Tokyo, Jepang
*
Amplop cokelat itu sudah tergeletak di atas meja kamar hotel selama tiga hari dan Mahawira sudah membukanya lebih dari sepuluh kali.
Isinya tidak banyak. Hanya empat lembar foto dan selembar kertas tanpa nama pengirim.
Foto pertama diambil dari kejauhan, memperlihatkan seorang pria menggendong tas dan membukakan pintu mobil untuk seorang wanita hamil.
Foto kedua, pria yang sama menuntun wanita itu masuk ke pintu rumah sakit.
Foto ketiga, pria itu duduk di kursi tunggu semalaman dengan kepala bersandar di dinding.
Dan foto keempat, pria itu berdiri di dalam sebuah ruangan sambil menunduk menatap sebuah boks bayi.
Di lembar kertas terakhir, hanya ada satu baris kalimat yang diketik.
Kasihan sekali, Pak. Anda bekerja di sini, dia menemani istri Anda di sana.
Mahawira menatap foto itu lagi, lalu melemparkannya ke atas meja.
Ia tahu siapa pria itu. Eric Bastian. Teman masa kecil istrinya. Pria yang dulu menuntun Callista sepanjang lorong pernikahan mereka sendiri.
"Bodoh," gumam Mahawira kepada dirinya sendiri.
Ia tahu itu bukan apa - apa. Ia tahu Callista sedang hamil sembilan bulan dan tidak punya siapa - siapa selain ibunya. Ia tahu Eric hanya mengantar. Ia tahu semuanya.
Tapi ia juga tahu satu hal lain yang jauh lebih menyakitkan.
Yang berdiri di samping istrinya malam itu seharusnya dia.
Dan bukan.
* * * * *
Ketukan di pintu terdengar tiga kali.
"Masuk," ujar Mahawira.
Ayu masuk sambil membawa map seperti biasa, "Pak, dokumen dari Pak Levi sudah lengkap. Tinggal tanda tangan."
"Taruh saja."
Ayu meletakkan map itu di meja, lalu matanya melirik ke arah foto - foto yang berserakan di sana. Wanita itu tidak berkata apa - apa, tapi ia juga tidak buru - buru pergi.
"Ada lagi?" tanya Mahawira.
"Tidak, Pak."
"Kalau tidak ada, kamu boleh keluar."
Ayu tetap berdiri di tempatnya.
"Saya cuma mau bilang," ujar Ayu akhirnya, "kalau Bapak butuh apa - apa, saya di kamar sebelah."
"Ayu."
"Ya, Pak?"
Mahawira mengangkat kepalanya dan menatap sekretarisnya lekat - lekat, "Saya sudah bilang. Kamu sekretaris saya."
"Saya tahu, Pak."
"Kalau tahu, jangan diulang."
Ayu menundukan kepalanya lalu keluar sambil menutup pintu dengan sangat pelan.
Setelah ruangan itu kembali sunyi, Mahawira berjalan ke arah jendela dan menatap kota Tokyo yang sudah menyala di bawah sana.
Sebulan yang lalu, ia berdiri di jendela yang sama sambil menghitung berapa hari lagi sampai bisa pulang. Sekarang ia berdiri di jendela yang sama sambil berpikir bagaimana caranya pulang.
Dua hal yang terdengar sama, tapi sebenarnya sangat jauh berbeda.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Bara.
Anakmu sudah lahir. Papa sudah lihat fotonya. Kamu belum lihat langsung?
Mahawira menatap pesan itu, lalu meletakkan ponselnya lagi tanpa membalas.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali meraih ponselnya. Ada dua pesan lain yang belum ia balas sejak pagi tadi.
Yang pertama berisi kabar bahwa anaknya sudah lahir.
Yang kedua berisi sebuah foto dan satu kalimat pendek. Namanya Grayson. Seperti yang kamu pilih dulu.
Mahawira menatap foto itu lama sekali. Wajah kecil yang masih merah, mata yang terpejam, dan sebuah tangan mungil yang mengepal di samping pipinya.
Jarinya bergerak, mengetik, lalu menghapusnya lagi.
Mengetik lagi, menghapus lagi.
Sampai akhirnya pria itu mengunci ponselnya, meletakkannya menghadap ke bawah, lalu menuang isi botol di atas meja ke dalam gelasnya sendiri.
Ia tidak tahu harus menulis apa.
Karena setiap kalimat yang muncul di kepalanya selalu berakhir dengan pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan, dan pertanyaan itu semakin lama semakin berbentuk.
Kenapa foto itu ada yang mengambil.
Kenapa ada orang yang repot - repot mengirimkannya ke Tokyo.
Dan kenapa, dari semua orang yang bisa berdiri di samping istrinya malam itu, harus Eric.
* * * * *
Bandara Internasional Soekarno Hatta
Dua hari kemudian, pukul sepuluh malam
*
Pintu kedatangan terbuka dan Mahawira keluar sambil menarik kopernya sendiri.
Ayu berjalan beberapa langkah di belakangnya, "Pak, mobilnya sudah menunggu di luar."
"Kamu langsung pulang saja."
"Tapi -"
"Ayu."
"Baik, Pak," jawab Ayu lalu berbelok ke arah lain.
Mahawira berjalan sendirian melewati kerumunan penjemput. Beberapa orang berteriak memanggil nama, beberapa berpelukan, dan ada seorang anak kecil yang berlari sambil memekik memanggil ayahnya.
Pria itu menunduk dan terus berjalan.
Di dalam taksi, sopirnya sempat mencoba mengajaknya berbicara.
"Baru pulang dari luar negeri, Pak?"
"Iya."
"Lama?"
"Sebulan lebih."
"Wah, pasti keluarganya kangen berat," ujar sopir itu sambil tertawa.
Mahawira tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, ke arah papan reklame yang berkelap - kelip di sepanjang jalan tol.
Sopir itu akhirnya berhenti bertanya.
* * * * *
Rumah itu sudah gelap ketika mobilnya berhenti di depan pagar.
Mahawira membuka pintu dengan kunci miliknya sendiri, lalu masuk dengan langkah yang sepelan mungkin. Di ruang tamu, televisi sudah mati. Di meja makan, ada tudung saji yang masih menutupi sesuatu.
Ia melewati semuanya tanpa berhenti.
Pintu kamar tamu tertutup. Dari baliknya terdengar suara napas seseorang yang sedang tidur. Mertuanya.
Dan pintu kamar utama terbuka sedikit.
Mahawira berdiri di ambang pintu itu cukup lama.
Di dalam sana, di atas tempat tidur yang selama dua tahun terakhir selalu ia tempati, istrinya tertidur miring dengan satu tangan menjulur ke arah boks bayi di sebelahnya. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan ada bekas lelah yang bahkan tidak hilang meski sedang tidur.
Di dalam boks itu, ada sesuatu yang bergerak pelan.
Mahawira melangkah masuk. Satu langkah, dua langkah, sampai akhirnya berdiri tepat di samping boks bayi tersebut.
Dan di sanalah ia melihatnya untuk pertama kalinya.
Anaknya.
Tangannya terangkat perlahan. Jari - jarinya sudah hampir menyentuh selimut tipis yang menutupi tubuh mungil itu.
Lalu berhenti.
Di kepalanya, tanpa diundang, muncul lagi foto keempat dari dalam amplop cokelat itu. Seorang pria berdiri di dalam ruangan yang sama, menunduk menatap boks yang sama, di malam ketika ia sendiri sedang berada tujuh ribu kilometer jauhnya.
Tangan Mahawira turun kembali ke sisi tubuhnya.
Pria itu menatap wajah anaknya beberapa saat lagi, lalu berbalik dan keluar dari kamar itu tanpa menyalakan satu pun lampu.
Malam itu ia tidur di sofa ruang tamu dengan jas yang bahkan belum ia lepas.
Atau lebih tepatnya, ia berbaring di sana sampai pagi tanpa benar - benar tidur.
Beberapa kali ia mendengar suara tangis kecil dari arah kamar, lalu suara langkah kaki, lalu suara seorang wanita yang bersenandung sangat pelan sampai tangis itu berhenti.
Setiap kali suara itu terdengar, tangan Mahawira mengepal di atas dadanya sendiri.
Ia bisa berdiri sekarang juga. Ia bisa membuka pintu itu, masuk, meminta maaf, dan semuanya akan selesai malam ini juga.
Tapi setiap kali ia hampir bangkit, satu pertanyaan yang sama selalu menahannya kembali ke sofa.
Kalau kau memang tidak salah apa - apa, kenapa foto - foto itu ada?
* * * * *
Keesokan paginya, Callista terbangun dan menemukan tudung saji di meja makan sudah terbuka, dan ada satu gelas kotor di bak cuci piring.
Wanita itu berlari kecil ke ruang tamu.
Kosong.
Yang tertinggal hanya sebuah koper yang berdiri di sudut ruangan, dan bau parfum yang sudah dua tahun ia kenali.
Di garasi, mesin mobil menyala.
Mahawira duduk di balik kemudi mobil hitamnya yang sudah lebih dari satu bulan tidak ia sentuh, dan yang kemarin sore sudah dicuci sampai mengkilap oleh petugas yang biasa datang setiap minggu.
Pria itu menatap pintu rumahnya sendiri lewat kaca spion.
Lalu ia memundurkan mobilnya dan pergi.