BELLA POV
"Aku merasa gugup." Gumamku lirih, melirik ke arah Adam, pacarku yang tengah mengemudikan mobil sebelahku.
Dia terkekeh pelan mendengar perkataanku, melepaskan salah satu tangannya dari kemudi mobil untuk mengusap bibirnya sebentar seolah ingin meredam suaranya tawanya yang rendah, sebelum akhirnya meraih tanganku dan menggenggamnya lembut.
"Tidak ada yang perlu di takutkan, Bella." Janji Adam saat menatapku sekilas. "Aku janji, ini akan menjadi liburan yang menyenangkan." Lanjut pria itu lagi dengan nada sungguh-sungguh. Dan aku hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan.
Aku dan Adam sudah berpacaran selama satu tahun lebih. Bertemu saat kami sama-sama mahasiswa baru, lalu berkencan tidak lama kemudian.
Dia tampan dan cukup populer di kampus. Dan saat aku berjalan di sampingnya sebagai pacarnya, rasanya cukup menyenangkan. Seolah-olah aku bisa menunjukkan ke semua orang yang menatapnya dengan pandangan kagum itu ya, pria tampan ini milik ku. Aku berhasil mendapatkan hatinya.
Jika akhir semester lalu kami menghabiskan waktu liburan kami di tempatku. Kali ini Adam menawarkan agar aku mengikutinya pulang ke rumah. Dan aku yang memang tidak memiliki rencana apa pun dengan cepat menyetujui tawarannya.
Tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu liburanmu dengan pacar. Walaupun aku sedikit menyesali keputusanku sekarang. Walaupun sebenarnya kita memiliki rencana besar pada liburan kali ini.
"Bagaimana jika ayahmu tidak menyukaiku dan mengusirku?" aku kembali mengutarakan kekhawatiranku kepada Adam. Pacarku menoleh dan berkata.
"Kenapa dia harus tidak menyukaimu, Bella?" Adam balik bertanya dengan nada heran. "jangan mengkhawatirkan hal-hal yang bodoh, okey?" meremas jemariku yang berada di genggamannya. "kita di rumahmu saat liburan tahun lalu, jadi sekarang giliranku." katanya lagi dengan nada seolah ingin membuatku ingat.
Ya, tentu saja aku tidak akan lupa.
"Tapi orang tuaku bahkan tidak di rumah saat kita di sana." Aku kembali menggerutu, di sambut dengan gelak tawa ringan dari arah pacarku itu.
"Itulah mengapa aku membawamu ke rumah ayahku." Jelas Adam kemudian, membuatku menoleh untuk menatapnya. "Ayahku sama sekali tidak peduli dengan kehidupan yang terjadi di sekitarnya, Bella. Dia hanya bekerja dan melakukan berbagai hal, membuatnya sangat sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk memperhatikan kita yang akan tinggal bersamanya." Tambah Adam lagi, aku bisa merasakan nada bicaranya berubah saat membahas soal ayahnya. Sedikit sinis dan entah apa aku juga tidak mengerti.
Adam tahu tentang kondisi keluargaku, namun aku tidak terlalu mengerti tentang keluarganya. Dulu dia pernah berkata jika orang tuanya bercerai, namun hanya itu saja yang aku ketahui.
Aku yang cukup sensitif saat membicarakan masalah keluarga, terlalu enggan untuk bertanya kepada Adam tentang keluarganya. Aku tidak berniat untuk ikut campur untuk urusan itu. Jika suatu saat dia ingin membicarakannya, aku akan mendengarnya. lagi pula, itu juga bukan masalah besar bagiku.
"Apa dia ayah yang jahat?" tanyaku kemudian, merasa harus membuka obrolan untuk menanggapi perkataannya barusan, agar kami memiliki pembahasan selama perjalanan panjang kami. Dan pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulutku.
Dan untuk ke sekian kalinya, Adam tertawa rendah menanggapi perkataanku seolah itu adalah sesuatu yang lucu. Sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Dia membelikan mobil impianku. Membiayai hidupku, dan membiarkanku kuliah di kampus ternama." Adam menatap ke depan dan fokus mengemudi saat menjelaskan itu semua. "Aku rasa kata jahat tidak tepat untuknya." Lanjut pria muda itu lagi, kali ini matanya menatapku sebentar.
"Lalu?" tanyaku lagi tidak paham.
"Apa kita akan membicarakan keluargaku?" Adam berbalik untuk bertanya. Dan aku mengangkat bahuku ringan.
"Jika kau tidak keberatan." jawabku santai. "Jika kau tidak ingin membahas ini, aku juga tidak akan mempermasalahkannya."
Menghela napas panjang, "Bukan berarti aku tidak mau, hanya saja—," Adam terdiam sebentar. Sepertinya dia tengah merangkai kata-kata untuk memulai ceritanya. Tidak masalah jika dia tidak ingin membicarakannya, aku sama sekali tidak akan memaksanya bicara. "Ceritanya tidak menarik dan mungkin kau akan bosan."
"Aku tidak akan protes ataupun berkomentar jika itu yang kamu takutkan." jawabku dengan nada sungguh-sungguh. Dan aku bisa mendengar Adam kembali menghembuskan napasnya sedikit kasar.
Setelah keheningan singkat, akhirnya suara Adam kembali merasuk ke indra pendengaranku.
"Pernikahan tidak berhasil pada sebagian orang, dan itu yang terjadi pada kedua orang tuaku." Adam memulai ceritanya dengan suara samar, ada ke engganan dalam nada bicaranya.
Aku yang sudah tahu tentang bagian itu, hanya terdiam, tidak menanggapi ucapannya. Atau belum. Aku akan membiarkannya berbicara terlebih dahulu.
"Umurku lima tahun saat mereka berpisah, saat aku masih TK." Jelasnya lagi. Dan aku masih terdiam. "Aku sama sekali tidak keberatan dengan perceraian mereka. Setelah pertengkaran hebat yang aku dengar setiap hari, aku merasa perceraian mereka seperti surga."
Ya Tuhan, aku merasa cukup iba saat membayangkan Adam kecil yang harus berjuang sendiri di tengah kekacauan yang di lakukan oleh kedua orang tuanya. Jika bisa, Aku ingin memeluknya sekarang.
"Orang tuaku tidak terlalu memikirkan tentang hak asuh, mereka sepakat untuk berbagi dan membebaskanku untuk memilih tinggal dengan siapa. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah mereka, jadi itu bukan masalah besar. Aku tumbuh besar kesana kemari, berpindah-pindah dari tempat ibu dan ayahku."
Aku mengangguk-anggukan kepala tanda paham, sedikit membayangkan hubungan rumit mereka bertiga. Dan Adam kembali bersuara untuk melanjutkan ceritanya.
"Ngomong-ngomong mereka menikah muda. Ibuku mengandungku saat sekolah menengah atas dan mereka menikah setelah lulus." Ada tawa di sela ceritanya, seolah dia tengah menceritakan sesuatu yang konyol kepadaku.
"Benarkah?" kali ini aku cukup terkejut dengan pengakuan Adam.
"Ya, aku rasa itu yang menyebabkan mereka berpisah. Cinta yang membara di awal, namun meredup dengan cepat. Ayahku yang egois dan ibuku yang selalu menginginkan perhatian selalu berpusat kepadanya. Ibuku selalu mengatakan ayahku jika tidak memiliki waktu, sibuk, tidak pernah ada, tidak pernah berjuang dan sebagainya. Mereka selalu bertengkar tentang itu."
Aku kembali menganggukkan kepala sebagai respon, mencoba memahami dan mencerna cerita dari pacarku itu.
"Aku pikir hubungan kalian cukup buruk. Tapi dari ceritamu, sepertinya kalian sama sekali tidak ada masalah."
"Kan sudah kubilang, hubungan kami baik-baik saja." Dia tertawa. "Kami hanya jarang berbicara akhir-akhir ini."
"Dengan ayahmu?" aku bertanya.
Adam menganggukkan kepalanya. "Iya, dengan ayahku." Jawabnya kemudian.
"Dia tidak pernah memarahimu atau apa?" tanyaku lagi merasa penasaran. Karena dari yang aku dengar, beberapa ayah suka memarahi anaknya. Ya, walaupun aku juga tidak pernah merasakan itu semua.
"Terakhir kali ayah berteriak kepadaku adalah saat aku menghancurkan sepeda motorku." Adam menceritakan itu seolah kenangan itu menggelikan baginya. "aku berusia lima belas tahun, mungkin." dia memiringkan kepalanya sedikit. "Aku menghantam pembatas jalan saat mengemudikannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Aku selamat tapi motorku tidak." Pria muda itu kembali tertawa rendah saat menceritakan kisahnya.
"Lalu aku pergi ke rumah ibuku. Dan ayah tidak pernah membentakku lagi setelah kejadian itu. Mungkin ayahku sadar jika itu hanya akan membuang-buang suara dan tenaganya saja. Karena aku tidak akan pernah mendengarkannya."
"Apa dia memukulmu?" tanyaku penasaran. Karena jika aku menjadi ayahnya, aku akan menghantam kepala Adam dengan suatu benda agar membuatnya tersadar.
Siapa sih yang tidak marah jika anaknya mengalami kecelakaan karena kebut-kebutan? tapi sepertinya Adam memiliki pemikiran lain tentang amarah ayahnya waktu itu.
"Tidak," dia menggelengkan kepalanya. "Ayahku bukan pria seperti itu."
Menganggukkan kepala untuk ketiga kalinya, aku cukup paham dengan alur cerita dari pacarku sekarang. Sial, aku jadi penasaran dengan sosok ibunya. Bagaimana caraku agar Adam menceritakan tentang ibunya? Apa aku harus bertanya langsung? Tapi itu sepertinya pasti terdengar aneh.
"Bagaimana dengan ibumu?" sial, pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutku. Membuat Adam menoleh ke arahku. "Tenapa kita tidak tinggal bersamanya saja?"
"Ibuku tidak terlalu menyukai semua gadis yang aku bawa pulang." Terang Adam menjawab pertanyaanku selama ini tentang kenapa dia memilih untuk tinggal bersama ayahnya, bukan ibunya selama liburan kami. "Tapi aku akan memperkenalkanmu kepadanya nanti. Kau penting bagiku, Bella." Janjinya kepadaku, dan aku hanya mengangguk setuju lengkap dengan senyuman di wajahku.
"Lagi pula kau akan lebih suka di rumah ayahku," Kata Adam lagi dengan percaya diri. "Rumahnya luas, dan kami memiliki kolam renang di halaman belakang." jelasnya pria itu lagi, mengingatkan aku tentang kolam renang yang dia miliki. Ya, dia sudah menceritakan tentang itu kepadaku.
"Ayahmu kaya raya, ya?" tanyaku dengan nada bercanda, Adam tertawa menanggapinya.
"Dia cukup kaya untuk ukuran orang desa." Adam menanggapi leluconku, dan kali ini aku ikut tertawa bersamanya. Cara dia mengatakan ayahnya orang desa benar-benar lucu.
"Yang perlu kita lakukan hanyalah mengabaikan Ayahku, melakukan banyak hal untuk bersenang-senang, menghabiskan libur semester kita dengan hal-hal yang tidak akan pernah kita lupakan." Tambah Adam lagi. Dan untuk ke sekian kalinya, aku hanya mengangguk setuju sebagai tanggapan. "Ayahku juga tidak memiliki pelayan seperti rumahmu, hanya ada kita bertiga." Pacarku mengingatkan, aku tertawa samar menanggapinya.
"Aku tidak keberatan." Jawabku dengan santai.
Menghabiskan sisa perjalanan dengan mengobrol santai dan memakan camilan yang aku siapkan. Akhirnya setelah tiga jam lebih berkendara, mobil Adam sudah keluar dari jalan tol.
Adam menolak tawaranku untuk bergantian menyetir, mengatakan agar aku istirahat saja dan dia juga bilang jika aku yang mengikutinya pulang saja sudah lebih dari cukup baginya.
Astaga, Dia sangat manis. Adam selalu bersikap seperti itu denganku. Selalu melindungiku, dan memujaku. Dia selalu membuatku seolah di inginkan. Dan aku sangat menyukainya.
Menyusuri jalan raya dua arah. Sepertinya kami sudah memasuki kota kecil tempat tinggal Adam. Pohon-pohon besar tumbuh sepanjang jalan, berpadu dengan berbagai bangunan di sana. Dalam diam, aku menatap ke luar melalui kaca mobil.
Mendung, dingin, lembab. Sepertinya itulah yang aku gambarkan tentang kota di mana Adam di lahirkan itu sekarang.
Mobil kami berbelok keluar dari jalan raya menuju jalanan yang lebih kecil lagi. Dan aku menduga jika perjalanan kami akan berakhir sebentar lagi.
Melewati rumah yang terletak berjauh-jauhan. Akhirnya aku bisa merasakan mobil adam mengurangi kecepatannya dan berhenti di salah satu rumah berlantai dua.
Jantungku kembali berdegup kencang karena gugup. Merasa tidak siap saat Adam mulai memarkir mobilnya di halaman depan dan mematikan mesin mobilnya.
"Kau terlihat sangat pucat, sayang." Kata Adam yang kini menatapku, tangannya menekan tombol untuk melepas sabuk pengamannya, melakukan hal sama pada milikku.
"Hanya gugup." Jawabku jujur, kembali mengundang tawanya.
"Kita akan pergi liburan, Bella. Tapi kau bertingkah seolah akan pergi ke pemakaman." Canda pacarku, tangannya meraih sisi wajahku. Aku memejamkan mataku menikmati sentuhannya, tanpa suara. Dan beberapa detik kemudian, aku bisa merasakan bibir Adam menyentuh milikku, menciumku dengan lembut. Hanya sebentar, saat dia melepaskan bibirku dan juga wajahku, mataku terbuka, menemukan mata Adam juga tengah menatapku lekat.
"Ayo kita turun," ajaknya kemudian. Dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Adam turun, dan aku mengikutinya setelahnya. Di waktu yang sama, pintu depan rumah ayahnya terbuka.
Seorang pria keluar dari sana. Memakai tshirt berwarna hitam dengan celana jins senada.
Bagaimana jika dia tidak menerimaku dan menyuruhku pulang? Uh rasanya aku seperti tamu yang tidak di undang.
Aku mengamatinya dari ujung kaki hingga kepalanya. Dan sekarang aku kesusahan untuk sekedar bernapas ataupun menelan ludah dengan benar. Ayah Adam benar-benar berbeda dengan apa yang aku gambarkan di otakku selama di perjalanan.
Sekarang aku tahu, dari mana ketampanan yang dimiliki oleh Adam berasal.
"Pa." Sapa Adam menghampiri ayahnya. Mereka berpelukan singkat dengan canggung.
Melepaskan pelukannya, Adam kembali menghampiriku. Lalu memperkenalkan kami.
"Pa, ini Isabella pacarku. Dan Bella, ini Johan, ayahku." Terang adam menunjuk ke arah kami bergantian. Menyadarkan aku dari lamunan.
"Johan." Ayah Adam mengulurkan tangannya ke arahku. Segera aku menyambutnya.
"Isabella." Aku menyebutkan namaku sendiri saat menjabat tangannya. Sial, demi Tuhan aku bisa merasakan sengatan listrik saat tanganku menyentuh jemarinya.
Aku tahu jika Johan tidak setua ayahku, mengingat dia menikah muda, dan Adam di lahirkan saat dia berusia kurang lebih tujuh belas tahun. Namun dalam bayanganku tadi, yang terus muncul di otakku hanyalah pria paruh baya dengan lemak perut berlebihan dan beberapa uban di rambutnya.
Namun Johan sama sekali tidak seperti itu. Pria itu merupakan gambaran pria dewasa tampan dan jantan. Tubuhnya atletis dengan otot-otot yang terlihat menonjol di kaos hitam polos yang dia kenakan sekarang.
"Bella?"
Aku mendengar Adam memanggil namaku, dan di detik berikutnya aku bisa merasakan tangannya merangkul bahuku.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Adam kemudian dengan nada khawatir, membuatku tergagap.
"Aku baik-baik saja." Gumamku, tersenyum kecut saat menjawab, tidak tahu sudah berapa lama aku tertegun saat menatap Johan, mungkin air liurku sudah menetes di sudut bibirku sekarang.
Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya sangat terpesona dengan ayahmu dan hampir pingsan. Jeritku dalam hati, menatap ayah dan anak itu bergantian dengan canggung.
"Mungkin Isabella hanya kelelahan setelah perjalanan panjang," kata Johan menyebut nama lengkapku.
Biasanya aku tidak menyukai saat orang-orang memanggilku begitu dan langsung meralatnya karena mengingatkanku dengan cara nenek dari pihak ayahku menanggilku. Namun, saat Johan melakukannya, aku tidak keberatan.
"Aku sudah menyiapkan dan membereskan kamar tamunya, kalian bisa istirahat sekarang."
"Apa maksudnya kamar tamu? Bella akan tidur di kamarku." Kata Adam tidak setuju. Dan Johan hanya mengangkat bahunya sebagai tanggapan.
"Terserah kalian saja, lakukan apa pun yang kalian suka."
Seperti yang sudah di jelaskan oleh Adam tadi, Johan benar-benar tidak peduli dengan kami. Menatap aku dan Adam bergantian, pria paruh baya itu kembali berkata.
"Selamat datang di rumah, semoga kalian menikmati liburannya." Johan menautkan kedua tangannya di depan d a d a saat mengatakan itu, lalu dia berbalik, berjalan menuju pintu depan tanpa menunggu jawaban dari kami berdua.
"Apa ayahmu tidak menyukaiku?" tanyaku kepada Adam dengan nada penasaran, pacarku mengernyitkan kedua alisnya sebelum menjawab.
"Apa dia harus menyukaimu, sayang?" Adam balik bertanya dengan nada bercanda. "Dia tidak menyukai siapa pun, Bella. Bahkan aku anaknya." Kekeh Adam lagi, menundukkan kepala hingga dahinya menempel pada milikku, tangannya membawa jemariku ke genggamannya, meremasnya lembut di sana.
"Kita harus menurunkan barang-barang." Gumamku memecah keheningan, di sambut tawa pelan milik Adam.
"Ya, sepertinya kita harus." Jawabnya dengan nada rendah. "Tapi aku akan menciummu dulu."
Aku belum sempat menjawab saat Adam sudah menundukkan kepalanya untuk menghapus jarak antara bibir kami. Dia mengecup bibirku lembut, melumatnya perlahan, jemarinya bergerak menangkup kedua sisi wajahku, membawaku ke ciuman yang lebih dalam.
Ya, seperti liburanku akan menyenangkan kali ini.
Matahari mulai terbenam di arah barat saat kami mulai menurunkan koper-koper dan barang kami dari bagasi mobil Adam. Walaupun langit sedikit mendung namun semburat jingga terlihat begitu indah dan mempesona.