Istana Twyla, Kerajaan Twyla
Kamar Ivelle
* * * * *
Kotak keemasan itu muncul di atas meja Ivelle tepat ketika wanita itu sedang menyisir rambutnya sendiri di depan cermin.
Ivelle menoleh, lalu tersenyum lebar. Biasanya kotak itu kembali dalam keadaan kosong, karena Rosa dan Veza selalu menghabiskan isinya sampai tak bersisa. Tapi malam ini kotak itu terasa berbeda. Ada bunyi kertas di dalamnya.
Ivelle membuka penutupnya dan mengambil lipatan kertas dari dalam sana.
Matanya bergerak dari baris pertama sampai baris terakhir, lalu berhenti. Ia membacanya sekali lagi dari awal, lebih pelan.
"Naga?" gumam Ivelle.
Kertas itu ia lipat kembali dan ia selipkan ke balik lengan bajunya. Tanpa menunggu lama, Ivelle langsung keluar dari kamarnya dan berlari menuruni anak tangga menuju lantai satu.
* * * * *
Ruang kerja Gerhard
* * * * *
Tok ! Tok ! Tok !
"Masuk," ujar Gerhard dari dalam.
Pintu terbuka dan Ivelle masuk sambil membawa senyuman yang oleh Gerhard sudah lama dikenali sebagai senyuman yang berbahaya.
"Ayah sibuk?" tanya Ivelle.
"Tidak. Kenapa?"
Ivelle menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan meja kerja Ayahnya.
"Aku mau bertanya," ujar Ivelle.
"Tanya saja."
"Di Lacoste ada bangsa naga tidak?"
Tangan Gerhard yang sedang memegang pena berhenti bergerak.
Bagi Ivelle, jeda itu hanya berlangsung sekejap. Tapi bagi Gerhard, jeda itu terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya.
"Kenapa tiba - tiba bertanya seperti itu?" tanya Gerhard sambil meletakkan penanya.
"Jawab dulu, Ayah."
"Ada Hydra. Kau sudah tahu itu. Mereka tinggal di Gunung Maylea."
Ivelle menggelengkan kepalanya, "Bukan Hydra. Naga yang bisa berubah menjadi manusia. Warnanya putih keperakan."
Kali ini Gerhard bahkan tidak sempat mengatur wajahnya.
Dan Ivelle melihat itu.
Wanita itu memang tidak bisa membaca isi kepala orang lain, tapi ia bisa merasakan energi dan emosi, bahkan dari manusia sekalipun. Dan malam ini, dari Ayahnya sendiri, Ivelle merasakan sesuatu yang jarang sekali ia rasakan.
"Ayah kaget," ujar Ivelle.
"Aku tidak kaget."
"Ayah kaget dan Ayah berbohong."
Gerhard menghela napasnya, lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mengitari meja menuju anaknya.
"Ivelle," ujar Gerhard.
"Ya?"
"Dari mana kau mendengar tentang naga putih?"
"Aku hanya penasaran."
"Ivelle."
Ivelle memalingkan wajahnya. Ia sudah berjanji kepada Rosa untuk tidak mengatakan dari mana pertanyaan itu berasal, dan Ivelle bukan tipe orang yang mudah melanggar janji, bahkan kepada Ayahnya sendiri.
"Kalau Ayah tidak mau menjawab, ya sudah," ujar Ivelle lalu berbalik.
"Ivelle, tunggu."
Wanita itu berhenti di depan pintu tapi tidak menoleh.
"Jangan bertanya tentang hal ini kepada siapa pun. Tidak kepada pelayan, tidak kepada Ibumu, tidak kepada siapa pun di luar Twyla. Kau mengerti?" ujar Gerhard.
Ivelle akhirnya menoleh, "Kenapa?"
"Karena ada hal - hal yang lebih aman untuk tidak diketahui banyak orang."
"Ayah selalu bilang begitu," balas Ivelle lalu keluar dan menutup pintu di belakangnya sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
Setelah pintu itu tertutup, Gerhard berdiri diam di tengah ruangan cukup lama.
* * * * *
Ruang baca Istana Twyla
* * * * *
Ivelle tidak langsung kembali ke kamarnya.
Wanita itu justru berbelok di ujung lorong, menuruni beberapa anak tangga, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu tinggi yang selalu tertutup rapat. Ruang baca. Tempat yang oleh Ayahnya disebut sebagai ruangan paling membosankan di seluruh Istana Twyla, dan justru karena itulah Ivelle yakin ada sesuatu di dalam sana.
Ckleekkk ! ! ! !
Pintu itu terbuka dan bau kertas tua langsung menyambutnya.
Ivelle melangkah masuk sambil membawa lilin kecil di tangannya. Rak - rak buku menjulang sampai ke langit - langit, dan sebagian besar dari buku itu bahkan tidak memiliki judul di punggungnya.
"Naga, naga, naga," gumam Ivelle sambil menyusuri rak dengan ujung jarinya.
Tangannya berhenti pada sebuah buku bersampul kulit yang jauh lebih tebal dan jauh lebih tua dari yang lain. Ivelle menariknya keluar, meletakkannya di atas meja, lalu membuka halaman demi halaman.
Tulisan di dalamnya bukan tulisan tangan Ayahnya. Hurufnya lebih kaku, lebih tegak, dan beberapa halamannya sudah tidak terbaca sama sekali karena tintanya memudar.
Sampai akhirnya jari Ivelle berhenti pada sebuah halaman yang berisikan gambar.
Gambar seekor naga bersayap lebar dengan sisik yang diarsir dengan garis - garis rapat. Di bawah gambar itu tertulis beberapa kata, namun hanya satu yang masih bisa terbaca dengan jelas.
Cassiopeia.
"Cassio... apa ini?" gumam Ivelle.
"Nona Ivelle?"
Ivelle sontak menutup buku itu dan berbalik. Daisy berdiri di ambang pintu sambil membawa lampu, dengan wajah yang jelas kebingungan.
"Nona sedang apa di sini malam - malam?" tanya Daisy.
"Mencari buku," jawab Ivelle cepat.
"Buku apa?"
"Buku... resep kue madu."
Daisy menatap rak - rak di sekitarnya, lalu menatap tuannya lagi, "Di ruang baca, Nona?"
"Iya. Siapa tahu ada."
Daisy hanya menghela napasnya, "Sebaiknya Nona kembali ke kamar. Tuan Gerhard tidak suka ada yang masuk kemari."
Ivelle akhirnya mengembalikan buku itu ke tempatnya, lalu keluar sambil bersungut - sungut. Tapi satu kata itu sudah terlanjur menempel di kepalanya dan tidak mau pergi.
* * * * *
Taman belakang Istana Twyla
* * * * *
Angin laut malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Nikita menemukan suaminya sedang duduk sendirian di kursi batu di tepi taman belakang, dengan cangkir teh yang bahkan tak disentuh sama sekali.
"Kau tidak tidur?" tanya Nikita sambil duduk di samping Gerhard.
"Sebentar lagi."
Nikita menatap wajah suaminya, "Ada apa?"
Gerhard terdiam sesaat, lalu menoleh, "Ivelle bertanya kepadaku tentang naga putih."
Nikita mengerenyitkan dahinya, "Naga putih? Maksudmu Evander?"
"Iya."
"Bukankah Ivelle belum pernah bertemu dengannya?"
"Belum pernah. Bahkan aku sengaja tidak pernah menyebut namanya di depan Ivelle," jawab Gerhard.
Nikita ikut terdiam. Di seluruh Lacoste, jumlah orang yang tahu bahwa Evander masih hidup bisa dihitung dengan jari. Gerhard, Nikita, Maverick, bangsa siren, dan beberapa pelayan Twyla yang terikat kontrak darah. Selain itu tak ada.
"Mungkin ada pelayan yang keceplosan," ujar Nikita.
"Sudah kupastikan tadi. Tidak ada."
"Lalu?"
Gerhard menghela napasnya panjang, "Itu yang membuatku tidak tenang. Kalau nama itu mulai terdengar di luar, artinya ada sesuatu yang bergerak. Dan sesuatu yang bergerak biasanya bukan hal baik."
Nikita meraih tangan suaminya dan menggenggamnya, "Kau mau menemui Evander?"
"Iya. Besok atau lusa. Aku harus menanyakan langsung kepadanya," jawab Gerhard.
"Bilang juga soal alatnya Maverick."
Gerhard justru tertawa kecil, "Evander sudah menolak duluan bahkan sebelum aku selesai bercerita."
"Menolak lagi?"
"Menolak lagi."
Nikita menggelengkan kepalanya, "Dia itu keras kepala."
"Dia bukan keras kepala. Dia hanya takut kami mati untuk sesuatu yang menurutnya sia - sia," balas Gerhard.
Angin kembali bertiup dan membawa suara ombak yang menghantam tebing di bawah mereka. Gerhard menatap ke arah laut yang gelap itu, ke arah satu titik yang ia tahu persis letaknya meskipun tak ada satu pun tanda di permukaan air.
Di bawah sana, di kedalaman yang bahkan sinar matahari pun menyerah untuk sampai, seekor naga putih sudah terkurung jauh sebelum Lacoste mengenal kata kerajaan.
"Sudah dua puluh tahun," gumam Gerhard.
"Apa?" tanya Nikita.
"Dua puluh tahun sejak kita pertama kali mencoba mengeluarkannya. Dan kita tidak maju satu langkah pun sejak hari itu."
Nikita bersandar di bahu suaminya, "Waktu itu Maverick hampir mati."
"Aku tahu. Aku yang membawanya naik."
Gerhard memejamkan matanya.
Dan ingatannya pun kembali ke masa itu. Ke masa ketika Kerajaan Odor baru saja runtuh, ketika Aerosworn masih hangat di tangan Maverick, dan ketika mereka bertiga untuk pertama kalinya duduk di ruangan yang sama untuk membicarakan satu hal yang sama.
Bagaimana caranya membebaskan Evander Cassiopeia dari dasar palung Laut Elara.