Hampa ....
Suasana itu menusuk palung hati seorang lelaki yang biasanya bersikap tegas. Perasaan terlampiaskan pada bibir yang enggan terbuka, bahkan, jika itu hanya untuk menyambut anaknya yang sudah duduk sepuluh menit pada sofa.
Biasanya, ruang tamu ini akan dihangatkan oleh teriakan dari penghuni wanita satu-satunya yang tinggal pada kediaman Stevan Jeff ini. Namun, empat hari berlalu, hanya kesunyian yang mengitari seisi bangunan ini.
Jonathan tidak ingin memperkeruh isi hati ayahnya, ia hanya terdiam membisu, seraya menunggu lelaki itu yang membuka mulutnya terlebih dahulu.
"Tak masuk akal!" kata Stevan, seakan mendapatkan telepati perasaan yang sedang mengguncang batin anaknya.
"Aku rasa juga gitu." Jonathan menyahut lantang. Ia pun memahami yang dimaksudkan ayahnya.
Tentu saja tentang ....
"Kamu juga berpikir kalau tim SAR yang terbunuh itu aneh?" Stevan memperjelas rasa dengan kernyitan di dahinya. Bahkan, tangannya turut terprovokasi dengan menjepit dagunya sendiri.
"Pastinya. Kalo cuma satu, aku pikir itu kecelakaan. Tapi ini? Sampai lima orang yang jadi korban. Ditambah lagi, danau itu sekarang disegel pihak berwajib."
Sungguh, perbincangan ini, membuat cangkir yang berisi teh terbengkalai. Dua lelaki hanya berpusat pada rasa yang tak kunjung mendapat jawaban.
Namun ....
"Papa yakin, ini pasti ulah seseorang!" Hanya Stevan yang mengetahui tentang kejahatan yang dilakukan kedua adik iparnya.
Sementara, Bill hanya menerka, "Tunggu aja, kalo kedua adik mendiang istrimu buka suara, kita ga usah lagi cari pelakunya!"
Stevan terhentak akan kejutan.
Dari mana anak sulungnya mengetahui kejahatan yang dilakukan kedua adik iparnya?
Namun, ia merasa, busuknya bau bangkai akan tercium jua. Jika itu sering mereka lakukan.
"Papa kira ... kalau dibiarkan, mereka akan sadar diri. Toh, yang sudah mati tak akan bisa hidup lagi. Tapi, ternyata, mereka terus mencari korban." Lalu, ia memberikan isyarat kalimat, tentang tragedi nahas yang menimpa istrinya, dua puluh empat tahun silam.
"Siapa maksud Papa yang sudah mati?" Ini bukan suara dari dua insan yang sudah ada, melainkan, kalimat melantun dari mulut seorang pria termuda yang tinggal di rumah ini.
Erlan memburu langkah, agar dapat dengan cepat bergabung dengan ayah dan kakaknya. Kemudian, ia memilih menumpukan tubuhnya di samping kakaknya. Sebab, Stevan duduk pada sofa yang hanya dapat menampung satu raga saja.
Namun, bukan jawaban akan pertanyaan yang melantun dari bibirnya, yang ia dapatkan, melainkan, tatapan harap dari dua lelaki yang menyorot wajahnya dengan mimik penasaran.
"Kamu masih tak menemukannya?" tanya Stevan kepada lelaki yang baru bergabung dalam perbincangan ini.
Erlan hanya menggeleng saja, merasa ragu akan kabar buruk yang akan disampaikan ini.
Gerakan kepala itu, membekukan belah bibir para insan di sana. Ketiga pria melenguh rapuh, sambil memikirkan cara agar dapat membawa Keylea kembali berkumpul bersama.
Lantas, Erlan pun masih dibuat penasaran, tanpa mengenal rasa lelah, ia beranjak kembali meninggalkan dua insan yang hanya menatap punggungnya saja.
Buruan tujuannya adalah ruang bawah tanah, di mana terparkir kerdaraan mewah miliknya di sana. Mendapatinya, ia melajukan dengan kecepatan di atas rata-rata.
Mobil itu sudah bergerak, melaju menyusuri jalanan padat di pusat kota. Membawa rasa penasaran yang mendapal, dari dalam batin yang mengendalikannya.
Renungan mengikis waktu yang di lalui lelaki ini, sambil bergerak ia memikirkan tempat yang memungkinkan adiknya berdiam di sana.
Kemudian ....
Taman bunga!
Erlan sempat mendengar cerita, bahwa, adik perempuannya gemar mengunjungi tempat tersebut, di kala batin tersiksa oleh kejenuhan.
Ia pun dengan gesit membanting setir, membawa laju kendaraan menuju tempat yang terpikirkan.
Beberapa menit kemudian, ia telah tiba di tempat tujuan. Langkahnya lebih cepat dari biasanya, menyusuri setiap tempat yang berada di area yang dihiasi oleh berbagai macam tanaman bunga.
Dari arah lima meter, mendapati seorang wanita yang sedang duduk di atas bangku kayu. Terlihat wajah yang tak asing dalam pandangan, lelaki ini menyemat senyuman puas.
Lagi, kecepatan langkah kaki kian bertambah, menghampiri wanita yang tampak sedang termenung sendiri di sana.
Lalu, "Lea." Setelah berdiri di belakang wanita itu, Erlan menepuk pelan bahu sang empunya.
Salam pembuka dengan panggilan nama adiknya, disambut gerakan kejut oleh si wanita.
"... kamu?" Wanita ini tertegun heran, sambil mencermati garis wajah tampan yang sedang mempersembahkan senyuman kepadanya.
"Dari mana aja lu?" Erlan kemudian duduk di samping wanita ini.
Tunggu!
Sang wanita belum dapat merespon keadaan. Ia masih mengingat-ingat wajah tampan yang tampak pernah dilihatnya.
Namun, apakah Keyra mengenalinya?
Seharusnya, dengan panggilan leaki itu, ia menebak ada sesuatu yang sedang terjadi kepadanya.
Sebelumnya, Keyra mengunjungi tempat ini, lantaran kecewa akan nasib yang sedang menimpa.
Yaitu ....
"Kamu suruhan Mama?" Harapannya, sang ibu mencari keberadaannya. Karena pertikaian kecil, membuat dirinya lari dari rumah. Dan, tidak ada yang menampungnya. Begitupun seorang lelaki, yang menurutnya sangat mencintainya.
Ya!
Keyra mengharap, Kenzo yang bergerak untuk menemukan keberadaannya. Namun, empat hari berlalu, lelaki itu tak kunjung menjumpainya.
Ia tidak ingin mengunjungi kediaman lelaki itu, sebab, masih ada alasan kuat dibaliknya.
Yakni,
"Lu pikir, gue malaikat pencabut nyawa?" Erlan menyahut dengan iringan tawa kecil di sela kata yang terucap. "Gue emang nyari lu. Udah empat hari lu keliaran. Ke mana aja, hm...?"
Padahal, Erlan berniat mencipta senda gurau, agar wanita yang dikenalnya keras kepala ini, sudi menyambut uluran tangannya.
Dahi Keyra kian mengernyit, tatapannya berbaur dengan rasa heran yang begitu tajam. Ia menyorot wajah tampan di sana seraya menebar bayangan.
Mungkin, lelaki ini adalah pangeran berkuda putih yang datang memayunginya, saat ia sedang kehujanan.
Rupanya, Tuhan mendengar keluh kesahnya.
Keyra kemudian mendongkak, menatap awan yang tampak sedang murung di atas sana.
Terima kasih!
Ia membatin gembira, untuk menyambut asa yang tersampaikan tanpa pelantara.
Namun ....
"Aku ga tau kamu siapa, kalo emang bukan malaikat pencabut nyawa, terus, siapa?" kata Keyra, seketika membuat Erlan terhentak.
Aliran darahnya memompa cepat menuju otaknya, mengantarkan pikiran akan tebakannya.
"Lu, ga lagi kerasukan, ‘kan?" kata Erlan disambut gelengan keras oleh lawan bicaranya.
Jika bukan, lalu, apa yang sedang terjadi pada wanita ini?
Erlan melihat sikap si wanita begitu lembut, itu, sangat berbeda dengan adik tercinta yang dikenalinya.
"Ceritain dulu sebelum di sini, lu kemana aja?" Dan, Erlan menanggapi, bahwa, adiknya sedang ingin bermain dengannya.
"Dari Danau Kunci!"
"Ngapain ke sana?"
"Nyari seseorang. Tapi, kayanya aku kecewa. Tuhan marah padaku."
Mengingat kejadian sebelum ia terdampar di tengah taman bunga ini, Keyra menanggapi jika diri sedang mendapatkan hukuman dari-Nya. Karenanya, sifat serakah sang ibu membawa petaka bagi jalan kehidupannya.
Mungkin, Kenzo Revanditya sudah lelah untuk mengincar cintanya. Karenanya, sang ibu yang memberikan syarat teralu sulit. Yakni, untuk dapat meminang dirinya, Kenzo diharuskan memberikan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya.
Miris sekali!
Bayangan itu, tanpa disadari telah mendobrak bendungan air matanya. Kemudian, wakil kepedihan itu menetes dari sudut mata indahnya.
Tentu, Erlan kian dibuat kebingungan.
Atau?
"Kayanya ada yang ga beres sama otak lu." Walaupun ucapan terdengar pedas, lelaki ini membawa kepala si wanita. Ia meminjamkan bahunya, untuk menjadi penopang kepedihan wanita tersebut.
Hangat!
Keyra tidak pernah merasakan hati yang seperti ini. Bahkan, jika sedang bersedih, ia hanya bisa menyimpan di balik asmanya saja.
"Udah mau balik belum?" tanya Erlan, mencabik renungan Keyra seketika.
"Ke mana?"
Tidak!
Keyra merasa, lelaki ini akan membawanya pada lingkaran neraka lagi. Karena, di dalam angan masih menyimpan terkaan, bahwa, ibunya yang mengirimkan lelaki ini untuk mencarinya.
"Huh ...." Erlan melenguh tajam, menanggapi ungkapan itu bukan hal yang sederhana. "Papa lu sama kakak lu udah dibikin panik selama empat hari ini sama lu. Mending sekarang lu jelasin sama mereka!"
"Papa?"
Benarkah?
Sang Khalik mengirimkan sosok yang sangat dirindukan oleh Keyra ini?
"Buset dah. Lu aneh deh, masa masih nanya soal bokap lu sendiri?"
"Aku ga tau kalo aku masih punya papa."
Apa?
Erlan kembali dibuat terkejut.
Sepertinya, wanita ini mengalami kecelakaan di Danau Kunci, dan, itu merenggut seluruh ingatannya tentang masa silam. Terbukti dari tindak-tanduk si wanita yang berubah sifat, tiga ratus enam puluh derajat.
Seratus persen, terkaannya ditanggapi dengan kebenaran.
Sudah diputuskan!
Dua pihak ingin mencari keuntungan.
Keyra menganggap akan mengikuti ke mana lelaki ini pergi, walaupun harus ke lubang neraka. Yang penting, ia tidak lagi dipertemukan dengan ibunya, untuk sementara waktu ini.
Lantas, Erlan merayakan kemenangan dari musibah yang menimpa adiknya. Karena ia yang paling menyayangi sang adik, ia memutuskan tidak akan mengacau lagi pikiran wanita ini. Dengan cara, membiarkan adiknya menjadi selembut ini. Atau, lebih tepatnya, ia akan membiarkan adiknya kehilangan ingatannya.