BELLA POV
“Aku sudah menyiapkan makan malam.”
Aku tengah membawa satu tas terakhir sementara Adam membawa koper melintasi ruang tamu menuju tangga yang saat Johan muncul dari pintu yang aku duga adalah area dapur, dan ruang makan. Adam menghentikan langkahnya di ujung tangga, begitu pula denganku yang berada tidak jauh di belakangnya.
“Benarkah?” Adam menjawab dengan suara tidak percaya. “Kami baru saja makan dalam perjalanan kesini.” Jelasnya lagi, membuat batinku menjerit atas jawaban adam dalam menanggapi kebaikan ayahnya itu.
“Baiklah.” Sahut Johan dengan santai, seolah itu bukan masalah besar. Sepertinya memang pria itu tipe orang yang tidak ingin memperpanjang dan memperumit sesuatu. Dan aku sangat frustrasi dengan situasi yang terjadi di antara kami.
“Aku merasa sedikit lapar.” Entah bagaimana, kalimat tersebut meluncur begitu saja dari mulutku. Johan terdiam, sementara mata tajam milik Adam menyipit saat menatapku.
“Serius?” adam bertanya dan menatapku seolah perkataanku sangat tidak masuk akal.
“ya—,” aku menjawab dengan nada sumbang. Antara yakin dan tidak. Aku hanya ingin menghormati Johan sebagai tuan rumah, menolaknya dengan jelas seperti yang di lakukan oleh Adam terasa sangat tidak sopan.
“Kalau begitu kau bisa bergabung dengan ayahku untuk makan malam, aku akan ke kamar.” Adam beranjak dari tempat ia berdiri dan mulai menaiki tangga menuju lantai dua, tempat kamar kami berada.
Urgh seriously? Setelah apa yang aku lakukan untuk memperbaiki situasi kami. Adam mengatakan itu kepadaku? Untuk makan malam berdua bersama ayahnya? Mati saja kau sana!
Aku menatap ujung tangga tempat di mana Adam menghilang dengan pandangan nanar lalu beralih ke Johan yang masih berdiri di tempatnya.
“Aku akan meletakkan tas dan turun sebentar lagi.” Pamitku ke ayah pacarku itu lengkap dengan senyuman samar. “dan aku akan mencoba membujuk Adam untuk makan.” Lanjutku lagi seolah berjanji kepada ayah pacarku itu untuk membawa anaknya turun.
“Aku bisa menunggu.” Jawab Johan dengan santai, aku mengangguk lalu berlari menaiki tangga untuk menyusul Adam.
Rumah ini besar. Bukan jenis rumah mewah, namun lebih ke rumah sederhana yang indah. Lantai marmernya putih, berpadu dengan tembok yang di cat abu-abu. Aku bisa menemukan foto-foto masa kecil Adam terpasang di tembok ruang depan, berpadu dengan lukisan lainnya.
Untuk lantai atas, aku bisa menemukan tiga atau empat pintu di sana. Salah satunya adalah kamar Adam, kamar kami sekarang.
Aku meraih knop pintu dan melangkah masuk setelah pintu terbuka, menemukan Adam sibuk dengan barang-barang kami di sana, sama sekali tidak bereaksi terhadap kehadiranku. Menghela napas panjang, aku menghampiri ranjang berukuran king itu dan duduk di salah satu sisinya, meletakkan tas yang tadi aku bawa ke lantai saat aku mulai membuka suara.
“Ku pikir kita harus makan.” Aku menyuarakan pendapatku. Adam menoleh, menatapku melalui bahunya.
“Sudah ku bilang aku tidak lapar.” Sahutnya keras kepala. “belum ada satu jam sejak kita makan, Bella.” Kata Adam mengingatkan, dan tentu saja aku tidak lupa dengan itu.
“Paling tidak kita harus makan sedikit, ayahmu sudah menyiapkan semuanya—,”
“Jadi ini semua demi ayahku?” dia bertanya dengan alis bertautan. “Aku tidak peduli dengan apa yang dia lakukan, Bella. Dan dia juga tidak. Jadi, kau tidak perlu memikirkannya.”
“Sebenarnya aku benar-benar merasa lapar.” Aku memutuskan untuk berbohong kali ini, dan Adam menatapku dengan pandangan kau tidak berbohong kan? “kalau tidak makan sekarang, mungkin aku akan kelaparan saat tengah malam dan tidak bisa menunggu hingga sarapan.” Lanjutku lagi dengan nada begitu meyakinkan, berharap pacarku itu tidak curiga.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menemanimu turun.” Adam menyerah pasrah, dan aku tersenyum lembut kepadanya.
Ya, mungkin Adam menolak untuk melakukan itu demi ayahnya. Namun dia bersedia untuk makan malam bersama demi aku, pacarnya.
Aku tidak tahu seberapa buruk hubungan mereka. Dan makan malam bersama itu terlihat seperti bencana bagiku.
Suasanya sangat hening, kedua pria itu seolah tengah di landa perang dingin.
Johan akan mencoba berbicara dengan putranya, namun Adam secara terang-terangan menunjukkan jika dia tidak ingin berbicara dengan ayahnya.
Aku sudah mencoba untuk mencairkan suasana, namun hasilnya tidak banyak. Aku sama sekali tidak bisa menangani dua pria dengan kepribadian buruk itu sendirian.
Aku mengucapkan selamat malam kepada Johan begitu kami selesai makan malam dan membereskan kekacauan di dapur dan meja makan.
Kecanggungan yang menyelimuti kami selama beberapa waktu terakhir langsung mencair begitu aku dan Adam sampai di kamar, berdua.
Sikapnya yang dingin langsung menghangat saat dia berbicara dan menghabiskan waktu denganku.
Sisa malam kami berjalan dengan semestinya. Walaupun Aku sempat khawatir, namun ternyata aku bisa tidur dengan nyaman di tempat asing. Ya, walaupun hujan badai yang datang tiba-tiba saat tengah malam itu cukup membuatku terganggu, namun ada Adam di sampingku, memelukku dengan erat, menjagaku tetap hangat.
***
"Bella.." suara itu merasuk ke indra pendengaranku, mengusik tidur pulasku. Itu suara Adam.
Aku mengerang, mencoba membuka mataku saat merasakan jemari-jemari itu mengelus sisi wajahku dengan lembut.
"Aku akan lari pagi, kau mau ikut?"
Aku membuka mataku sebentar, sebelum akhirnya kembali memejamkannya lagi karena sensasi pedas yang aku rasakan.
"Bella?" panggil dia lagi. Dan kali ini aku memaksakan diri untuk membuka mata kembali, menatap pacarku yang sudah memakai baju olah raga lalu ke sekeliling kamar, masih gelap.
"Uh—," mengerang, dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya aku bertanya "Apa aku harus ikut?" tanyaku dengan suara serak.
"Tidak," aku bisa melihatnya menggelengkan kepala, tangannya masih berada di sisi wajahku. "Kau bisa tidur lebih lama."
Aku terkekeh pelan lalu menganggukkan kepala, "Baiklah, aku akan tidur saja," kataku kemudian menyerah pada rasa kantuk yang masih menggelayuti mataku.
Adam mengangguk, dan tersenyum ke arahku. Menundukkan kepalanya untuk mencium keningku, dan aku mengerang sebagai tanggapan.
"I love you, Bella." Bisiknya di telingaku dengan suaranya yang dalam.
Aku tersenyum mendengarnya, mengerang sekali lagi, lalu menggeliat. Sebelum akhirnya menjawab.
"I love you, too."
Adam mengecupku sekali lagi, menarik selimutku hingga menutupi tubuhku sampai menyisakan kepalaku. Aku memejamkan mataku lagi, mendengar langkah kaki Adam menjauh, di susul dengan suara pintu tertutup.
Urgh—, di sini sangat dingin sekali. Aku mengubah posisi tidurku menyamping, meringkuk semakin dalam seperti kepompong, mencari kehangatanku sendiri di dalam selimut tebal yang melingkupi tubuhku sekarang.
Entah berapa lama aku tertidur pagi ini. Karena saat aku membuka mataku, cahaya sudah menguasai kamar sepenuhnya.
Aku menggeliat, menyibak selimut yang kini berada di pinggangku, lalu bangun. Meregangkan otot tanganku ke atas, menguap lebar.
Tidurku cukup, dan sekarang aku merasa sangat segar.
Aku tidak menemukan keberadaan Adam, mungkin dia belum pulang, atau juga sudah berada di lantai bawah. Entahlah.
Menarik napas panjang. Aku meraih handphoneku yang tergeletak di atas meja nakas, berdampingan dengan milik Adam.
Ya, dia tidak membawa handphonenya saat lari. Tapi aku yakin dia memakai smartwatchnya. Aku membuka layar handphoneku hanya untuk melihat jam berapa sekarang, jam sembilan lewat tujuh menit. Mengabaikan notifikasi-notifikasi yang tertera di layar. Aku kembali meletakkan handphone ku, aku segera turun dari ranjang.
Aku perlu ke kamar mandi. Kandung kemihku terasa penuh, dan aku juga harus mencuci muka dan gosok gigi sebelum pergi mencari keberadaan pacarku.
Butuh waktu sekitar lima belas menit bagiku untuk melakukan semuanya. Lalu aku melangkah keluar kamar, tidak lupa untuk memakai bra sebelumnya, dan menyanggul rambutku asal. Menuruni tangga.
Tidak ada tanda-tanda manusia di sana. Sepi, senyap. Aku berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain di lantai dasar. Serambi depan hingga halaman belakang tempat kolam renang yang selalu di ceritakan oleh Adam, namun tidak menemukan siapa pun.
Lalu saat aku berjalan dari halaman belakang, melewati pintu kaca menuju dapur lalu ruang makan. Telingaku menangkap suara deru mesin mobil yang terdengar samar.
Suara pintu mobil yang di tutup dengan cara di banting terdengar saat aku sudah sampai di pintu depan dan membukanya untuk melihat siapa yang datang, dan mataku menemukan Johan berdiri di samping ford raptor hitamnya.
"Kau sudah bangun?" Pertanyaan basa basi itu keluar dari bibir Johan saat berjalan menyusuri jalanan berkerikil di halaman rumah, menuju ke arahku.
"Sudah." Jawabku hampir tergagap, mataku mengamati ayah pacarku itu dari atas hingga bawah. Hari ini dia memakai tshirt abu-abu yang berpadu dengan kemeja flanel hitam dan celana jins yang warnanya sudah pudar. Lengkap dengan topi bisbol di kepala, dan kaca mata hitam bertengger di hidungnya.
Tampan seperti kemarin.
Aku menyingkir ke samping pintu untuk memberikan jalan kepada Johan untuk masuk. Dan saat dia melewatiku, aku menyadari betapa tingginya pria itu.
"Bagaimana tidur mu?" basa basi lain keluar dari mulut pria itu.
"Baik," jawabku jujur. "selain badai, semua baik-baik saja."
"Apa badainya mengganggumu?" dia menoleh saat bertanya, tubuhnya membungkuk untuk melepaskan sepatu bots kerjanya dan menyimpannya di laci kayu yang berada di lorong dekat pintu masuk rumah.
"Hanya sedikit, kilat-kilat yang terlihat di kaca jendela itu cukup menyeramkan." Jujurku lagi, dan aku bisa melihat Johan mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanggapan.
"Sudah sarapan?" Pria itu mengalihkan pembicaraan, bergerak untuk melemparkan kunci mobil ditanganya ke mangkuk keramik yang berada di atas laci sepatunya.
"Aku tidak terbiasa sarapan." Jujurku dengan nada malu-malu, lalu mengikuti ayah pacarku itu menyusuri bagian dalam rumahnya.
Dia tidak menanggapi ucapanku, ataupun bertanya lagi. Dan aku juga tidak tahu harus melakukan apalagi selain mengikutinya.
Haruskah aku bertanya keberadaan Adam? Bagaimana aku harus mulai bertanya?
Aku masih bergelut dengan pemikiran itu di otakku, tanpa aku sadari aku mengikuti Johan hingga area dapurnya.
"Kau minum kopi?" tanya pria itu lagi, kali ini suaranya membawaku kesadaranku kembali.
Aku mengangguk. "Ya." Jawabku cepat. "maksud ku iya." Koreksiku kemudian, merasa sangat kacau. Duduk di salah satu kursi bar yang terletak di sana, menatap Johan yang berada di seberang meja.
"Aku juga memiliki teh jika kau mau." Tawarnya lagi, tangannya meraih teko berisi kopi dan menuangkannya ke cangkir miliknya saat berbicara.
"Teh juga okey." Kataku berubah pikiran. Aku bisa melihat sudut bibir Johan terangkat, membentuk senyum geli samar saat mendengar jawabanku.
Apa dia menertawakan ku sekarang?
"Maksudku aku sudah cukup tidur semalam, jadi tidak membutuhkan kafein sekarang." Entah kenapa aku merasa perlu membela diri atas pilihanku yang plin plan.
"Aku tidak mengatakan apapun." Katanya lagi, dan aku bisa merasakan nada geli pada suaranya.
"Tapi kau tertawa." Tuduhku kemudian, tidak tahu mendapat keberanian dari mana untuk berbicara santai dengan Johan.
Dia hanya tertawa rendah sebagai tanggapan. Meraih teko lainnya dari meja, dan mengambil satu cangkir lagi dari laci kaca. Mengisinya dengan cairan kuning kecokelatan dari sana.
Kenapa dia menyeduh teh dan kopi? Apa dia menyediakan keduanya agar aku memiliki pilihan? Menggelengkan kepala cepat, aku mengusir pemikiran aneh itu dari kepala. Mungkin dia terbiasa meminum keduanya di pagi hari.
"Ku harap kau tidak keberatan dengan kamomil." Katanya saat meletakan satu cangkir teh di hadapanku.
Aku menggelengkan kepala dan tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih atas tehnya.
Johan kembali tersenyum samar, memberi tahuku tentang letak madu jika aku memerlukannya untuk tehku, lalu bersandar ke meja dapur berbahan granit, menikmati kopi dari cangkir di tangannya.
Kami menikmati minuman kami dalam keheningan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Adam di mana-mana, Dan aku juga belum mempertanyakan keberadaan pacarku itu kepada ayahnya.
Hingga akhirnya dia menegakkan posisi tubuhnya dari bersandar, Lalu berjalan menuju wastafel. Di ikuti olehku setelah menyesap isi cangkir tehku hingga tandas.
"Apa Adam sudah bangun?" tanya Johan membuka percakapan lagi, saat kami mencuci cangkir kami di sana. Lebih tepatnya dia mencuci dan aku membantunya membilas dan meletakkannya di rak yang tersedia.
"Sudah—," jawabku ragu-ragu.
"Bisa tolong panggilkan dia? Aku butuh bantuannya untuk memperbaiki pagar di halaman belakang. Badai tadi malam benar-benar mengacaukannya."
Secara harafiah memang Adam sudah bangun, namun masalahnya aku sama sekali tidak tahu di mana dia berada sekarang.
"Baiklah—,"
Aku berjalan cepat meninggalkan Johan. Menaiki tangga menuju lantai dua untuk kembali ke kamar.
Meraih handphoneku yang masih tergeletak di tempat yang sama, aku menghubungi Adam. Walaupun seratus persen aku yakin dia mengenakan smartwatch nya. Namun pacarku itu sama sekali tidak menjawab teleponku.
Sial! Sebenarnya dia pergi kemana sih? Aku bertanya-tanya, menggigit ujung jempolku saat menelepon Adam untuk kedua kalinya.
"Adam!"
Itu suara Johan, terdengar dari lantai bawah.
Aku menghela napas panjang, menyerah untuk menghubungi Adam, melempar handphone ku asal ke atas ranjang.
Aku menghampiri barang-barangku yang masih berserakan di sudut kamar. Membuka koperku untuk mencari salah satu kemeja oversizeku dan memakainya cepat. Aku melirik berapa pasang sepatu yang aku kemas, pandanganku jatuh ke converse chuck warna hitam, menyambarnya tanpa berpikir panjang, lalu bergegas keluar kamar.
Dengan jantung berdebar, aku berjalan menuruni tangga. Menemukan Johan di lantai dasar, kali ini sebuah sabuk peralatan sudah mengantung di pinggangnya.