Ruang VIP rumah sakit
Hari ketiga
*
Pesan itu masuk pukul tujuh pagi, tepat ketika Callista sedang menyusui anaknya.
Aku pulang lusa. Sampai di Jakarta malam.
Hanya itu. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan, tidak ada satu pun kata yang biasanya selalu ada di setiap pesan yang dikirim suaminya selama dua tahun terakhir.
Callista membaca pesan itu berulang kali sambil tangan kirinya menopang kepala Grayson.
Wanita itu mengetik balasan dengan satu tangan.
Anak kita sudah lahir, Mas. Laki - laki. Tiga hari yang lalu.
Pesan itu terkirim.
Dan tanda dibacanya muncul hanya dalam hitungan detik.
Callista menunggu. Satu menit, lima menit, sepuluh menit. Sampai akhirnya Grayson selesai menyusu dan tertidur di dadanya, layar itu tetap kosong.
"Dari suamimu?" tanya Yunita yang baru masuk sambil membawa dua bungkus nasi.
"Iya."
"Bilang apa?"
"Katanya lusa pulang," jawab Callista sambil meletakkan ponselnya menghadap ke bawah.
Yunita menatap anaknya cukup lama, lalu memilih tidak bertanya apa - apa lagi.
* * * * *
Siang harinya, Callista akhirnya diperbolehkan pulang.
Eric datang membawa mobilnya dan langsung mengangkut semua barang tanpa banyak bicara. Yunita menggendong Grayson yang dibungkus selimut tebal, sedangkan Callista berjalan pelan di belakang mereka sambil sesekali memegangi perutnya.
"Pelan - pelan," ujar Eric sambil membukakan pintu mobil.
"Iya, iya."
"Kamu itu suka lupa kalau baru melahirkan."
"Aku tidak lupa. Aku cuma ingin cepat sampai rumah."
Sepanjang perjalanan, Callista terus menatap ke luar jendela. Jalanan Jakarta siang itu padat seperti biasa, penuh dengan klakson dan motor yang menyelip di sela - sela mobil.
Tiga hari yang lalu ia melewati jalan yang sama dengan perut yang masih besar dan tangan yang mencengkeram jok mobil.
Sekarang ia melewatinya lagi dengan seorang bayi di pangkuan Ibunya.
"Rasanya cepat sekali ya," gumam Callista.
"Apanya?" tanya Yunita.
"Semuanya."
* * * * *
Rumah itu terasa berbeda begitu pintunya dibuka.
Bukan karena ada yang berubah. Semua masih sama persis seperti tiga hari yang lalu. Sofa di tempat yang sama, meja makan di tempat yang sama, bahkan gelas yang Callista tinggalkan di dapur masih ada di sana.
Yang berbeda adalah sekarang ada satu suara baru di dalamnya.
"Selamat datang di rumah, Nak," ujar Callista sambil menurunkan anaknya ke dalam boks bayi yang sudah disiapkan di kamar sejak dua bulan yang lalu.
Boks itu dibeli oleh Mahawira. Pria itu bahkan memasangnya sendiri sampai jam dua pagi karena tidak mau menunggu tukang.
Callista mengusap tepi boks itu perlahan.
"Aku bikin teh dulu ya," ujar Yunita dari luar kamar.
"Iya, Bu."
Eric menurunkan barang terakhir di ruang tamu, lalu berdiri sambil mengelap keringat di dahinya.
"Sudah semua," ujar Eric.
"Duduk dulu, Rik. Ibu buatkan teh," sahut Yunita dari dapur.
"Tidak usah, Bu. Saya masih ada urusan di kantor."
Callista berjalan mengantarnya sampai ke pintu, "Rik."
"Apa?"
"Kamu sudah tiga hari bolak - balik. Istirahat."
Eric tertawa, "Kamu itu baru melahirkan tapi yang disuruh istirahat malah orang lain."
"Aku serius."
"Iya, iya. Aku pulang," balas Eric sambil memakai sepatunya, "Kalau ada apa - apa, telepon."
Setelah pintu tertutup, Yunita muncul dari dapur sambil membawa nampan.
"Anak itu memang baik," ujar Yunita.
"Iya."
"Tapi Ibu jadi tidak enak."
Callista menoleh, "Tidak enak kenapa?"
Yunita meletakkan nampan itu di meja lalu duduk, "Karena yang seharusnya bolak - balik itu bukan dia."
Callista tidak menjawab. Ia justru mengambil gelas teh dari nampan dan menggenggamnya dengan kedua tangan meski tehnya masih terlalu panas untuk diminum.
Sore itu, ponsel Callista berdering. Panggilan video dari nomor luar negeri.
Callista langsung merapikan rambutnya lalu menerima panggilan itu.
"Halo, Ma. Halo, Pa," sapa Callista begitu wajah Tanisha dan Bara muncul di layar.
"Ya ampun, Callista! Bagaimana keadaanmu?" tanya Tanisha dengan mata yang sudah berkaca - kaca bahkan sebelum bertanya.
"Alhamdulillah sehat, Ma."
"Mana cucu Mama? Mana? Coba lihat!"
Callista tertawa lalu memutar kamera ponselnya ke arah boks bayi. Dari seberang sana, terdengar Tanisha menjerit tertahan lalu menangis.
"Astaga. Astaga," ujar Tanisha berulang kali.
"Mirip siapa, Ma?" tanya Callista.
"Mirip Wira waktu bayi! Persis! Bara, lihat ini!"
Bara yang sedari tadi hanya diam akhirnya mendekat ke layar dan memperhatikan cucunya cukup lama.
"Sehat semua?" tanya Bara.
"Sehat, Pa."
"Bagus. Kalau ibunya sehat, anaknya juga sehat," ujar Bara.
Tanisha menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu bertanya dengan nada yang jauh lebih ringan, "Wira mana? Kok tidak kelihatan?"
Callista terdiam sepersekian detik.
Sepersekian detik itu terlalu singkat untuk disadari oleh kebanyakan orang. Tapi Bara menyadarinya.
"Masih di Jepang, Ma," jawab Callista sambil tersenyum.
"Masih?" ulang Tanisha, "Kamu melahirkan dan dia masih di sana?"
"Jadwalnya diperpanjang."
"Ya Tuhan. Anak itu -"
"Tanisha," potong Bara pelan.
Tanisha langsung menutup mulutnya, lalu tersenyum kaku ke arah kamera, "Ya sudah. Yang penting kamu sehat, Nak. Nanti Mama telepon lagi ya."
"Iya, Ma."
Panggilan berakhir dan Callista meletakkan ponselnya di atas meja.
Wanita itu duduk diam cukup lama di tepi tempat tidur, menatap boks bayi di depannya.
"Kamu dengar tadi?" gumam Callista kepada anaknya yang sedang tidur, "Neneknya sampai menangis lho."
Grayson tentu saja tidak menjawab. Bayi itu hanya menggerakkan tangannya sedikit lalu kembali diam.
Yunita masuk ke kamar beberapa saat kemudian sambil membawa segelas air hangat.
"Sudah minum vitaminnya?" tanya Yunita.
"Belum."
"Minum sekarang."
Callista menerima gelas itu, meminum obatnya, lalu mengembalikan gelasnya kepada Ibunya.
"Bu," panggil Callista.
"Hm?"
"Kalau nanti Mas Wira pulang, aku harus bagaimana?"
Yunita mengerenyitkan dahinya, "Maksudmu?"
"Aku harus marah tidak?"
Wanita paruh baya itu duduk di tepi tempat tidur dan menghela napasnya panjang.
"Nak, Ibu ini cuma penjual nasi. Ibu tidak pernah kuliah, tidak pernah baca buku tebal - tebal seperti kamu," ujar Yunita, "Tapi satu hal yang Ibu tahu. Kalau ada yang mengganjal di dada, jangan disimpan. Disimpan itu bukan sabar namanya. Itu menumpuk."
"Kalau aku bicara terus dia marah?"
"Ya biar marah. Berantem itu bukan akhir dunia."
Callista tersenyum tipis, "Ibu ngomong begitu karena Ibu tidak pernah punya suami."
Yunita langsung mencubit lengan anaknya, "Kurang ajar."
Keduanya tertawa pelan sampai Grayson bergerak di dalam boksnya, dan keduanya langsung diam bersamaan.
* * * * *
Malam harinya, setelah Yunita tertidur di kamar tamu dan rumah kembali sunyi, Callista duduk bersandar di kepala ranjang dengan Grayson dalam gendongannya.
Wanita itu membuka kamera ponselnya, lalu memotret wajah anaknya yang sedang tidur.
Jarinya bergerak, memilih foto itu, lalu mengirimkannya ke satu nama.
Namanya Grayson. Seperti yang kamu pilih dulu.
Pesan itu terkirim pukul sepuluh malam lewat empat belas menit.
Tanda dibacanya muncul pukul sepuluh malam lewat lima belas menit.
Dan setelah itu, tidak ada apa - apa lagi.
Callista menatap layar ponselnya sampai lampunya mati sendiri, lalu menyalakannya lagi, lalu menatapnya lagi sampai mati lagi.
"Mungkin dia sedang rapat," gumam Callista.
Kalimat itu sudah terlalu sering ia ucapkan dalam sebulan terakhir, dan setiap kali diucapkan, kalimat itu terasa semakin ringan. Bukan karena semakin masuk akal, melainkan karena semakin kehilangan berat.
Wanita itu menunduk dan mencium kening anaknya.
"Ayahmu pulang lusa," bisik Callista, "Nanti kamu jangan rewel ya. Biar dia bisa istirahat."
Grayson menggeliat pelan di dalam gendongannya, lalu kembali tenang.
Dan di luar sana, di langit Jakarta yang gelap, sebuah pesawat melintas dengan lampu merah yang berkedip pelan, membawa penumpang - penumpang yang entah pulang kepada siapa.