폭발 (Pogbal | The Explosion)
Kang Hye-Sun menatap pantulan di cermin kuningan dengan tatapan sendu. Di belakangnya, dua dayang sibuk memasang hiasan rambut untuk prosesi pernikahannya. Hye-Sun kemudian menunduk dan menekuri jubah pernikahan kerajaan yang ia kenakan. Sungguh, jubah tersebut sangatlah mewah dan cantik. Jubah yang ia kenakan adalah salah satu jubah yang ingin dikenakan para gadis Joseon—Jubah pernikahan Putri Mahkota Joseon. Meski begitu, tak sedikitpun rasa bangga ataupun bahagia melingkupi perasaan Hye-Sun. Jauh di dalam dirinya, gadis itu berteriak serta meronta. Sedaya upaya, Hye-Sun berusaha menahan keras airmata yang ingin meluap.
"Sejabin mama, persiapan Anda telah selesai. Silakan menunggu karena proses penjemputan oleh seja jeoha akan berlangsung sebentar lagi. Kami akan membiarkan Anda sendiri, mama."
Dayang Yoon, dayang yang ditugaskan menjadi pelayan pribadi Hye-Sun memberikan informasi terkait proses pernikahannya. Setelah mengatakan itu, Dayang Yoon beserta dayang lainnya, bergegas meninggalkan ruangan, membiarkan Hye-Sun memiliki waktu sendiri sebelum pernikahannya. Ya, hari ini Hye-Sun akan melangsungkan pernikahannya dengan Putra Mahkota Yeongak. Sudah hampir tiga minggu Hye-Sun tinggal di istana mempelajari etika istana beserta upacara pernikahannya.
Hye-Sun tak membuka suara, airmukanya pun tak menampilkan riak. Gadis itu hanya diam dan lebih memilih memalingkan wajah. Atensinya Hye-Sun tertuju pada jendela ruangan yang terbuka. Cuaca di luar sangat cerah, seolah semesta merestui segala sesuatu yang akan terjadi hari ini.
Suara kiacauan burung sesekali menyapa telinga Hye-Sun, seolah meneriakkan kebebasan yang tak lagi dimilikinya. Hingga, airmata luruh dari salah satu sudut matanya. Jika ada orang yang melihat Hye-Sun menangis sekarang, mereka pasti mengira gadis itu menangis karena bahagia, tapi sebenarnya Hye-Sun menangis karena menjalani sesuatu yang tak diinginkannya.
~****~
Putra Mahkota Yeongak menatap lekat Putri Mahkota Kang yang baru saja keluar dari paviliun tempatnya menunggu. Senyum tipis tersungging di wajah Yi Hyul kala melihat wajah istrinya yang baru saja ia nikahi. Hati Yi Hyul berdesir mengagumi paras cantik sekaligus anggun yang diperlihatkan Putri Mahkota Kang. Sungguh, Yi Hyul sangat bersyukur ia bisa menikahi gadis seperti Kang Hye-Sun.
"Jeoha, silakan membuka tirai agar sejabin mama bisa masuk ke dalam tandu."
Suara Kasim Kim sukses membuyarkan fokus Yi Hyul yang sejak tadi tak jemu memandangi wajah istrinya. Mahkota delapan manik yang dikenakan Yi Hyul sedikit bergerak, karena tindakannya yang menggelengkan kepala agar ia bisa fokus kembali pada prosesi pernikahan. Setelah menyerahkan paeok yang ia pegang pada Kasim Kim, Yi Hyul segera membukakan tirai dan membantu Hye-Sun masuk ke dalam tandu. Dan, Yi Hyul tertegun.
Saat membantu Hye-Sun naik ke tandu, secara otomatis jarak wajah mereka begitu dekat. Hal tersebut membuat Yi Hyul leluasa menatap lekat wajah istrinya. Yi Hyul menggunakan kesempatan itu untuk memperlihatkan senyumnya pada Hye-Sun. Namun, detik selanjutnya Yi Hyul tertegun karena manik hitamnya mendapati jejak airmata di wajah Hye-Sun. Hal itu jelas menghapus senyum Yi Hyul. Orang mungkin akan beranggapan jika Hye-Sun bisa saja menangis karena terlalu bahagia, tapi intuisi Yi Hyul mengatakan lain.
Kang Hye-Sun nampaknya tak bahagia dengan pernikahan mereka yang berlangsung. Fakta itu jelas menggores luka yang cukup dalam di hati Yi Hyul.
~***~
Suara musik yang meriah sayup – sayup terdengar hingga ke paviliun tempat tinggal Yi Yeol yang berada di daerah istana bagian selatan. Tanpa diberitahupun, Yi Yeol tahu dengan pasti suara musik itu pasti berasal dari halaman istana utama, dimana jamuan pernikahan kakaknya—Putra Mahkota Yeongak, dilangsungkan.
Helaan nafas panjang kembali terdengar dari Yi Yeol mengingat acara meriah yang tengah dilangsungkan di istana hari ini. Atensinya beralih dari buku yang sedang ia baca ke tumpukan kain yang berada tak jauh dari meja baca. Tumpukan kain itu adalah jubah kerajaan milik Yi Yeol, yang tak kunjung ia kenakan karena merasa enggan menghadiri jamuan pernikahan Putra dan Putri Mahkota.
Memikirkan acara pernikahan, membuat Yi Yeol menutup buku yang ia baca dengan kasar dan meletakkannya begitu saja di atas meja. Pemuda itu kemudian merasa jika udara di ruangan pribadinya terasa pengap, hingga Yeol beranjak dari duduk untuk membuka beberapa jendela yang terdapat di kamarnya.
Udara segar yang berpadu wangi bunga krisan menyambut indera penciuman Yeol, ketika ia membuka jendela. Yi Yeol membuka jendela yang mengarah langsung pada taman samping paviliun tempat ia tinggal. Segera saja, pemandangan taman yang dipenuhi bunga krisan menyambut matanya yang kembali menerbitkan rasa perih di rongga d**a Yeol.
Yeol tertegun menatapi bunga krisan yang tumbuh ditamannya. Kepalanya secara tak terduga memutar sebuah kenangan mengenai bunga krisan tersebut. Bunga krisan yang berada di halamannya adalah bunga kesukaan sahabatnya—Kang Hye-Sun. Hanya melihat bunga krisan, mampu membuat Yeol mengingat senyum dan tawa dari gadis itu. Mengingat segala sesuatu mengenai Kang Hye-Sun seakan menerbitkan luka baru di hatinya. Dan Yi Yeol berusaha keras menahan kesedihan yang menderanya, hingga pintu ruangannya menjeblak terbuka secara tak terduga.
Putri Yunhye Yi Su menerobos masuk ke dalam ruangan Yi Yeol tanpa izin. Gadis itu sudah mengenakan jubah upacara khususnya. Putri Yunhye masuk ke dalam ruangan pribadi kakaknya sembari berkacak pinggang, terlebih saat menemukan Yi Yeol belum mengenakan jubah upacaranya sebagai Pangeran Agung, hal itu jelas membuat Yi Su mendelik tajam ke arah Yeol.
"Kenapa kau belum juga mengenakan pakaian upacaramu?" selidik Yi Su sembari mendelik tajam ke arah Yeol.
Yi Yeol menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tertangkap basah oleh adiknya, tak berniat pergi mendatangi jamuan pernikahan. Yeol hanya bisa tersenyum salah tingkah karena tak tahu harus memberikan alasan apa pada adik beda ibunya tersebut.
"Ah itu karena tadi Choi sangho begitu lama mempersiapkan pakaianku. Aku..." Yi Yeol tak berani meneruskan ucapannya karena terintimidasi oleh tatapan Yi Su padanya. Yi Yeol akhirnya menghela nafas panjang dengan kepala tertunduk.
"Aku tak mau mendengar alasan apapun lagi darimu. Segeralah berpakaian dan pergi ke jamuan pernikahan. Aku akan menunggu di beranda paviliun. Kalau sampai orabeoni bersikukuh tak mau hadir, aku tak mau lagi berbicara dengan orabeoni."
Yi Su bergegas keluar ruangan dengan langkah menghentak, seolah menyatakan bahwa ia tak main – main dengan ancamannya. Yi Yeol terpaksa meraih jubah kerajaannya dan dengan berat hati bersiap untuk menghadiri jamuan pernikahan.
~***~
"Jeoha, Hyoyeom daegun mama dan Yunhye Ongju mama ingin memberi salam pada Anda."
Yi Hyul yang termenung selama menyaksikan pertunjukan yang dipersiapkan untuk jamuan pernikahannya, menoleh ke arah pintu bagian barat. Manik hitamnya melihat kedua adik tirinya masuk ke halaman Injeongjeon beriringan. Senyum sinis menghiasi Yi Hyul karena dua orang yang tak diinginkan datang ke jamuan pernikahannya.
Sementara itu, Hye-Sun yang duduk di sebelah Yi Hyul, tak sengaja mendengar percakapan suaminya dengan Kasim Kim, ikut menoleh ke arah pintu barat. Dan sepert batu yang baru saja menghantam dadanya, Hye-Sun merasa sakit saat melihat Yi Yeol berjalan menuju altar tempat ia dan Yi Hyul duduk menikmati jamuan pernikahan.
Yi Yeol berusaha bersikap tenang meski jauh di hatinya ia luluh lantak menghadiri pesta ini. Usahanya membuahkan hasil saat ia akhirnya bisa menyunggingkan seulas senyum tipis namun tulus pada Putra Mahkota Yeongak dan sahabat yang ia cintai—Putri Mahkota Kang. Yi Yeol membungkuk dan memberikan sebuah kotak pada Kasim Kim sebagai hadiah pernikahan untuk kakaknya.
"Saya Hyoyeom daegun Yi Yeol mengucapkan selamat atas pernikahan Anda, seja jeoha. Semoga fondasi negara ini semakin kokoh melalui hari bahagia ini. Sebagai bentuk kebahagiaan, izinkan saya mempersembahkan hadiah sederhana untuk Anda berdua."
Kasim Kim mendekat pada kursi tahta yang di duduki oleh Yi Hyul, lalu membuka dan memperlihatkan isi kotak yang dibawa Yi Yeol. Yi Hyul terdiam beberapa saat melihat hadiah yang diberikan adik tirinya. Sejujurnya, Yi Hyul sama sekali tak tersentuh dengan apapun yang dipersiapkan Yi Yeol untuknya.
"Aku menghargai hadiahmu, Hyoyeom daegun," balas Yi Hyul dengan nada yang begitu dingin.
Sadar Yi Hyul tak ingin berlama – lama berhadapan dengannya, Yi Yeol membungkuk pamit dan memutuskan duduk di kursi jamuan yang telah di sediakan. Selama jamuan dan acara berlangsung, Yi Yeol tak sekalipun terlihat antusias. Yeol bahkan beberapa kali mengabaikan celoteh riang Putri Yunhye Yi Su yang duduk di sebelahnya. Pikiran Yeol berkelana ke hari ia dan Hye-Sun tertawa riang bersama.
Apa yang dilakukan Yi Yeol persis terjadi para Putri Mahkota Kang. Beberapa kali, perempuan itu menjatuhkan tatapan sendu pada punggung Yi Yeol yang duduk beberapa anak tangga dari altar pernikahan. Hye-Sun tak menyadari jika ia tengah menjadi pusat perhatian suaminya sendiri. Segala gerak – gerik Hye-Sun sepenuhnya telah diawasi oleh Yi Hyul termasuk tatapan sendu perempuan itu pada Yi Yeol, yang membangkitkan kemarahan yang sejak awal pernikahan di mulai telah bersemayam di dasar hati Hyul. Lelaki berjubah hitam itu mengepalkan tangannya dengan kuat,tak sabar menjatuhkan hadiah spektakuler yang sudah dipersiapkan olehnya.
Musik tiba – tiba berhenti ketika Putra Mahkota Yeongak beranjak dari kursinya. Senyum palsu tersungging di romannya sementara pandangannya mengedar. Menyadari ia telah menjadi pusat perhatian, Yi Hyul merasakan gemuruh sukacita yang meletup = letup di dadanya. Hyul ingin melihat kehancuran Yi Yeol semakin nyata di depan matanya sendiri dihadapan seluruh pejabat negara yang hadir hari ini.
"Aku berterima kasih atas kesediaan para pejabat negara yang menghadiri jamuan ini. Hari ini, aku telah mempersunting gadis cantik nan cerdas yang sangat sesuai dengan kriteria sejabin yang kuinginkan. Semua tidak akan terlaksana jika..." Yi Hyul menghentikan ucapannya lalu menghadap ke arah meja tahta ayah dan ibu tirinya yang berada satu tingkat lebih tinggi lalu membungkuk hormat.
"Eoma mama yang memilih pendamping luar biasa seperti Kang sejabin. Meski aku merasa bahagia, aku sedikit sedih karena hanya aku saja yang melepas masa lajang. itu sebabnya, pada kesempatan ini aku ingin hadiah pada satu – satunya adik laki – lakiku, Hyoyeom daegun."
Keheningan tercipta semakin pekat kala mendengar Yi Hyul menyebutkan kata hadiah. Roman tegang sekaligus pucat segera menghiasi Ratu Park. Wanita itu jelas tahu kemana arah pembicaraan Putra Mahkota Yeongak. Ratu Park menahan amarah dengan mencengkram kuat daran chima yang ia kenakan sembari melayangkan lirikan tajam pada punggung putra tirinya—Putra Mahkota Yeongak.
"Aku memberikan dekrit pernikahan pada Hyoyeom daegun. Setelah jamuan ini selesai, pemilihan calon istri untuk Hyoyeom daegun resmi di gelar. Ini merupakan hadiah dariku sebagai kakak yang peduli terhadap kebahagiaan adiknya."
Yi Hyul memberi tanda pertunjukan kembali dilanjutkan. Yi Hyul sangat puas dengan apa yang ia lakukan beberapa saat lalu. Lelaki itu tak membiarkan Ratu Park atau siapapun memberikan sanggahan atas dekrit yang ia ucapkan. Yi Hyul bahkan tak peduli dengan ekspresi terkejut sekaligus kecewa yang kini terpeta jelas di roman Yi Yeol maupun Hye-Sun.
~***~