“Tidak, maaf. Anda salah mengenali orang.” Afrodit menundukkan kepala, lalu bersiap melewati Hendra.
Hendra tidak tinggal diam. Kakinya bergeser, menghalangi langkah Afrodit.
Posisi mereka begitu dekat. Hendra bisa mencium wangi parfum gadis ini.
Floral dengan sedikit vanila.
Sesuatu dalam dirinya bergejolak.
“Kalau tidak mengenalku, kenapa kamu lari?”
“Saya tidak lari. Aku memang harus ke toilet tadi. Tidak mungkin saya kencing di sana, kan?”
Hendra tahu gadis ini hanya mengarang alasan. Jadi, dia terus berusaha menekannya.
“Lalu sekarang?” Hendra masih mencoba mengulur waktu sambil terus mengingat wajah cantik itu.
Hendra mengakui Afrodit memang wanita cantik. Kulitnya kuning langsat dengan rambut hitam panjang, begitu khas perempuan Indonesia.
Tubuhnya tinggi dan proporsional dengan lekuk yang begitu menggoda. Pinggangnya ramping, sementara bagian depan dan belakang tubuhnya tampak berisi dengan sempurna.
Hendra merasa tubuhnya tiba-tiba memanas. Tangannya terasa gatal.
“Saya sungguh tidak sedang melarikan diri dari siapa pun. Permisi, saya harus kembali ke room. Partner saya pasti sudah menunggu.”
Gadis itu bergerak cepat melewati Hendra.
Kali ini, Hendra tidak lagi menghalangi. Dia hanya menatap Afrodit hingga gadis itu menghilang di balik pintu.
Hendra membuang napas kasar. Tangannya meraup wajah, lalu menyisir rambutnya ke belakang.
Mungkin mereka memang tidak saling mengenal.
Mungkin ini memang hanya perasaannya saja.
Hendra melangkah ke kamar mandi, membasahi wajahnya dengan air, berharap pikirannya bisa sedikit lebih jernih.
Saat kembali ke room, Hendra duduk di tempat semula. Partner wanitanya langsung menyambut dengan senyum lebar, seolah menemukan oase di tengah gurun.
Suasana masih ramai. Musik berdentum keras. Robin dan Bobi tampak mulai mabuk. Keduanya berdiri sambil berjoget dan bernyanyi dengan suara sumbang.
Kali ini, Hendra menyadari Afroditlah yang sedang memegang mikrofon.
Suaranya lembut, tetapi bertenaga. Tempo dan nadanya pun begitu pas.
Tanpa sadar, ujung bibir Hendra sedikit terangkat.
Namun, senyum tipis itu langsung lenyap ketika melihat Robin mendekati perempuan itu lalu mencium pipinya dengan rakus.
Rasa panas menjalar dari d**a Hendra. Rahangnya mengeras. Tatapannya dipenuhi emosi.
Afrodit tampak enggan. Gesturnya jelas menunjukkan penolakan. Namun, dia hanya mampu menahan diri dan tersenyum kaku.
Hendra tidak bisa menahan dirinya lagi.
Pria itu berdiri, menarik Robin menjauh.
“Cukup, Robin. Kalian lanjutkan saja. Aku pulang.”
Robin terlihat linglung. Kedua tangannya terangkat seperti tersangka yang menyerah.
Bobi yang lebih dulu sadar.
“Hen, mau ke mana? Kita baru sejam di sini.”
“Pulang. Besok ada kuliah. Kalian lanjutkan saja. Tagihannya aku yang lunasi.”
Hendra meraih lengan Afrodit, lalu menariknya keluar.
Gerakannya begitu cepat hingga Robin, Bobi, dan para wanita pemandu karaoke hanya bisa melongo melihatnya.
Hendra terus menggenggam tangan Afrodit sampai mereka tiba di parkiran.
“Eh, eh. Prof, Anda mau mengajak saya ke mana?”
Sebutan Prof membuat langkah Hendra terhenti. Kepalanya menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya. Alis tebalnya berkerut.
“Kamu... mahasiswaku?”
Afrodit tercekat. Mulutnya sedikit terbuka.
Kaget.
“Saya...”
“Berarti aku benar. Kita memang pernah bertemu, kan?” Hendra melangkah mendekat. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok perempuan itu.
Afrodit semakin gugup. Dia menggigit bibir bawahnya.
Kulitnya yang putih bersih tampak bersinar di bawah temaram lampu parkiran.
Bayangan mereka memanjang berdampingan di atas pelataran.
Hendra kembali mengambil satu langkah mendekat.
“Semester berapa? Kenapa kamu bekerja di sini?”
Hendra mengamati sosok Afrodit yang terus menunduk.
Kaos ketat dengan lengan panjang dan menutupi setengah pahanya. Lehernya berbentuk kotak lebar yang memungkinkan sedikit belahannya muncul.
Dan mata Hendra terus saja berhenti di sana. Ingin menariknya ke bawah untuk melihat lebih jelas bentuknya.
Dan, tanpa sadar, tatapannya kembali berhenti pada d**a gadis itu yang tampak padat. Ingin sekali dia menarik bajunya ke bawah untuk melihat lebih jelas bagaimana bentuknya.
Sepertinya empuk.
Tangannya kembali terasa gatal.
Astaga...
Hendra buru-buru membuang pikiran kotornya.
“Prof, tolong lepaskan saya. Saya harus kembali. Ingat! Saya hanya dibayar untuk menemani menyanyi, bukan untuk diajak keluar.”
“Oke! Kalau begitu, saya bayar kamu sekarang untuk menemani saya di luar,” tukas Hendra cepat.
Diraihnya kembali tangan mulus itu.
“Eh, tapi saya tidak mau diajak ngamar!”
Afrodit memberontak.
“Saya juga tidak kepikiran mau ngamar sama kamu. Saya... lapar. Temani saya makan!”
“Dua juta satu jam!”
“Baik.”
Afrodit melongo. Dia tidak percaya profesornya menyetujui harga yang baru saja dia sebutkan. Padahal, mereka hanya akan makan. Dan nominal itu keluar begitu saja tanpa dipikir panjang.
Hendra kembali menggenggam tangan mungil itu menuju mobilnya.
Baru saja dia membuka pintu mobil, seorang pria bergegas mendekat dengan raut wajah khawatir.
“Afrodit!”
Keduanya menoleh.
“Mas Rian!” Afrodit tersenyum lebar, lalu berlari menghampiri bosnya. Seolah-olah dia baru saja menemukan seorang pahlawan.
Hendra berdecak pelan.
Gagal lagi membawa gadis itu pergi.
Dengan kasar, dia membanting pintu hingga tertutup keras.
“Kamu tidak apa-apa?” Rian memperhatikan anak buahnya dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada luka.
“Nggak apa-apa.”
“Dit, kita sudah sepakat. Kamu akan menemaniku makan,” ucap Hendra dengan nada penuh penekanan.
Rian menarik Afrodit ke belakang tubuhnya, melindunginya dari Hendra.
“Maaf, tapi saya tidak mengizinkan anak buah saya keluar dari gedung ini.”
Hendra mengernyit tipis.
“Kami sudah sepakat. Harga yang dia minta juga tidak murah.”
“Tapi belum dibayar, Mas,” sahut Afrodit lirih.
Dalam hati, dia juga sedikit merinding melihat wajah profesornya yang semakin menegang.
“Sekali lagi, saya minta maaf. Anda mungkin baru pertama kali datang ke tempat kami. Namun, peraturan di sini sudah jelas. Tidak ada yang boleh keluar selama jam kerja.” Rian tetap bersikeras mempertahankan Afrodit.
Hendra menghela napas panjang. Sulit sekali berurusan dengan bos mahasiswanya ini.
Mereka memang bisa saja bertemu di kampus, tetapi kemungkinan itu sangat kecil.
Hendra adalah seorang profesor. Dia tidak pernah mengajar kelas kecil.
Kelas yang diampunya merupakan kelas gabungan yang terdiri atas beberapa kelas sekaligus. Bahkan, tak jarang pesertanya berasal dari semester yang berbeda. Karena itu, dia sama sekali tidak bisa menebak identitas Afrodit.
“Sampai jam berapa?”
“Sampai subuh.”
Jawaban Rian langsung mematahkan keinginan Hendra untuk terus bertahan.
Tatapannya beralih kepada gadis yang berdiri di belakang Rian. Dia berusaha mengingat wajah itu sebaik mungkin agar bisa mencarinya di kampus besok.
Tanpa berkata apa pun, Hendra berbalik lalu pergi dengan langkah cepat.
Afrodit akhirnya bisa bernapas lega.
“Dia siapa?” tanya Rian.
“Profesorku di kampus,” jawab Afrodit lemah.
Pikirannya kacau.
Dia sudah berada di semester akhir. Skripsinya pun sudah setengah jalan. Bahkan, dosen pembimbingnya secara khusus memintanya berdiskusi dengan Hendra untuk memperkaya referensi penelitian.
Entah bagaimana nasibnya nanti.
Apakah Hendra akan mempersulitnya?