JOHAN POV
Jika aku sudah merasa sangat tersiksa saat melihat Bella dengan croptop dan celana pendeknya, namun ternyata melihatnya mengenakan pakaianku adalah mimpi buruk yang di kirim oleh Tuhan langsung untuk menghukumku. Tubuhnya yang munggil bisa di katakan tenggelam dalam kemeja flanel yang aku pinjamkan. Dan aku langsung bereaksi seperti manusia gua yang ingin mengklaimnya hidup-hidup.
Milikku.
Jadi, aku harus menyibukkan diriku, mencoba untuk tidak terus-terusan mencuri pandang ke arah pacar anak laki-laki ku itu.
Dan aku cukup berhasil. Sisa-sisa hari ini berjalan sangat menyenangkan. Bella terkagum-kagum dengan rumah kaca besar yang aku bangun di lahan pertanianku.
Dan aku hanya bisa tertawa saat melihatnya cemberut saat menemukan isi rumah kacaku adalah sekumpulan bawang. Dia berimajinasi jika aku menanam berbagai bunga di dalamnya.
Namun senyumnya kembali merekah di bibirnya saat dia menemukan sumber mata air dengan ikan-ikan kecil di dalamnya. Memohon kepadaku untuk memberinya sebuah plastik atau sesuatu untuk menyimpannya.
Dan aku memberinya sebuah toples yang aku temukan di rumah kacaku, sepertinya bekas salah satu penyubur tanamanku atau apa. Bella menerima benda berbahan kaca itu dengan senyum indah lainnya, tampak sangat antusias saat mulai memindahkan ikan-ikan kecil itu ke dalamnya, menangkapnya dengan tangan.
Sial, aku akan melakukan apa saja untuk membuatnya terus tersenyum seperti ini.
Matahari tepat berada di atas kepala saat kami kembali menyusuri pematang berumput untuk kembali ke mobil setelah aku menyelesaikan urusanku dengan tanaman-tanaman di rumah kacaku.
Tangan Bella sangat penuh, memeluk toples berisi ikan hasil tangkapannya, membawa satu buket bunga liar yang dia kumpulkan, sesekali telunjuknya bergerak menaikkan kaca mata hitam milikku yang sepertinya terus turun dari pangkal hidungnya karena perbedaan ukuran.
Ya, aku tidak bisa menahan diri untuk memberikan kaca mataku untuk dia pakai karena cuaca hari ini sangat terik, melihat dia terus menyipitkan matanya karena silau cahaya matahari membuatku tidak tega. Dan sumpah, aku sudah menyuruhnya untuk meninggalkan sampah bunga-bunga liar itu, namun si keras kepala itu bertekad untuk tetap membawa pulang.
Menarik napas panjang, aku berjalan dan mengamatinya dari belakang.
Bella tampak begitu mungil dengan kemejaku di tubuhnya. Terlihat sangat rapuh dan membuatku ingin mengendongnya ke mobil saat aku mendengar suara guntur dari kejauhan. Dia berjalan sangat lambat.
Ya, begitulah cuaca di bulan Desember. Sebentar panas, sebentar hujan. Seperti sekarang, tadi matahari bersinar sangat terik. Dan sekarang awan-awan hitam sudah terlihat menggulung di atas sana.
Mengamatinya sekali lagi, aku menggelengkan kepala saat sekelebat bayangan kembali muncul di kepalaku, menepis desiran aneh di dadaku. Aku menghela napas panjang untuk ke dua kalinya, melepaskan topi bisbol di kepalaku, menyisir rambutku ke belakang sebentar sebelum mengenakan topiku lagi.
“Butuh bantuan?” tanyaku memecah keheningan. Bella menoleh dan menatapku melalui bahunya, menatapku dengan pandangan seolah mengatakan apa? Sebelum akhirnya kembali menghadap ke depan.
“Kau terlihat kerepotan,” Kataku lagi dengan suara sedikit berteriak karena jarak antara kami.
“Kau akan membuangnya kan?” kali ini Bella bersuara, bertanya dengan nada menuduh. Sepertinya dia berbicara tentang buket bunga yang tengah dia bawa. Karena tadi aku sudah mencoba melemparnya dua kali, dan dia bersikeras mengambilnya lagi.
“Tidak.” Aku hampir tertawa saat menjawab. Dan aku bisa mendengar decihan kesal dari gadis yang berjalan di depanku itu.
Kembali melangkah dalam diam, Bella yang berjalan beberapa langkah di depanku berhenti. Aku menyusul dan menemukan kita berada di ujung jalan, ada sungai kecil yang berfungsi sebagai saluran irigasi terbentang di hadapan kami sekarang.
“Aku dulu.” Kataku dengan nada mengejek, lalu melompat ke sisi lain dengan mudah. “ayo gadis kecil,” aku mengedipkan mataku ke arahnya, gadis itu termangu di tempatnya berdiri. Dan Aku bisa merasakan matanya menyipit dari balik kaca mata hitam milikku.
Ya, butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk membuatnya lompat tadi pagi, dan aku ingin tahu berapa lama waktu yang dia perlu kan saat ini.
“Aku tidak bisa melakukan ini!” katanya setengah berteriak dari ujung yang lain. Membenarkan letak kaca matanya lagi.
“Yeah, kamu bisa!” sahutku meyakinkannya.
“Bagaimana bisa aku melompat dengan barang-barang ini.” Dia menunjukkan tangannya yang penuh kepadaanku.
Mengangkat bahu acuh aku berkata.
“Jika kau tidak mau melompat, maka menyeberanglah lewat bawah.”
“Itu akan membuat sepatuku basah.” Kali ini ada nada merenggek dari suara Bella, membuatku menghela napas panjang.
Apa sih yang sebenarnya dia inginkan?
“Kau sudah membasahinya saat menangkap ikan, Bella.” Aku mengingatkan gadis itu.
“Dan sekarang sudah hampir kering.” Katanya lagi dengan keras kepala.
“Baiklah,” kataku menyerah. “semoga berhasil, Bella. Aku akan menunggumu di mobil.” Aku berbalik dan melambaikan tanganku kepadanya.
Melangkah maju, aku meninggalkan Bella sembari menghitung dalam hati.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Sepertinya tidak ada pergerakan.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Aku berniat untuk menghitung sampai sepuluh, namun aku tidak sabar dan menoleh. Menemukan dia masih berdiri di tempat saat aku meninggalkan tadi.
Jesus christ.
“Serius, Bella?” aku merentangkan tanganku ke atas, takjub dengan kegigihannya. “apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau ingin berdiri di sana sepanjang hari?” tanyaku tidak bisa menyembunyikan kejengkelanku terhadapnya. Sialnya dia hanya sibuk membenarkan kaca mata sialan itu.
“Sudah ku bilang aku tidak bisa menyeberang.”
“Kau bisa, kau hanya tidak mau.” Tuduhku lagi, dan dia masih bersikap acuh tak acuh. “katakan apa yang sebenarnya kau inginkan?” rutukku lagi menyipitkan mataku untuk menatapnya karena sinar matahari.
Ya, matahari masih bersinar, cukup menyilaukan walaupun mendung sudah menggelayut dan suara guntur terdengar dari kejauhan.
“Gendong aku.” Balasnya dengan enteng, sukses membuat mataku melebar.
Apa kepalanya terantuk sesuatu saat aku meninggalkannya sebentar?
“Aku tidak akan mengendongmu.” Aku menolaknya dan kali ini dia menurunkan kacamata hitamnya— yang sebenarnya milikku hingga ujung hidungnya, mungkin untuk melihatku lebih jelas, sebelum akhirnya dia berbicara.
“Ya, kau akan mengendongku.” Katanya dengan percaya diri.
Aku berdiri berkacak pinggang, membalas tatapan menantangnya.
Ya, aku akan dengan senang hati untuk mengendongnya, bahkan aku baru memikirkan adegan itu beberapa saat lalu. Tapi tidak sekarang, aku tidak ingin melakukannya sekarang, memberikan apa yang dia minta dengan mudah. Hanya membuat kepalanya besar.
Aku Berniat untuk mengabaikan meninggalkannya untuk kedua kalinya. Namun aku belum sempat berbalik saat air sebesar koin menetes di wajahku. Hujan.
Rintiknya semakin banyak, dan Bella masih tidak bergeming di tempatnya.
Aku menghela napas murka, melompat ke sisi lain tempat dia berdiri sekarang. Dan jelas aku bisa melihatnya seringai penuh kemenangan di bibirnya.
“Kau benar-benar manja.” Gerutuku lalu meraih pinggangnya tanpa aba-aba. Mencengkeramnya kuat saat aku membawanya melompat ke sisi lain dengan sekuat tenaga.
Aku bisa mendengarnya terpekik kaget, namun aku mengabaikannya. Lagi pula ini dia yang memintaku untuk melakukannya.
“Kau ringan sekali, apa kau makan dengan baik selama ini?” memiringkan kepala, bertanya dengan nada mengejek saat menatapnya.
“Urus masalahmu sendiri, Old man,” dia balas mengejekku, lalu berlari menyusuri pematang berumput itu menuju trukku yang terparkir tidak jauh dari tempat kami sekarang.
Hujan turun semakin deras, dan aku segera berlari mengejar Bella yang sudah berlari semakin menjauh dariku. Menambah kecepatanku, aku berhasil menyusulnya, dengan sengaja menyenggol bahunya dari belakang saat berhasil melewatinya, aku tertawa saat melihatnya terhuyung ke samping, hampir terguling.
“Kau menyebalkan!” Bella berseru dan aku kembali terkekeh pelan saat meraih kunci untuk membuka mobilku. Dia tertinggal cukup jauh saat aku sudah sampai di dalam mobil, dia sudah setengah basah saat berlari menuju pintu penumpang, dan aku segera menguncinya.
“Seriously, Johan?” aku bisa membaca gerak bibirnya saat dia mencoba membuka pintu namun gagal, mengedornya keras, lalu mengintip ke dalam melalui kaca.
Aku kembali tertawa puas. Menyalakan mesin mobil, dan menghitung sampai lima lalu sebelum aku menekan tombol buka pada pintu di sampingku.
Pintu terbuka dan tertutup dengan cara di banting keras.
“Wow kau basah sekali.” Aku mengamatinya dari atas hingga bawah. Bella tujuh puluh persen basah, wajahnya merah, karena berlarian dan perubahan cuaca panas ke hujan yang begitu tiba-tiba.
Aku bisa melihatnya memutar bola matanya, meletakkan toples di antara kakinya, sementara buket bunganya di pangkuan saat dia kembali berkata.
“Dan kau sangat kekanakan, Johan.” Ucapnya lengkap dengan menyebut namaku, membuatku yang sibuk memundurkan trukku untuk membawanya ke arah yang ku inginkan terkekeh pelan menanggapinya. “Tapi hari ini menyenangkan juga.” Seringaian aneh itu muncul di wajahnya, lalu dia tertawa.
“Keberatan jika kita mampir drive thru?” aku yang sudah melajukan mobilku menyusuri jalanan menuju rumah menoleh untuk menatapnya.
“Ya, mampir saja,” Jawab Bella yang tengah melepaskan kemejaku yang setengah basah, meletakkan di pangkuannya. “Aku butuh sesuatu yang dingin untuk leherku.”
Dan kulitnya yang pucat, kini tampak begitu mengkilau di mataku.
Astaga. Aku tidak ingin membawanya pulang sekarang. Fakta kami cukup dekat dalam waktu beberapa jam terakhir membuatku sangat senang, dan aku tidak mau semuanya menghilang. Karena saat kami sampai di rumah. Bella akan kembali menjadi milik Adam.
Lalu aku menyadari betapa gilanya pemikiranku.
Hujan masih turun dengan intensitas yang sama, deras. Dengan kilat dan guntur yang terdengar di mana-mana.
Sepertinya Tuhan tengah menghakimiku.
Berkendara dalam diam, aku bahkan tidak berniat untuk menyentuh tombol dari audio car ku. Hanya ada suara deru dari air hujan yang terdengar menghantam atap trukku, menghiasi kesunyian di antata kami saat berkendara.
Membelokkan mobilku ke layanan drive thru salah satu restoran cepat saji, kami memutuskan untuk memesan burger, lalu menikmatinya di tempat parkir sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Kami hanya berbicara seperlunya sepanjang perjalanan. Seolah masing-masing dari kami sudah sadar dengan hubungan kami sebenarnya.
Dia pacar anakku, dan aku ayah pacarnya. Tidak ada Bella yang tersenyum lebar, tidak ada gadis kota manja yang memerintahku mengendongnya untuk menyeberang.
Hujan sudah hampir reda, menyisakan rintik-rintik kecil saat aku membelokkan truk ke halaman berumputku. Bella melompat turun begitu aku menghentikan trukku. Meraih toples ikannya itu saat aku mematikan mesin, di saat yang sama aku bisa melihat pintu depan rumahku terbuka, Adam keluar dari sana. Mengenakan celana kargo pendek dan tshirt abu-abu.
“Apa-apaan ini, Bella. Dari mana saja kamu?” Aku bisa mendengar suara Adam saat aku melompat turun.
Pertengkaran kekasih lainnya.