속임수 (Sog-imsu | The Mask)
Suara gemerisik disusul langkah tergesa terdengar memecah keheningan malam. Di bawah sinar perak rembulan, seorang wanita istana diikuti para dayangnya, sedang menuju area istana timur. Dengan jubah merah nan mewah yang masih membalut tubuh, ekspresi wanita itu terlihat murka. Padahal jamuan pernikahan baru saja selesai.
Ketika kakinya menjejak halaman istana timur, atensinya menghunus tajam bangunan utama tempat tinggal Putra Mahkota Yeongak. Sedikit kasar, wanita istana itu juga membuka paksa pintu masuk bangunan utama. Kehadirannya yang tak terduga jelas mengundang pekik kaget tertahan dari para dayang yang berpapasan dengannya. Kembali, irisnya bergulir menatap tajam dua orang dayang yang membungkuk ketakutan di bawah tatapan intimidasinya.
“Bukakan pintu untukku!”
Keduanya membungkuk semakin rendah dan akhirnya membuka pintu ruangan, tak peduli jika sosok pemilik ruangan akan merasa terganggu. Segera, wanita itu memasuki ruangan dengan emosi yang meluap – luap.
“Eomma mama, kenapa Anda tiba – tiba datang menemuiku?” sapa Putra Mahkota Yeongak dengan senyum palsu yang terpasang di wajahnya. Sang Putra Mahkota bahkan tak ingin repot – repot memberikan salam hormat pada wanita memasuki ruangannya secara terduga tersebut.
Ratu Park menatap sinis Putra Mahkota Yeongak yang seolah tak kaget dengan kedatangannya. “Wah, bahkan kau tak ingin repot membungkuk hormat padaku. Apa sekarang kau bersikap terang – terangan menentangku setelah mendapatkan posisi daelicheongjeong dari ayahmu?” desis Ratu Park dengan nada penuh kebencian.
Putra Mahkota Yeongak tertawa kecil mendengar nada kebencian yang diucapkan Ratu Park. Lelaki itu balas menatap Ratu Park tepat di mata. Amarah dan kebencian menyelimuti kedua manik wanita yang telah menggeser posisi mendiang ibunya. hal itu jelas menyulut rasa tak suka Yi Hyul pada Ratu Park.
“Sebenarnya ada apa Anda datang kemari,jungjeon mama? Tidakkah Anda tahu, sebentar lagi aku harus pergi ke paviliun sebelah untuk melaksanakan malam pernikahan dengan sejabin?”
“Hanya karena kau telah menikah bahkan mendapat hadiah pernikahan sebagai wali pemerintahan dari ayahmu. Tidak seharusnya kau menyinggung hal yang tak bisa kau putuskan mengenai putraku. Batalkan dekrit pernikahan atas Hyoyeom daegun,” desis Ratu Park sembari menahan ledakan emosi yang sudah ia tahan selama mengikuti prosesi jamuan pernikahan tadi.
“Sebagai wangseja, mana mungkin aku menarik kata – kataku? Terlebih dihadapan para menteri.”
“SEJA!”
Yi Hyul tertawa melihat Ratu Park tak lagi mampu menahan luapan emosinya hingga berteriak di hadapannya. “Kenapa Anda tampak semarah itu, jungjeon mama? Ho, setelah sekian lama, akhirnya Anda memutuskan membuka topeng Anda di hadapanku?”
Ratu Park menggeram marah dengan kedua tangan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Sungguh, ia tak menyangka jika Yi Hyul akan mengambil langkah sejauh ini terhadap putranya. Dalam hati, Ratu Park membulatkan tekad semakin kuat untuk menyingkirkan pangeran dingin di hadapannya dan mendudukkan Yi Yeol di tahta. Ratu Park tak akan tinggal diam.
“Jika kau pikir akan semudah itu menendang Yi Yeol keluar dari istana, perlu kuperingatkan bahwa aku tidak akan tinggal diam.”
Tepat setelah mengatakan itu, Ratu Park berbalik pergi meninggalkan ruangan Yi Hyul. Langkah Sang Ratu terdengar dipenuhi berbagai emosi, sementara Yi Hyul mendengarnya seakan melodi kemenangan. Yi Hyul telah berhasil menyingkap topeng sikap kepalsuan Ratu Park. Dengan mata yang masih memandangi pintu yang telah tertutup kembali, Yi Hyul menyunggingkan senyum kemenangannya.
“Akhirnya kau memperlihatkan dirimu yang sebenarnya,” bisik Hyul pada dirinya.
~***~
Emosi yang bersemayam di rongga d**a Ratu Park semakin meluas setelah ia mendatangi Putra Mahkota Yeongak di ruangannya. Karena kemarahannya, membuat nafas Sang Ratu tersengal. Sungguh, Ratu Park tak menyangka jika Yi Hyul akan seberani itu untuk memberikan dekrit pernikahan pada putranya—Yi Yeol, di saat jamuan pernikahan sedang berlangsung.
BRAK!
Ratu Park menggebrak meja yang ada di depannya. Hanya dengan memikirkan sikap Yi Hyul di prosesi jamuan sudah mampu menyulut emosinya kembali naik. Kedua tangannya terkepal erat memikirkan situasi genting yang sebentar lagi akan merundung nasib putranya.
“Kurang ajar! Beraninya pemuda itu mengusik kehidupan putraku secara terang – terangan.”
“Mama, tenangkan diri Anda. Anda tidak boleh bertindak gegabah. Dalam keadaan seperti ini, Anda harus menenangkan diri lebih dulu dan menyusun rencana.”
Dayang Song, kepala pelayan istana ratu, berusaha menenangkan Ratu Park yang masih begitu emosional. Bahkan, sekalipun telah menyajikan teh hijau dan camilan kesukaannya, tak mampu meredakan kemurkaan yang melanda Sang Ratu.
“Song sanggung, segera buat daftar para gadis yang layak menjadi istri dari Yi Yeol. Bagaimanapun, kita harus mempersiapkan diri menghadapi bocah sombong itu. Tidak akan kubiarkan ia mengacaukan kehidupan putra tunggalku. Kupastikan Yi Yeol akan mendapat yang terbaik hingga mampu menggalang dukungan untuk duduk di tahta.”
“Ye,jungjeon mama. Hamba akan melaksanakannya. Anda tak perlu cemas.”
~***~
Hye-Sun menatap kosong cawan teh yang sejak tadi mengepulkan uap panas. Perempuan itu sama sekali tak berminat untuk menyesap cairan berwarna kuning keemasan yang akan terasa hangat jika mengaliri tenggoroknya. Sejak beberapa menit lalu, Hye-Sun seolah asyik dengan pemikirannya tanpa sadar jika dirinya menjadi objek observasi dari individu lain yang tengah berada bersamanya.
Yi Hyul menatap lekat perempuan yang menyandang gelar sebagai istrinya dalam diam. Lelaki itu merasa jika Hye-Sun seolah berada di dimensi yang berlainan dengannya. Perempuan jelita itu seolah tak menyadari kehadirannya. Dan hal itu jelas membuat Hyul dongkol sekaligus kesal karena egonya terusik. Sebagai seseorang yang lahir dan besar di istana dengan gelar tinggi, Yi Hyul jelas tak menerima jika kehadirannya di abaikan.
Sedikit kasar, Hyul meletakkan cawannya yang telah kosong ke atas meja saji. Hyul sengaja membuat bunyi, agar Hye-Sun mau memperhatikan dirinya. Namun, semua itu terasa nihil karena Hye-Sun tak kunjung juga mengangkat wajah dan menatapnya.
Hyul beranjak dari duduknya seakan menegaskan ia sangat tersinggung dengan perlakuan dingin yang diperlihatkan Hye-Sun di malam pernikahan mereka. Mendengar suara gemerisik kain diikuti suara meja saji yang bergeser, barulah Hye-Sun tersentak dari lamunannya mengenai dekrit pernikahan yang akan diterima Yi Yeol. Mata Hye-Sun membulat melihat suaminya—Putra Mahkota Yeongak, seakan hendak pergi dari ruangan.
“J-jeoha, Anda akan pergi kemana?”
Hyul memilih memunggungi Hye-Sun sebagai bukti ia sangat tersinggung dengan sikap yang diperlihatkan perempuan itu padanya. “Sepertinya kau tidak ingin menginginkan kehadiranku. Lebih baik aku bermalam di ruangan lain.”
Mendengar balasan dingin Hyul, membuat Hye-Sun merutuki perbuatannya yang melamun sementara ia sedang bersama suaminya. Terlebih, Hye-Sun tak dapat membayangkan rumor apa yang akan menyambutnya esok hari saat ia ternyata ditinggal sendiri di malam pengantin. Sungguh, untuk hidup di istana sana sudah terasa berat baginya, terlebih Hye-Sun tak akan sanggup jika harus mendapatkan rumor buruk di hari pertamanya tinggal di istana.
“Jeoha,mohon maafkan kelancangan saya. Saya sama sekali tak bermaksud bersikap dingin pada Anda. Hanya saja, ada beberapa hal yang mengusik pemikiran saya mengenai tinggal di istana. Mohon maafkan saya dan tolong bermalamlah di sini.”
Hye-Sun mendongakkan wajahnya agar bisa melihat reaksi apa yang akan diberikan Hyul atas ucapannya. Tapi, melihat Hyul bergeming di tempat bahkan tak kunjung membalikkan badannya, membuat hati Hye-Sun mencelos dan membuatnya tertunduk lesu.
Keheningan menjeda diantara mereka. Hyul tak langsung memberikan jawaban atas permohonan Hye-Sun. Lelaki itu tersinggung namun di satu sisi ia tak akan tega membiarkan Hye-Sun sendirian. Terlebih, ini adalah malam pengantin mereka.
Hyul menghela nafas panjang, membiarkan keheningan menyelimuti beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan memandang sosok istrinya yang tengah menunduk, meratapi lantai. Perlahan, Hyul berbalik dan mendekati Hye-Sun. Lelaki itu kemudian duduk menghadap Hye-Sun dan meraih dagu perempuan itu. Hyul memberikan tatapan penuh peringatan pada Hye-Sun, menyiratkan seolah ia benci diabaikan seperti yang dilakukan Hye-Sun tadi.
“Baiklah. Aku akan bermalam di sini. Hanya saja, ketika kau bersamaku, ada satu hal yang tak boleh kau lakukan.” Hyul kemudian bergerak, mendekatkan bibirnya pada telinga Hye-Sun.
“Kau tak boleh memikirkan yang lain saat sedang bersamaku. Baik tubuh, hati, juga pikiranmu adalah milikku dan kau tak bisa mengelak semua itu karena sejatinya kau adalah milikku. Aku memilihmu bukan semata karena kau telah ditentukan sebagai sejabin sejak awal, namun karena aku menginginkan kau menjadi milikku seutuhnya. Sekarang, saat kau sudah menjadi milikku, aku tak berniat membaginya dengan siapapun termasuk apapun yang sedang kau pikirkan tadi. Apa kau mengerti?”
Hye-Sun mematung di tempat. Perempuan itu begitu tertohok sekaligus merinding mendengar intimidasi yang diberikan Hyul padanya. meski begitu, Hye-Sun berusaha membenarkan semua itu. karena lelaki di hadapannya jelas berhak atas dirinya.
“Y-ye,jeoha. Saya mengerti,” lirih Hye-Sun sembari menguatkan hati atas kehidupan yang kelak akan ia jalani.
~***~