Aku berlama-lama di mobilku, bertingkah seolah tengah mengatur sesuatu di bangku kemudiku, walaupun tidak ada yang bisa aku lakukan di sana.
“Aku ikut keluar ayahmu, ke rumah kaca.” Aku bisa mendengar suara Bella menjawab.
“Aku menghubungimu dari pagi, aku khawatir, tahu.” Itu suara Adam.
Menutup pintu mobilku setelah meraih paperbag berisi burger milik Adam , aku berhenti bertingkah bodoh di sana dan melangkah menyusuri jalan berkerikil menuju mereka berdua. Dan saat mataku bertemu dengan milik Adam, aku menemukan kilatan marah di sana.
“Aku juga meneleponmu, pa.” Kali ini Adam berbicara kepadaku. “Apa sih yang kalian lakukan.” Rutuknya dengan nada kesal yang tidak bisa dia sembunyikan.
“Ya dia sibuk bekerja, tentu saja tidak tahu kau meneleponnya.” Bella mewakili ku untuk berbicara. Melepaskan sepatunya di pintu masuk, lalu berjalan melewati Adam.
Tapi serius, aku tidak tahu kalau Adam meneleponku.
“Lalu kamu?” Adam mengikuti pacarnya ke dalam, sepertinya pertengkaran kekasih itu masih akan berlangsung, dan aku harus menyaksikannya.
“Aku tidak tahu kau menelepon.”
Kepalaku berdenyut saat aku melepaskan sepatuku, meraih sepatu Bella yang di lempar dengan asal.
“Kau masih marah kepadaku, Bella?” Adam kembali bertanya. “ini masih tentang kemarin kan?”
“Aku tidak marah.” Sanggah gadis itu, terus berjalan. Menaiki tangga cepat, di ikuti oleh Adam di belakangnya.
Ya, dis terlihat dan terdengar sangat marah.
Bersyukur mereka tidak bertengkar di bawah, karena rasanya sangat nyaman harus terjebak di antara mereka berdua.
Melangkah menuju dapur, aku melepaskan topi dan meletakkan kantong cokelat berisi makanan itu ke kitchen island. Berjalan menuju kulkas dan membukanya, mengeluarkan bir dari sana.
Suara-suara mereka masih terdengar, sepertinya mereka kembali adu mulut di lorong yang berada di ujung tangga.
“Come on, Bella. Ini baru hari kedua dan kau serius terus bertingkah seperti ini? Ini liburan kita ingat? Harusnya kita bersenang-senang bukan bertengkar.” Suara Adam merasuk ke indra pendengaranku saat aku berjalan menghampiri kursi santai, menghempaskan tubuhku yang lelah di sana, menyesap bir dinginku.
“Ya, dan kau meninggalkanku sendirian di hari pertama kita, bersenang-senang dengan teman-temanmu hingga lupa waktu sementara aku harus berurusan dengan pagar sialan itu!”
Ah dia menyebutnya pagar sialan sekarang. Aku terkekeh sendirian lalu menyesap birku lagi. Menyandarkan punggungku yang terasa kaku, memejamkan mata saat suara Adam kembali terdengar.
“Ya Tuhan, Bella. Aku sudah minta maaf semalam!”
“Terserahlah, aku mau mandi!” Suara Bella terdengar, di susul dengan suara pintu terbanting. Tidak lama kemudian, suara seseorang berlari menuruni tangga, aku menduga itu Adam.
“Kenapa kau tidak bilang kepadaku,” protesnya saat melewatiku, aku membuka mata dan melihatnya berjalan ke kulkas dan membukanya.
“Aku sudah bilang, ada catatan di pintu kulkas,” sahutku mengingatkan.
“Tapi kau tidak bilang jika Bella ikut denganmu.” Dia masih terlihat tidak terima, sementara aku mengangkat bahu menanggapinya.
“Ya dia pacarmu, ku pikir dia sudah berbicara denganmu sendiri.”
“Kami bertengkar, Pa. Dia masih marah sejak kemarin.” Dia menjelaskan kepadaku saat sudah kembali ke hadapanku dengan sekaleng kola di tangannya, membukanya sebelum menyesapnya dengan marah.
"Kalau begitu aku minta maaf. Aku tidak tahu tentang itu.” Kataku kepadanya, dan anakku satu-satunya itu hanya menghela napas panjang. Kesal. Meminum sodanya lagi dengan tegukan kesal.
Adam meremas kaleng di tangannya dan melemparnya ke tong sampah dapur, menatapku di detik berikutnya dan berkata.
“Aku akan keluar untuk makan siang.”
"Kami sudah membawakanmu burger, makan siang mu ada di dapur.”
Adam menoleh menuju dapur sebentar, sebelum akhirnya kembali berkata.
“Sedang tidak ingin burger.” Tolaknya sebelum akhirnya beranjak dari hadapanku.
“Hey, aku rasa ini bukan ide yang bagus, meninggalkan pacarmu lagi.” Kataku memperingatkan lalu bangun dari dudukku, mengikuti anakku menuju depan.
“Ya, bukan ide yang bagus juga bagiku di sini bersama Bella saat dia marah.”
“Tapi—,”
“Kami akan baik-baik saja setelah dia tenang, dia hanya butuh waktu sendirian.” Adam memotong ucapanku. “Aku akan makan siang dan mampir ke rumah Kelvin sebentar.”
“Baiklah.” Aku menyerah dan tidak ingin memaksa Adam. Dia menghilang dari hadapanku, dan aku tidak mengikutinya lagi.
Lagi pula dia pacarnya, tentu anakku lebih tahu dengan apa yang harus dia lakukan untuk berdamai dengan pacarnya.
Pintu depan terbuka lalu tertutup di detik berikutnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara deru mobil milik Adam, menandakan jika putraku itu sudah pergi meninggal rumah.
Aku menghela napas panjang, mencengkeram botol birku lalu menyesap isinya lagi. Berniat untuk kembali ke kursi santaiku saat aku mendengar suara teriakan nyaring dari lantai atas. Suara Bella meneriakkan nama anakku.
“ADAAARRGGHHMM!!”
Aku meletakkan botol birku di tempat terdekat yang bisa di jangkau oleh tanganku. Jantungku berpacu sangat cepat, pikiranku di penuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk.
“Oh my god! Oh my god! Adam!” terikan-teriakan lagi terdengar, dan aku melangkahi tiga anak tangga sekaligus, berusaha untuk mencapai lantai dua secepat yang aku bisa.
Apa dia terjatuh di kamar mandi? Apa ada arus listrik di showernya? Bagaimana jika dia terluka parah Ya, Tuhan.
Membayangkan semua itu hanya membuat jantung dan kepalaku sakit di saat yang bersamaan.
Aku meraih kenop pintu. Dan membukanya.
“Bella? Kau—,” tanganku baru membuka separuh pintu saat seseorang dari dalam membukanya dan menghambur keluar, menubruk tubuhku, memanjatku. Dia benar-benar memanjatku, mengantung di tubuh ku seperti monyet koala.
"Ya Tuhan! Tolong aku!” dia kembali berteriak histeris. Dan aku masih berdiri di depan pintu dengan dia berada di pelukanku belum bisa mencerna semua yang terjadi di sini.
“Apa yang terjadi, Bella?” tanyaku khawatir, menyentuh tubuhnya untuk menahannya agar tidak terjatuh. Dan saat aku menyentuh kulitnya aku menyadari sesuatu.
Dia telànjang. Bulat.
Dan yang sekarang aku pegang adalah dua belah pañtatnya yang basah. Ya, aku melihatnya sekilas tadi saat dia menghambur ke pelukanku, tapi ku pikir aku berhalusinasi atau semacamnya.
Persetan.
“Hei, hei, hei, apa yang terjadi, Bella? Kau terluka?” tanyaku dengan nada khawatir. Mengalihkan tanganku dari gumpalan daging itu ke punggungnya.
Sial. Rasanya tidak benar.
Dia panik dan peñisku berkedut karena tubuhnya yang telañjang memelukku dengan erat.
“Ada cicak!” dia berteriak histeris. “ada cicak di kamar mandinya!” Terang dia lagi dengan suara yang terdengar hampir menangis. Atau dia memang sudah menangis.
“Okey, okey. Tenang, Bella.” Kataku dengan susah payah, mencoba untuk membuatnya tenang.
Semua hal ini hanya karena cicak? Astaga. Bunuh saja aku sekarang.
“Turun dulu, oke?” lanjutku mengelus punggungnya berharap agar dia tenang, namun aku segera menghentikannya saat kembali sadar jika aku bersentuhan dengan kulitnya yang terbuka. “Biar aku mengeceknya di dalam.”
Sungguh aku harus membuatnya turun dari gendonganku, sebelum dia menyadari ereksiku.
Dan aku bisa merasakan dia menggeleng cepat di leherku.
“Jangan ke sana, cicak itu ada di sana. Dia jatuh di bath up saat aku berendam.”
Oh sial, dia benar-benar ketakutan sekarang. Aku bisa merasakan jantungnya yang berpacu semakin kencang. Entah seberapa besar cicak itu, dan berapa gigi yang dia miliki hingga membuat seorang gadis berlari telanjang dan menerjang seorang pria tanpa berpikir panjang.
“Baiklah, baiklah.” Aku mengalah dan menepuk punggungnya singkat. Sial rasanya seperti kulitku menyentuh sesuatu yang menyenggat. “aku akan membawamu ke kamarku, oke? Kau bisa menungguku di sana sementara aku mengeluarkan cicak sialan itu dari sana.” Hanya itu ide yang terlintas di kepalaku yang sudah berdenyut sakit.
Kali ini dia tidak membantah ataupun menolak. Melihat responsnya. Melangkah dengan susah payah menuju kamarku dengan Bella yang masih menggelantung seperti bayi koala di tubuhku.
Sungguh aku tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menggerayangi tubuh telanjangnya dengan tanganku. Tapi aku harus memegangnya agar tidak terjatuh.
Ya, aku menyukai Bella, penisku ereksi dan aku tidak menyanggahnya. Namun itu hanya respons alami. Dan akal sehatku masih berjalan dengan baik untuk tidak memanfaatkannya.
Aku menahan napas, berusaha mengabaikan aroma vanilla yang begitu menggoda itu.
Membuka pintu kamar tidurku dengan kaki. Aku terus melangkah menyusuri bagian dalam kamarku. Melangkah menuju lemari dan membukanya dengan susah payah. Aku meraih satu handuk dari sana.
Ya, aku harus membungkus tubuhnya dengan sesuatu. Aku tidak ingin melihat yang seharusnya tidak aku lihat. Yang hanya membuat imajinasiku semakin menggila.
“Hei, kau bisa turun sekarang, Bella. Di sini aman.” Aku menyampirkan handuk ke punggungnya saat mengatakan itu kepada gadis koala di pelukanku. Berbicara dengan nada sehalus mungkin agar dia merasa aman.
Bella mengangguk di leherku. Merasakan kaki yang melingkar kuat di pinggangku mengendur, dan perlahan turun.
Aku memejamkan mataku sebentar saat melingkupi seluruh tubuhnya dengan handuk. Tidak ingin— atau lebih tepatnya tidak sanggup melihatnya lagi.
Aku sudah melihat lusinan wanita telanjang di hadapanku. Namun Bella berbeda. Aku tidak bisa melihatnya, dia berharga, dan aku tidak ingin menodainya dengan mataku. Mencuri-curi kesempatan seperti orang c***l.
Ya, walaupun penisku mengatakan yang sebaliknya. Jangan hiraukan dia. Penisku memiliki otaknya sendiri.
“Kau bisa menunggu di sini kan?” Aku meraih bahunya, dan melangkah mundur untuk menatap Bella. Dan mataku menemukan dia sepenuhnya merah, wajahnya di penuhi dengan air mata.
Ya Tuhan, hatiku sakit melihat kondisinya sekarang.
“Aku akan mengurusnya, Bella.” Janjiku kepadanya.
Sialan, aku berbicara kepadanya seolah akan pergi ke suatu pertempuran.
Dia mengangguk lemah, tampak pasrah saat aku menuntunnya untuk duduk di ujung ranjang.
Aku ingin memeluk gadis itu untuk membuatnya tenang, mengatakan jika semua akan baik-baik saja, ada aku di sini bersamanya, mengecup keningnya.
Namun yang bisa aku lakukan hanyalah mengelus pundaknya berapa kali, sebelum akhirnya aku keluar kamar meninggalkannya sendiri menuju kamar sebelah, tempat di mana kekacauan ini berasal.
Cicak sialan, aku akan menemukannya dan membunuhnya dengan cara yang paling kejam.