JOHAN POV
Aku membuka mataku perlahan, mengerjapkan beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar sadar.
Tetesan air hujan terdengar menghantam talang. Tidak besar, hanya rintik-rintik kecil, yang membuatku enggan untuk sekedar beranjak dari ranjang.
Aku menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah jam yang terletak di meja nakas. mataku menemukan angka lima lewat tiga menit.
Entah sudah berapa lama tubuhku bekerja secara otomatis. Namun selama beberapa tahun terakhir, aku alam bawah sadarku selalu membuatku bangun di jam yang sama setiap harinya. Seberapa keras aku mencoba untuk kembali tidur, hasilnya sia-sia.
Dan sekarang bayangan gadis bernama Isabella yang pertama muncul di kepalaku saat kesadaranku mulai penuh.
Aku bisa merasakan hal yang aneh saat pertama kali bertemu dengannya. Jantungku berdegup kencang, suhu tubuhku meningkat, dan aku bisa merasakan desiran darahku memanas. Aku pernah melihat wanita cantik, banyak wanita cantik. Namun Isabella berbeda, dia sangat cantik, jenis kecantikan yang membuatku tidak bisa mengabaikan dan mengalihan perhatianku begitu saja.
Suara dalam diriku berkata, ini dia orangnya, Johan. Kau jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita yang kau cari ada di sini. Kau hanya perlu menangkapnya dan memintanya untuk menjadi milikmu. Jika kau tidak melakukan sekarang, maka kesempatanmu akan hilang.
Andai sesimpel itu. Andai semudah itu.
Karena faktanya tidak demikian.
Wanita itu—, tidak, gadis itu tepatnya. Dia terlalu muda untukku. Aku menginginkannya, namun aku tidak bisa memilikinya. Dia memiliki pacar, dan pria beruntung itu adalah anak semata wayangku. Adam Tonias.
Sialan.
Ya, Tuhan. Dosa apa yang sudah aku lakukan hingga di beri cobaan yang begitu berat seperti ini.
Persetan.
Sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu sering mengumpat. Jika rumahku memiliki toples yang mengharuskan aku mengisinya dengan uang untuk setiap umpatan yang aku lontarkan, sepertinya toples itu sudah penuh sekarang.
Dan lebih parahnya lagi, otakku di penuhi oleh imajinasi-imajinasi liar tentang pacar anakku. Dan itu situasi ini membuatku sangat frustrasi.
Jelas aku bukan orang yang seperti itu. Sama sekali bukan. Aku bukan jenis pria paruh baya c***l dengan pikiran kotor.
Mungkin banyak orang menganggapku liar karena memiliki anak saat usia tujuh belas tahun. Namun sebenarnya tidak, karena itu murni kecelakaan. Aku sedang mabuk dan berpesta, terhanyut dalam suasana panas dengan pacarku.
Siapa sangka, malam di mana aku kehilangan keperjakaanku adalah malam di mana aku berhasil menciptakan Adam.
Aku bahkan tidak ingat proses pembuatannya karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol. Namun anak itu benar-benar ada.
Yang aku ingat adalah Luna, pacarku yang datang kepadaku empat bulan kemudian, dengan sebuah alat tes kehamilan yang memiliki garis dua.
Ya, semua terasa berat. Membangun rumah tangga di usia muda. Walau tidak berhasil, Namun semua tampak sepadan saat aku memikirkan Adam.
Dia anak lelakiku yang sangat lucu mengemaskan. Dulu.
Ada masanya kami menghabiskan waktu untuk memancing dan berkemah. Aku mengajarinya menaiki atv untuk pertama kali, dan hal-hal lain yang sempat kita bagi bersama sebagai dua orang sahabat pria.
Namun kini semuanya tinggal kenangan. Aku sudah lupa kapan terakhir kalinya kami berbicara dan berbincang dengan normal. Tanpa ada nada sinis dan sindiran di setiap kalimatnya.
Entah apa kesalahan yang sudah aku lakukan. Namun anakku berubah menjadi remaja pemarah yang selalu bersikap dingin kepadaku.
Dan sekarang aku memendam perasaan aneh terhadap pacarnya. Jika Adam tahu, aku yakin jika yang pertama kali dia lakukan adalah mengambil senapan laras panjang dari gudang, lalu membuat beberapa lubang di kepalaku.
Fuck!
Aku mengusap wajahku gusar, Menyadari bahan kasar dari kain kasa yang melilit jari telunjukku. Membuat kepalaku kembali memutar memori kami tentang insiden pagar rusak kemarin.
Isabella yang tampak panik saat aku dengan bodohnya menghantamkan palu ke jariku sendiri sekuat tenaga, hanya karena terkejut dengan fakta yang sedang dia ceritakan. Aku menyukai ekspresi wajahnya.
Dia sangat cantik, dengan rambut hitam berkilau, dan aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya. Ekspresi wajah yang terkadang malu-malu, namun terkadang juga ada ketegasan pada dirinya.
Aku juga bisa merasakan jika gadis itu mencoba untuk mencairkan ketegangan di antara aku dan Adam.
Adam terlihat begitu mencintainya. Cara putraku itu menatap Bella nya, cara bicaranya yang sangat bertolak belakang dengan saat dia berbicara denganku. Isabella seperti pawang yang bisa menjinakkan Adam.
Dan semua fakta itu benar-benar membuatku marah.
Aku menginginkannya, tapi aku bahkan tidak boleh untuk menyentuhnya.
Entah sejak kapan aku memiliki sifat obsesif seperti ini. Rasa ingin memiliki yang besar, atau cinta pada pandangan pertama yang di bicarakan orang-orang, aku tidak tahu bagaimana bentuknya.
Aku tidak pernah merasakan getaran sedikit pun saat melihat seorang gadis ataupun wanita. Bahkan dengan Luna, mantan istriku.
Dan setelah perceraian kami, aku tidak pernah benar-benar berkencan dengan wanita.
Beda cerita dengan one night stand yang terkadang aku lakukan. Ya, tidak ku pungkiri jika Aku adalah pria dewasa yang memiliki kebutuhan untuk di penuhi.
Namun gadis itu berbeda. Saat pertama kali aku melihatnya, aku bisa merasakan medan magnet di sekelilingku menjadi kacau. Seolah dunia berpusat pada dirinya.
Dia tidak melakukan apa pun untuk menarik perhatianku. Namun semua yang dia lakukan membuatku terpaku. Cara dia menyelipkan sebagian rambut hitamnya ke belakang telinga, cara dia berjalan. Cara dia memandangku dengan tatapan gugup saat mata kami pertama bertemu.
Semua yang dia lakukan, membuat tubuhku seolah di aliri oleh sengatan listrik. Lalu aku menjabat tangannya untuk kali pertama.
Sialan, aku tidak akan bisa melupakan sensasinya. Sentuhan singkat itu membuat pe nisku setengah ereksì dengan cara menyakitkan.
Dan sekarang, belum ada empat puluh delapan jam sejak dia tinggal di rumahku. Aku sudah dua kali mas turbasi dengan membayangkan wajah Isabella di kepalaku seperti remaja bodoh.
Ya, aku merasa sangat kotor sekarang. Mungkin aku harus pergi ke gereja untuk membuat pengakuan kepada pendeta.
Cahaya redup dari matahari terbit mulai merasuki kamarku saat aku memutuskan untuk bangun. Hujan tampaknya sudah berhenti, hanya menyisakan awan mendung yang masih mengantung di langit.
Telanjang d a d a, aku melangkah gontai memasuki kamar mandi, menghela napas panjang saat menatap bayanganku di cermin besar yang terpasang di atas wastafel.
Aku mencengkeram kedua sisi wastafel dengan kuat, memejamkan mata saat aku menarik napas panjang beberapa kali, berusaha untuk menghirup energi positif dan membuang energi negatif yang sudah mulai mengusai diriku akhir-akhir ini.
Aku tidak ingin memulai hariku dengan mas turbasi seperti kemarin. Membuka mataku perlahan. Aku menyalakan air kran dan mulai membasuh wajahku dengan air dingin.
Mencoba meredakan pikiranku dan juga pe nisku yang kini menegang.
Sumpah, ini bukan karena Isabella. Normal bagi pe nis pria untuk bangun di pagi harinya.
Menyelesaikan rutinitas pagiku dalam waktu kurang dari lima belas menit, mengganti celana piyamaku dengan kaos dan juga celana jins ku, aku mengamati bayanganku di cermin saat menyisir rambut dan memastikan jika janggutku tercukur dengan rapi hari hari ini.
Astaga, sejak kapan aku menjadi sangat peduli dengan penampilanku.
Aku merutuki diri, mengacak rambutku yang sudah aku sisir rapi, dan memilih untuk mengaturya lagi dengan jemariku.
Menarik salah satu kemejaku dari lemari pakaian, aku meraih dompet, jam tangan dan juga handphoneku yang tergeletak di atas nakas, menyelipkannya di saku celana jinsku saat aku meraih pintu kamar dan keluar.
Saat menyusuri lorong, aku menatap pintu kamar yang terletak tepat di samping kamarku. Kamar yang biasanya kosong namun sekarang di tempati oleh Adam dan pacarnya. Pintunya masih tertutup rapat, mengamatinya sebentar, aku segera menggelengkan kepala cepat untuk mengusir pemikiran-pemikiran aneh dari kepalaku tentang kamar putraku itu.
Aku harus bisa bersikap normal. Jangan jadi orang dewasa tidak bermoral ataupun ayah yang berengsek bagi Adam.
Dan saat aku sampai di ujung lorong, di puncak tangga, indra penciumanku menangkap aroma asing yang belum pernah aku cium sebelumnya.
Apa ada sesuatu yang terbakar atau apa?
Aku menuruni tangga dengan cepat, dan saat sampai lantai dasar, aku menyadari jika lampu dari arah dapur sudah menyala. Berjalan mendekat, mataku menangkap sosok Isabella, duduk di salah satu kursi bar pada kitchen island, memainkan handphone di tangannya dengan cangkir dan piring yang aku duga berisi roti panggang.
Ah, jadi tidak ada kebakaran, melainkan roti panggang. Entah sudah berapa lama aku tidak mencium sesuatu dari dapurku, selain makanan siap saji yang aku hangatkan setiap hari. Aku bahkan tidak mengenali baunya.
Mungkin dia mendengar suara langkahku atau bagaimana, karena saat aku sampai di sana kepalanya menoleh, menatapku melalui bahunya.
“Good morning.” Bella menyapaku lengkap dengan senyuman di wajahnya. Hari ini dia mengenakan croptop tanpa lengan, berpadu dengan celana pendek yang memamerkan separuh pahanya yang mulus.
Dadaku berdebar, Dan di waktu yang sama aku menyadari jika penampilan dan juga senyuman gadis cantik itu tidak bagus untuk kesehatan jantungku.
“Morning,” jawabku, melangkah mendekat ke arahnya, tanganku bergerak untuk memakai jam tangan yang ternyata masih aku genggam bersama dengan kemejaku. “pagi sekali kau bangun..” gumamku sedikit heran. Dan Bella hanya tertawa ringan.
“Aku membuat kopi jika kau mau.” Dia menunjuk ke arah teko, aku berjalan melewatinya, memakai kemejaku cepat saat berjalan menuju laci untuk mengambil cangkirku.
“hari ini kopi?”
Aku bertanya tidak bisa menyembunyikan keherananku. Sementara tanganku bergerak menyingkap lengan kemejaku hingga siku.
“Yaa—,” jawabannya terdengar ragu-ragu. “aku menemukan roti tawar di kulkas lalu memanggangnya, maaf jika aku lancang.”
“Tidak masalah, kau bisa menggunakan dapurnya.”
Aku berjalan menuju kitchen island tempat dia duduk sekarang. Menuang kopi yang masih tampak hangat itu untuk mengisi cangkirku.
“Ada masalah dengan tidur mu?”
Aku bertanya dengan hati-hati, berusaha tidak ingin terlihat mencolok terlalu ingin tahu dengan masalah yang mungkin dia hadapi. Namun, fakta dia bangun pagi dan juga mengonsumsi kopi benar-benar menggangguku.
“Tidak.” Bella menggelengkan kepala, sementara aku masih bingung antara memutuskan untuk meminum kopiku dalam posisi berdiri atau duduk di sampingnya. “aku hanya tidak bisa menemukan teh kamomilmu di mana-mana.” Lanjutnya lagi dengan nada geli.
Jawaban tidak terduga itu membuatku tertawa rendah, sepertinya dia tahu jika aku sedikit mengkhawatirkan dirinya tentang kopi pagi ini.
“Aku menyimpannya di sana.” Kataku sembari menunjuk ke arah salah satu laci yang terletak paling ujung, dekat dengan kulkas, sementara dia mengangguk-anggukan kepala tanda paham saat matanya mengikuti jari telunjukku, aku sudah memutuskan meraih salah satu kursi bar di sampingnya itu, lalu duduk di sana.
Menyesap sisi cangkirku, Kami saling terdiam. Hanya ada aroma kopi, sepiring roti panggang, berpadu dengan helaan napas panjang milik Bella yang sesekali terdengar, dan juga aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya.
Pasti rasanya sangat manis.
Aku menatap ke arahnya melalui ekor mataku. Menemukan tangannya yang berkulit pucat tengah mencengkeram cangkir kopinya dengan jemari-jemarinya yang mungil.
Ya, sekarang aku memiliki gambaran bagaimana dia mencengkeram bagian tubuhku dengan jemarinya yang mungil itu.
Sial. Aku pemikiran acak itu muncul begitu saja di kepalaku.
“Adam belum bangun?” aku bertanya memecah keheningan di antara kami, berusaha mengalihkan fokusku ke hal lain.
“Ku rasa belum.” Bella menjawab dengan nada enggan.
Kemarin Adam pulang dari lari paginya saat jam menunjuk ke angka tiga sore. Aku bisa melihat kemarahan di mata Bella. Mereka saling berteriak sebentar, namun sepertinya mereka baik-baik saja saat makan malam.
Entahlah, aku juga tidak begitu ingin tahu dengan apa yang terjadi di antara mereka. Terlalu ikut campur bukanlah hal yang bagus, terlebih mereka berdua sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah mereka sendirian.
“Bagaimana tanganmu? Apa masih sakit?”
Sepertinya kami berdua sama-sama sibuk untuk mengalihkan topik pembicaraan kami.
“Ya, aku rasa sekarang sudah baik-baik saja.” Kataku sembari menunjukkan jari telunjukku yang masih berbalut kain kasa itu kepadanya. Bella mengamatinya sebentar, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya berkomentar singkat.
“baguslah.”
Tangannya mengangkat cangkir dan mendekatkannya ke arah bibir, meniupnya sebentar lalu menyesap kopinya perlahan.
Manis sekali.
Mengikutinya, aku melakukan hal yang sama dengan cangkir kopi di tanganku. Menoleh untuk mengamati Bella dari samping, sekarang aku merasa sedikit cemas. Aku ingin bertanya apa dia baik-baik saja. Aku ingin tahu apa ada sesuatu yang mengganggunya hingga dia bangun sepagi ini. Aku ingin tahu semua yang sedang di pikirkan olehnya.
Kali ini Bella meraih satu potong roti panggang dan mengunyahnya.
“Apa kau sedang bertanya-tanya?”
Isabella bertanya dengan tiba-tiba, membuatku tergagap. Apa dia bisa membaca pikiranku? Atau apa?
“Ya?” aku balik bertanya dengan jantung berdebar.
Dia menoleh untuk menatapku, masih dengan roti ditangannya.
“Aku pikir kau sedang bertanya-tanya dalam hati, apakah dia akan menghabiskan roti panggangnya sendiri, atau akan membaginya denganku?” Kata Bella dengan nada seolah-olah tengah meniru gaya bicaraku, dan itu sukses membuatku tertawa.
“Sial, apa ada air liur di bibirku?” sahutku sembari berpura-pura mengusap sudut bibirku untuk menimpali candaannya.
“Hampir menetes.” Bella tertawa. “kau bisa memilikinya.” Lanjutnya sembari menggeser piring rotinya ke hadapanku.
“Terima kasih atas belas kasihannya, nona.”
Aku bisa mendengar dia kembali terkekeh geli saat aku menerima piring roti panggangnya dan mengambil satu potong dari sana. Dan aku hampir tidak bisa memakan rotiku dengan benar karena bisa merasakan matanya terus mengamatiku dari samping.
“Mmm.. ini cukup enak.” Aku yang merasa harus memberi ulasan bagus tentang roti panggang buatannya berkomentar.
“Ya seperti itulah rasa roti panggang seharusnya.” balas Bella dengan nada geli, lalu bergerak untuk menggigit roti di tangannya lagi.
Menghabiskan sisa kopi dan rotiku dengan sangat lambat. Aku tidak ingin sarapan bersama Bella yang sama sekali tidak aku rencanakan itu berakhir dengan cepat. Kami mengobrol santai, sesekali melempar lelucon konyol, dan tertawa bersama.
Aku sama sekali tidak menyangka jika akan memiliki momen seperti ini dengan Bella. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya.
Namun rasanya pasti sangat aneh jika aku terus saja duduk di depan cangkir dan piring kosong. Lagi pula aku memiliki jadwal yang harus aku lakukan pagi ini.
Menyesap tetes-tetes terakhir kopiku dari cangkir, aku dengan berat hati bangkit dari kursi. Membawa peralatan kosong itu menuju tempat cuci piring, di ikuti oleh Bella di belakangku.
“aku bisa mencuci milikmu sekalian.” Aku menoleh untuk menatap gadis itu melalui bahuku, menyarankan agar meninggalkan cangkirnya bersama milikku yang berada di wastafel. Dia menurut dan meletakkan cangkir keramik itu di hadapanku, namun tidak pergi, memilih untuk berdiri di sampingku.
“Biar aku bantu.”
Aku tidak menolak, dan memilih untuk diam, membiarkan Bella tanpa bersuara. Ya, begitulah aku, pria kikuk dan lebih suka menghindari perdebatan.
Aku mulai menggosok piring dan cangkir kami, sementara Bella yang berdiri cukup dekat denganku itu membantuku untuk membilasnya.
Kami berdiri cukup dekat, sangat dekat. Hingga saat aku bergerak untuk menggosok cangkir terakhirku, bahuku menyentuh bahu miliknya tanpa sadar.
Ya Tuhan, aku ingin menyentuhnya lagi. Dan memikirkan itu semua membuatku seperti pria paruh baya yang mengerikan.
Beruntung aku segera berhasil menyingkirkan ide aneh itu dari kepalaku.
Kami selesai sarapan, dan membereskan semuanya. Tapi Adam belum juga muncul dari kamarnya. Sepertinya dia masih tidur.
Ya, sekarang saatnya bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Bella, dan gadis itu akan kembali kepada pacarnya.
Berjalan meninggalkan area dapur, sekarang rumah sudah benar-benar di penuhi oleh cahaya di mana-mana. Hujan sudah sepenuhnya berhenti, dan suasana muram tadi pagi kini sudah menghilang, sepertinya matahari akan bekerja keras untuk menyinari bumi pagi ini.
Aku tengah menuju pintu depan saat suara Bella terdengar di belakangku.
“Apa kegiatanmu hari ini?”
Aku berhenti dan menoleh, dan menemukan dia berdiri tidak jauh dariku, menatapku dengan canggung.
“Hanya—,” aku tidak yakin dengan jawabanku sekarang. “ada berapa tempat yang harus aku cek pagi ini.” Menggaruk belakang kepalaku yang sama sekali tidak gatal, menyadari jika kepalaku telanjang sekarang. Mataku masih menatap Bella yang kini berdiri dengan bertumpu di satu kaki, kaki lainnya bergerak mengusap betisnya sendiri.
Apa dia gugup?
“Bolehkah aku ikut?”
“Ya, tentu saja.” Jawabku hanya per sekian detik setelah dia bertanya.
Sial, aku pasti terlihat sangat antusias sekarang.