멜로디 동궁 (Mellodi dong-gung / East Palace Melody)
Helaan napas kembali diembuskan Tuan Min kala irisnya menatap perkamen dengan stempel berwarna merah terhampar di atas mejanya. Dadanya terasa sesak seperti baru saja dihantam beban seberat ratusan ton setiap kali mengingat isi dari perkamen tersebut. Di sisinya, Nyonya Lee pun ikut termenung. Pasangan suami – istri bangsawan itu tampak gelisah.
Suara ketukan di pintu di susul suara lembut yang menyebutkan identitas si pengetuk, membuat pasangan tersebut tersentak dari pemikiran masing – masing. Keduanya kembali memfokuskan diri sembari mengatur emosi yang sedikit kacau. Dalam hati, keduanya berharap jika putri mereka bisa berpikir rasional dan memudahkan mereka untuk mengirimnya kembali ke negeri Qing.
Pintu ruangan di geser terbuka, yang lalu sosok feminim itu masuk ke ruangan, yang kemudian duduk bergabung bersama keluarga kecilnya. Maniknya menelisik riak emosi dari orang tuanya. Dalam diam, ia sadar sesuatu pasti tengah terjadi hingga ia di panggil ke ruangan sang Ayah.
"Abeoji, ada apa abeoji memanggilku? Apa terjadi sesuatu?"
Yeon Hwa langsung membuka pembicaraan setelah mengamati riak emosi yang terpeta nyata di raut kedua orang tuanya. Gusar dan gelisah, dua emosi itu tampak mendominasi ekspresi ayah dan ibunya, dan Yeon Hwa yakin sesuatu yang penting telah terjadi.
Tuan Min dan Nyonya Lee saling bertukar tatap melihat Yeon Hwa yang mampu membaca situasi yang tengah terjadi. Dalam hati, ada sedikit rasa sesal mengetahui putri kesayangan mereka begitu cerdas. Hal ini membuat keduanya semakin sulit untuk mengelabui kejadian genting yang sedang terjadi pada keluarga mereka.
"Yeon Hwa~ya, apa kau mendengar sesuatu mengenai keluarga kita pagi ini?" tanya Tuan Min yang tak punya jalan lain selain memancing pembicaraan pada Yeon Hwa.
Yeon Hwa mengernyit mendengar pertanyaan sang Ayah. Dengan cepat, gadis itu memutar kejadian seharian ini, berusaha menemukan kejadian penting yang mungkin saja berhubungan dengan topik pembicaraan keluarganya malam ini. Yeon Hwa yakin bisa menemukan sesuatu yang terasa aneh karena seharian ini, ia tak pergi kemana pun.
"Apa pembicaraan malam ini berkaitan dengan utusan istana yang datang ke rumah kita pagi ini, abeoji? Kupikir kejadian itulah yang begitu mencengangkan yang terjadi pada keluarga kita pagi ini," jelas Yeon Hwa yang akhirnya mengingat satu kejadian dimana pelayannya—Bo Sung, begitu heboh memberitahu Yeon Hwa mengenai kedatangan utusan istana.
Nyonya Lee menghela nafas gelisah, wanita itu menyadari hal yang selanjutnya akan dibicarakan suaminya pada Yeon Hwa. Jika saja waktu bisa ia putar, wanita bangsawan itu jelas akan menolak kedatangan sang utusan istana ke rumahnya. Nyonya Lee berharap, nasib buruk menjauhi putrinya jikapun keputusan terpahit harus mereka terima.
"Geurae. Pembicaraan malam ini berkaitan dengan kedatangan utusan istana pagi tadi. Mereka memberikan sebuah dekrit pada keluarga—aniya," ralat Tuan Min, "Lebih tepatnya untukmu Yeon Hwa~ya. Silakan kau baca lebih dulu."
Yeon Hwa mengangguk dan meraih perkamen yang sejak tadi berada di atas meja ayahnya. Dengan tenang, Yeon Hwa membaca dengan seksama dekrit yang tertulis di perkamen tersebut. Sementara itu, keduanya orang tuanya tampak menahan nafas menunggu reaksi yang akan diperlihatkan Yeon Hwa. Hingga, gadis itu akhirnya melipat kembali perkamen tersebut dan meletakkan di atas meja.
"Bagaimana menurutmu, Yeon Hwa~ya? Ayah tidak akan memaksamu jika kau tidak menginginkannya," simpul sang Ayah melihat Yeon Hwa yang tak kunjung memberikan tanggapan.
"Bukankah ini berarti keluarga kita tak memiliki pilihan? Seperti yang tertera pada dekrit tersebut aku harus menikah dengan Hyoyeom daegun mama. Pilihan apa yang kuharapkan lagi selain menunggu tandu istana datang ke rumah kita,abeoji?" ujar Yeon Hwa masih dengan nada yang begitu tenang.
"Animnida!" seru Nyonya Lee menginterupsi percakapan ayah-anak tersebut. Kepalanya menggeleng cepat sementara tangannya menggenggam erat kedua tangan putri kesayangannya. Nyonya Lee jelas tak ingin menyerah secepat itu. Bagaimanapun ia tak ingin nasib buruk menghampiri putrinya.
"Yeon Hwa~ya, kita masih punya pilihan lain. Kau tak selalu harus mengikuti dekrit. Ktia masih bisa mengajukan keberatan. Atau... kita bisa mulai menyebarkan rumor bahwa kau sakit atau cacat," sergah Nyonya Lee.
Yeon Hwa menatap lembut ibunya yang tampak tak setuju. Yeon Hwa jelas tahu alasan di balik dirinya yang di kirim belajar jauh ke negeri Qing. Semua di akibatkan oleh ucapan seorang cenayang yang sempat mendatangi rumah keluarganya begitu ia dilahirkan.
Alih – alih mempercayai ramalan tersebut, Yeon Hwa menolak takhayul seperti itu. Menurutnya, segala sesuatu yang terjadi pada hidupnya berasalkan pada setiap keputusan yang di ambil dalam hidupnya. Dan Yeon Hwa paham ketakutan yang melingkupi ibunya saat ini. Itu sebabnya, ia balas menggenggam erat tangan Nyonya Lee, berusaha mengurangi ketakutan yang membayang.
"Gwenchanssimikka, eomeoni. Tidak ada yang perlu eomeoni khawatirkan. Aku akan menerima dekrit ini dengan lapang d**a jika memang itu yang di takdirkan langit untukku, aku akan menjalaninya," pungkas Yeon Hwa.
Perhatiannya lalu beralih pada sang Ayah yang juga menatapnya tak kalah khawatir dari ibunya. Senyum mengembang di roman Yeon Hwa, berharap ia bisa meredam ketakutan yang dirasakan mereka. "Abeoji juga tak perlu khawatir. Aku akan baik – baik saja. Abeoji bisa mengirim surat balasan pada istana sebagai jawaban atas dekrit ini," ucapnya memberikan saran pada sang Ayah.
~THE RED MOON~
Sementara itu, di istana utama Raja Munhyeong tengah berdiskusi dengan Putra Mahkota Yeongak terkait pemberian bantuan bibit dan pangan pada Provinsi Gangwon. Diskusi yang berlangsung alot itu secara tak terduga terhenti kala pintu masuk ruangan Raja Munhyeong terbuka secara kasar.
Ratu Park melangkah masuk dengan tergesa ke dalam ruangan tanpa peduli jika ia sudah berbuat lancang pada suaminya sendiri. Sementara itu, Kasim Jang yang berusaha menghentikan tindakan Ratu Park hanya bisa mematung di belakang. Seakan menyadari situasi tak menyenangkan yang terpeta di roman sang Ratu, Raja Munhyeong memberi tanda agar Kasim Jang meninggalkan ruangan. Membuat ruangan hening tersebut hanya berisikan Raja Munhyeong, Putra Mahkota Yeongak, dan Ratu Park yang masih bergeming di tempat.
"Jungjeon, apa yang menyebabkan kau menerobos masuk ke ruanganku seperti tadi? Tidakkah kau sadar sudah bersikap lancang padaku?" tanya Raja Munhyeong membuka topik.
Dengan tubuh gemetar karena menahan kemarahan sepanjang perjalanan menuju istana utama, Ratu Park menatap tajam Putra Mahkota Yeongak yang tampak santai menghadapinya. Segera, telunjuk Ratu Park tertuju sepenuhnya pada Yi Hyul yang duduk tepat di samping ayahnya.
"Kau! Beraninya kau meletakkan tangan pada uri-Hyoyeom! Bagaimana mungkin kau membuat dekrit tanpa persetujuanku?!"
Raja Munhyeong terkejut mendengar teriakan kemarahan Ratu Park di depannya. Terlebih, ia mendengar istrinya menyebutkan sebuah dekrit, yang membuat perhatian Raja Munhyeong kini beralih pada putra sulungnya—Yi Hyul.
"Dekrit? Seja, bisa kau jelaskan apa maksud ibumu mengenai dekrit yang baru saja ia sebutkan?" tanya Raja Munhyeong meminta penjelasan pada putranya.
Ratu Park tak mampu lagi mengendalikan emosinya. Dengan cepat, wanita menuju Hyul dan menarik bagian depan jubah putra tirinya. Amarahnya meletup – letup jika membayangkan nasib anak kesayangannya setelah pernikahan dekrit nanti.
"BERANINYA KAU MENARUH TANGAN PADA PUTRAKU! KAU PIKIR AKU AKAN DIAM SAJA?!"
"JUNGJEON!"
Raja Munhyeong membentak seraya berdiri dari duduknya begitu melihat tindakan Ratu Park pada Yi Hyul. Sungguh, sang Raja tak menyadari bendera peperangan yang tengah dikibarkan istri dan putra sulungnya. Seakan tak ingin membuat keadaan semakin runyam, Raja Munhyeong menarik Ratu Park menjauhi Hyul.
"Apa yang salah dari tindakanku,eoma mama? Aku hanya memberikan dekrit atas pernikahan adikku sendiri. Bukankah itu bukti betapa aku menyayanginya?" tandas Hyul lengkap dengan senyum miring yang menandakan kemenangan pertamanya pada Ratu Park.
"KAUUU!!"
Ratu Park memberontak dalam pelukan Raja Munhyeong melihat senyum yang menghias wajah Hyul. Kebencian secara cepat menyebar memenuhi hati Ratu Park. Sadar dengan situasi yang semakin tak kondusif, Raja Munhyeong memilih membawa istrinya menyingkir dari ruangan.
Begitu pintu ruangan kembali tertutup, Hyul masih bisa mendengar jerit kemarahan Ratu Park terhadapnya. Hal ini jelas membuatnya lelaki berjubah biru itu senang bukan main.
"Anda harus berlutut jika ingin menyelamatkannya, eoma mama. Seharusnya Anda sadar untuk tak melewati batas dan tahu diri atas status putramu."
~THE RED MOON~
Tangan Putri Mahkota Kang terhenti di udara kala mendengar berita yang di sampaikan Dayang Kim padanya. Perih dengan cepat menyelimuti hati menyebabkan rasa sesak setelah mendengar berita mengenai calon istri Pangeran Agung Hyoyeom. Butuh beberapa detik bagi Putri Mahkota Kang agar dapat menguasai diri dan menyunggingkan senyum di parasnya.
"Dari keluarga mana gadis itu tepatnya berasal, Kim sanggung?" tanya Hye Sun sembari meredam rasa sesak yang merayapi hati. Di balik meja, sebelah tangannya yang lain tampak mencengkram kuat chima yang ia kenakan.
"Nona keluarga bangsawan Min yang mendapatkan dekrit pernikahan dari seja jeoha, mama. Dari kabar yang hamba dengar, ia adalah gadis berbudi luhur. Kabar burung juga menyebutkan jika ia baru saja kembali dari negeri Qing," jelas Dayang Kim dengan senyum.
Senyum menyedihkan terbit di wajah Hye Sun mendengar rincian informasi mengenai calon pengantin sahabatnya—Yi Yeol. Tampaknya, Putra Mahkota Yeongak tak main – main mencarikan calon pengantin yang sepadan untuk Pangeran Agung Hyoyeom. Hal ini jelas membuat sebuah luka muncul di permukaan hati Hye Sun. Perih kembali menyapanya karena sebentar lagi sosok yang ia cintai sepenuh hati akan dimiliki oleh gadis lain.
"Kabar yang sangat menggembirakan, Kim sanggung. Aku yakin, calon Putri Agung pasti gadis yang cerdas. Betapa beruntungnya Hyoyeom daegun bisa menikahi gadis seperti itu," ujar Hye Sun sekalipun hatinya menangis pilu, menyayangkan posisi yang sangat ia inginkan.
"Ye, mama. Sebentar lagi, istana kembali bersiap menyambut pernikahan."
Hye Sun terdiam sama sekali tak mempedulikan ucapan Dayang Kim. Sang Putri Mahkota lebih sibuk mengasihani dirinya. Jika saja ia berani menolak keinginan ayahnya, sudah bisa dipastikan ia bisa hidup berbahagia dengan Yeol. Tanpa Hye Sun sadari, setetes likuid bening meluncur turun dari sudut matanya tanpa bisa ia cegah.
~THE RED MOON~