JOHAN POV
“Aku akan mengambil topi sebentar.” Kataku lagi di tengah-tengah kecanggungan kami. Bella mengangguk dan segera melesat menuju tangga dan menapakinya menuju lantai dua. Kembali ke kamarku untuk meraih topi bisbolku yang aku temukan di atas laci.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali ke lantai bawah, dan aku tidak menemukan Bella di sana. Mungkin dia mengikuti ke atas untuk bersiap-siap tanpa sepengetahuanku. Entah lah.
Berbelok menuju dapur, aku menulis catatan untuk Adam berisikan pemberitahuan jika aku keluar untuk bekerja, menempelkannya di pintu kulkas.
Lalu aku bergegas menuju depan untuk memakai sepatu bot kerjaku cepat, meraih kunci mobilku dari mangkuk keramik dan meraih pintu yang ternyata sudah tidak dalam posisi terkunci. Dan saat aku membukanya, mataku menemukan Bella. Duduk di lantai teras, sibuk memakai sepatu converse nya.
Aku menahan napas saat mengamatinya dari belakang. Dia menunduk dan secara otomatis crop top nya tertarik ke atas, menampilkan sedikit tulang ekornya dan punggungnya.
Jadi dia akan pergi denganku dengan baju dan celana pendek terkutuk itu?
Selesai dengan sepatunya, dia berdiri, dan menoleh untuk menangkap basah diriku yang tengah menatapnya diam-diam.
“Aku sudah siap,” katanya lengkap dengan senyum lebar di wajahnya. “tidak apa-apa kan jika aku memakai ini? Aku ingin ganti baju tapi terlalu malas untuk kembali ke kamar.” Jujurnya lagi saat menatap pakaiannya sendiri, dan cepat-cepat menjawab.
“Tidak ada masalah kok,” kataku sembari menelan ludah kasar. Melewatinya menuju ford raptorku yang terparkir di samping volkswagen milik Adam di halaman.
Tidak ingin kembali ke kamar? Apa itu kode untuk malas bertemu dengan Adam?
Aku menerka-nerka dalam hati, dan menekan tombol buka kunci. Menoleh untuk menatap Bella lagi, gadis itu masih berdiri di bagian teras.
“Hati-hati jalanannya licin.” Kataku hampir berteriak kepadanya lalu masuk ke dalam mobil. Dia tertawa, menghampiriku dengan lari-lari kecil, menyusulku untuk masuk, menempati kursi penumpang di sampingku.
“Kau memiliki mobil yang sangat keren.” pujinya sesaat setelah menutup pintu, sementara aku yang tengah menyalakan mesinnya tertawa.
“Pernah menaiki truk sebelumnya?” tanyaku sedikit merasa penasaran. Tanganku bergerak untuk memutar topi bisbol di kepalaku hingga menghadap ke belakang, sementara tanganku yang lain meraih kaca mata hitam yang aku temukan di dashboard.
Aku menoleh dan menemukan dia menggelengkan kepala cepat. Membuatku kembali terkekeh pelan.
“Senang bisa memberimu pengalaman pertama.” Kataku dengan nada bercanda, di sambut tawa renyah milik Bella. Gadis itu menarik sabuk pengaman, memakainya. Sementara aku meraih tuas dan memundurkan mobilku melintasi halaman depan, membawanya menuju jalan.
Ya, gadis kaya seperti Bella tentu tidak memiliki kesempatan untuk menaiki mobil jenis truk seperti ini, mereka akan lebih suka mengendarai mobil elegan seperti BMW ataupun mercy.
Menyusuri jalanan yang cukup sepi, kami berkendara dalam keadaan sunyi. Aku mencengkeram kemudi mobil dengan erat, melirik ke samping untuk menatap Bella yang kini tampak tengah memeluk dirinya sendiri, menatap ke jalanan luar.
Ya, walaupun matahari sudah muncul dan bersinar, namun udara sekarang cukup dingin. Dan dengan baju kurang bahan yang dia kenakan itu, tidak heran jika Bella merasa kedinginan.
Aku tidak tahu harus berbicara apa untuk memulai pembicaraan dengannya. Dan kesunyian di antara kami membuatku tidak nyaman.
Mencuri-curi pandang ke arahnya. Mataku selalu salah fokus untuk terus menatap pahanya yang mulus terekspos itu.
Sial. Aku tidak menginginkan milikku bangun sekarang!
Menarik napas panjang, aku menelan ludah kasar dan mencoba mengembalikan fokus dan juga kewarasanku dengan menatap lurus ke depan. Tanganku bergerak untuk menekan tombol radio dan menyalakannya. Tindakan yang membuat Bella bergerak, mengubah posisi duduknya hingga menghadap ke depan.
“Kau bisa memilih sesuatu jika mau.” Kataku kepadanya tentang lagu atau apa pun yang ingin dia dengarkan.
“Ini okey,” katanya tentang lagu yang tengah di putar sekarang, aku tidak tahu lagu siapa, namun aku mengakuinya jika lagu itu memang cukup enak di dengar. Sementara Bella mengangguk-anggukan kepala mengikuti alunan lagu yang berputar cukup lembut itu.
Kami kembali saling terdiam, dan Aku memilih untuk mendengarkan, memahami lirik dari lagu yang mengalun lembut tersebut. Tentang seseorang yang terlalu bergantung dengan cinta, tetap bertahan di hubungan toxic dan walaupun beberapa kali menerima kekerasan dan penolakan.
“Bagaimana menurut mu tentang lagu ini?” suara Bella terdengar, menyadarkan aku dari lamunan. Menoleh, aku menemukan Bella juga tengah menatap ke arahku.
“Lagunya bagus.” Aku menjawab dengan jujur. Kembali fokus ke jalanan depan sana.
“Maksudku, makna dari lagunya.” Ada nada kesal dari suaranya, membuatku menoleh sekilas untuk menatapnya.
“Aku tidak tahu.” Jujurku kepadanya. “sesuatu tentang cinta, aku tidak begitu paham.” Kataku lagi, sedikit merasa malu. Bisa-bisanya dia bertanya tentang cinta kepada pria yang tidak bisa mempertahankan pernikahannya.
“Ayolah, kau sudah pernah menikah dan berumur empat puluh tahun.” Bella terdengar tidak puas dengan jawabanku.
“Tiga puluh delapan.” Ralatku tentang umurku.
“Nah tiga puluh delapan, tentu kau memiliki banyak pengalaman.” Kata Bella lagi.
“Sayangnya aku tidak.”
“Apa kau tidak berkencan?” dia kembali bertanya.
“Apa kita sedang membicarakan kehidupan pribadiku?” aku balik bertanya tanpa menatapnya.
“Maksud ku kau tampan, kaya, sangat aneh jika tidak berkencan dengan siapapun.”
Jadi aku tampan ya di matanya? Ya, Tuhan. Sepertinya aku akan terbang.
Berdeham sebentar untuk menemukan suaraku, aku berbicara.
“Aku tinggal di sini sepanjang waktu, kota kecil. Sebagian besar wanita dan gadis yang ada di sini merupakan anak ataupun saudara seseorang yang aku kenal. Rasanya tidak nyaman jika berkencan dengan salah satu dari mereka.”
Bella tertawa kecil saat mendengar jawabanku. Memang terdengar lucu, tapi memang faktanya begitu.
“Berarti kau harus mencari wanita dari kota lain.” Katanya memberi saran yang tidak begitu penting.
Ya, sepertinya aku sudah tertarik dengan gadis dari kota lain. Sayangnya dia terlalu muda dan juga pacar dari putraku.
“Ya, mungkin aku harus mencobanya.” Aku tersenyum kecut saat mengatakannya. Dan dari ekor mataku, aku bisa melihatnya mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. “Apa kau bertengkar dengan Adam?” aku mendapatkan ide untuk menanyakan hal itu. Ya, dia sudah berani membahas masalah pribadiku, dan aku rasa, bertanya tentang Adam bukanlah masalah.
“Sejak kapan kau menyimpan pertanyaan itu?” Ada nada geli dari pertanyaannya. Sepertinya dia tahu aku sudah ingin menanyakan hal itu sejak lama.
“Sejak aku menemukanmu di dapur dengan kopi dan roti panggang tadi pagi, mungkin.”
Dia tertawa, memeluk dirinya lebih erat.
“Jawabannya tidak.” Katanya. “kami tidak bertengkar.”
“Begitu ya,” aku bergumam pelan mendengar responsnya. Melepaskan tangan kiriku dari mengemudi untuk mengusap bibirku dengan punggung tangan.
Haruskah aku berhenti? Atau bertanya lagi.
Hening.
“Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyaku kemudian setelah menimbang-nimbang untuk bertanya atau tidak cukup lama.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Ya—, kau tampak sedikit kesal dan murung.” Sahutku dengan sedikit ragu. “aku tidak memaksamu untuk bercerita kepadaku, oke. Tapi jika kau mau berbagi tentang sesuatu, mengeluarkan uneg-uneg tentang Adam, kau bisa berbicara denganku. Mungkin aku bisa mendisiplinkannya atau apa.”
“Mendisiplinkannya?” dia balik bertanya seolah tidak yakin dengan apa yang aku katakan. “ku rasa itu hal terakhir yang bisa kau lakukan kepadanya.” Aku rasa dia mengejekku sekarang.
“Kau berpikir aku tidak bisa melakukannya?”
“Bukan tidak bisa, tapi aku merasa kau akan memilih untuk tidak melakukannya.” Bella mendesah pelan saat mengatakannya, membuat alisku mengernyit. “Dari cerita yang aku dengar, kau selalu membiarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan.”
“Apa dia menyakitimu?” pertanyaan itu mengalir saja dari mulutku, tanganku mencengkeram kemudi mobil lebih erat, jantungku berpacu cepat.
“Tidak.”
Aku langsung bernapas lega saat mendengarnya. Ya, tentu saja Adam tidak melakukannya, dia mencintai Bella. Aku tahu itu.
“Jika dia menyakitiku, apa kau akan ada di pihakku?”
“Apa yang kau bicarakan, dia tidak akan menyakitimu, okey.” Kataku dengan nada gusar.
“Ya, sudah aku duga kau akan berada di pihak Adam.”
Dia menggerutu, mengubah posisi duduknya sedikit menyamping kembali menatap ke luar melalui kaca di sampingnya.
Apa dia marah sekarang? Kepadaku? Demi Tuhan, di mana salahku?
“Jika ada yang menyakitimu, tentu aku akan berada di pihakmu, Isabella.” Kataku setelah memikirkan kata-kata yang tepat untuk aku ucapkan kepadanya. “Aku akan membelamu, dari siapa pun itu.” Janjiku dengan sungguh-sungguh, kepada gadis yang aku kenal belum sampai empat puluh delapan jam.
Kau benar-benar gila, Johan. Aku menertawakan diriku sendiri dalam hati.
“Sungguh?” matanya berbinar saat kembali menatapku, dan aku menganggukkan kepala mengiyakan.
“Janji?” dia mengulurkan jari kelingkingnya kepadaku.
“Janji.” Jawabku menerima jemarinya dan mengaitkan dengan kelingkingku sendiri.
Dia tersenyum sangat lebar saat jemari kami terjalin. Meraih ibu jariku dan menempelkannya ke miliknya saat dia kembali berkata.
“Aku sudah menyegelnya dengan stempel, jadi kau tidak bisa melanggar janjimu.”
Aku tertawa menanggapinya.
"Dan berhenti memanggilku Isabella mulai sekarang, itu benar-benar mengigatkanku kepada nenekku."
"Aalam artian baik atau buruk?"
"Buruk!" serunya dengan suara cukup kencang, membuatku terkekeh saat mendengarnya.
"Baiklah, Bella. Senang sekarang?"
"Ya, itu lebih baik." jawabnya lengkap dengan senyum lebar yang kini menghiasi bibir indahnya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Bella sekarang. Namun sungguh, aku tidak ingin melihatnya murung ataupun bersedih. Jika janji atau permintaan untuk berhenti memanggilnya Isabella itu membuatnya merasa lebih baik, aku akan melakukannya dengan senang hati.
“Jadi kita akan ke mana hari ini?” dia menatapku dan bertanya, kali ini nadanya terdengar ceria di telingaku. Sepertinya suasana hatinya sudah membaik sekarang.
“Mencari seseorang.” Gumamku dengan suara samar, meletakkan kembali tanganku ke bibir untuk menutupinya saat berbicara.
“Siapa?” tanya Bella dengan nada penasaran.
“Hanya seseorang, tidak ada yang spesifik.” Lanjutku lagi membuat dahinya mengerut dalam. “kita akan parkir di dekat hutan, dan aku akan memberimu sebuah sekop.” Lanjutku lagi, melirik ke arahnya, Bella tampak terlihat sangat serius mendengarkannya.
“Dan saat ada yang datang, kita akan memukul kepalanya dari belakang. Menyeretnya ke dalam hutan dan menguburnya dengan sekop yang kau bawa.”
“What the f**k are you talking about, Johan.” Dia mengumpat, sementara aku tertawa karena dia sangat tegang saat mendengarkan rencanaku.
Jesus christ, bahkan cara dia mengumpat pun terdengar seksi di telingaku. Dan aku ingin mendengarkan dia menyebut namaku lagi dengan bibirnya itu.
“Kau menyebalkan.” Tambah dia lagi sembari memukul bahuku ringan. Membuat tawaku semakin meledak. Sial, dia sangat lucu sekarang.
Meredakan tawaku, aku menolehnya sekilas dan menemukan wajahnya tertekuk dan cemberut. Menarik napas panjang agar tenang, aku melipat bibirku ke dalam, menahan diri agar tidak tertawa lagi.
“Aku memiliki beberapa lahan pertanian, jadi hari ini aku akan mengecek salah satunya,” jelasku kepadanya tentang kegiatanku hari ini, Bella menoleh dan membuka mulutnya.
“Kau seorang petani?” dia bertanya seolah itu adalah hal aneh.
“Kenapa? Ada yang aneh?” aku balik bertanya saat menarik tuas ke bawah untuk nyalakan lampu sein, membelokkan mobilku keluar dari jalan raya.
“Seorang petani mengendarai ford raptor. Itu cukup aneh.” Jawabnya membuatku tertawa.
“Jadi kau paham tentang mobil juga.”
“Tidak juga.” Gumam Bella dengan nada rendah. “aku mengeceknya di google semalam karena trukmu terlihat keren.” Akunya dengan malu-malu saat menatapku.
Kenapa dia mencari hal tentang mobilku di google? Apa dia penasaran atau apa.
“Jangan bilang kau memiliki ladang ganja?” tuduhnya lagi menatapku dengan padangan menyelidik.
“Tentu tidak.” Aku hampir tertawa lagi karena tuduhan liar yang di layangkan oleh Bella. “kau akan tahu sebentar lagi.” Kataku mengingatkan jika kami memang sedang menuju lahan pertanianku sekarang.
Bella mengangguk-anggukkan kepala, sementara aku kembali fokus mengemudi saat aku memutuskan untuk bertanya kepadanya.
“Kau bisa mengemudi?”
Dia menoleh dan menganggukkan kepala.
“Ayahku memberiku mobil pertamaku saat ulang tahunku ke tujuh belas.”
“Keren.” Komentar tidak penting itu meluncur begitu saja dari mulutku, kali ini Bella yang tertawa.
Aku menepikan trukku di ujung jalan dan memarkirnya di sana. Mematikan mesin saat aku menoleh ke arah Bella yang juga tengah menatapku.
“Kita sudah sampai?” Dia bertanya saat tangannya bergerak untuk melepas sabuk pengamannya.
“Ya, di sekitar sini,” jelasku sembari melakukan hal yang sama dengan sabukku lalu membuka pintu trukku. “kita perlu berjalan kaki sebentar dari sini.” Kataku lagi dan Bella sudah melompat turun dengan semangat.
Aku bisa melihatnya tampak antusias mengamati ke sekeliling yang di penuhi oleh hamparan lahan pertanian yang sebagian besar di tanami dengan pagi.
Bella sedang mengeluarkan handphonenya dan tampak tengah mengambil gambar saat aku turun dan menutup pintu untuk membuka pintu lain di bagian belakang. Mataku memindai ke sekeliling kursi belakang sebelum akhirnya meraih sebuah paper bag dari sana.
Ya, aku ingat untuk selalu memiliki baju ganti di mobilku. Bekerja di pertanian membuatku berkeringat sangat banyak, dan aku membutuhkannya. Mengorek isinya, aku mengeluarkan kemeja flanel ku dan juga topi bisbol lain dari kantong berbahan kertas tersebut. Menutup pintu mobilnya lagi, lalu berjalan mengitari mobil menuju Bella yang masih sibuk dengan handphonenya.
“Bella..” aku memanggil namanya dan dia menoleh untuk menatapku. Menyimpan kembali smartphonenya itu ke dalam saku belakang celananya saat aku mengulurkan kemeja milikku ke padanya.
“Kau harus pakai ini karena cuacanya panas.” Kataku kemudian. Bella menerimanya dengan tatapan ragu. “ini bersih kok,” kataku lagi seolah menebak apa yang tengah dia pikirkan sekarang.
Bella masih terdiam, dan aku bergerak untuk memasangkan topi bisbol di tanganku ke kepalanya.
Dia sedikit tersentak kaget karena tindakanku yang tiba-tiba. Tapi juga tidak menepis tanganku saat aku merapikan rambutnya yang menjuntai ke wajah, menyelipkan ke belakang telinganya.
Melihatnya tidak bergeming, seolah membeku karena terlalu memikirkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Aku kembali mengambil alih kemeja yang berada di tangannya dan membukanya. Merentangkan kain berwarna biru pudar itu dan berkata.
“Pakai, Bella.” Perintahku dengan suara rendah.
Serius, aku tidak bisa melihatnya dengan pakaian kurang bahan itu lebih lama. Dan membayangkan orang lain akan menatap Bella dengan cuma-cuma membuat kesal.
Bella patuh dan berbalik untuk memasukkan kedua lengannya ke dalam kemeja yang aku rentangkan untuknya. Terlihat sangat besar saat dia memakainya. Tangannya tenggelam hingga jemarinya pun tidak terlihat dan kemeja itu berhasil menutupi tubuhnya hingga hampir atas lututnya.
Masih tidak bersuara, gadis cantik itu bergerak untuk mencium bagian dalam kemejaku, membuat dahiku mengerut.
“Apakah bau?” tanyaku kepadanya.
Bella menggelengkan kepalanya, tersenyum malu-malu saat dia menjawab.
“ini harum, aku menyukainya.”
Jesus Christ!