tetapi melihat air mata Winter terus mengalir bak keran bocor, hati Landon jadi kacau.
“Landon, aku tahu aku seharusnya tidak menangis tetapi biarkan aku menangis hari ini. Besok aku akan jadi Winter yang biasa. Aku tak akan protes atau marah pada apa yang kau lakukan. Aku tahu aku yang membuatmu terjebak dalam pernikahan ini. Aku yang bersalah padamu. Jadi sebaiknya kau pulang sekarang. Please just give me some time alone.”
Landon mengerjap. Baru kali ini dia diusir oleh wanita. Sebenarnya wajar Winter menangis. Walau bagaimanapun saat ini dirinya masih berstatus suami Winter. Terlepas dipaksakan atau tidak, Istri mana yang biasa saja melihat suaminya jadi headline nasional berciuman dengan wanita lain apalagi modelnya yang lemah lembut seperti Winter?
“OK. Aku pergi. Habiskan makananmu!” pesan Landon lalu mengambil jaket dan meninggalkan kamar rawat Winter.
***
Landon pulang. Rumah kacau balau. Twinkle membuat rumah berantakan tak karuan serta buang air sembarangan. Landon mau mengamuk tetapi tampang anjing itu terlalu menggemaskan. Akhirnya Landon mengurung Twinkle sementara di ruang belajar. Dengan berat hati, Landon mencari alat bersih-bersih dan mulai membersihkan apartment. Ini adalah pertama kalinya dia membersihkan tempat itu setelah dua bulan lebih tinggal bareng Winter. Landon terus menggerutu sebab ternyata bersih-bersih itu tidak gampang. Dia heran mengapa Winter bisa bersih-bersih dengan penuh sukacita sampai berjoget-joget segala.
Landon memasukkan cucian ke mesin cuci, mencuci piring, menyiram balkon yang penuh debu dengan selang, dan memvacumn setiap ruangan sampai menyikat WC. Percaya atau tidak dia menghabiskan enam jam untuk bersih-bersih untuk pertama kalinya dalam 25 tahun. Dia merasa puas ketika melihat apartement dalam keadaan mengkilap. Ternyata membersihkan rumah tidak buruk-buruk amat dan tidak susah-susah amat. Landon menghabiskan makanan yang ditinggalkan Winter di kulkas. Dia kelaparan setengah mati setelah berbenah. Twinkle makan bersama Landon sama lahapnya. Setelah itu Landon nonton Youtube. Twinkle dengan manja duduk di pangkuan Landon. Wajah Twinkle memelas minta dibelai. Landon tersenyum geli. Akhirnya Landon membelai Twinkle. Rupanya bulu Twinkle cukup lembut. Kehangatan mengaliri batin Landon. Hatinya meleleh melihat tampang imut Twinkle. Rasanya sudah lama sekali dia tak merasa serileks itu.
Sore hari, Bon Bon datang menjemput Twinkle. Bon Bon pun memperkenalkan diri, pasti Landon tidak ingat dia menghadiri pernikahan Landon dan Winter. Landon mempersilakan Bon Bon masuk dan membantu pemuda itu merapikan barang Twinkle. Bon Bon mengucapkan terima kasih lalu memberi uang lima ratus ribu tetapi Landon menolaknya.
“Tidak perlu bayar. It’s OK. Besok-besok kalau kau mau menitipkan Twinkle bawa saja kemari!”
Bon Bon melongo. Dia pikir Landon bête menjaga Twinkle sebab Winter di rumah sakit eh malah Landon tak keberatan untuk dititipkan lagi. Landon pun mengantar pemuda lemah gemulai itu ke pintu. Tiba-tiba Bon Bon memutar tubuhnya. “Eh, Lan. Hampir lupa... Aku mau pinjam buku kuliah si Winter!”
“Ambil sendiri gih di study room!” kata Landon.
Bon Bon masuk ke ruang belajar. Beberapa menit kemudian Bon Bon keluar membawa dua buku. Dilihatnya Landon sedang main ponsel.
“Lan, aku menemukan buku ensiklopediamu di lacinya si Winter!”seru Bon Bon cengar cengir.
Landon mengangkat wajahnya. “Buku ensiklopediaku?” tanya Landon bingung. Bon Bon pun menyerahkan sebuah buku berwarna pink bergambar unicorn kepada Landon. Landon tertegun. Buku apalagi ini? Batinnya heran.
“Jangan bilang-bilang Winter ya aku yang memberikannya kepadamu nanti dia marah padaku.” pesan Bon Bon lalu keluar dari apartment Landon.
Sambil tertawa kecil, Landon membuka buku berjudul Landon’s Ensiklopedia. Buku itu membahas segala detil tentang dirinya. Hal-hal favoritnya dari warna, makanan, baju, game, dan banyak lagi, juga hal-hal yang tidak disukai Landon, kebiasaan Landon, dll. Bisa dibilang cukup akurat. Bahkan ada beberapa hal yang baru disadari oleh Landon. Winter menulis jika ada sesuatu yang sangat lucu Landon akan tertawa sambil bertepuk tangan dan matanya akan hilang. Sumpah saat membaca itu Landon tertawa dan benar saja dia menepuk tangannya dua kali. Landon tercengang membenarkan isi tulisan Winter. What’s wrong with this girl? Batin Landon bergidik.
Ada paragraf yang membuat Landon terenyak.
‘Semua orang menyebut Landon sebagai pembuat masalah, tidak bertanggung jawab dan sangat self centered tetapi menurutku Landon adalah orang yang tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Landon merelakan gadis yang disukainya untuk Mason, Landon memilih percaya pada temannya meski akhirnya dihianati dan dihukum oleh Om Grayson, Landon memberi delapan puluh persen uang kami untuk keperluan rumah, Landon bahkan tak keberatan berbagi ranjang denganku yang sebenarnya adalah musuh keluarganya. Landon bukan pemalas. Dia pekerja keras dan cerdas sehingga dia bisa menciptakan game onlinenya sendiri. Dia juga bukan pembangkang, dia hanya ingin mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan passionnya karena dia transparan dan straight forward, tidak berbelit-belit seperti orang culas yang punya agenda sendiri. Aku tak mengerti mengapa semua orang menganggapnya b******n, sebab di mataku dia adalah seorang malaikat. Aku ingin berada di sampingnya dan melihatnya bangkit kembali.’
Landon membeku membaca tulisan Winter. Baru kali ini ada orang yang begitu membela dan memahaminya di saat seluruh dunia menentangnya.
Landon menelepon Grayson Purnama. Sebenarnya dia tak mau menghubungi srigala tua itu seumur hidup tetapi kali ini dia harus melakukannya.
“Bagus sekali kau membuat skandal baru yang memalukan diriku! Can you stop making trouble once in your life?!” semprot Papanya begitu mengangkat telepon.
“Papa, listen! I’ll run Landon Winter Foundation. Aku melakukannya bukan untukku, Purnama Corp atau Papa tetapi untuk Winter. She is too pure, too delicate. I can’t bear to see her sad or in pain. I hate to see her cry. So from now on I will protect her. I’ll earn money for us and make sure she doesn’t lack of anything. She is innocent, Papa. I loathe you to involve that kind of woman in our dispute! After our marriage over, I’ll go back to England. I don’t want your money or company! That will be the end of us!” kata Landon memutus sambungan telepon dengan geram.
***