경회루의 황혼 (Gyeonghoeluui Hwanghon/ Twilight in Gyeonghoeru Pavilion)
~***~
Yeol terkejut melihat sosok yang tengah berdiri di tepi danau paviliun Gyeonghaeru. Pikirannya seperti terlempar ke beberapa waktu lalu, saat ia bertemu seorang gadis kala ia berada di istana daerah. Yi Yeol jelas mengenali gadis itu, dan ia terkejut mendapati gadis itu berada di rumahnya.
“D-doryeonim?”
Yeon Hwa tak bisa menahan keterkejutannya melihat pemuda yang pernah ia temu di tepi sungai dalam perjalanannya kembali pulang dari Negeri Qing. Sungguh, Yeon Hwa kaget mendapati pemuda itu berada di istana. Hatinya dengan cepat bertanya – tanya, bagaimana bisa pemuda itu berada di istana?
“Suatu kebetulan yang tak terduga kita bertemu lagi, agasshi,” balas Yi Yeol dengan senyum ramah. Perlahan, Yeol memangkas jarak diantara keduanya, hingga akhirnya berdiri bersisian dengan gadis yang belum ia ketahui namanya.
“Saya tak menyangka bertemu dengan doryeonim di sini.”
“Geurae. Aku pun begitu. Jika boleh, aku ingin mengetahui namamu juga kepentinganmu berada di istana. Maaf jika terdengar lancang.”
Yeon Hwa mengembangkan senyum, menggeleng, masih dengan tatapan yang merendah. Yeon Hwa tak merasa tindakan pemuda di depannya itu terkesan lancang.
“Anda tak bersikap lancang. Seharusnya saya memperkenalkan diri, saya putri dari keluarga Min, nama saya Yeon Hwa.”
Yeol mematung saat mendengar nama gadis itu disebutkan. Matanya membulat sempurna, menyadari sosok di depannya adalah gadis yang akan ia nikahi dalam beberapa hari ke depan.
“Min Yeon Hwa agasshi? Ini benar – benar kebetulan, aku Yi Yeol Hyomyeong daegun. Jika kau tak salah mengingat, benar aku adalah calon suamimu. Senang bertemu denganmu, agasshi.”
Yeon Hwa secara spontan mengangkat wajah dan menatap langsung Yeol tepat di kedua iris sekelam malamnya. Detik dimana Yeon Hwa menatap langsung Yeol, jantung gadis itu berdebar dua kali lipat. Di awal pertemuan, Yeon Hwa menebak jika pemuda itu berasal dari keluarga bangsawan terkenal, karena kulit wajahnya begitu terawat. Tapi, ia tak menyangka bila jauh – jauh hari, ia sudah bertemu dengan calon suaminya.
Sadar dengan tingkahnya yang sedikit lancang, Yeon Hwa segera membungkuk sedalam mungkin ke arah Yeol. Tangannya bergerak gelisah di balik dangui polos yang ia kenakan. Untuk pertama kalinya, Yeon Hwa merasa gugup karena bertemu calon suaminya.
“D-daegun mama, maafkan kelancangan saya karena sudah bersikap tak sopan pada Anda. Sungguh, saya tak tahu jika Anda adalah seorang pangeran agung. Mohon jangan mengambil hati atas sikap sembrono yang saya tunjukkan pada Anda,” ujar Yeon Hwa dengan nada suara gemetar yang begitu kentara.
Tawa Yeol mengudara mendengar permohonan maaf Yeon Hwa. Demi apapun, Yeol tak merasa jika Yeon Hwa bersikap lancang padanya. Namun, menyadari Yeon Hwa yang semakin gelisah, membuat Yeol menyudahi tawa dan kembali berfokus pada Yeon Hwa. Saat Yeol menumpukan perhatian pada paras Yeon Hwa, sesuatu terlintas begitu saja di kepalanya.
Yeol menyadari, Yeon Hwa memiliki gadis rupawan. Bentuk wajah mungil, dengan dahi yang tak terlalu lebar namun pas, sepasang manik yang begitu jernih dinaungi kedua alis yang terbentuk secara alami, hidung yang mancung, serta bibir seranum buah persik yang tampak selalu tersenyum. Dengan paras seperti itu, Yeol yakin, Yeon Hwa bisa mendapatkan lelaki bangsawan ternama untuk hidup nyaman dan aman jika dibandingkan dirinya yang hanya bergelar sebagai Pangeran Agung.
Meski Yeol memiliki darah biru, tapi statusnya sebagai putra Ratu, tak memungkiri hidupnya kelak akan terasa tak nyaman. Terlebih setelah mendengar ucapan kakaknya—Putra Mahkota Yeongak Yi Hyul— tempo hari saat menjamunya teh. Menikah dengan Yeol berarti harus siap dengan segala sesuatu yang bisa saja membuat hidup Yeon Hwa dalam kesulitan bahkan dalam bahaya.
“Aku yakin, kau berada di istana atas undangan ibuku untuk pelatihan. Bagaimana dengan pelatihanmu? Apa terasa berat dan melelahkan?” tanya Yeol pada akhirnya memecah keheningan yang sempat menjeda di antara keduanya.
“Saya tersanjung Anda menanyakan hal itu pada saya. Pelatihannya sama sekali tak terasa berat ataupun melelahkan. Saya justru menikmati setiap prosesnya.”
“Aku sangat lega mendengarnya,” gumam Yeol yang lalu melirik Yeon Hwa lewat sudut matanya, memperhatikan dengan seksama riak yang ada di parasnya, “apa kau keberatan jika kita berbincang sebentar? Anggap saja ini seperti pertemuan perkenalan antara calon pengantin.”
Yeon Hwa menggeleng, lalu menoleh sebentar pada Yeol. “Silakan, mama. Saya sama sekali tak keberatan.”
Selama dua puluh detik, hanya terdengar desau angin sore yang berembus di antara keduanya. Baik Yeol maupun Yeon Hwa sama – sama sibuk dengan berbagai pemikiran sendiri. Hingga, Yeol kembali menghela napas panjang, dan menjatuhkan pertanyaan yang selama ini bersarang di hati dan kepalanya.
“Aku tahu mungkin pertanyaan ini terdengar lancang bagimu. Tapi, aku sama sekali tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin tahu pandangan serta pemikiranmu mengenai pernikahan ini,” Yeol kembali menjeda, yang lalu menoleh dan memfokuskan perhatiannya pada Yeon Hwa yang berdiri di dekatnya, “kenapa kau menyetujui pernikahan ini?”
“Saya terkejut dengan pertanyaan Anda, mama. Tapi, saya akan menjawab dengan jujur,” Yeon Hwa tersenyum kecil dan memandangi permukaan danau istana sore ini dengan sorot jauh, selintas bayangan wajah kedua orang tuanya muncul di kepalanya.
“Keluarga saya bukan bangsawan yang dilimpahi kekayaan ataupun kekuasaan yang bisa memperkuat Anda. Saya tak tahu alasan apa yang mendasari seja jeoha mengirimkan dekrit pernikahan pada keluarga kami. Sebagai bagian dari kalangan bangsawan, kami harus memberikan contoh dan menerima dengan baik dekrit ini. Tidak ada alasan kami harus menolaknya. Jika Anda berpikir kami mencari kekuasaan melalui pernikahan ini, saya ataupun keluarga kami tak pernah sekalipun terbersit pemikiran seperti itu.”
Yeol tertegun mendengar balasan yang diungkapkan Yeon Hwa. Ada perasaan lega yang mengaliri jiwanya kala mendengar balasan tulus tersebut. Di satu sisi, ia bersyukur dengan sikap tulus dan murni yang sejauh ini Yeon Hwa perlihatkan. Di sisi lain, Yeol merasa bersalah pada Yeon Hwa, karena gadis sepertinya harus terseret dalam pusaran kehidupannya yang bisa saja berakhir menyedihkan.
Namun, Yeol memilih tak memperlihatkan rasa bersalahnya dan menyimpannya jauh di dasar hatinya. Bagaimanapun gadis di sisinya sudah menerima dirinya dengan tulus dan Yeol menggumamkan janji pada dirinya sendiri untuk memperlakukan Min Yeon Hwa dengan sebaik mungkin setelah pernikahan nanti.
“Sungguh melegakan,” sahutnya seraya tersenyum pada Yeon Hwa, “mengetahui aku memiliki calon istri berbudi luhur sepertimu. Meski aku tak tahu bagaimana kelak pernikahan kita akan berjalan, tapi satu hal yang bisa kupastikan adalah aku akan memperlakukanmu dengan baik dan tulus.”
Yeon Hwa menoleh dan balas memandang wajah Yeol yang terpapar pantulan sinar jingga keemasan, yang menurutnya menambah kesan mengagumkan akan visual calon suaminya. Seakan sinar mentari adalah padu padan yang tepat untuk seorang Yi Yeol, menambah kesan bijak sekaligus agung. Dan lengkung kurva terlukis semakin jelas, membingkai paras Yeon Hwa dengan sempurna.
“Saya akan mendampingi Anda sebaik mungkin, daegun mama,” ungkap Yeon Hwa menutup pembicaraan mereka sebelum pernikahan.
~THE RED MOON~
“Bingoong mama, setidaknya Anda harus makan walau hanya sesuap. Mohon pikirkan tubuh Anda, mama.”
Dayang Kim menghela napas panjang dan menatap putus asa, tubuh Putri Mahkota Kang yang berbaring membelakanginya. Sudah seharian ini, tuannya tersebut menolak makanan yang ia dan para dayang sajikan. Bahkan, tak sekali Dayang Kim membujuk sang Putri Mahkota seperti sekarang. Namun, wanita itu hanya terus berbaring dan bergeming, mengabaikan Dayang Kim.
“Mama, Anda tidak bisa bersikap seperti ini terus. Anda harus makan walau hanya sesuap. Anda harus memikirkan kesehatan Anda. Tubuh Anda sekarang bukan hanya milik Anda, tapi juga milik kerajaan ini. Jika Anda...”
“Aku akan memakannya nanti,” potong Hye Sun dengan suara pelan. Ia malah merasa pening mendengar bujukan Dayang Kim.
Saat ini, Hye Sun hanya ingin berbaring dan dibiarkan sendiri. Nafsu makannya menghilang dan ia tak ingin melakukan kegiatan apapun, sejak ia bertemu dengan calon istri Yeol beberapa hari lalu. Hye Sun benar – benar patah hati.
“Tapi mama, hamba pasti akan mendapat amarah seja jeoha jika tak memastikan Anda makan. Selain itu, Anda jelas harus ikut menyambut ipar Anda besok. Jadi, Anda...”
Ucapan Dayang Kim terputus kala mendengar suara pintu yang bergeser. Dayang Kim segera menoleh dan terkejut mendapati kehadiran Putra Mahkota Yeongak. Segera, dayang paruh baya itu beranjak dan melangkah mundur dari sisi futon yang ditiduri Putri Mahkota Kang.
“Tinggalkan kami, Kim sanggung,” perintah Hyul tegas.
Tanpa banyak berbicara, Dayang Kim mengangguk dan membiarkan pasangan itu berdua saja di ruangan. Sepeninggal Dayang Kim, Hyul mematung di tempat, memperhatikan Hye Sun yang masih terus memunggunginya. Helaan napas panjang diembuskan Hyul seiring kemarahan yang menggelegak di hatinya. Hyul tak menyangka pengaruh pernikahan Yi Yeol bisa separah ini pada istrinya.
Hyul kemudian melangkah mendekati futon dimana istrinya berada, lalu duduk di sisi. Manik sekelam jelaganya bergulir ke arah meja saji dengan semangkuk bubur yang belum tersentuh. Dengan sedikit kasar, Hyul menarik meja saji itu ke arahnya dan mulai mengambil sendok yang disediakan. Tangannya dengan cepat mengaduk – aduk bubur agar panasnya merata, sesekali ekor matanya melirik Hye Sun yang tak kunjung menghadap ke arahnya.
“Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Apa kau berniat akan menghabiskan sisa hidupmu dengan berbaring?” tanya Hyul dengan nada mencemooh.
Seakan menyalurkan amarahnya, adukan Hyul pada bubur semakin cepat, membuat suara logam beradu dengan keramik terdengar begitu nyaring. Hyul sangat murka dengan sikap yang diperlihatkan Hye Sun. Bahkan, wanita itu tak kunjung mengatakan sepatah kata.
“Jika kau terus bersikap seperti ini, berarti aku harus menghukum Yeol beserta istrinya kelak. Hukuman apa yang pantas bagi mereka karena sudah menyakiti istriku?” pancing Hyul dengan senyum miring tersungging.
“Meminum racun? Diturunkan status dan dicabut gelar? Ah, aku tahu, pengasingan. Sepertinya akan co—“
“Tolong hentikan,” sahut Hye Sun masih dengan berbaring namun ia memejamkan mata seolah tak sanggup membayangkan hukuman yang tadi sebutkan Hyul.
“Pengasingan. Aku rasa itu hukuman tepat untuknya. Segera, setelah pernikahan aku akan meng—“
“Jeoha, aku mohon hentikan!”
Hye Sun bahkan tak sadar sudah meninggikan suaranya pada Hyul. Hal ini jelas membuat amarah Hyul semakin berkobar. Pria itu membanting sendok ke atas meja saji, tak bisa lagi menahan emosi yang menguasai.
“Berbalik atau aku benar – benar akan melakukan semua hukuman yang kusebutkan pada pangeran sialan itu, BINGOONG!” ancam Hyul pada akhirnya.
Hye Sun terkesiap mendengar ancaman disertai bentakan Hyul. Dengan tubuh gemetar, Hye Sun memaksakan tubuhnya bangun dan menghadap ke arah suaminya. Penampilan Hye Sun terlihat begitu kacau dan berantakan. Tampaknya, sang Putri Mahkota benar – benar sedang patah hati. Dan hal ini jelas semakin menyulut kobaran kebencian Hyul pada adik tirinya.
“Aku tak main – main untuk menyiksa Yeol, jika kau terus bersikap seperti ini. Jaga dan benahi sikapmu! Aku tak ingin memiliki bunga layu yang duduk di sampingku. Aku memilihmu karena kau adalah bunga terbaik yang dimiliki negeri ini!” desis Hyul dengan wajah tanpa riak, seakan ia tak peduli bahwa setiap katanya tak akan menimbulkan luka bagi Hye Sun.
Hye Sun menatap nanar suaminya. Hatinya sangat terluka dengan ucapan Hyul padanya. Dalam hati, Hye Sun mulai meratapi nasibnya, ia menikahi seorang pria dingin yang begitu egois. Bahkan di romannya, sama sekali tak terlihat riak khawatir atas kondisi Hye Sun yang terlihat begitu pucat dengan kantung mata yang menghitam.
Yi Hyul tak peduli. Pria itu hanya mementingkan pandangan orang terhadap citra dan penggambaran dirinya. Tak ada senyum yang menyambut kala Hye Sun akhirnya duduk dan mengambil alih sendok perak yang disodorkan oleh Hyul, dan menyuap bubur polos tersebut. Hanya sorot tajam nan dingin yang menghujani setiap gerak Hye Sun saat ini.
“Camkan ucapanku, jika kau kembali bersikap memalukan seperti ini hanya karena ipar sialanmu, maka aku tak segan untuk benar – benar menghukum bahkan membunuhnya. Kau menikah denganku, bukan dengannya. Jadi, jaga martabat dan wibawamu di istana ini!” desis Hyul dengan nada yang tak kalah dingin.
Hye Sun hanya bisa termangu mendengar ancaman Hyul padanya. Perlahan, kepalanya mengangguk, seakan mematuhi aturan mutlak tersebut demi nyawa Yeol—pria yang sangat ia cintai—meski sebenarnya hatinya tengah menangis pilu.
~THE RED MOON~
Sesuai dengan keinginan Ratu Park, pernikahan Pangeran Agung Hyoyeom dan Min Yeon Hwa akhirnya dilaksanakan di Istana Changdeok. Ini merupakan kejadian langka dimana biasanya pernikahan akan digelar di rumah keluarga mempelai wanita—sekalipun mempelai pria berstatus sebagai keluarga kerajaan—namun, Pangeran Agung Hyoyeom mendapat perlakukan istimewa, hal ini dilakukan untuk menghormati Ratu Park, agar bisa menghadiri acara jamuan pernikahan putra semata wayangnya.
Altar pernikahan dan segala sesuatu yang dibutuhkan telah dipersiapkan jauh – jauh hari dengan sangat baik. Ratu Park bahkan menjadi pengawas langsung persiapan pernikahan Pangeran Agung Hyoyeom. Sang Ratu tak ingin ada kesalahan sekecil butiran beras sekalipun dalam gelaran hari ini.
Tepat saat matahari memunculkan diri dan perlahan menuju puncak langit, saat langit terlihat begitu cerah dengan mentari pagi, upacara utama di gelar. Dalam balutan pakaian kerajaan sebagai pangeran agung—lengkap dengan topi bersayap— Yi Yeol menanti kedatangan Min Yeon Hwa. Lelaki itu menunggu di altar pernikahan dengan senyum canggung dan jantungnya semakin menggila padahal ia sudah melaksanakan ritual chin young ae dan jeon an rye beberapa saat lalu.
Dibantu dua orang dayang senior, Yeon Hwa menuju altar pernikahan. Gadis itu mengenakan hwalot yang sangat mewah yang dibuat secara khusus oleh departemen sandang istana. Tak ketinggalan hwawan yang bertahta di kepalanya pun tak kalah indahnya. Hal ini menimbulkan decak kagum serta mengundang obrolan kecil dari para sepupunya yang menghadiri upacara sebagai bagian dari keluarga. Para sepupu Yeon Hwa jelas iri dengan bagaimana Yeon Hwa diperlakukan.
Begitu keduanya berhadapan di altar, ritual pun dimulai. Dalam kesempatan kali ini, Yejo Panseo—Menteri Ritual Yoon— memimpin langsung upacara. Keduanya langsung saling membungkuk hormat satu sama lain, mengucap sumpah dan janji pernikahan yang disaksikan oleh Menteri Yoon dan dilanjutkan dengan meminum arak beras yang sudah disediakan dalam satu cawan yang sama.
Selama proses tersebut, baik Yeol dan Yeon Hwa melaluinya dengan tenang. Sampai mereka tak menyadari bahwa keduanya telah resmi menikah, begitu ritual terakhir selesai dilaksanakan.
Begitu seluruh rangkaian proses pernikahan selesai, keduanya segera diarahkan menuju tempat jamuan pernikahan dilaksanakan. Keduanya duduk di sebuah tempat yang telah disediakan. Begitu kedua mempelai duduk, tak lama suara pengumuman berkumandang di depan pintu masuk halaman Istana Changdeok.
Raja Munhyong beserta Ratu Park memasuki halaman istana diikuti rombongan para pelayan di belakang mereka. Yeol dan Yeon Hwa segera membungkuk hormat pada kedua pemimpin Joseon tersebut. Namun, Yeon Hwa sama sekali tak menyadari tatapan dingin nan tajam yang dilayangkan Ratu Park padanya, padahal ini adalah pertama kalinya mereka bertemu secara langsung.
“Di hari bahagia ini, mari kita memberikan doa yang tulus dan ucapan selamat atas pernikahan dan sambutan untuk putri menantuku yang sangat cantik. Mari kita mulai acaranya!” ujar sang Raja membuka gelaran jamuan pernikahan.
Suara musik dan suara percakapan langsung memenuhi halaman megah Istana Changdeok. Semua orang larut dalam suka cita yang disajikan hari ini. Tanpa siapa pun menyadari, di balik pintu timur yang menuju langsung paviliun istana timur, tampak seorang wanita berdangui berdiri dalam diam dengan sorot sendu tertuju pada tempat duduk pengantin.
Kang Hye Sun memilih tak menghadiri acara jamuan pernikahan Pangeran Agung Hyoyeom—karena Putra Mahkota Yeongak pun tak menghadirinya dengan menggunakan alasan menemani istrinya yang sedang sakit—dan mengawasi dalam diam. Hatinya remuk redam melihat senyum yang menghias di paras pria yang ia cintai. Bahkan tak jarang, Hye Sun melihat Yeol memandangi istrinya. Hal ini benar – benar menghancurkan hatinya.
“Mama, sebaiknya Anda segera kembali. Jika tidak, seja jeoha pasti akan mencari bahkan...”
Dayang Kim tak sanggup melanjutkan ucapannya, jika membayangkan apa yang bisa dialami tuannya, jika tak mengindahkan larangan Putra Mahkota Yeongak.
“Sebentar lagi,” balas Hye Sun dengan suara tersendat akibat menahan tangis yang hendak keluar, “biarkan aku memandanginya sebentar lagi, Kim sanggung. Karena setelah ini, aku tak akan bisa lagi memandangnya dan harus merelakan ia telah dimiliki gadis beruntung itu.”
~THE RED MOON~
Korean Glossary
Chin Young Rye: Ritual mempelai pria datang ke rumah pengantin wanita membawa patung bebek yang sudah dihias dengan kain warna – warni
Jeon An Rye: ritual menyerahkan patung bebek yang dibawa pada ibu mertua dan kemudian bersujud sebanyak dua kali di depan ayah – ibu mertua.
~THE RED MOON~