사악한 (Saaghan | The Faith)
Putra Mahkota Yeongak melangkah cepat sementara para pelayan mengekor di belakang. Hari masih begitu pagi ketika pemuda berjubah biru tua tersebut keluar dari kediamannya—Istana Timur. Langit yang cerah ditambah suasana yang masih segar tak lantas membuat suasana hati Putra Mahkota Yeongak cerah. Seakan ingin mengukuhkan suasana hatinya yang dalam keadaaan tak bagus, Putra Mahkota Yeongak bersikap acuh pada para dayang atau kasim yang berpapasan dengannya.
Tanpa memelankan langkah ataupun membalikkan badan, Putra Mahkota Yeongak secara tak terduga mengajukan pertanyaan pada Kasim Kim.
“Kim sangchaek, apa kau tahu alasan kenapa aku perlu menghadiri seleksi akhir sejabin pagi ini?”
Berusaha menyamai langkah Putra Mahkota Yeongak, Kasim Kim memberikan alasan kehadiran majikannya pada seleksi akhir di paviliun Gyeonghaeru pagi ini. “Ye,jeoha. Daebi mama menginginkan Anda memilih langsung calon sejabin.”
Yi Hyul terkekeh. Alasan klise jika neneknya menginginkan ia memilih langsung calon istrinya. Padahal tanpa kehadirannya, istrinya telah terpilih sejak awal. Neneknya ingin memperlihatkan pemenang pemilihan ini seolah merupakan murni pilihan Yi Hyul.
“Kau tahu betul sejak awal sejabin sudah ditetapkan. Beritahu alasan kenapa halma mama bersikukuh memilih Nona Kang sebagai pemenang, Kim sangchaek.”
“Itu karena Nona Kang adalah bunga lotus yang kehadirannya hanya ada satu dalam seratus tahun. Jeoha pasti tahu ramalan tentang teratai putih yang terkenal itu,bukan?”
Langkah Yi Hyul terhenti ketika mendengar balasan Kasim Kim. Pemuda itu berbalik dan menatap tajam pelayan setianya tersebut. “Ramalan teratai putih?”
“Ye,jeoha. Ramalan teratai putih yang membuat daebi mama memilih Nona Kang sebagai sejabin. Hal ini berdasarkan karakteristik serta sifat Nona Kang sangatlah sesuai dengan teratai putih dari ramalan.”
Tawa sarkas terlantun dari Yi Hyul. Sungguh, pemuda itu tak pernah menyangka ada alasan tak masuk akal di balik penetapan sejabin. Yi Hyul menatap Kasim Kim dengan tatapan geli.
“Halma mama memilih gadis itu karena ramalan? Sebenarnya aku hidup di zaman apa hingga ramalan menjadi dasar pengambilan sebuah keputusan?” tanya Yi Hyul dengan penuh kesinisan.
“Silakan Anda bergegas menuju Gyeonghaeru,jeoha. Para tetua sudah menanti sejak matahari belum terbit,” ujar Kasim Kim dengan kepala tertunduk. Lelaki berjubah hijau itu tak berani menunjukkan wajahnya di bawah sikap sinis Putra Mahkota Yeongak.
Seketika, tawa sinis itu berganti dengan ekspresi datar yang menghiasi roman Sang Putra Mahkota. Tanpa banyak bicara lagi, Putra Mahkota Yeongak melanjutkan langkahnya menuju paviliun Gyeonghaeru. Tidak seperti sebelumnya, langkah Yi Hyul kali ini sarat akan rasa kesal sekaligus kemarahan.
Bahkan, ketika kedatangannya diumumkan di Gyeonghaeru, senyum tak sekalipun berani terbit di sudut bibirnya. Sebaliknya, Yi Hyul menyorotkan tatapan tajam nan dingin pada tiga sosok gadis muda yang berdiri di balik tirai pemisah.
“Seja! Selamat datang di Gyeonghaeru. Aku pikir kau tak akan sampai tepat waktu,” sambut Ibu Suri Jo dengan nada sehangat sinar matahari pagi ini.
Putra Mahkota Yeongak membungkuk singkat pada nenek dan ibu tirinya—Ratu Park, yang sudah hadir lebih dulu di tempat seleksi. Jika Ibu Suri Jo menyambut Yi Hyul dengan wajah penuh senyuman, berbanding terbalik dengan Ratu Park yang menyambut kehadiran putra tirinya dengan senyum singkat dan memilih kembali memfokuskan perhatian pada ketiga gadis.
“Eomma mama, karena seja telah hadir. Bagaimana jika kita mulai?” tawar Ratu Park menyiratkan tak ingin berada satu tempat dengan putra tirinya dalam waktu lama.
Ibu Suri Jo mengangguk. Wanita istana itu hendak memberikan perintah tapi ia urungkan karena Putra Mahkota Yeongak lebih dulu membuka suara. Yi Hyul melangkah lebih dekat dengan tirai yang membatasi ruangan. Irisnya berusaha menembus tirai agar bisa melihat wajah para gadis yang kini tengah menunduk.
“Karena ini seleksi terakhir, kupastikan salah satu dari kalian akan menyandang gelar sebagai sejabin. Tapi, sebelumnya aku ingin tahu apa yang bisa kalian berikan padaku juga negeri ini selain paras rupawan serta kepribadian berbudi luhur yang kalian miliki?”
Putra Mahkota Yeongak kemudian berhenti melangkah. Matanya menghunus tepat ke seorang gadis yang tak lain adalah Kang Hye-Sun. Secara khusus, Putra Mahkota Yeongak ingin tahu, paras dari gadis yang telah di tetapkan sebagai calon istrinya tersebut. Dalam keheningan, Yi Hyul terus menatap lekat Hye-Sun dari balik tirai. Selama ini, Yi Hyul mengawasi dan memandangi Hye-Sun dari jauh. Belum sekalipun Yi Hyul melihat dekat sosok Hye-Sun, yang menurut para dayang juga kasim di Istana Timur sangatlah cantik.
“Karena itu, aku ingin kalian berani menatapku ketika tirai dibuka nanti. Aku ingin melihat jiwa di balik wajah cantik dan sikap anggun kalian.”
Tepat setelah berkata seperti itu, secara tak terduga angin berhembus kencang di paviliun, membuat tirai pembatas tersingkap ke atas. Kejadian ini membuat siapapun terkejut terlebih Yi Hyul yang bergeming di tempat. Begitupun, Hye-Sun. Secara spontan, Hye-Sun mengangkat wajahnya. Detik itu, kedua manik kecoklatan Hye-Sun terpancang sempurna pada manik hitam Yi Hyul.
Pertemuan pandangan itu secara tak terduga mengusik sesuatu dalam lubuk hati Yi Hyul. Detik itu pula Yi Hyul menyadari betapa dalam jiwa yang dimiliki calon istrinya—Kang Hye-Sun. Dan itu membuat batin Yi Hyul mengagumi sosok Kang Hye-Sun di depannya.
~***~
Sementara istana utama sibuk dengan seleksi akhir Putri Mahkota, Pangeran Agung Hyoyeom melakukan perjalanan mengunjungi istana di daerah Chungcheong. Bukan tanpa alasan Yi Yeol pergi ke istana daerah, ia pergi dari Hanyang untuk mengobati hatinya.
Yi Yeol begitu kecewa setelah mengetahui Kang Hye-Sun, sahabatnya dan entah sejak kapan memiliki tempat khusus di hatinya, mengikuti pemilihan Putri Mahkota bahkan telah ditetapkan sebagai pemenang. Hati Yi Yeol bukan hanya terluka tapi juga hancur lebur.
Ini sudah memasuki minggu kedua Yi Yeol berada di istana daerah. Selama berada di Chungcheong, Yi Yeol memanfaatkan waktunya dengan berkeliling dan memperhatikan kehidupan masyarakat di provinsi tersebut. Seperti hari ini, Yi Yeol telah keluar dari istana sejak matahari bahkan belum sepenuhnya berada di langit.
Putra kedua dari Raja Munhyong itu memiliki rencana mengunjungi sebuah sungai kecil yang letaknya tak begitu jauh dari istana. Sembari berusaha menghibur diri, Yi Yeol begitu menikmati perjalanan menuju sungai kecil itu. Hingga senyum perlahan terbit ketika angin segar dari arah hutan menyapanya. Tanpa ingin membuang waktu, Yeol mempercepat langkahnya agar segera sampai di tepi sungai.
“Tidak ada yang berubah,” gumam Yi Yeol di tepi sungai sembari mengedarkan pandangannya, menyusuri pemandangan yang disuguhkan oleh tempat favoritnya.
Manik hitam Yeol bergerak seolah ingin mengabadikan suasana sungai kecil tersebut ke dalam pikirannya. Hingga, suara gemerisik dari arah belakang membuat Yeol menoleh dan terkejut dengan kehadiran individu lain.
Seorang gadis juga terkejut menyadari kehadiran Yi Yeol di sungai kala hari masih begitu pagi. Gadis itu menundukkan wajahnya dengan sedikit anggukan singkat kepala, sebuah penghormatan singkat.
“Apa kehadiran saya mengganggu waktu sendiri Anda, doryeonim?”tanya si gadis dengan nada yang begitu lembut terlantun dari bibir buah persiknya. “Jika menganggu, saya minta maaf.”
“Ah tidak,” bantah Yeol cepat. “Kehadiran agasshi tak menggangguku. Justru akulah yang seharusnya bertanya, apa agasshi merasa tak nyaman dengan kehadiran seorang lelaki di dekat Anda di waktu sepagi ini?”
“Animnida, doryeonim. Lagipula kehadiran saya tidak akan lama. Saya ingin membasuh wajah setelah melalui perjalan yang panjang.”
Mendengar balasan si gadis entah kenapa membuat Yeol ingin membuka topik pertanyaan lebih jauh. Ada rasa tak nyaman yang menghampiri hati Yeol mendengar kehadiran si gadis yang tidak akan lama.
“Perjalanan panjang? Sejauh apa gadis bangsawan seperti agasshi dapat melakukan perjalanan?” tanya Yi Yeol yang memperhatikan gerak – gerik si gadis yang mulai berjongkok dan membasuh wajahnya dengan air sungai yang jernih.
Si gadis menyelesaikan kegiatannya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang diajukan. Dengan menolehkan sedikit wajah, Yi Yeol melihat seulas senyum membingkai air muka si gadis.
“Seorang gadis hanya dapat pergi dari rumah ketika ia pergi menuntut ilmu atau menikah. Sejauh apapun seorang gadis melakukan perjalanan, pada akhirnya ia akan kembali pada kedua orangtua yang menunggu kepulangannya,” balasnya penuh arti.
“Sepertinya agasshi baru pulang menuntut ilmu, apa benar?”
Tawa kecil terlantun dari si gadis mendengar pemuda di belakangnya dapat menebak dengan baik ungkapan kiasan yang ia ucapkan. Segera, gadis itu beranjak dari tempatnya dan hendak melangkah mendekati si pemuda, kala suara Keut-Nyo—pelayan pribadinya, terdengar. Nampaknys Keut-Nyo menyadari si gadis pergi tanpa sepengetahuannya.
“Sepertinya Keut-Nyo sadar kalau aku tidak berada di tempat. Aku harus segera pergi. Senang bertemu Anda, doryeonim.”
“Senang bertemu denganmu juga, agasshi. Kali ini aku membiarkanmu pergi dengan berhutang jawaban, apakah aku menebak dengan benar atau tidak,”ujar Yi Yeol.
Si gadis tertawa dan menganggukkan kepala sebelum berlalu dari hadapan Yi Yeol. Yi Yeol memperhatikan punggung si gadis hingga menghilang di belokan di balik kerimbunan pohon. Meski si gadis telah menghilang dari pandangannya, namun senyum masih bertahan di wajah Yeol. Pertemuan singkat itu seolah mampu mengusir mendung yang selama dua minggu ini bersemayam di hati Yeol.
“Aku sungguh berharap, bisa bertemu lagi bahkan mengetahui namanya. Aku yakin, Yunhye ongju senang memiliki teman belajar baru sepertinya.”
~***~
“Aku yakin, gadis yang kupilih sebagai sejabin adalah teratai putih yang digambarkan pada ramalanmu,bukan?”
Ibu Suri Jo menatap tajam kepala dukun istana bintang di depannya sementara kedua tangannya memegangi cawan berisi teh jeruk Tamra. Sedikit was-was, wanita tua itu berharap mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya.
Dukun Yang menundukkan wajah untuk menutupi kegelisahan yang melandasejak mendengar dirinya dipanggil ke daebijeon pagi tadi. Wanita itu menghela nafas panjang sebelum membuka suara.
“Hamba tak berani mengatakan hal tersebut benar atau salah,daebi mama. karena sejatinya, ramalan yang hamba ucapkan sebuah penglihatan dari Langit.”
“Jawabanmu tak memberikan kepastian. Beri aku sebuah jawaban pasti!” desak Ibu Suri Jo sembari meletakkan cawan teh dengan kasar di atas meja.
“Satu hal yang perlu Anda ketahui, daebi mama. Langit selalu memiliki rencana, terlepas dari apapun yang direncanakan manusia. Sekeras apapun manusia berupaya, hasil akhir hanya dapat diputuskan oleh Langit. Karena, sesuatu yang telah ditakdirkan Langit, tidak dapat diubah begitu saja oleh manusia. Begitupun dengan identitas bunga teratai putih. Ia hanya akan muncul ke permukaan ketika waktunya telah tiba.”
~***~