Langit membawa suasana ceria, dari pijar mentari yang mencerahkan rona alam semesta, membawa api semangat berkobar di dalam jiwa Keylea.
Stamina sudah pulih sepenuhnya, kesembuhan telah diraihnya. Sehingga, dengan senyuman ia menyambut awal hari. Bergegas menemui sang pemilik rumah, setelah usai membersihkan diri.
Ruang keluarga yang terletak di lantai dasar bagunan rumah mewah milik seorang pria bernama Kenzo Revanditya, adalah tempat penepian langkah kakinya.
Keylea menyapa lelaki yang sedang asik memainkn laptop di atas pangkuannya, dengan kata, "Lu jadi 'kan anter gue ke tempat Mama gue?" Sambil berteriak. Sebab, ia masih menjauh dari keberadaan Revanditya.
Sontak, tubuh Revan bergerak kejut. "Kamu siap?" Kemudian, menutup lipatan laptop sebagai penyambutan akan perbincangannya.
"Kenapa harus ga siap?" tanya Keylea dengan datar. Tidak ada kecurigaan akan pertanyaan mengandung misteri itu, sehingga, ia menyahut sambil sibuk memasangkan kancing pada lengan baju kemejanya.
Revan bangkit berdiri, tatapannya menyorot cibir setelah berhasil menghadap wanita yang masih sibuk dengan kegiatan tangannya. "Kamu bisa lihat sendiri nanti."
Rasanya, Revan enggan untuk membeberkan kisah sesungguhnya. Ia mengalihkan perhatian dengan membantu Keylea menautkan kancing kemeja yang dikenakan si wanita.
"Lu mau main tebak-tebakan? Berapa kita taruhan?" katanya bersenda gurau.
Revan dibuat gemas, mewakilkan perasaan dengan menyentil manja kening wanitanya. Tentunya, setelah tangannya terlepas dari kegiatan membantu si wanita. "Ga ada taruhan-taruhan."
"Ya udah kalo gitu. Ayok kita berangkat!" Senyuman mengurai perasaan ceria, membuat Keylea tidak sabar untuk segera menemui ibu palsunya.
Revan tak lagi bicara, ia menyahut ucapan Keylea dengan gerakan kakinya. Melangkah pergi meninggalkan ruang yang telah menemaninya bekerja selama satu jam ke belakang. Dengan seorang wanita yang menjadi pemimpin perjalanan.
Hingga pada akhirnya, mereka berhasil memasuki mobil mewah milik si pria. Kendaraan pun melaju, menerobos kepadatan lalulintas di pusat kota. Namun, dengan keahlian yang dimiliki Revan, mereka sudah tiba di tempat tujuan, setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit saja.
Kendaraan itu berhenti melaju di hadapan teras bangunan setengah megah, Keylea yang lebih utama turun dari mobil tersebut, tanpa menunggu sang pangeran yang membukakan pintunya.
Wajah Keylea mendongkak, menatap bangunan bertajuk hologram ini.
"Jadi, ini rumahnya?" kata Keylea berbicara pada diri sendiri.
Namun, Revan yang mendengar celotehan itu, dengan gemas menertawai wanita yang berdiri di sampingnya.
Hanya dua menit saja, Keylea menarik kepalanya. Kini, wajah itu menatap ke arah sampingnya, di mana Revan masih setia berdiri di sana. "Oh, ya. Lu jangan bilang sama Mama gue, kalo gue hilang ingatan!"
"Kenapa?"
"Ga kenapa-kenapa. Pokoknya, lu pura-pura ga tau aja. Lebih bagus kalo lu diem, jangan ngomong!"
"Key-"
"Satu lagi, HP gue kecemplung di Danau kayanya. Lu ga mau beliin yang baru, apa?"
"Cewe ini ...." Lagi, Revan dibuat gemas, ia kembali melayangkan jarinya hingga mencipta sentilan di balik kening Keylea.
"Ada apaan sih di jidat gue? Dari tadi lu doyan amat nyenyil-nyentil gitu. Lama-lama penyok nih jidat!" Keylea berkata seraya menghapus bekas tanda sayang di keningnya itu.
"Ada yang menggemaskan!"
"Apa? Bentuknya?"
Revan dibuat kian gemas, kali ini, ia melampiaskan rasa melalui tawa kecilnya. "Tadinya, soal HP, aku mau kasih kejutan buat kamu."
"Ho ... ho. Mau sok romantis ya?" Wanita ini meledek dengan gaya bicara yang dibuat-buat, tak ayal tawa kecil tersemat di sela kalimat yang terucap.
"Emang aku romantis."
"Ya udah kalo gitu, ga jadi gue ngomongin HP nya."
"Ga jadi gimana? Udah terlanjur bilang, 'kan?"
"Pergi gih! Cari HP buat gue, sana!"
Oh Dewa, Revan tidak dapat menahan tawanya. Dengan puas ia melepas rasa gemas, pada sebuah suara yang membahak.
"Oke, aku pergi. Jaga diri baik-baik!" Akhirnya, Revan memutuskan untuk menghindar saja. Sebelum jantungnya melompat dari sarangnya.
"Emangnya gue mau ketemu zombie apa?"
Revan hanya tertawa kecil menyikapinya. Dan, sebagai pelengkap salam perpisahan, ia melambaikan tangan.
Keylea tidak menghiraukan, selagi pikiran berpusat pada ilusinya. Mengharapkan pertemuan dengan sosok ibunya adalah hal yang mengharukan.
Namun ....
Setelah ia mengetuk pintu, benda ini terbuka oleh seseorang yang melepas gaitan kuncinya.
"Kamu ga jadi kabur?" Seorang wanita paruh baya menyambut Keylea dengan hantaman ucap kata.
Apa?
Keylea tidak mengira jika wanita yang berdiri dengan memegang gagang pintu ini, adalah ibu palsunya.
"Mama?"
"Kenapa?" Wanita ini sepertinya sedang murka, karenanya, ia berkata sambil membawa raganya memunggungi lawan bicara. Dan, lebih parahnya lagi, ia berjalan tanpa mengajak tamunya.
Inikah yang dinamakan sosok ibu?
Sikap kasar yang terlihat dari gerak-gerik si wanita, membuat Keylea bertanya-tanya.
Ada rasa lega menjangkau sanubarinya, ketika memikirkan sosok ibu itu seperti ini.
Keylea tidak bicara lagi, ia membuntuti langkah wanita itu, dan terhenti di tengah pintu penghubung ruang tamu utama dan ruang keluarga. Tentunya, setelah wanita paruh baya itu menghentikan laju kakinya, dan lekas memutar tubuh menghadap anaknya.
"Kamu kabur ke rumah Kenzo?" kata Rika setengah murka, membuat nada bicara yang melantun terdengar tegas.
"Dia yang bawa aku ke sana." Keylea masih meraba-raba keadaan. Jadi, ia masih bersikap lembut kepada wanita yang berdecak di sana.
Seandainya, tidak ada maksud terselubung yang membuatnya mendadak memiliki seorang ibu, ia sudah membalas ucap sindiran itu.
"Bagus dia yang temukan kamu. Tapi, kamu mau menghindar dengan pura-pura sakit, agar Mama tak mendapat bagian?"
"Bagian? Apa maksudnya?" Dahi Keylea mengernyit tajam, rasa ketidakpercayaan membuat matanya menyorot tajam pada wajah Rika.
"Kamu masih pura-pura, Keyra. Kamu lupa perjanjian kita? Kamu bilang mau berbagi dengan Mama."
"What? Mama mau berbagi cinta sama anaknya?" Sungguh, Keylea dibuat heran. Kali ini, perasaan tersampaikan dengan kepala yang menggeleng.
"Sembarangan!" Rika lekas menepis pikiran buruk anaknya. Mau bagaimanapun, ia tidak ingin merusak citra namanya. "Sesuai yang kamu bilang, hartamu adalah hartaku."
Deg!
Ada yang berdenyut nyeri di balik organ dalam Keylea. Terbersit ingatan tentang ibu kandungnya yang meninggal dunia sejak ia berusia dua bulan.
Lantas, apakah ibunya akan memiliki watak yang sama dengan wanita yang menatap harap di hadapannya?
"Konyol. Yang ada, orangtua yang banting tulang buat anaknya!" kata Keylea membantah pikirannya sendiri. Namun, kalimat ini seakan menyahut ucapan ibu palsunya.
"Kamu jadi tak sopan begini, Keyra."
Aneh, tetapi, Rika tidak ingin mengorek keadaan, selagi ada yang menguntungkan untuknya.
Keylea jelas terkejut, sebabnya, telah melupakan status yang meminjam jati diri orang lain.
"Huh ...." Lantas, helaan napas rancu itu diakhiri dengan tepukan kecil pada pelipisnya. "Apa aja yang Mama mau?"
"Mama hanya ingin mendapatkan apa yang kamu dapatkan?"
"Termasuk suamiku?"
"Sudah Mama katakan, bukan itu Keyra!" katanya menyangkal dengan setengah membentak.
"Oke ... oke ...." Keylea dibuat tidak berdaya, pasrah sudah ia menghadapinya. Terlanjur menjerumuskan diri pada persoalan pribadi orang lain, lebih baik ia menjalaninya seperti aliran air saja.
Baiklah ....
Demi menjaga nama baik dari insan yang direbut kedudukannya, ia rela memperdaya diri dengan keserakahan ibu palsunya.
Kriet ....
Suara dari pintu yang terbuka, membuat dua wanita menatap ke arah sumbernya.
Rika menampakkan mimik wajah yang mewakilkan perasaan kejut, ketika melihat Revan berjalan menghampirinya.
Apakah pria itu menguping perbincangannya dengan sang anak?
Rika mengharap, tidak terjadi kebetulan seperti demikian.
Untuk memastikan, "Nak Kenzo, kamu tak datang bersamaan dengan kesayanganku?" Ia merangkul anaknya, tak ayal di akhir kalimat ia mengungkap kebohongan dengan mengelus puncak kepala Keylea.
Namun, Keylea mendelik tajam. Menurutnya, Rika seperti ibu tiri yang hanya menyayangi anaknya di depan suaminya saja.
Menggelikan!
Mungkin, ini hukuman dari Tuhan, karena ia telah rela mengorbankan keluarga yang menyayanginya, hanya demi merangkai siasat untuk mengungkap kebenaran.
Lalu, bagaimana nasib insan yang direbut namanya olehnya?
Keyra Delisti adalah sasaran utama untuk Keylea melancarkan siasatnya. Sebab, mencegah jika wanita itu membongkar rahasianya.