증오(Jeung-O | The Hatred)
Everything start from here...
From hatred...
From tears...
And also
a sacrifice...
~RED MOON~
Untuk kesekian kalinya, pemuda yang mengenakan jubah militer kerajaan berwarna navy tersebut melesatkan anak panah. Terdapat dua puluh anak panah yang menancap sempurna di papan yang berjarak sekitar sepuluh meter. Kembali, tangannya meraih anak panahnya dan bersiap melesatkannya pada papan sasaran. Matanya memicing, berusaha memusatkan fokusnya, hingga konsentrasinya buyar oleh seruan dari arah belakangnya.
“Hyungnim!”
Pemuda yang sudah siap melepaskan anak panah itu berdecak mendengar seruan tersebut. Segera, ia melayangkan tatapan tajam nan kesal pada sosok yang sudah memecah konsentrasinya berlatih memanah pagi ini.
Atensinya menemukan pemuda lain yang mengenakan pakaian militer sepertinya, tersenyum cerah seolah tak menyadari tindakannya beberapa saat lalu sudah membuat kesal. Manik si pemuda yang memegang busur panah menggelap. Begitu jelas, si pemuda itu tak hanya terganggu dengan kehadiran pemuda tersebut tapi juga dilandasi rasa tak senang.
“Selamat pagi, hyungnim! Maaf membuat hyungnim menunggu,” sapa Pangeran Agung Hyoyeom—Yi Yeol,masih dengan senyum yang melekat di roman.
Putra Mahkota Yeongak—Yi Hyul, menatap dingin adiknya sebentar lalu berbalik dan bersiap kembali memanah. Suasana hatinya langsung memburuk hanya dengan kehadiran adik berbeda ibu.
Mengabaikan sikap dingin yang diperlihatkan Sang Kakak, Yi Yeol, melanjutkan langkah dan mulai berdiri di sebelah kakaknya. Tak sekalipun, senyum pudar dari wajah tampan meski ia tahu kakaknya terang – terangan mengabaikannya. Tak apa, Yi Yeol sudah terbiasa.
“Wah kau menggunakan anak panah dengan bulu elang, hyung? Bukankah ini anak panah mahal?” ujar Yi Yeol kagum sembari menatap deretan anak panah milik Yi Hyul.
Hyul memejamkan mata mendengar suara Yeol yang terdengar begitu menyebalkan di telinganya. Apapun yang melekat dan bersumber dari Yeol mampu melesatkan emosi Hyul. Yi Hyul membenci Yi Yeol setengah mati. Ia tak menyukai adiknya. Yi Hyul selalu memandang Yi Yeol seolah pemuda cerita itu adalah virus berbahaya nan mematikan.
“Hyung, boleh aku mencoba satu anak panahmu? Aku belum pernah menggunakan anak panah bulu elang. Aku...”
BRAK!
Yi Hyul membanting busur panahnya ke meja dan melayangkan pandangan penuh kebencian pada Yeol yang terkejut dengan tindakan Hyul. Mata Yeol membesar karena kaget.
“Bisakah kau berhenti menggangguku? Berhenti memanggilku kakak!” desis Hyul penuh kebencian.
“Hyung, bukankah kau mengajakku berlatih memanah bersama? Aku...”
BRAK!
Hyul maju selangkah dan menghunuskan kebenciannya pada Yeol lewat manik gelapnya. Senyum miring terbit di sudut bibir Hyul di sertai dengusan meremehkan.
“Berhentilah bermimpi,Yeol! Aku tak pernah mengajakmu berlatih. Tidakkah kau paham kalau aku tak menyukaimu?”
Aura ceria yang selama ini menguar dari diri Yeol segera memudar, berganti dengan sorot terluka. Sekalipun ia sudah sering mendengar kebencian itu dari Hyul, tetap saja kata itu terasa menyakitkan setiap kali Yeol mendengarnya terlontar dari Hyul.
“Hyung, aku...”
“Enyah dari hadapanku sebelum aku mengarahkan anak panahku ke arahmu,” gertak Hyul dengan gigi bergemeretak menahan emosi yang sudah memenuhi rongga dadanya.
Yeol menghela nafas panjang dan menundukkan kepala. Pemuda itu membungkuk memberi hormat kemudian meninggalkan Hyul dengan hati terluka dan kekecewaaan.
~RED MOON~
CLAK... CLAK... CLAK... PLUNG...
Yeol menghela nafas panjang melihat kerikil yang di lemparnya ke danau istana akhirnya tenggelam setelah menimbulkan riak di permukaan. Entah sudah berapa lama Yeol membuang waktunya dengan melempar kerikil ke danau. Irisnya menatap sendu melihat sinar keemasan yang dipantulan permukaan air danau istana. Sesekali, tiupan angin musim semi membelai anak – anak rambutnya.
Yeol sering sekali menghabiskan waktu di danau istana kala pemuda itu merasa sedih atau kecewa. Yi Yeol betah berlama – lama menikmati suasana paviliun Gyeonghaeru yang tenang. Bagi Yeol, suasana tenang dan sunyi seperti ini seolah menjadi obat pelipur laranya. Tanpa Yeol sadari, seseorang tengah mengendap – ngedap mendekatinya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Hyoyeom daegun mama?”
Pertanyaan tak terduga dari arah belakang, sukses membuat Yeol terlonjak dan membuat pemuda itu kehilangan keseimbangan, hingga jatuh dari duduknya. Situasi yang tak terduga sontak membuat tawa kecil terdengar dari sosok yang tadi bertanya pada Yeol.
Yeol bangkit setelah jatuh terduduk karena mendengar pertanyaan dari arah belakang. Sembari memberengut, Yeol menepuk pakaiannya, berusaha membersihkan debu. Iris hitamnya menatap kesal pada seorang gadis yang masih menertawakan dirinya.
“Kenapa kau senang sekali membuat kaget,Hyesun-a?” tanya Yeol pada Hyesun—gadis manis yang tengah menertawakan dirinya.
“Karena kau mudah terkejut dan aku suka melihat gerakan refleksmu,” jelas Hyesun dengan tawa jernihnya.
“Itu sama sekali tak lucu,” sungut Yeol. “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau berada di rumah dan bersiap untuk seleksi calon putri mahkota yang akan di gelar lusa?”
Tawa Hyesun memudar mendengar pertanyaan Yi Yeol. Maniknya bergulir dan menemukan sorot kecewa yang dipancarkan Yeol. Hati Hyesun sakit melihat Yeol memberikan tatapan seperti itu padanya.
“Daegun mama, apa kau masih marah padaku?”
Yeol membalikkan badan seolah tak ingin melihat roman Hyesun yang terluka dengan pertanyaannya. Lebih dari apapun, hati Yeol jauh lebih sakit saat mengetahui sahabat sekaligus sosok yang ia sukai ternyata mengikuti pemilihan istri kakaknya.
“Kau berbohong. Kau pernah bilang tidak ingin menjadi sejabin. Nyatanya, kau mengikuti pemilihan itu,” sindir Yeol lalu duduk di bangku taman di dekat danau istana.
Hyesun menundukkan kepala mendengar sindiran Yeol. Apa yang dikatakan pemuda itu benar. Hyesun memang tak ingin menjadi Putri Mahkota, tapi ia tak kuasa menolak saat mengetahui ayahnya mengikutsertakan dirinya pada pemilihan kali ini. Jika saja Hyesun bisa memilih, ia ingin sekali menolak.
“Jweoseonghamnida. Aku tak bermaksud membohongimu, daegun mama. Aku tak bisa menolak saat abeoji bilang sudah mendaftarkanku. Aku sungguh minta maaf,” tuturnya pelan. Kepala gadis itu tertunduk lesu.
“Untuk apa minta maaf? Kau tak melakukan kesalahan. Lagipula, aku yakin kau akan terpilih. Kau teman belajar Yunhye Ongju, selain itu aku dengar kau mendapat rekomendasi halma mama. Tidakkah kau merasa dirimu begitu beruntung?” jelas Yeol sembari menoleh pada Hyesun yang masih bergeming di tempat.
Rasa bersalah itu semakin menyebar di hati Hyesun, membuat lidah gadis itu terasa pahit. Hyesun ingin menangis mendengar ucapan Yeol yang menohok hati. Jika saja Hyesun memiliki keberanian, rasanya gadis itu ingin rasanya meneriakkan perasaannya pada Pangeran Agung Hyoyeom. Dibandingkan menjadi Putri Mahkota, sejujurnya Hyesun ingin menjadi istri seorang Pangeran Agung.
Ya, Kang Hyesun—si calon Putri Mahkota, menyukai sahabatnya Pangeran Agung Hyoyeom Yi Yeol.
Senyum kemudian terbit di roman Yeol melihat Hyesun seolah menahan tangis di depannya. Yeol paling tak sanggup melihat gadis manis itu menangis. Perlahan, Yeol bangkit dan menepuk lembut bahu Hyesun.
“Mengetahui kau pasti terpilih menjadi sejabin, aku merasa tenang. Setidaknya, hyung-ku memiliki pendamping yang sepadan. Sudah sore, segeralah pulang Hyesun-a.”
Yeol berlalu begitu saja setelah berkata seperti itu pada Hyesun. Pemuda itu tak menyadari dua tatapan yang tertuju pada punggungnya. Satu tatapan terluka dari Hyesun, dan satu lagi dari Putra Mahkota Yeongak yang tak sengaja memergoki pertemuan tak terduga tersebut.
Mata Putra Mahkota Yeongak menatap dingin dua sosok yang tak jauh darinya. Di sebelahnya, Kasim Kim tampak menemaninya. Tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian, Putra Mahkota Yeongak mengajukan pertanyaan pada pelayan setianya tersebut.
“Apa benar gadis itu kandidat terkuat dalam pemilihan sejabin lusa, Kim sangjeong?”
Kasim Kim memperhatikan sebentar gadis yang dimaksud Putra Mahkota Yeongak. Setelah mantap, lelaki dengan jubah giok polos itu mengangguk singkat. “Ye,jeoha. Dia adalah putri tunggal dari Menteri Personalia Kang Soo-Geun, sekaligus teman belajar dari Yunhye Ongju mama, Kang Hyesun agasshi,” jelas Kasim Kim.
Seringai tipis sedikit meremehkan muncul di wajah Putra Mahkota Yeongak. Mengetahui calon istrinya dekat dengan adik beda ibunya—Pangeran Agung Hyoyeom, membuat rasa kesal terbit di hatinya. Tanpa mengatakan apapun, Yi Hyul berbalik pergi.
~RED MOON~