BELLA POV
"Di mana Adam?" Dia menatap ke belakangku mencari keberadaan putranya. Tampak bertanya-tanya kenapa aku yang muncul bukan putranya.
"Uh—, dia.." aku kesulitan untuk menjawab. Dan mata Johan menyipit menatapku yang kini tampak kebingungan. "Adam pamit untuk lari pagi dan belum pulang hingga sekarang," terangku dengan takut-takut, menjelaskan keberadaan putranya itu kepada Johan. "aku sudah mencoba menghubunginya, tapi dia tidak menjawab." Aduku lagi. Dan aku bisa merasakan pria di hadapanku itu menarik napas kasar.
"Sialan anak itu." Gumamnya nada rendah, lalu berjalan menuju pintu depan dengan aku mengikutinya di belakang.
"Aku bisa membantumu." Kataku menawarkan diri. Johan yang berhenti untuk membuka laci tempat dia menyimpan sepatunya menoleh untuk menatapmu.
"Kau?" matanya menatapku dengan pandangan yang benar saja. Tidak, terimaksih.
"Ya, aku, siapa lagi." Kataku percaya diri. Memakai converse ku sementara Johan memakai sepatu bot kerjanya.
"Kau tidak perlu melakukannya, ini pekerjaan pria." Dia menolak dengan halus, tangannya meraih pintu depan dan membukanya.
"Kau pikir aku tidak sanggup melakukannya karena aku wanita?" protesku kembali mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya. "Aku bisa melakukannya!"
Johan tidak menjawab dan berjalan menuju ford raptornya, mobil truk terkeren yang pernah aku lihat secara langsung. Dia membuka bagian belakang baknya, dan aku bisa melihat papan-papan kayu panjang di sana.
"Katakan saja, apa yang harus aku lakukan.." aku hampir merajuk saat melihat Johan sama sekali tidak menjawab ataupun mengajakku berbicara.
"Kau sedang liburan, Isabella. Aku tidak ingin memaksamu untuk bekerja." Dia akhirnya membuka suara, saat tangannya mulai meraih bilah-bilah papan itu dari truknya.
"Dan aku tidak keberatan," jawabku dengan nada sungguh-sungguh, berusaha meyakinkan Johan jika ini sama sekali tidak menggangguku. "Lagi pula tidak ada yang aku lakukan sekarang."
Johan menggelengkan kepalanya seolah perkataanku adalah hal yang tidak masuk akal, sebelum akhirnya berkata. "Baiklah." Pria yang tidak suka berdebat itu sepertinya menyerah. Membuat senyumku merekah. "mungkin kau bisa membantuku membawa kayu-kayu ini ke halaman belakang." Katanya lagi memberi instruksi, tangannya yang berotot mengambil beberapa buah bilah kayu sekaligus.
"Siap boss!" kataku lengkap dengan pose hormat, membuat pria itu tersenyum geli dengan tingkahku.
"Bawa satu per satu." Tambahnya lagi dengan nada memperingatkan.
Kami bekerja sama mengangkut bilah-bilah kayu itu ke halaman belakang, meletakkannya di tanah dekat pagar yang rusak. Sepertinya badai semalam cukup ganas. Sebuah dahan pohon tumbang dan menghancurkan pagar halaman belakang rumah Johan.
Dan saat Johan mulai membongkar papan-papan kayu yang rusak, aku mengamatinya dalam diam, menunggu instruksi selanjutnya tentang apa yang bisa aku lakukan untuknya.
Johan dan berbagai perkakas yang dia gunakan untuk melepaskan kayu-kayu itu dari tiang pagar terlihat seksi di mataku. Sial, bahkan caranya memegang paku itu terlihat mempesona di mataku.
Dia lebih tua, bella! Umurnya hampir dia kali lipat dengan milik mu! Dan yang terpenting, dia ayah dari pacarmu!!
"Kudengar dari Adam kau kaya raya." Kata Johan menatapku sekilas, tangannya masih bergerak untuk mengayunkan palu. Setelah sekian lama saling terdiam, sepertinya Johan memutuskan untuk memilih keluarga sebagai topik pembicaraan kami.
Entah sudah berapa lama kami bekerja. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, sekarang kami dalam proses memasang kayu pada tiang pagar.
Aku bertugas untuk membantu memegang ujung bilah papan, sementara Johan memaku sisi lainnya.
Suara besi beradu, berpadu dengan kayu, menciptakan irama konstan yang begitu memekakkan telinga. "Dia berbicara tentang istana dan beberapa lusin pelayan di rumahmu."
Masih memegang ujung kayu untuknya, aku menarik napas saat mendengar pernyataan tidak terduga tersebut. Entah apa yang sudah Adam bicarakan dengan ayahnya, dan sejauh mana Johan mendengar omong kosong itu dari putranya.
"Ayahku yang kaya."
Dia terkekeh pelan mendengar jawabanku, tidak membuat gerakan mengayunkan palu ditangannya berkurang. Sementara aku menaikan satu alisku saat melirik ke arahnya.
"Dan hanya orang kaya yang mengatakan itu." Ada nada geli dalam suaranya.
"Ayahku kaya, namun saat sampai di sini dan melihat semuanya. Aku rasa kamu juga kaya." Aku berkata saat menunjuk ke sekeliling dengan mataku.
"Ya?" Tanya Johan lagi dengan nada tidak paham, tanpa melihat ke arahku.
"Tanahmu lebih luas dari rumahku."
Pria itu kembali tertawa pelan, jenis tawa yang sering aku dengar saat bersama Adam.
"Nilai jualnya berbeda, Isabella." Dia bangkit setelah paku yang dia pukul sudah menusuk kayu hingga rata. Lalu berjalan ke arahku yang masih memegang sisi lain, bagian yang belum di paku.
Apa yang harus aku lakukan? Melepaskan kayunya atau apa? Aku bertanya-tanya dalam hati saat Johan berdiri di belakangku.
Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri saat Johan berjongkok di belakangku. Dan gerakan berikutnya membuat jantungku hampir lompat dari rongganya. Dia mengulurkan tangannya di antara tubuhku, mengurungku di antara lengannya. Aku bisa merasakan dadanya yang keras di punggungku, napasnya berhembus di leherku. aroma tubuhnya yang menguar dari belakang.
Baunya sangat enak, aroma orang dewasa, sesuatu yang menyegarkan seperti embun di rerumputan.
Aku menahan napas, jantungku berdegup kencang dengan apa yang dia lakukan sekarang.
Astaga! Apa memang begini cara kerjanya?
Dari ekor mataku, aku bisa melihatnya mengambil satu buah paku dari saku peeralatannya, mengarahkannya ke kayu yang tengah aku pegang.
"Pegang dengan benar." Peringatnya dengan nada rendah, kepalanya bergerak ke depan hingga wajah kami hampir sejajar. Tangan lain yang memegang sebuah palu mengayun ke atas, siap memukul paku yang di tangan kirinya.
Meringkukkan tubuhku ke samping saat dia mengayunkan paku ke atas, aku merasa sangat tegang saat kepalaku tidak sengaja menyentuh bisepnya yang besar.
Kedekatan ini membuatku gugup setengah mati, dan entah mengapa, berada di dekat Johan membuat sebagian otakku membeku dan tidak bisa berpikir jernih.
"Jadi, apa yang di lakukan oleh ayahmu?"
Tiba-tiba Johan bertanya, di sela gerakan memakunya.
"Ha?" aku yang sama sekali tidak siap dengan pertanyaan hanya bisa tergagap pelan.
"Pekerjaan ayahmu." Johan mengulang, dengan pertanyaan yang lebih sederhana. Di waktu yang sama dia berhasil memaku ujung kayu yang tengah aku pegang. Bergeser mundur dan membuatku bebas.
"Ah, pengacara." Aku melepaskan kayu yang sedari tadi aku pegang sesuai perintah dari Johan, mencoba meredakan gemuruh di dadaku menjawab. Kakiku hampir bergetar gugup karena interaksi aneh kami tadi, bergerak ke samping untuk menatapnya, dia tengah mengangkat satu bilah papan kayu panjang, dan aku berdiri untuk membantunya.
"Dan ibumu?" Johan kembali bertanya tentang orang tuaku, kali ini tanpa menatapku. Sepertinya dia cukup tertarik dengan latar belakangku, dan membicarakan keluargaku adalah hal terakhir yang ingin ku bicarakan dengan siapa pun.
"Hanya—," aku bergumam pelan, meraih ujung papan kayu yang di bawa oleh Johan. Memasangnya di tiang-tiang pagar, seperti yang kami lakukan pada papan sebelumnya. Otakku berpikir tentang apa yang harus aku katakan untuk menyelesaikan ucapanku sebelumnya. "—melakukan semua hal untuk bersenang-senang dengan uang ayahku."
Suara tawa terdengar setelah aku menjawab. Tawa rendah yang kini terdengar indah di telingaku. Lalu irama pukulan-pukulan nyaring itu kembali terdengar setelahnya.
"Aku juga akan melakukan itu jika memiliki suami kaya raya." Johan melontarkan sedikit lelucon, dan aku tidak menjawab, memilih untuk menanggapinya dengan sebuah tawa ringan.
Kesunyian kembali menyelimuti kami berdua. Sunyi dalam artian tidak saling bicara, karena suara paku memaku masih terdengar dari ujung yang menjadi bagiannya sekarang.
Apa Johan akan melakukan hal seperti tadi lagi? Mengurungku di antara tubuhnya yang kekar seolah tengah memelukku? Jika iya, sepertinya aku akan pingsan saat dia melakukannya untuk kali kedua.
"Mereka tidak keberatan kau menghabiskan waktu liburmu di sini?"
Suaranya hampir membuatku melompat. Menoleh ke arahnya, aku menatap Johan yang ternyata juga tengah memandangku. Dan rasanya seolah aku tertangkap basah memikirkan hal-hal aneh di kepalaku. Seperti dia bisa membaca pikiranku.
"Tidak." Aku menjawab cepat, mengalihkan pandanganku untuk memutuskan kontak mata kami. Dan dari pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. Sepertinya Johan cukup penasaran dengan hubungan antara aku dan kedua orang tuaku. "mereka tidak peduli dengan apa yang aku lakukan." Lanjutku lagi dengan jujur, dan dari ekor mataku, aku bisa melihat pria itu berjalan mendekat ke arahku.
"Semua orang tua peduli dengan anaknya, Isabella." Dia menyebut nama lengkapku dengan suaranya yang serak, dia sudah kembali dalam posisi jongkok di belakangku, bulu tubuhku kembali meremang karenanya.
"Ya, berbeda dengan milikku." Tubuhku masih menegang, tapi aku sedikit terbiasa dengan keberadaannya di belakangku.
Aromanya, suaranya, hembusan napasnya.
Aku bisa merasakan dadanya yang bidang sesekali menyentuh punggungku saat dia bergerak untuk mengayunkan palu.
"Apa kalian tidak akur?" suaranya kembali terdengar, tepat di samping telingaku.
Aku menggelengkan kepala lalu berkata. "Kami tidak pernah bertengkar." Terangku kemudian.
"Lalu?"
"Kau penasaran?"
"Ya, jika kau tidak keberatan."
Johan beranjak dari belakangku setelah selesai memalu. Aku menghela napas panjang, merasa lega dengan kepergiannya, di satu sisi bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab perkataan ayah dari pacarku itu.
"Hubungan kami cukup rumit." Kataku kemudian, dan Johan hanya mengulurkan ujung kayu lain kepadaku, menatapku sekilas. Kali ini aku harus memegangnya dalam posisi berdiri karena kami harus memasangnya pada bagian paling atas pada tiang pagar. "Ayah dan ibuku tidak menikah. Aku hanya anak haram yang lahir di luar nikah."
"s**t!"
Aku menoleh ke arahnya, cukup terkejut dengan respons yang di berikan atas pengakuanku barusan. Namun saat aku melihat Jordan menyimpan palu di tangannya ke sabuk peralatannya, sementara dia mengibas-ngibaskan tangan kirinya ke udara, wajahnya meringis kesakitan.
"Apa kau memalu tanganmu sendiri?"
Aku melepaskan kayu di tanganku, dan berlari kecil menghampirinya, khawatir setengah mati.
"Kurasa begitu."
"Astaga, bagaimana bisa kau melakukannya." Kataku panik dan refleks meraih tangan kirinya yang masih berbalut sarung tangan.
"Jelas aku tidak akan melakukannya dengan sengaja." Dia menggerutu, dan menarik tangannya dari genggamanku. Aku bisa merasakan Johan menahan napas saat dia bergerak untuk membuka sarung tangan kain itu dari tangannya. Membuatku merinding saat dia melakukannya.
Seberapa parah lukanya? Apa dia begitu terkejut dengan perkataanku hingga memalu tangannya sendiri?
Dia mengerang, dan jantungku berdegup kencang. Sarung tangan berhasil dia lepas, dan sekarang mataku bisa melihat lukanya dengan jelas yang berada di jari telunjuknya.
"Astaga, apa yang harus kita lakukan?" aku kembali panik dan kembali meraih tangannya. Jari telunjuknya terluka, tidak berdarah, namun kini membiru dan sepertinya sudah mulai membengkak.
"Jangan khawatir, ini tidak parah."
"Kurasa kita harus ke dokter." Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisi jari Johan sekarang. Mungkin saja dia mengalami patah tulang atau apa.
"Tidak." Jawabnya dengan tegas. Kembali menarik tangannya dari tanganku, dan berjalan menjauhi pagar yang tengah kami perbaiki menuju rumah. Aku mengikutinya dari belakang. "Aku hanya perlu mengompresnya dengan es sebentar."
"Baikkah duduk di sini, dan aku akan mengambilkan es untukmu," perintahku kepadanya, saat kami sudah sampai di bagian teras rumah. Johan tidak protes dan menurut. Duduk di salah satu kursi santai yang berada di sana, sementara aku bergegas masuk ke rumah, setengah berlari menuju dapur.
Tidak butuh lama bagiku untuk menemukan es dan sebuah handuk kecil. Masih berlari, aku kembali ke teras, dan menemukan Johan masih dalam posisi duduknya. Dia bersandar ke kursi, matanya terpejam sementara tangannya yang terluka tergolek lemah di sisi kirinya. Dia sudah melepaskan sabuk peralatannya dan membiarkannya tergeletak di atas meja yang berada di sampingnya.
"Sakit sekali ya?" Pertanyaan bodoh meluncur begitu saja saat aku sudah berdiri di hadapannya. Johan membuka matanya.
"Tidak."
Aku menghela napas panjang saat mendengar jawabannya, lalu duduk berjongkok, meraih tangannya yang terluka. Mulai menempelkan es yang sudah aku balut dengan handuk kecil itu ke tangannya.
Johan tidak menolak ataupun terlihat keberatan dengan apa yang aku lakukan untuknya. Malah dia kembali dalam posisi bersandarnya, kembali memejamkan matanya.
Ya, begitu lebih nyaman. Matanya yang tajam tidak menatapku. Jadi aku tidak canggung untuk mengompresnya.
Dalam diam, dengan tangannya berada di genggamanku. Aku memperhatikan jemarinya. Jari-jari tangan Johan besar, sedikit menebal di beberapa tempat menjadi bukti dia sudah kerja begitu keras sepanjang hidupnya. Tebal dan panjang hingga milikku terlihat begitu kecil saat bersanding dengannya. Mungkin dia bisa mencengkeram kedua pergelangan tanganku dengan satu tangannya.
Oh sial, apa yang aku pikirkan!
Beralih dari jemarinya, mataku sedikit bergeser ke atas, mengagumi bagian lengan bawahnya yang di hiasi dengan otot-otot maskulin. Bisepnya terlihat sempurna di balik kemeja flanel yang kini dia lipat hingga bawah siku. Menonjol keluar dengan jantan, membuatku sedikit tergoda untuk menyentuhnya dan mengelusnya di sana.
Dan wajahnya. Sialan wajahnya. Johan sangat tampan dengan topi bisbol yang dia kenakan sekarang. Janggutnya tumbuh menyelimuti rahangnya yang tegas, alisnya tebal dan bulu matanya yang panjang menempel pada pipinya saat dia memejamkan mata seperti sekarang. Sedikit bintik-bintik keringat di kulitnya itu menambah kesan seksi yang tidak bisa aku abaikan.
Entah berapa lama aku terpesona seperti gadis gila atau semacam pengagum rahasia menyeramkan.
Dia ayah pacarmu, Bella! Jerit malaikat yang berada di tubuhku memperingatkan.
Tapi dia memang sangat seksi. Salah satu iblis dalam diriku menggoda.
Ya, dia sangat seksi dan tampan. Kataku setuju dengan iblisku, tersenyum miring saat menatap kembali wajah Johan. Di waktu yang sama, mata pria itu bergerak, dan aku merasa sangat panik saat dia membuka mata.
Mataku bertemu dengan matanya yang berwarna cokelat terang. Kami tidak bicara, hanya ada kesunyian selama beberapa saat menyelimuti kita berdua.
"Kau baik-baik saja?" suara rendahnya memecah keheningan di antara kita. Membuatku terperanjat kaget, tidak siap dengan pertanyaannya.
"Ya?" cicitku berusaha menemukan suaraku yang hilang. Berpikir keras, seberapa konyol penampilanku sekarang, hingga seorang yang terluka, bertanya kepadaku apa aku baik-baik saja.
"Kau melamun." Johan menjelaskan, menarik tubuhnya yang bersandar hingga duduk tegak di kursinya.
"Ah itu.." Masih panik dan gugup, aku bergumam acak merespons ucapannya. "Aku baik-baik saja. Maafkan aku." Aku menundukkan pandanganku, kembali fokus untuk mengompres tangannya yang terluka. Bahkan untuk beberapa saat aku melupakan fakta bahwa dis terluka di tangannya. Sialan.
"Kenapa kau harus minta maaf?" dia bertanya, ada nada heran pada suaranya.
Karena aku mengagumi wajahmu seperti orang m***m! Jeritku dalam jati. Namun aku memilih kata lain sebagai jawaban.
"Ya, karena ucapanku tentang hidupku yang kacau, membuatmu memalu tanganmu sendiri hingga terluka."
"Tidak seperti itu," elak Johan, membuatku tersenyum samar, dia tampak panik, mungkin merasa tidak enak denganku. "dan hidupmu tidak kacau." Lanjutnya lagi, setengah menggerutu.
Aku terkekeh pelan, menatap wajahnya sekilas, sebelum kembali fokus ke tangannya, mengompres lukanya.
Seharusnya ini terasa dingin. Mengingat aku memegang handuk yang berisikan es, mengompres tangan Johan yang berada di genggamanku. Namun yang aku rasakan malah sebaliknya. Ini terasa hangat dan salah.
Aku suka dengan interaksi dan kedekatan kami sekarang. Genggaman tanganku pada tangan kirinya, kami yang duduk begitu dekat. Aku bisa mencium aroma menyegarkan itu lagi, aku bisa mendengarkan napasnya yang berembus.
Apa aku sangat menginginkan figur seorang ayah yang hampir tidak pernah aku dapatkan? Atau aku jatuh cinta dengan Johan?
Bahkan kata jatuh cinta terdengar sangat menggelikan untuk di ucapkan dalam situasi kami sekarang.
"Apa kau bahagia?"
Suara tiba-tiba itu membuatku mendongakkan kepala, menatap Johan yang juga tengah memandangku dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan.
"Sekarang?" aku balik bertanya.
"Ya, sekarang." Johan menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja aku bahagia," Jawabku tanpa berpikir panjang. "Ayahku mengirimiku uang dalam jumlah yang besar setiap bulannya," aku terkekeh pelan saat menjelaskannya. "ibuku selalu membebaskanku melakukan apa saja dan tidak mengekangku seperti ibu-ibu orang lain," Tambahku lagi kepada Johan. "aku juga memiliki pacar yang tampan, ingat?" Gumamku dengan bangga, menambahkan nada humor saat aku berbicara. "dan sekarang aku menghabiskan liburan semesterku di rumah pacarku, menemukan fakta jika ayahnya tampan dan kaya."
Aku jujur dengan semuanya, namun kata tampan itu meluncur begitu saja dari mulutku dengan lancang, dan aku menyesalinya di detik berikutnya.
Menatap mata Johan dengan pandangan takut-takut. Aku menemukan seulas senyum samar pada wajahnya yang tampan. Ya, dia memang tampan. Kemudian dia berbicara.
"Senang mengetahui semuanya," ujarnya dengan suara yang terdengar cukup lembut di telingaku. Tidak ada nada sarkasme ataupun menghakimi dalam nada bicaranya, membuatku bernapas lega.
Aku membalas senyumannya, dan menjawab. "Ya, tentu saja."