"Keylea Delora harus disingkirkan!"
Kalimat itu terus terngiang di dalam benak Keylea, membuat wanita ini bergumam tanpa henti. Walaupun ia sedang tidak sadarkan diri.
"Sialan ...." Suaranya lemah, menandakan stamina dalam tubuhnya belum kembali.
Lelaki yang sedang sibuk memeras handuk kecil dari air di dalam baskom itu kemudian menghampiri raga yang terbaring di atas kasur miliknya. Ia duduk di samping tubuh itu, menghadap kepala yang sedang menggeleng-geleng pelan di sana.
"Kamu pasti mimpi buruk." Lelaki itu bermonolog, manakala melihat mata wanita itu masih terpejam rapat.
Iba yang menggumpal di dalam sanubari, membuat tangannya mengulur untuk memberikan pereda kegelisahan yang terpancar dari gumaman kecil si wanita. Ia menyapu anak rambut Keylea, tetapi, membuatnya terperosok ke dalam kejutan.
Keylea bangkit tergesa-gesa, membawa tubuhnya duduk masih di atas tempat tidur itu. Hal itu, membuat tangan yang berada di atas kepalanya tersingkir. Lantas, tanpa sengaja, mendarat di balik d**a si wanita.
Kedua mata Keylea sudah terbuka lebar, dan bola mata membesar ketika melihat seorang lelaki sedang menyentuh anggota tubuhnya.
Ini tidak benar!
Revan segera menyingkirkan tangannya dari sana. Ia pun terkejut, lantaran anggota tubuhnya mendarat di tempat itu tanpa sengaja. Akibat Keylea yang bangkit tanpa aba-aba, membawa diri mendapatkan pukulan keras di pipinya.
"Ngapain lu?" Keylea berteriak murka, bahkan, tatapannya menyorot begitu tajam, pada wajah yang sedang tertunduk di hadapan. Kedua tangannya menyilang, menutupi anggota tubuh yang sempat tersentuh oleh si pria.
Revan mengusap bekas tanda cinta Keylea di pipinya, dengan sapuan dari punggung tangannya. Andai saja, ia tidak mengingat jika wanita ini sedang kehilangan ingatan, ia akan membalas dengan pukulan benda tumpul dari panca indranya.
"Belum sembuh aja, tenaga kamu udah keras gini," kata Revan, ditanggapi oleh kernyitan dahi dari lawan bicaranya.
"Sembuh? Emang gue kenapa?" Telunjuk wanita ini mengacung di hadapan wajahnya sendiri.
"Kamu demam, pingsan udah tiga hari. Atau, kamu hilang ingatan lagi?"
Tidak!
Malah, Revan mengira, ingatan wanita itu telah kembali.
Namun, mengapa, ia tidak menginginkan hal baik itu terjadi?
Seketika, Revan tersenyum puas, mendapati nada bicara serta bahasa yang digunakan si wanita masih berbeda dari biasanya.
"Gue? Cewe sekuat ini masih bisa pingsan?" Rupa-rupanya, Keylea belum menyadari keadaan. Ia terlupa akan kejadian tiga hari silam, tentang apa yang membuatnya menjadi penghuni rumah milik lelaki bernama Kenzo Revanditya ini.
"Sekuat-kuatnya cewe, pasti kaget kalo sampe kejebur ke danau."
Danau Kunci!
Kemudian, Keylea termenung sesaat, mencari ingatan yang hilang, tentang apa yang dikatakan lelaki yang masih setia duduk di sampingnya.
Dan, menyeringai kelam, mendapati kenangan buruk, ketika ia berada di dalam bangunan sebuah perusahaan, bernama Stelea Telekomunikasi.
Semuanya berhubungan!
Dari mulai ia memergoki kedua pamannya yang sedang merencanakan siasat buruk, kemudian ia mendapati tragedi nahas di dalam danau itu.
"Sialan!" Lagi, Keylea mengumpat frustasi.
"Siapa yang sialan?" Tentu, Revan mengira, makian itu tertuju untuk dirinya. Sebab, suara itu terungkap begitu lantang.
"Lu! Semua juga sialan!" Mimik wajahnya seketika menyeramkan, membuat energi yang mengerumuni kulit tubuh Revan terasa mematikan.
Lelaki itu tertegun frustasi, bahkan, kedua matanya terpejam rapat, untuk menahan rasa sakit akan ucapan berduri si wanita.
Namun ....
"Kamu bilang sialan sama suami kamu sendiri, hm...? Sama orang yang ngurus kamu selama kamu pingsan." Revan mengungkap status itu, untuk mengingatkan si wanita.
Benar!
Seperti yang diinginkan Revan, Keylea tiba-tiba saja terdiam tidak berkutik.
Wanita ini berdesis ngeri, sambil sesekali menepuk keras pelipisnya.
Karena perasaan sayang yang membuncah, membuat Revan tidak dapat membiarkan wanitanya menyakiti diri sendiri. Ia lekas meraih tangan yang masih saja menepuk keras pelipis itu, untuk menyingkirkannya dari sana.
"Udah cukup!" Wajah tampan berubah mengerikan, terlihat Keylea seperti harimau yang sedang kelaparan.
Wanita itu bergeming tak biasa, merasa ketakutan akan tancapan sorot mata yang begitu tajam.
"Kamu ga lapar?" tanya Revan.
"Oon lu, pake nanya lagi."
"Kenapa sih, kamu jadi kasar gini?"
"Gue ga suka orang oon kaya elu. Lu bilang gue pingsan tiga hari. Terus, orang pingsan emang bisa makan? Ya jelas 'lah gue laper."
Revan tertawa kecil, sebelum kemudian berkata, "tunggu di sini! Aku siapin makanannya dulu."
Revan kemudian beranjak pergi, tanpa ingin mengucap kata lagi. Keylea pun membiarkan, sambil menunggu, ia kembali merenung.
Harus bagaimana ia membalaskan dendam, kepada para insan yang telah merenggut kebahagiaannya?
Siasat menjadi istri dari lelaki yang tak pernah sama sekali ia temui, adalah rencana dadakan. Ia belum menata dengan rapi, hal rinci yang lainnya.
Untuk pertama ....
Keylea beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi yang masih terdapat pada ruang yang menjadi pijakan kakinya kini. Kemudian, ia membersihkan diri, dan, setelah usai, ia terhentak akan kejutan lagi.
Di mana buasana untuknya berada?
Kepada siapakah ia harus menanyakannya?
Ia kebingungan sendiri.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama, ketika Revan datang kembali menjumpainya.
Selebar pintu terbuka, kelopak mata Revan pun terbuka lebar, melihat wanita yang mondar-mandir di sekitar kasur, belum memakai busana lengkapnya. Handuk kimono berwarna merah muda, membalut tubuh si perempuan hanya separuhnya saja, membuat lelaki ini menelan ludahnya.
Keylea berdesis kesal, melihat tatapan lelaki itu seperti sedang ingin menerkam tubuhnya. Kemudian, perlahan-lahan kaki melangkah, menghampiri lelaki yang berdiri di balik pintu, sambil berkacak pinggang.
"Di mana lemari baju gue?" tanya Keylea, setelah raganya berjarak hanya dua meter saja, dengan keberadaan Revan. Ia pun memberikan benteng pertahanan, memberikan jarak jauh dengan keberadaan lelaki itu.
Lelah akan menahan hasrat yang terpicu dari kulit tubuh si wanita, Revan tak bicara. Ia hanya menggerakkan dagunya, menunjuk lemari yang berada di sudut ruangan.
Arah tatapan Keylea tertuju pada sumber dari tunjukan Revan. Ia pun beranjak tanpa berbicara lagi.
Brak!
Lelaki ini hendak menyingkirkan gairah yang membuncah, dengan pelampiasan pada benda penutup ruang, yang dirapatkan dengan gaya kasar.
Keylea mendelik tak acuh, kemudian memilah-milah busana yang tertata rapi di dalam lemari.
Beberapa menit kemudian ....
Wanita ini sudah berbusana lengkap, ia beranjak meninggalkan ruang yang telah menemaninya tidur selama tiga hari.
Menyusuri setiap ruang yang berada dalam bangunan ini, sesekali menggeleng karena keadaan ini lebih payah dari yang dimiliki ayahnya.
"Lu ga sekaya yang gue kira." Ketika berdiri di ruang tamu utama, wanita ini mengumpat lantang.
Ya!
Bagaimana bisa, seorang Kenzo Revanditya dibandingkan dengan Stevan Jeff?
Bahkan, kekayaannya belumdapat bersaing dengan Bill Jonathan.
"Udah mau makan?" Lantunan suara yang berasal dari belakang Keylea, membuat wanita itu menatap pada sumbernya.
"Bentar!" Keylea kemudian termenung di tempat, dengan pencegahan dari gerakan tangan yang merentang ke depannya.
"Kenapa lagi?"
"Pinjemin gue mobil!" nada bicaranya terkesan memaksa, sebabnya, ada niat terselubung yang enggan mendapat penolakan.
"Mau ke mana? Biar aku anter aja!" Karena, Revan masih cemas akan kesehatan wanitanya.
Sampai saat ini, Revan masih mengira, bahwa, Keylea adalah wanita incarannya yang benar-benar kehilangan jatidirinya.
Atau?
Ada hantu yang merasukinya?
Tidak!
Revan menyangkal dengan gelengan keras.
"Ga bisa! Gue bisa, kok, nyetir sendiri. Masalahnya, mobil gue kan udah tenggelem." Kali ini, ia merayu dengan nada manja, membuat Revan tertawa kecil.
Lelaki ini menyilangkan tangan di d**a, berusaha menggoda wanita yang dikiranya menjadi keras kepala. "Ga bisa! Kalo mau, aku siapin sopir."
"Ga mau."
"Keras kepala banget, sih."
"Ya udah, gue ga mau makan kalo ga dikasih pinjem mobil."
Kecurigaan Revan melenceng, dari paksaan yang dilakukan oleh wanitanya. Namun, mengingat tragedi nahas yang menimpa kesehatan si wanita, Revan dengan pasrah mengatakan, "mau pake mobil bagus, atau biasa aja?"
Lelaki ini mengira, wanitanya ingin menjumpai selingkuhannya. Mengingat lagi tentang kehilangan ingatan, keyakinan Revan memudar. Mungkin saja, si perempuan ingin menggali ingatannya pada tempat pijakan terakhirnya.
"Wuih, keren. Berapa banyak mobil yang lu punya?" kata Keylea setengah mengejek. Tawa kecil tersemat di setiap kata yang terucap.
"Cuma empat."
Kata yang diucapkan Revan tidak sedikitpun membuat Keylea terkejut. Karenanya, ia membenarkan, kata ‘cuma’ yang memang kakaknya pun memiliki lebih banyak.
"Ada mobil yang bisa nyetir otomatis ga?" Keylea memancing, untuk dapat melancarkan siasatnya.
Sebab, pertarungannya kali ini, membutuhkan banyak modal. Lalu, yamg utama adalah kekayaan dan kekuasaan. Jika Revan memilikinya, niscaya, ia akan mudah menumbangkan kedua paman dan bibinya. Namun, tetap saja, meskipun dikatakan mudah, ia harus melakukan upaya dengan penuh kesabaran.
"Engga!" kata Revan menyahut penuh kejujuran.
"Ah, payah." Tak lekang Keylea menggoda lelaki ini. Padahal, ia hanya sedang ingin bermain saja.
Namun, itu, membuat Revan tertunduk rapuh. Karenanya, mengingat ajaran dari ibu si wanita, tentang harta yang menjadi penentu untuk pasangan anaknya.
"Jadi, mau pinjem ga?" Revan mengalihkan bahan percakapan.
"Terpaksa, jadi!"
"Seenggaknya, aku tau dulu, kamu mau pergi ke mana?" lirihan tersemat di penghujung kalimat.
"Ke Danau Kunci." Namun, wanita ini tanpa acuh mengabaikan kekhawatiran lelakinya.
"Tempat itu udah ditutup dua hari lalu."
Apa?
Keylea membatin kacau, menerka sebab dari penjelasan yang dikatakan Revan, adalah ulah kedua pamannya.
Keylea merasa sudah kalah telak oleh kedua paman dan bibinya. Namun, ia belum kehabisan cara, untuk membongkar kebusukan itu.
"Kok, bisa?" kata Keylea setengah berteriak.
"Katanya, ada anak pengusaha yang tenggelam di sana, tapi ... setiap tim yang nyari, ga ada yang selamat!"
Sudah pasti!
Itu adalah perbuatan kedua pamannya, yang ingin mengubur seluruh bukti dari tindak kejahatannya.
Sungguh, membuat Keylea ingin lekas memberikan hukuman pada mereka.
Namun, untuk sekarang, wanita ini akan menghadapinya dengan kesabaran. Ia takut mendapat kegagalan lagi, yang akan membuatnya menyesal seumur hidupnya.
Sementara Revan, tanpa ingin mengorek tragedi di danau kunci itu, ia tak menghiraukan informasi yang didapati.
Lantas ....
"Ya udah, kita makan aja." Bukan tanpa sebab Keylea membatalkan kepergiannya. Karenanya, menurutnya hal itu akan menjadi sia-sia saja.
Biarlah.
Sambil mematangkan siasat, ia akan menikmati kehidupan barunya.
Dengan cara, "Mamaku di mana?"
"Aku anter ke tempat Mama kamu, kalo kamu udah makan."
Dengan senang hati!
Wanita ini menyeringai puas, sebelum kemudian beranjak untuk menuju tempat yang disebutkan Revan.