전쟁이 시작된다 (Jeonjaeng-i sijagdoenda | The war begins)
Pintu ruangan Yi Yeol terbuka secara kasar, disusul dengan kehadiran sosok yang tak terduga, membuat Yi Yeol yang baru saja hendak melepas jubah upacaranya tersentak kaget dan mengurungkan kegiatannya. Atensi Yeol tertuju sepenuhnya pada sosok yang juga masih mengenakan jubah mewah upacara. Dibandingkan rasa bangga akan pakaian yang ia kenakan, awan gelap lebih mendominasi raut wajahnya.
Sosok tersebut kemudian menghambur ke arah Yeol dan memeluk erat, seakan Yeol akan menghilang begitu saja jika tidak dipeluk dengan erat. Sementara itu, Yeol hanya bisa diam mematung di tempat tanpa berniat membalas pelukan erat yang diberikan sosok tersebut padanya.
“Eomma mama, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Yeol setelah berhasil menguasai rasa terkejut atas sikap dan kunjungan tak terduga dari ibunya. Terlebih, ibunya langsung menghambur memeluk erat dirinya selayaknya anak kecil.
“Yeol~a... Yeol~a, putraku yang berharga.” Gumam ibunya yang semakin erat memeluk Yi Yeol.
“Eomma mama, apa terjadi sesuatu yang menakutkan? Kenapa Anda bersikap seperti ini? Tolong lepaskan, aku merasa tak nyaman.” Pint Yeol pada ibunya.
Ratu Park mengurai pelukan, namun matanya menatap lekat wajah putranya. Terlihat lapisan bening menyelimuti manik cokelat Sang Ratu. Terlihat rasa takut, cemas, amarah, serta kasih sayang yang terpancar dari Ratu Park. Perlahan, Ratu Park menangkup wajah Yeol dalam telapak tangannya dan tersenyum lembut.
“Apapun yang terjadi, kau tak perlu mencemaskan apapun,Yeol~a. Ibumu ini akan mempertaruhkan apapun agar kau hidup nyaman. Jadi, kau tak perlu khawatir dengan dekrit yang dikeluarkan bocah sialan itu. Ibu berjanji akan mendapatkan gadis terbaik untukmu. Kau mengerti?”
“Eomma mama, apa Anda mengkhawatirkan dekrit pernikahan yang diucapkan hyungnim di acara perjamuan tadi?”
“Tentu saja aku merasa cemas. Bagaimanapun, masa depanmu akan bergantung pada keluarga gadis yang menikah denganmu. Tidakkah kau paham kalau bocah sialan itu berniat buruk padamu?” sergah Ratu Park.
Yeol tersenyum mendengar kecemasan berlebih yang ditunjukkan ibunya. Bukan hal yang baru bagi Yeol melihat ibunya begitu berapi – api membenci kakak tirinya. Menurut pandangan ibunya, sudah seharusnya kakak tirinya—Putra Mahkota Yeongak, dilengserkan dari posisinya mengingat Yi Yeol merupakan putra kesayangan Sang Raja, juga lebih berbakat di berbagai bidang. Namun, Yeol tak sependapat dengan pemikiran ibunya. Yi Yeol tak sedikitpun berpikir untuk menduduki tahta. Yi Yeol berpikir kakaknya jauh lebih pantas dengan semua itu dibandingkan dirinya.
“Eomma mama, sampai kapan Anda akan berpikir buruk pada hyungnim? Aku yakin hyungnim—“
“Bocah sialan itu bukan kakakmu,Yeol! Tidak seharusnya kau bersikap tenang. Ibu pastikan ia berniat buruk padamu. Dekrit pernikahan ia berikan agar kau segera keluar dari istana juga menikahkanmu dengan gadis yang tidak memberikan keuntungan apapun. Ibu melahirkanmu bukan untuk kehidupan seperti itu. Kau jauh lebih pantas duduk di—“
“Eomma mama! Tidak sepantasnya Anda mengatakan hal seperti itu di hadapanku. Semua itu bisa menjadi tindakan pengkhianatan. Mohon Anda menjaga ucapan,” tegur Yeol dengan nada gusar.
Ratu Park terdiam mendengar teguran keras dari Yeol. Wanita itu menghela nafas panjang sebelum kembali membuka suara. Ratu Park berusaha mengontrol emosinya dan bersikap lebih tenang di hadapan Yeol. Bagaimanapun, Ratu Park tahu betapa Yi Yeol mengagumi bocah sialan yang merupakan putra tirinya dan berharap bisa menjadi saudara akrab.
“Baiklah. Ibu minta maaf sudah mengatakan hal seperti itu di depanmu,Yeol~a. Tapi, mengenai dekrit pernikahan itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimanapun kau adalah putra ibu, dan ibu berhak memilih gadis mana yang akan menjadi istrimu terlepas dari dekrit yang diberikan bocah itu. Jadi, percayalah pada ibu,”ucap Ratu Park dengan nada suara yang kembali lembut.
Yi Yeol menghela nafas panjang dan mengangguk lesu, rasa sedih itu kembali menjalari hatinya karena kelak sebentar lagi ia harus berpisah dari kakak tirinya dan menjalani kehidupan di luar istana.
“Ye, eomma mama. Aku akan bersikap tenang dan menunggu semuanya.”
~***~
“Mohon maafkan hamba yang mengganggu waktu Anda,jeoha. Hamba kemari untuk menyerahkan daftar nama gadis untuk daegun mama.”
Shin Jong-In, menteri ritual dan ritus istana datang ke istana timur keesokan paginya untuk bertemu Yi Hyul. Pejabat itu telah mendapat perintah dari Yi Hyul pada malam setelah acara jamuan pernikahan selesai. Secepat yang ia bisa, Shin Jong-In segera menemukan daftar para gadis yang mungkin bisa diseleksi untuk menjadi calon istri dari Pangeran Agung Hyoyeom.
Hyul mulai membuka lembar demi lembar buku yang memuat daftar gadis untuk dijadikan calon adik iparnya. Iris gelapnya menatap dingin satu persatu sketsa wajah para gadis, tak lupa juga membaca latar belakang mereka. Hingga, Hyul menyudahi membaca daftar tersebut dengan wajah tak berminat.
“Bagaimana,jeoha? Apa Anda menemukan beberapa gadis yang bisa di seleksi? Atau Anda...”
“Apa tidak ada gadis selain dari daftar ini?” potong Hyul dengan nada dingin. Ekspresi yang terpeta di wajahnya memperlihatkan rasa tidak sukanya.
Jong-In terperangah dengan komentar yang diberikan Hyul atas daftar gadis yang ia persiapkan. Sungguh, Jong-In telah mengumpulkan beberapa daftar nama para gadis yang berasal dari keluarga terpandang di Joseon. Tetapi, melihat sikap Putra Mahkota Yeongak yang tidak suka, membuatnya terkejut.
“Apa Anda tidak menyukai para gadis tersebut,jeoha? Saya sudah mengumpulkan data para gadis yang berasal dari keluarga terpandang di seluruh Joseon untuk menjadi kandidat istri Hyoyeom daegun mama, apa semua ini masih terasa kurang?”
Hyul menyunggingkan seringainya. “Menurutmu bagaimana?”
“Ah saya paham,jeoha. Seperti yang diketahui, Anda pasti menginginkan gadis terbaik yang menjadi istri dari Hyoyeom daegun mama. karena bagaimanapun, kemampuan dan bakat Hyoyeom daegun mama sudah termashur. Sudah seharusnya—“
BRAK!
Hyul menggebrak mejanya. Kemarahan terlihat jelas di manik gelapnya. Hari masih pagi, suasana hatinya sudah sedemikian buruk karena mengingat tentang adiknya. Terlebih, ia benci jika ada seseorang yang menyinggung tentang kemampuan Yi Yeol di hadapannya. seperti yang baru saja dilakukan Menteri Ritus Shin Jong-In. Hal tersebut merupakan tindakan yang sangat fatal.
Shin Jong-In yang menyadari kesalahannya buru – buru bersimpuh di hadapan Putra Mahkota Yeongak. Pria tersebut sama sekali tak bermaksud mengatakan kemampuan Pangeran Agung Hyoyeom di depan Putra Mahkota Yeongak. Dalam hati, menteri muda itu merutuki kelalaiannya.
“Aku tak tahu harus mengatakan apa padamu, Yejo panseo. Sejujurnya aku kecewa dengan hasil pekerjaanmu. Apa begini hasil pekerjaan dari pejabat yang disebut sebagai pejabat paling brilian tahun ini?”
Shin Jong-In hanya bisa menundukkan kepala semakin rendah. Dalam hati ia berdoa kencang agar tak mendapat kemarahan Putra Mahkota Yeongak yang disebut – sebut sangat mengerikan. Pejabat tersebut hanya bisa menggumamkan kata maaf berulang kali sambil bersimpuh.
Hyul tersenyum sinis melihat sikap yang diperlihatkan Menteri Shin. Dalam hati, Hyul menertawakan sikap pejabat termuda itu. “Aku ingin kau memperbaharui daftar gadis ini. Cari gadis yang berasal dari keluarga bangsawan biasa. Tanpa memiliki kekuatan apapun di masyarakat. Cari gadis yang satu – satunya hal berharga yang dimiliki keluarganya hanyalah gelar bangsawan mereka saja. Sebelum kau mendapatkan sesuai yang kuinginkan, aku tak ingin melihatmu.”
Kim Jong-In mengangguk patuh dan segera setelah mendapat perintah tersebut, ia pamit dari hadapan Putra Mahkota Yeongak. Sepeninggal Menteri Shin, Hyul mulai sibuk menerka – nerka apapun yang mungkin tengah dipersiapkan Ratu Park untuk melindungi putra kesayangannya. Seringai kembali terbit di roman dingin Yi Hyul.
“Aku tak sabar ingin melihat ekspresi marah seperti yang diperlihatkannya kemarin malam. Rasanya benar – benar menyenangkan dan aku menanti datangnya hari ia berlutut memohon pertolonganku,” gumam Hyul pada dirinya sendiri.
~***~