사악한(Saaghan | The Sinister)
Kang Hye-Sun melangkah gontai menyusuri jalanan pasar yang ia lalui. Di belakang, Jung-Ae—pelayannya, terus mengekor seolah takut Sang Nona tiba – tiba menghilang. Sore ini, Hye-Sun memutuskan keluar rumah, mengusir suntuk yang mendera. Seharian ini Hye-Sun tak memiliki kegiatan. Ia juga tak pergi ke istana menemani Putri Yunhye belajar. Istana sedang bersiap untuk gelaran istimewa yang akan terjadi besok pagi—Pemilihan Putri Mahkota. Itu sebabnya, Hye-Sun tinggal seharian di rumah.
Hye-Sun tersenyum ramah pada pedagang yang menawarkan dagangan. Hye-Sun tak berminat untuk membeli apapun. Gadis itu hanya senang menikmati hirup pikuk suasana pasar yang kemungkinan besar tak bisa lagi ia nikmati jika terpilih menjadi Putri Mahkota. Hanya mengingat pemilihan besok membuat hati Hye-Sun langsung di rundung mendung. Hingga tanpa sadar, ia sudah tiba di rumahnya sendiri.
“Agasshi, kita sudah sampai di rumah. Apa Anda ingin saya menyiapkan camilan?”
Pertanyaan Jung-Ae membuat Hye-Sun tersentak. Sedikit gelagapan, Hye-Sun berusaha menyesuaikan pandangan dan menganalisa keadaan sekitarnya. Hingga gadis itu menyadari tempat ia berada sekarang. Hye-Sun berdiri tepat di depan gerbang rumahnya yang sudah terbuka.
“Ehem...” Hye-Sun berdeham dan mengatur ekspresinya, ia tak ingin tertangkap basah sedang melamun. “Sepertinya aku tak ingin camilan sore. Aku ingin segera istirahat,” lanjutnya.
Jung-Ae hendak memberikan tanggapan ketika suara dari belakang menginterupsi percakapan mereka. Lewat bahu Jung-Ae, Hye-Sun melihat sosok ibunya yang melangkah cepat menuju ke arahnya.
“Hye-Sun~a! Dari mana saja kau? Ibu mencarimu ke mana – mana. Tak satupun pelayan yang mengetahui keberadaanmu,” omel Nyonya Choi dengan raut khawatir bercampur kesal.
“Eomeoni, aku berjalan – jalan sebentar. Aku merasa suntuk di rumah seharian,” jelas Hye-Sun.
Nyonya Choi berdecak kesal dan menarik pelan lengan Hye-Sun agar mengikutinya. “Penjahit dari kerajaan datang kemari untuk mengukur pakaianmu. Kau hampir membuat ayah dan ibu malu karena kau tak berada di rumah. Ayo, jangan sampai mereka pulang tanpa hasil yang bagus dan melaporkannya pada daebi mama. Kesempatan emas ini tak boleh di lewatkan!”
Dengan pasrah, Hye-Sun mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah. Rumor bahwa Putri Mahkota terpilih sudah berhembus kencang jauh sebelum pemilihan di mulai. Melihat kemashuran keluarga Kang, siapapun menebak jika Putri Mahkota selanjutnya berasal dari keluarga Kang. Tak hanya itu, kecantikan serta kecerdasan putri tunggal dari Kang Soo-Geun, semakin mengukuhkan bila Kang Hye-Sun sangatlah cocok menyandang gelar sebagai Putri Mahkota.
Memiliki dukungan serta posisi yang kuat, tak membuat Hye-Sun merasa senang. Sebaliknya, gadis itu merasa terbebani. Kang Hye-Sun tak ingin menjadi Putri Mahkota. Sementara di istana tersebar rumor yang menyebutkan jika Kang Hye-Sun adalah bunga teratai putih yang diramalkan oleh Dukun Yang setelah Ratu Park melahirkan Pangeran Agung Hyoyeom.
~***~
“Bagaimana mungkin Anda setega itu pada daegun, jeonha? Apa mungkin ini salah satu cara untuk menyingkirkan Yi Yeol dari istana?”
Ratu Park menatap nanar suaminya—Raja Munhyong, yang duduk di singgasana dengan raut kusut. Sejak beberapa menit yang lalu ia mendengar rumor yang tersebar di istana yang membuat istrinya—Ratu Park, menangis dan menuduhnya memperlakukan putra keduanya tak adil.
“Apa Anda sedang mencari cara memperkuat kedudukan seja di istana dengan rumor tersebut? Tidakkah Anda paham jika hal ini bisa membahayakan Yi Yeol?” tuntut Ratu Park dengan air muka tak kalah kusut.
“Jungjeon, aku tak sejahat itu. Bagaimanapun juga Yi Hyul dan Yi Yeol adalah putraku. Aku tak memanfaatkan ramalan bunga teratai putih atau apapun yang kau tuduhkan padaku. Ayah macam apa yang menginginkan kedua putranya berperang demi tahta?” tandas Raja Munhyong.
“Lalu, kenapa banyak yang mengatakan jika gadis yang di pilih eomma mama adalah jelmaan bunga lotus putih itu?”
“Kenapa kau terganggu dengan rumor tak berdasar seperti itu,jungjeon? Bagaimana bisa ratu sepertimu percaya begitu saja dengan ramalan tak masuk akal?!”
Ratu Park terdiam mendengar balasan tajam Raja Munhyong. Ratu Park menundukkan karena tak sanggup membalas tatapan yang dilayangkan Sang Raja. Ratu Park tahu, ia sudah bersikap berlebihan dengan datang ke Istana Utama dan merengek mengkhawatirkan putranya—Pangeran Agung Hyoyeom, karena rumor yang beredar. Meski, begitu, Ratu Park tak punya pilihan selain meminta Raja Munhyong untuk menyelamatkan hidup anak kesayangannya dari ancaman di masa depan kelak.
“Sebagai seorang ibu, aku jelas terganggu dengan ramalan yang diucapkan Dukun Yang bertahun lalu. terlebih merasa ciri – ciri fisik gadis bernama Kang Hye-Sun itu mirip dengan ramalan, aku begitu cemas. Tidakkah Anda sadar bahaya yang mengintai kedua putra Anda,jeonha? Betapa mengerikannya ramalan tersebut.”
“Itu hanya penglihatan dalam mimpi. Semua itu belum tentu menjadi kenyataan. Kau terlalu cemas berlebihan, jungjeon. Aku yakin mereka tidak akan saling menyakiti.”
Ratu Park tersenyum kecut mendengar pendapat suaminya mengenai hubungan kedua putranya. Ratu Park jelas tahu betapa bencinya Sang Putra Mahkota pada anaknya. Sebagai ibu, Ratu Park tahu bila selama ini Hyul menyadari Yeol sebagai ancaman baginya.
“Aku tahu, sebagai ibu kau menginginkan Yeol duduk di tahta. Aku telah membuat Hyul berpisah dengan ibunya, dan setiap kali melihat wajahnya, aku merasa bersalah. Gelar dan posisi Hyul saat ini adalah sesuatu yang tak mungkin kurenggut darinya.”
“Anda membuatku seolah ibu yang tak berperasaan dengan mengatakan hal seperti itu, jeonha. Hyul sudah kuanggap seperti putraku sendiri dan aku mendukung posisinya. Aku mendatangi Anda dan mengatakan masalah ini karena aku mengkhawatirkan masa depan kedua putraku. Betapa tega Anda mengatakan hal mengerikan itu padaku,” ucap Ratu Park yang langsung membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya.
Melihat Ratu Park yang begitu ketakutan, Raja Munhyong beranjak dari singgasana dan segera menarik Ratu Park ke dalam pelukannya. “Mianhae,jungjeon. Aku tak bermaksud melukaimu lewat ucapanku. Aku berjanji, sampai kapanpun Yeol akan aman. Aku berjanji padamu.”
Ratu Park mengubur tangis dalam dekapan Raja Munhyong. Sementara Sang Raja berusaha menghibur, kepala Ratu Park menyusun rencananya untuk Yeol. Intuisi Ratu Park menyadari Yeol tak akan selamat jika ia tak duduk di tahta.
Tanpa keduanya sadari, di luar ruangan, Yi Hyul—Sang Putra Mahkota, mendengar seluruh percakapan ayah dan ibu tirinya. Percakapan itu menyulut kebenciannya pada Yeol semakin besar. Tanpa banyak berkata, Yi Hyul berbalik pergi dan mengurungkan niat untuk berbicara dengan Sang Ayah.
~***~
Malam pun menyapa Joseon dalam keheningan. Bulan tampak bertahta di langit gelap dengan cahaya yang berpendar. Sesekali binatang malam terdengar dari kejauhan, membuat suasana malam ini terasa begitu pekat.
Seorang pria bangsawan menghela nafas panjang sambil memandangi bulan yang berpendar dan perlahan ditutupi awan kelabu. Perasaan resah semakin menggerogoti hati si Tuan Bangsawan saat atensinya tertuju kolam rahasia yang berada di taman dalam rumah.
Di permukaan kolam, setangkai bunga teratai putih perlahan mulai di selimuti warna merah. Warna merah itu semakin pekat ketika bulan di langit malam semakin menghilang. Rasa cemas yang tadi hanya menggerogoti hati si Tuan Bangsawan kini bertambah dengan ketakutan. Ya, si Tuan Bangsawan merasa cemas sekaligus takut karena ramalan yang pernah ia dengar saat kelahiran putri bungsunya bertahun – tahun lalu.
“Daegam, apa yang Anda lakukan di sini?”
Pertanyaan dari arah belakang membuat Tuan Bangsawan itu menoleh dan menemukan istrinya sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Raut istrinya diselimuti kecemasan yang sama seperti dirinya. Dan si Tuan Bangsawan hanya bisa menghela nafas panjang.
“Apa Anda mengkhawatirkan bunga yang sudah berubah menjadi merah? Apa Anda mencemaskan takdir putri kita,daegam?”
Helaan nafas panjang kembali terdengar dari si Tuan Bangsawan. Kepalanya menggangguk. “Ye,buin. Aku khawatir dengan masa depannya kelak. Kapan kapal dari Qing akan tiba?”
“Dari petugas pelabuhan kudengar kapalnya akan tiba lusa dini hari. Apa Anda berniat menjemputnya,daegam?”
“Ye,buin. Aku ingin melihat wajah putriku dan memastikan ia baik – baik saja. Meski kita tak tahu takdir apa yang sedang menantinya di sini. Aku mengirimnya jauh dari Joseon berharap ia menjauhi hal mengerikan yang bisa saja menimpanya di sini.”
Sang Nyonya tersenyum tipis mendengar keresahan hati suaminya. Tangan lembutnya mengusap lembut lengan Sang Suami, berusaha menyalurkan kekuatan. “Semua yang di ramalkan belum tentu akan terjadi, daegam. Anda tak perlu cemas berlebihan. Putri kita kembali di saat pemilihan Putri Mahkota akan berlangsung. Setidaknya, dengan begitu ia sudah berhasil menghindari satu jalan yang bisa mengantarnya ke istana.”
Si Tuan Bangsawan mengangguk, membenarkan satu jalan yang berhasil di hadang yang bisa mengantarkan putri mereka masuk ke istana. Satu alasan itu cukup mampu meredam kegelisahan hatinya untuk sementara waktu.
“Kau betul,buin. Setidaknya satu jalan telah kita hadang. Aku yakin, putri kita akan baik saja sekalipun ia telah kembali ke Joseon. mari kita berharap ke depannya, Langit tetap menjaganya sekalipun dari nasib mengerikan yang menantinya.”
~****~