왕세자 소원 (Wangseja Sowon | The Crown Prince’s Wish)
Pangeran Agung Hyoyeom kembali ke Istana Daerah ketika matahari sudah berada tepat di atas kepala. Yi Yeol baru saja kembali dari rutinitasnya selama berlibur di Istana Daerah Chungcheong, yakni menikmati udara segar di sungai dekat istana daerah. Roman Yi Yeol terasa cerah hingga mampu menyunggingkan senyum setelah dua minggu awan kelabu selalu merundung.
Yi Yeol mengangguk singkat sebagai tanda membalas sapaan hormat yang diberikan beberapa pelayan yang berpapasan dengannya. Baru saja Yi Yeol mengambil beberapa langkah memasuki pekarangan istana daerah, ia melihat Kasim Choi berdiri seolah tengah menunggu kepulangannya. Dan benar saja, seperti yang sudah di duga, Kasim Choi bergegas mendekati Yi Yeol yang berjalan ke arahnya.
“Daegun mama, hamba sejak tadi menunggu kepulangan Anda.”
Yi Yeol mendengus kecil mendengar sapaan yang diberikan pelayan setianya. Dengan wajah yang memasang ekspresi jenaka, Yi Yeol menggoda Kasim Choi yang selalu mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan sejak ia memilih meninggalkan istana utama karena acara pemilihan calon istri untuk kakak tirinya—Putra Mahkota Yeongak.
“Aigoo, kau mengkhawatirkanku berlebihan,Choi Sangho. Aku tidak pergi terlalu jauh, hanya berjalan – jalan di sekitar istana daerah,” jelas Yi Yeol dengan nada geli.
Kasim Choi tersenyum simpul mendapat godaan dari Pangeran Agung Hyoyeom. Meski selalu terlihat ceria, Kasim Choi tahu betul perasaan Sang Pangeran Agung yang sebenarnya. Pangeran Agung Hyoyeom menyembuyikan luka hatinya. Dan Kasim Choi merasa begitu sedih untuk majikannya karena informasi yang akan ia sampaikan ini pasti akan menghapus senyum jenaka di roman Sang Pangeran Agung.
“Daegun mama, hamba mendapat pesan dari istana utama pagi tadi. Jusang jeonha beserta daebi mama menginginkan seluruh anggota keluarga hadir pada upacara pernikahan seja jeoha. Anda diharapkan segera pulang ke Hanyang,mama.”
Tepat sesuai dugaan, Yi Yeol yang tadi hendak membuka suara untuk menggoda kembali Kasim Choi, langsung mengatupkan bibir rapat – rapat. Airmukanya berubah sendu. Keheningan tercipta beberapa saat setelah Kasim Kim menyampaikan pesan dari istana utama.
“Apa artinya sejabin mama benar – benar sudah terpilih?” tanya Yi Yeol dengan suara begitu lirih menyerupai bisikan.
Dengan berat hati, Kasim Choi menganggukkan kepala. Wajah pelayan yang sudah menjadi pengasuh Yi Yeol sejak berusia lima tahun itu tak kalah mendung. Hati Kasim Choi begitu sakit melihat kesedihan yang terpeta di wajah Pangeran Agung Hyoyeom.
“Ye,mama. Sejabin mama telah terpilih dan sepertinya proses pelatihan dasar sudah rampung hingga hari pernikahan telah di tetapkan.”
Yi Yeol menengadah menatap langit biru yang membentang di atas. Yi Yeol menghela nafas panjang, berusaha menghilangkan sesak yang mendera d**a. “Kalau begitu, siapkan segala sesuatu menyangkut kepulanganku ke Hanyang besok pagi, Choi Sangho. Aku ingin beristirahat penuh hari ini, tolong jangan ganggu aku jika tak begitu penting.”
Selepas memberikan perintah, Yi Yeol berlalu begitu saja. Pemuda itu melangkah lesu menuju bangunan yang menjadi tempatnya beristirahat selama di Istana Daerah Changcheong. Yi Yeol tak sekalipun peduli lagi dengan tanggapan Kasim Choi atas perintahnya. Lelaki itu butuh beristirahat setelah melalui hari yang ia rasa begitu berat.
~***~
Sementara itu, di salah satu rumah sederhana di Hanyang, tampak seorang pria dan seorang wanita, berdiri di depan gerbang rumah. gesture yang diperlihatkan pasangan paruh baya itu seakan tengah menanti kedatangan seseorang yang begitu berarti bagi keduanya. Hingga, binar itu terlihat semakin nyata di manik si wanita paruh baya saat matahari menyorotkan sinarnya pada sosok – sosok yang berjalan di tengah suasana pagi.
“Daegam! Lihatlah ke sana!” pekik wanita paruh baya itu dengan nada riang yang tak dapat di sembunyikan.
Pria paruh baya itu memusatkan pandangannya ke arah yang dimaksud Sang Istri dan ia menemukannya. Manik tuanya dapat melihat sosok yang mulai tersenyum melihat diirnya dan Sang Istri. Hingga detik selanjutnya, pria itu memperhatikan sosok itu berlari menyongsong ke arahnya.
“Abeonim! Eomeonim!” teriak sosok itu sambil berlari.
“Yeon Hwa-ya!” balas Nyonya Lee menanggapi teriakan penuh rindu dari putrinya.
Min Yeon-Hwa melemparkan diri ke dalam pelukan Sang Ibu yang menyambutnya. Gadis itu tersenyum lebar seraya menghirup sebanyak mungkin aroma yang begitu ia rindukan selama ini. Aroma bunga peoni, aroma yang selalu mengingatkannya akan sosok hangat ibunya.
“Aigoo, putri kesayanganku akhirnya pulang kepelukanku,” ujar Nyonya Lee sambil mendaratkan beberapa kecupan di dahi putrinya.
Yeon-Hwa melepaskan pelukannya dengan senyum masih terpasang di romannya. Gadis itu kemudian memberikan salam formalnya kepada orangtuanya. Selesai memberi salam, Yeon-Hwa melipat kedua tangannya di depan tubuh.
“Abeonim, eomeonim, maafkan putri kalian yang baru bisa memberi salam hormat setelah sekian lama meninggalkan rumah. Aku harap, abeoji dan eomeoni selalu dalam keadaan sehat mesi putri kalian tak bisa melaksanakan baktinya,” ucap Yeon-Hwa dengan nada suara sedikit bergetar menahan tangis karena akhirnya ia bisa kembali pulang ke rumah.
Tuan Min menatap Yeon-Hwa dengan tatapan berkaca – kaca. Rasanya, ia seperti bermimpi karena bisa kembali melihat sosok putri kesayangannya. Pria itu berdeham untuk mengembalikan wibawanya sebagai sosok kepala keluarga yang tak terpengaruh dengan momen sentimentil ini. Kepalanya mengangguk singkat tetapi matanya tetap memancarkan kehangatan yang tak bisa disembunyikan untuk putri semata wayangnya.
“Kami senang menyambutmu kembali di rumah, aga. Sekarang, masuklah dan bayar penghormatanmu di dalam rumah karena ibumu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Yeon-Hwa mengangguk penuh semangat. Rona bahagia terpancar nyata di kedua manik gadis berkulit pucat tersebut. Sambil menggamit lengan ibunya, Yeon-Hwa beserta orangtuanya masuk ke dalam rumah mereka. Tak ketinggalan, Bo-Sung—pelayan setia Yeon-Hwa,mengekor di belakang dan bertugas menutup rapat pintu gerbang rumah keluarga Bangsawan Min yang tadi terbuka lebar menyambut kepulangan Sang Nona.
Kebahagiaan yang tengah dirasakan Keluarga Min terpancar di tiap sudut rumah yang terlampau sederhana untuk ditinggali keluarga bangsawan. Meski begitu, Tuan Min dan istrinya—Nyonya Lee, tak pernah peduli dengan anggapan orang mengenai tempat tinggal mereka.
Bagi keluarga Min, kesederhanaan adalah bukti kekayaan yang sepenuhnya. Itulah sebabnya, sejak dua generasi keturunan bangsawan Min tak peduli lagi mengenai status dan jabatan di mata masyarakat. Mereka lebih memilih hidup tentram jauh dari himpitan belenggu bernama kekuasaan dan status sosial tinggi.
~***~
Putra Mahkota Yeongak menyesap tehnya perlahan sebelum akhirnya meletakkanya di meja saji di depannya. Lelaki itu tak lantas membuka suara begitu selesai menyesap minumannya, sebaliknya Putra Mahkota Yeongak memilih diam, memperhatikan suasana jamuan teh sore bersama ayahnya—Raja Munhyong dan ibu tirinya—Ratu Park, di ruang pribadi istana utama.
Sang Raja sengaja mengundang putra tertuanya minum teh bersama untuk membahas berbagai persiapan pernikahan kerajaan. Berdasarkan laporan yang diterimanya, persiapan pernikahan memang telah rampung sepenuhnya. Meski begitu, sebagai seorang ayah, Raja Munhyong ingin mendengar pendapat Yi Hyul. Bagaimanapun, Yi Hyul adalah orang yang memiliki kepentingan besar pada gelaran upacara pernikahan nanti.
“Rasanya seperti baru kemarin aku melihatmu lahir. Tapi dalam beberapa hari ke depan kau akan menyandang status baru melalui pernikahan. Bagaimana perasaanmu, seja?” tanya Raja Munhyong membuka topik perbincangan.
“Rasanya seperti mimpi karena aku mempersunting gadis secantik sejabin. Karena itu, dalam kesempatan ini aku ingin mengucapkan terima kasih pada aba mama dan eomma mama,” balas Putra Mahkota Yeongak dengan senyum sopan.
“Geurae. Jika bukan karena jungjeon yang memilih para kandidat berdasarkan kriteria yang sangat ketat, kita tidak akan mendapatkan sejabin yang anggun dan berbudi luhur seperti Nona dari keluarga Kang,” ungkap Raja Munhyong memberikan apresiasi atas kerja keras Sang Ratu.
Ratu Park tersenyum sembari menundukkan kepalanya. “Anugrah Anda seluas lautan,jeonha. Aku hanya menjalankan tugas sebagai seorang ibu bagi seja,” balas Ratu Park dengan penuh penekanan pada kalimat terakhir yang ia ucapkan.
Senyum miring melengkung di bibir Yi Hyul mendengar sindiran halus yang diucapkan ibu tirinya. Yi Hyul tahu pasti, wanita yang mengenakan dangui merah itu tak akan pernah menjadi ibu baginya. Ucapan itu sudah jelas penuh dengan kepalsuan yang tak dapat disembunyikan dengan nada lembut. Yi Hyul tahu, sejak awal Ratu Park tak pernah menyukai dirinya terlebih setelah wanita itu melahirkan Yi Yeol yang harus berpuas dengan gelar sebagai Pangeran Agung.
“Ye, eomma mama. Akupun dapat merasakan kasih sayang Anda yang begitu besar.”
Raja Munhyong tak menyadari sikap saling menyindir yang dilakukan putra tertuanya dengan istrinya. Pria itu tak pernah benar – benar memahami hubungan yang sebenarnya antara Putra Mahkota Yeongak dengan Ratu Park. Pria itu selama ini menganggap jika hubungan keduanya memang sangatlah baik.
“Kalau begitu, aku ingin memberikanmu sebuah hadiah untuk pernikahanmu ini, seja. katakan padaku, apa yang kau inginkan sebagai hadiah pernikahanmu kelak? Aku akan mengabulkannya.” Ucap Raja Munhyong bersungguh – sungguh. Terlihat jelas jika Raja Munhyong begitu bahagia dengan pernikahan kerajaan yang akan dilangsungkan.
Yi Hyul tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, ia tampak berpikir keras. Hingga sudut matanya menangkap bibir Ratu Park yang mencebik setelah mendengar Raja Munhyong akan mengabulkan apapun keinginannya sebagai hadiah pernikahan. Dan, seringai itu terbit di wajah Yi Hyul. Ada rasa yang menyenangkan kala irisnya melihat wajah tak suka yang terpeta di wajah Ratu Park. Yi Hyul tergoda untuk melihat sejauh mana wanita itu bisa menahan sikap di hadapan ayahnya.
“Abba mama, karena aku sebentar lagi akan memiliki seorang istri yang cantik. Rasanya tak adil kalau hanya aku yang menikah. Bagaimana jika setelah pernikahan nanti, abba mama mengizinkanku mengeluarkan dekrit pernikahan untuk adikku tersayang—Hyoyeom daegun?”
Ratu Park mendongak cepat sesaat ia berhasil menelan cairan teh di tenggoroknya. Matanya terbelalak mendengar keinginan Putra Mahkota Yeongak. “Hyoyeom daegun masih terlalu muda untuk menikah. Kenapa kau membuat permohonan seperti itu, seja?” tanya Ratu Park yang berusaha menahan emosinya.
“Apa yang dikatakan jungjeon benar,seja. Kenapa kau...”
“Menurutku usia Hyoyeom daegun lebih dari cukup untuk menikah, abba mama. Aku ingin membalas kebaikan eomma mama yang sudah mencarikan sejabin dengan cara aku yang akan memilih calon istri untuk adik laki – lakiku. Mohon abba mama mengabulkan permohonan sederhana ini.”
Ratu Park menahan emosinya. Ia tak menyangka, Putra Mahkota Yeongak akan bertindak sejauh ini. Ratu Park tahu betul, Putra Mahkota Yeongak berusaha melemahkan posisi Yi Yeol melalui pernikahan, agar Yi Yeol tak memiliki dukungan terhadap tahta kerajaan dari pejabat manapun.