Kediaman Keluarga Pandora
Kota Terassen
* * * * *
Rosa terbangun jauh lebih siang dari biasanya.
Matanya terbuka bukan karena angin pagi, bukan juga karena suara ketukan pintu, melainkan karena punggungnya terasa pegal setelah semalaman duduk di tepi tempat tidur tanpa benar - benar tidur.
Wanita itu langsung turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela. Jendela itu terbuka, persis seperti pagi - pagi sebelumnya. Dan di lantai, tepat di bawah kusen jendela, tergeletak sehelai bulu perak keemasan yang tajam.
Rosa berjongkok dan memungutnya dengan hati - hati.
"Jadi kau benar - benar datang," gumam Rosa sambil menatap bulu itu.
Bibirnya menyunggingkan senyuman yang bahkan tidak bisa ia tahan.
Tok ! Tok ! Tok !
"Nona? Nona Rosa? Nona masih tidur?" panggil Veza dari balik pintu.
Rosa berlari kecil dan langsung membuka pintu kamarnya. Veza yang berdiri di depan pintu sampai tersentak melihat wajah tuannya yang berseri - seri sejak pagi.
"Veza, masuk. Cepat," ujar Rosa lalu menarik lengan Veza masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat - rapat.
"Ada apa, Nona? Ada apa?" tanya Veza panik.
Rosa mengangkat bulu perak di tangannya ke hadapan wajah Veza, "Dia datang."
"Iya saya tahu, dia memang selalu datang."
"Bukan seperti itu," ujar Rosa sambil menggelengkan kepalanya cepat, "Dia datang. Bukan di dalam mimpi. Dia berdiri di sini, di samping tempat tidurku, dan aku memegang tangannya."
Veza terdiam sesaat. Lalu matanya membulat perlahan sampai hampir keluar dari tempatnya.
"HAH?!"
"Ssshhh! Jangan berisik!" pekik Rosa sambil membekap mulut Veza dengan tangannya.
Veza menarik tangan Rosa dari mulutnya dan berbisik dengan nada yang justru lebih keras dari bisikan biasa, "Nona bercanda?"
"Untuk apa aku bercanda? Aku bahkan tidak tidur semalam."
"Lalu?! Bagaimana wajahnya? Dia tampan? Dia dari bangsa apa? Elf? Noblesse?" tanya Veza bertubi - tubi.
Rosa duduk di tepi tempat tidurnya dan menghela napasnya panjang.
"Dia bukan elf. Telinganya tidak panjang," ujar Rosa.
"Vampire?"
"Matanya tidak merah."
"Noblesse?"
Rosa terdiam. Ia teringat pada bagaimana wajah pria itu berubah tepat di depan matanya. Kulit yang berubah menjadi sisik, kuku yang memanjang dan menancap di bahunya, serta sepasang mata kuning dengan garis lurus dari atas ke bawah.
"Dia berubah menjadi naga," ujar Rosa pelan.
Veza yang tadinya berdiri, langsung terduduk di lantai kamar.
"Naga?" ulang Veza.
"Wajahnya, tangannya, semuanya. Lalu berubah lagi menjadi manusia."
"Dan Nona tidak lari?!"
"Untuk apa lari?"
Veza memegangi kepalanya sendiri, "Nona benar - benar tidak waras."
Rosa justru tertawa. Namun tawanya berhenti begitu ia teringat bagian yang berikutnya.
"Aku mengatakannya kepada dia, Veza," ujar Rosa.
"Mengatakan apa?"
"Bahwa aku menyukainya."
Untuk kedua kalinya pagi itu, Veza kehilangan suaranya. Wanita itu bahkan sampai merangkak mendekat ke arah Rosa dan menatap wajah tuannya dari jarak dekat.
"Lalu dia bilang apa?" tanya Veza.
Rosa memalingkan wajahnya, "Dia tidak bilang apa - apa. Dia melompat dari jendela dan pergi."
Veza membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Wanita itu akhirnya hanya menepuk bahu tuannya dengan lembut.
"Sabar ya, Nona," ujar Veza.
"Kenapa nada bicaramu seperti melayat orang meninggal?"
"Habisnya kasihan sekali Nona."
Rosa melempar bantal ke arah wajah Veza.
* * * * *
Di ruang makan, Asha sudah lebih dulu duduk sambil menikmati rotinya. Wanita itu langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki anaknya menuruni tangga.
"Tumben bangun siang," ujar Asha.
"Aku susah tidur," jawab Rosa lalu duduk di kursinya.
Meridia meletakkan sepiring makanan dan segelas s**u hangat di hadapan Rosa. Rosa menatap piring itu sesaat, lalu mulai menyantapnya tanpa mengeluh sedikit pun. Hal itu justru membuat Asha dan Meridia saling melempar tatapan.
"Kau sakit?" tanya Asha.
"Tidak."
"Biasanya kau protes kalau disuguhi ini."
"Hari ini aku lapar," jawab Rosa singkat sambil terus mengunyah.
Asha menaikkan sebelah alisnya. Namun karena melihat anaknya makan dengan lahap, wanita itu memilih tidak bertanya lebih jauh. Sedangkan Veza yang berdiri di ujung meja hanya menundukan kepalanya dalam - dalam sambil menahan senyum.
"Oh ya, Ayahmu mengirim kabar dari Wendlyn," ujar Asha.
Rosa langsung mendongak, "Apa katanya?"
"Katanya urusannya masih panjang. Mungkin baru pulang beberapa minggu lagi. Tapi gaun biru laut yang kau minta sudah dia beli."
"Sudah?"
"Sudah. Katanya warnanya sesuai," jawab Asha sambil tersenyum.
Rosa mengangguk senang, meski jujur saja, saat ini gaun biru laut bukanlah hal yang paling ingin ia pikirkan.
"Rosa," panggil Asha lagi.
"Ya, Bu?"
"Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kau tahu kau bisa bercerita kepada Ibu, kan?"
Rosa berhenti mengunyah sejenak. Ia menatap Ibunya, lalu menganggukan kepalanya pelan.
"Aku tahu, Bu," jawab Rosa.
Tapi tentu saja, bagaimana caranya menjelaskan kepada seorang Ibu bahwa anak perempuannya yang berusia dua puluh lima tahun baru saja menyatakan perasaan kepada seekor naga yang masuk ke kamarnya lewat jendela?
* * * * *
Dasar palung Laut Elara
* * * * *
Sementara itu di tempat yang jauh dari sana, sebuah tubuh besar bergerak masuk ke dalam gua yang gelap. Air di sekitarnya bergejolak sesaat sebelum akhirnya kembali tenang.
"Tuan?" panggil Meira yang sudah menunggu di mulut gua sejak tadi.
Evander tidak menjawab. Ia hanya berbaring dan meletakkan kepalanya di atas pasir hitam.
Meira berenang mendekat dan memperhatikan sisik naga di hadapannya. Ada yang aneh. Biasanya, setiap kali Tuannya kembali dari daratan, ada sedikit kilau yang muncul di sela - sela sisiknya. Tapi malam ini tidak ada sama sekali.
"Tuan tidak mendapatkan apa pun?" tanya Meira.
"Tidak," jawab Evander.
"Wanita itu tidak tidur?"
"Dia tidur. Lalu dia bangun tepat saat aku menyentuh tangannya."
Meira membulatkan matanya, "Bangun? Manusia biasa tidak mungkin bisa bangun ketika Tuan menyentuhnya."
"Aku tahu."
"Lalu apa yang Tuan lakukan?"
"Aku menunjukan wujud asliku kepadanya," jawab Evander.
Meira menunggu kelanjutannya. Tapi kelanjutan itu tak kunjung datang, dan justru itulah yang membuat Meira mengerenyitkan dahinya.
"Dia tidak takut," ujar Evander akhirnya.
"Tidak takut?"
"Sama sekali. Aku mencarinya di seluruh tubuhnya, di matanya, di napasnya. Tidak ada. Yang ada justru sesuatu yang lain," ujar Evander.
"Sesuatu yang lain? Apa itu?"
Evander terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Aku tidak tahu. Aku belum pernah merasakannya."
Meira menggerakkan ekornya perlahan, "Apa perlu saya carikan wanita lain, Tuan? Di Kota Adarlan banyak sekali yang -"
"Tidak perlu," potong Evander.
"Tapi Tuan butuh -"
"Aku bilang tidak perlu, Meira."
Suara Evander tidak keras, tapi cukup untuk membuat Meira menundukan kepalanya.
"Baik, Tuan," balas Meira lalu berenang keluar dari gua itu.
Setelah Meira pergi, Evander memejamkan matanya. Namun bukan wajah wanita itu yang terbayang, melainkan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya dan sebuah kalimat yang diucapkan tanpa ragu sedikit pun.
Aku menyukaimu.
Evander membuka matanya kembali dan menghembuskan napas berat sampai pasir hitam di depan moncongnya beterbangan.
"Sebaiknya aku tidak kembali ke sana," gumam Evander.
* * * * *
Malam harinya, di Kota Terassen, Rosa duduk di meja belajarnya dengan sehelai kertas dan pena di tangannya.
Ia sudah menulis, meremas kertasnya, lalu menulis lagi, sampai lima kali. Yang keenam akhirnya ia biarkan.
Ivelle, apa di Lacoste ada bangsa naga? Bukan Hydra, bukan Oriel. Naga yang bisa berubah menjadi manusia. Yang berwarna putih keperakan. Tolong jangan bertanya kenapa aku bertanya.
Rosa melipat kertas itu menjadi empat bagian, lalu memasukannya ke dalam kotak keemasan berlogo Twyla yang biasa dipakai Ivelle untuk mengirimkan kue madu.
"Semoga sampai," gumam Rosa lalu menutup kotak itu.
Seketika kotak itu bergetar pelan di atas mejanya, lalu lenyap begitu saja seolah tidak pernah ada di sana.