차를 흘 렸어 (chaleul heul lyeoss-eo/Spilled Tea)
Rumah keluarga bangsawan Min yang biasanya terlihat lengang dan bersahaja, dalam beberapa hari ini seakan menjadi tempat kedua paling penuh sesak yang berada di Hanyang, setelah pasar tradisional. Hilir mudik petugas ataupun dayang kerajaan seakan menjadi sesuatu yang biasa di rumah sederhana tersebut. Beragam gerobak yang mengangkut bermacam hadiah silih berganti keluar masuk dari rumah. Tak hanya itu, beberapa bangsawan yang mengenal baik keluarga Min datang untuk memberikan ucapan selamat pada sang tuan rumah.
Di tengah hirup pikuk yang memenuhi sepanjang penjuru rumah, tampak gadis remaja berlari melintasi halaman menuju bangunan timur. Dengan nafas terengah, gadis itu memanggil sepupunya, seakan tak sabar untuk membagi informasi yang ia dapatkan dengan sepupunya.
“Yeon Hwa eonni! Yeon Hwa eonni!” panggilnya dengan suara nyaring, berusaha mengalahkan suara keributan para tetua.
“So Yun~a! Jangan berisik dan jangan mengganggu sepupumu!” teriak salah seorang tetua dari teras bangunan yang bersebrangan dengan paviliun tempat tinggal sang nona keluarga.
Gadis bernama So Yun itu tak mengindahkan peringatan tetua keluarganya. Sedikit sembrono, gadis itu melepas sepatu dan berlari memasuki paviliun. Bibir mungilnya terus memanggil, berusaha mencari tahu keberadaan sepupunya.
“Yeon Hwa eonni!” pekiknya saat irisnya menemukan sang sepupu berada di tengah ruangan kedua dalam paviliun, baru saja selesai mengukur beberapa pakaian setelah pernikahan nanti. Bibirnya langsung terkatup rapat setelah sebelumnya memekik heboh, menyadari kehadiran beberapa dayang yang menaruh perhatian atas kedatangannya.
Min Yeon Hwa menoleh dan melemparkan lengkung sabit yang memukau, sebagai sambutan atas kedatangan sepupunya. Tangannya melambai lembut, memberi tanda agar sepupunya itu mendekat. Yeon Hwa bahkan terkikik geli melihat So Yun yang merasa kikuk dengan kehadiran para dayang istana di ruangannya.
“Pekerjaan kami sudah selesai sepenuhnya. Kami pamit undur diri, agasshi,” sahut seorang dayang yang terlihat paling senior seraya membungkuk dan melangkah mundur keluar dari ruangan.
Yeon Hwa membalas ucapan pamit para dayang istana itu dengan sebuah anggukan singkat. Tak ketinggalan, lengkung sabit menghias parasnya. Atensinya lalu bergulir, tertuju pada sepupunya yang sempat heboh sejak awal kedatangannya.
“Apa yang membuatmu begitu bersemangat, So Yun~a? Sepertinya, ada sesuatu yang sangat menarik. Apa kau tak mau membaginya denganku?” tanya Yeon Hwa diiringi godaan kecil pada sepupunya.
Senyum So Yun kembali melebar, binar antusias yang sempat meredup kembali menyala. Gadis itu seakan siap meledakkan segala informasi yang ia bawa pada sepupunya.
“Eonni, aku baru saja mendengar kabar tentang tempat tinggal yang akan kau tempati begitu menikah nanti? Apa kau tak ingin mendengarnya?” pancing So Yun sembari memamerkan deretan gigi kelincinya.
“Benarkah? Aku bahkan belum mendengar apapun tentang tempat tinggalku nanti setelah menikah,” balas Yeon Hwa yang berpura – pura sedih. Maniknya memperlihatkan sorot merajuk menggoda sepupunya yang begitu bersemangat menyambut pernikahannya nanti. “Jadi, mau kah kau memberitahuku, So Yun~a?” lanjut Yeon Hwa dengan nada imut, berusaha membujuk So Yun.
“Geuraee~ Tentu saja aku akan memberitahu eonni. Kalau tidak, untuk apa aku datang kemari?” balasnya riang. So Yun kemudian beranjak dari duduknya dan bersiap memulai ceritanya.
“Aku mendapat informasi ini dari beberapa pelayan istana yang kutanyai. Menurut mereka, eonni akan tinggal di salah satu vila istana yang dihadiahkan jusang jeonha untuk daegun mama. Nama paviliunnya adalah Pyeonghwa-gak.”
“Pyeonghwa-gak?” ulang Yeon Hwa seakan tak mempercayai nama tempat tinggalnya nanti.
So Yun mengangguk penuh semangat. “Bukankah itu nama yang cantik untuk sebuah tempat tinggal, eonni?”
Yeon Hwa mengangguk, perhatian gadis itu beralih pada jendela ruangannya yang terbuka dan menampilkan langit cerah di luar sana. Irisnya menatap langit dan seolah untaian permohonan terucap lirih.
“Aku berharap, pernikahanku akan berjalan seperti nama tempat tinggalku kelak--ketenangan” ungkap Yeon Hwa dengan manik tetap tertuju pada langit.
-*-
Sementara itu, Putri Mahkota Kang beserta rombongan pelayannya tampak bergerak menuju arah barat dari tempat tinggalnya. Wanita itu hendak menuju paviliun tempat tinggal Yi Yeol. Setelah dekrit istana yang dikeluarkan suaminya beberapa hari lalu, Kang Hye Sun menjadi sangat gelisah.
Semakin dekatnya hari pernikahan Yi Yeol dengan calon istrinya, sang Putri Mahkota tak bisa mengenyahkan Yi Yeol dari kepalannya. Terlebih selama beberapa hari ini, ia sama sekali tak bisa menemukan Yi Yeol di istana. Sekalipun, ia sudah mengutus seorang dayang untuk mencarinya. Itu sebabnya, siang ini ia sengaja untuk mengunjungi paviliun tempat tinggal Pangeran Agung Hyoyeom di istana.
Dengan langkah sedikit tergesa, Putri Mahkota Kang melintasi halaman asri nan teduh paviliun barat. Wanita itu tak bisa menahan rasa penasarannya karena Yeoltak memberikan penolakan ataupun sanggahan atas dekrit yang diberikan Putra Mahkota Yeongak. Ia datang untuk menanyakan alasan Yi Yeol menerima begitu saja dekrit yang dibuat untuknya
“Oh? Sejabin mama?”
Suara seruan dari arah belakang membuat Hye Sun menghentikan langkah yang hendak menaiki undakan pintu masuk paviliun. Wanita itu berbalik dan menemukan Putri Yunhye--Yi Su beserta Pangeran Agung Hyoyeom berada beberapa meter dari tempatnya saat ini. Kakak beradik itu tampaknya sangat terkejut dengan kehadirannya yang tak terduga.
Yi Yeol tak pernah menduga Hye Sun akan menemuinya dengan cara seperti ini. Dan ia juga sempat melihat kilat terkejut di kedua manik Hye Sun saat mendapati kehadirannya bersama Putri Yunhye. Meski terkejut, Yeol berusaha tetap tenang. Tubuhnya kemudian membungkuk singkat dan merendahkan sorot pandangannya. Yeol menunjukkan sikapnya menghormati Hye Sun sesuai peringkat dan statusnya di istana.
"Suatu kejutan mendapatkan kunjungan sejabin mama di kediaman saya yang sederhana ini," sapa Yeol pada Hye Sun. Yeol bahkan tak memperhatikan sorot terkejut yang diperlihatkan kedua manik Hye Sun padanya.
"Ada angin apa orabeoni tiba - tiba bersikap sesopan itu?" tukas Yi Su sembari menatap heran pada kakak beda ibu yang berada disampingnya Yi Su tahu, Yeol bukan orang yang senang berbasa - basi menggunakan formalitas.
Yeol balas menatap Yi Su, obsidiannya memancarkan sorot jahil. "Bukankah sudah seharusnya Anda juga bersikap sopan pada sejabin mama, Yunhye ongju?"
Yi Su berdesis kesal yang lalu kembali menatap Putri Mahkota Kang. "Sejabin mama, apa Anda kemari untuk menemui Hyoyeom daegun mama? Atau--"
"Aku kemari untuk mengucapkan selamat pada Hyoyeom daegun," potong Hye Sun cepat.
Wanita itu terlihat gugup karena tak menyangka jika Yeol saat ini sedang bersama adik tirinya. Segala macam hal yang ingin ia tanyakan pada Yeol menguap begitu saja karena kehadiran Yi Su yang tak terduga.
"Aku ingin mengucapkan selamat secara langsung pada Hyoyeom daegun atas pernikahannya. Aku juga membawakan beberapa hadiah," Hye Sun melirik ke arah Dayang Kim, dan dengan sorot matanya ia memberi tanda agar Dayang Kim segera memberikan hadiah yang memang ia bawa.
Yeol menerima bingkisan yang dibawakan Dayang Kim. Masih dengan sikap yang sama, Yeol mempertahankan tata kramanya sebagaimana kini ia dan Hye Sun adalah hubungan ipar.
"Terima kasih karena sejabin mama menaruh perhatian yang besar atas pernikahan saya. Kebaikan Anda sungguh seluas lautan," balas Yeol tak lupa dengan tubuh sedikit membungkuk pada Hye Sun.
Hati Hye Sun terasa tercabik melihat Yeol membungkukkan tubuh ke arahnya. Sedaya upaya, ia berusaha menahan diri untuk tak meledakkan segala hal yang ingin ia tanyakan pada Yeol. Sadar dengan batas kemampuannya, Hye Sun membalas ucapan terima kasih Yeol hanya dengan anggukan singkat dan memilih berlalu begitu saja dari hadapan Yi Yeol.
Tanpa mengucap sepatah kata apapun, Hye Sun beserta rombongan pelayannya pergi. Meninggalkan Yi Su yang masih sedikit bingung atas sikap yang ditunjukkan wanita yang pernah menjadi teman belajarnya. Alis Yi Su terangkat tinggi mengawasi kepergian Putri Mahkota Kang.
"Mwoya? Apa orabeoni tidak merasa aneh dengan sikap sejabin mama? Ia datang tiba - tiba dan pergi begitu saja?" tanya Yi Su yang lalu melirik ke arah kakaknya.
"Orabeoni, apa kau masih menyimpan perasaan padanya?"
Yi Si kembali mengajukan pertanyaan tak terduga pada Yi Yeol. Hal ini jelas membuat Yi Yeol melotot dan berdecak kesal pada adik beda ibu tersebut. Perlu Yeol akui, Yi Su memang saudari yang sangat mengenal dan memahami dirinya. Hal ini dikarenakan mereka lahir di tahun yang sama, hanya berbeda bulan.
Yi Yeol kemudian mengetuk pelan dahi Yi Su dengan dua jarinya. Tindakan itu membuat Yi Su meringis dan mendelik tajam ke arah Yi Yeol sembari mengusap dahinya.
"Kau ini masih saja suka berbicara sembarangan. Sebaiknya kau kembali membaca pelajaran etika klasik, ongju mama," ledek Yi Yeol dengan senyum mengejeknya.
"Orabeoni!!!"
Yi Su menjerit dan bersiap memuntahkan rasa kesalnya atas sikap Yeol. Melihat ekspresi kesal bercampur marah menghias paras adiknya, membuat Yi Yeol tertawa terbahak. Wajah Yi Su terlihat lucu karena pipinya memerah.
Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Manik kelam Yeol menemukan kasim yang ia kenal memasuki halaman kediamannya. Seketika, rasa senang yang sempat dirasakan Yeol menguap begitu saja seiring langkah yang diambil sang kasim menujunya. Begitu sudah berada dihadapan Yeol, lelaki berjubah hijau giok itu membungkuk padanya.
"Daegun mama, hamba membawa pesan dari seja jeoha. Jeoha mengundang Anda untuk menikmati sajian sore di kediamannya. Mohon Anda segera bersiap, mama."
-*-
"Apa kau tahu, alasan apa yang membuatku sampai mengundangmu kemari, Yeol~a?"
Yi Hyul menatap lurus sosok adik laki - lakinya dengan sedikit senyum miring. Pria berjubah biru tua itu langsung membuka topik pembicaraan, tepat setelah Yi Yeol datang dan duduk di alas yang sengaja disiapkan untuknya.
"Saya tak berani memikirkan alasan apa yang digunakan jeoha untuk mengundang saya kemari," balas Yeol dengan tenang meski sejatinya jantungnya berdebar sekaligus heran dengan sikap yang ditunjukkan kakaknya--sang Putra Mahkota.
Hyul terkekeh mendengar balasan aman dari Yeol. Tangannya kemudian mengambil segenggam dedaunan kering lalu memasukkannya ke poci teh. Tak ketinggalan, ia pun menuangkan air panas dari poci lainnya dan mulai meracik teh secara langsung di depan Yeol.
"Tentu saja aku mengundangmu kemari untuk mengucapkan selamat sekaligus membuat perayaan kecil atas pernikahanmu. Bukankah sebagai seorang kakak, aku harus memberimu sebuah nasihat sebelum pernikahan?" tandas Hyul yang kembali maniknya menghunus tajam obsidian yang serupa di depannya.
"Ye?"
Yeol jelas terkejut bukan main mendengar alasan yang diberikan Hyul. Alasan itu sangat di luar dugaan dan mampu menerbitkan rasa hangat, di sudut hati Yeol yang selama ini terasa dingin. Entah sudah berapa lama ia menantikan Hyul menganggapnya sebagai adik.
Menyadari sikapnya dan tak ingin merusak suasana hangat yang terbangun, Yeol berdeham dan memperbaiki ekspresi di wajahnya. Lengkung yang menerbitkan lesung pipinya tercetak di roman Yeol. Yi Yeol segera membungkuk sedalam mungkin ke arah Hyul. Yeol jelas - jelas menunjukkan rasa bahagianya atas sambutan yang diberikan Hyul untuknya.
"Anugrah Anda sedalam samudera. Saya tak yakin dapat membalas perhatian tulus Anda, jeoha."
Hyul terkekeh dan menyodorkan sebuah cawan kosong ke arah Yeol. Senyum yang langka itu, ia perlihatkan pada Yeol.
"Kalau begitu, bagaimana jika kau membalasnya dengan menerima minuman yang kutuangkan?"
Tanpa banyak kata, Yeol mengangguk penuh semangat dan menerima cawan yang disodorkan Hyul padanya dengan hati membuncah bahagia. Untuk sejenak, ia mampu melupakan segala perasaan yang sempat membebaninya sejak dekrit pernikahan diturunkan oleh Hyul.
Jika saja Yeol tahu bahwa pernikahan adalah cara yang bisa mendekatkannya dan mencairkan hati Hyul yang sedingin salji padanya, sudah pasti ia akan melakukannya sejak dulu. Tapi, semua tak jadi masalah asalkan Hyul kini melihatnya sebagai seorang adik.
Hyul tersenyum dan mulai menuangkan teh yang ia racik ke cawan kosong Yeol. Sementara itu, Yeol memegangi cawan tersebut dengan kedua tangannya.
Perlahan, cairan yang masih mengepulkan uap putih tipis itu mulai mengisi cawan kosong. Namun, hingga cawan hampir terisi penuh, Hyul tak terlihat tanda - tanda akan berhenti menuang. Hal ini jelas membuat air dalam cawan meluap dan mengenai punggung tangan Yeol.
Untuk beberapa saat, Yeol masih bertahan. Namun, menyadari Hyul yang tak berniat berhenti menuang, membuat Yeol tak sanggup lagi menahan rasa terbakar di punggung tangannya dan melepaskan cawan dari genggamannya. Cawan itu langsung meluncur jatuh ke atas meja saji.
Melihat Yeol meringis kesakitan, membuat Hyul kemudian meletakkan poci berisi teh dan menatap adiknya dalam diam. Seringai kecil muncul di sudut bibirnya, merasakan sedikit euforia dalam dirinya melihat Yeol kesakitan di depannya.
"Bagaimana rasanya? Apa begitu menyakitkan?" tanya Hyul akhirnya.
Yeol membelalakkan mata dan balas menatap Hyul dengan sorot tak mengerti. "Hyung! Kenapa kau melakukan hal ini padaku?" Yeol jelas merasa sedih dan sedikit tak terima dengan perlakuan kakaknya. Yeol jelas melupakan sedikit tata kramanya pada Hyul. Kekecewaan terlalu besar menyelimuti hatinya saat ini.
"Apa kau percaya begitu saja dengan alasan yang kukatakan? Hah! Jangan bermimpi di siang hari, Yeol."
"Kenapa hyung begitu membenciku? Kesalahan apa yang sebenarnya kulakukan padamu? Tak pernah sedikitpun aku menaruh kebencian padamu, hyung!" seru Yeol yang akhirnya tak tahan lagi menahan kesedihannya atas perlakuan kakaknya.
"Kesalahanmu adalah terlahir ke dunia ini dan bergelar sebagai daegun. Karena kelahiranmu membuat ibumu memiliki obsesi untuk mendapatkan tahta yang kumiliki dan menempatkanmu di atasnya," sembur Hyul dengan tanpa perasaan. Hyul sama sekali tak mempedulikan kesedihan bercampur kekecewaan yang terpeta nyata di roman Yeol.
"Aku menerbitkan dekrit untuk menjauhkanmu dari ibumu. Karena itu,"
Hyul kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Yeol. Pria berjubah biru tua itu tersenyum miring dan berjongkok tepat di depan Yeol.
"Segeralah pergi dari istana. Jangan pernah kembali menjejakkan kaki di istana ini atau aku akan memberikan sesuatu yang lebih menyakitkan dari ini pada ibumu atau pada siapapun yang kau sayangi. Jangan pernah sekalipun kau mengharapkan tahta yang sejak awal menjadi milikku. Kenali posisimu sejak awal, Yi Yeol."
Hyul menegakkan kembali tubuhnya dan melangkah meninggalkan ruangan. Pria itu tak sekalipun menoleh ke belakang. Bahkan Hyul tak akan pernah peduli dengan lelehan airmata yang kini mulai jatuh membasahi salah satu pipi Yeol.
-*-