운명의 밤 (Unmyeong-ui Bam |The Night of Fate)
Bulan yang menguasai langit malam, sudah mulai muncul menampakkan diri. Udara pun mulai terasa mendingin, membuat siapapun akan memilih berdiam diri dalam rumah dan bergelung dalam kehangatan. Namun, semua itu tak berlaku bagi seorang lelaki yang termenung seorang diri di beranda paviliun. Sorot maniknya terlihat kosong dan sesekali helaan napas panjang diembuskannya, seakan ada beban yang tengah memberati kedua pundaknya saat ini.
Sudah dua hari ini, Yi yeol selalu duduk termenung di beranda paviliun setiap menjelang malam tiba. Semua ini terjadi setelah Yeol mengunjungi orangtuanya di istana. Seakan terdapat beban yang memberati kedua pundak serta kepalanya setelah pertemuan orangtua anak itu terjadi. Pikiran Yeol melayang jauh, pertanyaan tak terduga sang Ayah kala itu meninggalkan kebingungan mendalam, membayangkan kembali situasi dan kondisi yang terjadi pada saat pertanyaan tak terduga itu terlontar dari ayahnya.
“Yeol~a, pernahkah terbersit dalam pikiranmu untuk menjadi pewaris takhta?”
“Abba Mama! Bagaimana bisa Anda bertanya seperti itu padaku? Anda sudah memiliki Hyungnim sebagai pewaris takhta. Saya akan berpura-pura tak pernah mendengar pertanyaan seperti itu dari Anda.”
“Maafkan ayahmu ini, putraku. Maaf aku tak bisa bersikap selayaknya seorang ayah. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi kalian berdua.”
Yeol bisa mengingat dengan jelas senyum tipis yang diperlihatkan Raja Munhyeong setelah dirinya memilih berpura-pura tak mendapatkan pertanyaan seperti itu. Namun, hal selanjutnya yang dilakukan Raja Munhyeong semakin membuat Yeol bingung. Apa tepatnya yang mendasari ayahnya berpikir ia menginginkan takhta dan kenapa juga ayahnya harus meminta maaf setelah bertanya seperti itu padanya?
Karena begitu terlaru dengan pikirannya, Yeol tak menyadari bahwa Yeonhwa sudah berdiri di depannya dengan kening mengernyit heran. Perempuan itu heran melihat Yeol yang sudah beberapa hari ini selalu termenung di beranda setiap kali malam tiba. Bahkan, hari ini merupakan yang terparah karena suaminya itu tak menyahuti panggilannya sejak beberapa menit lalu.
“Seobangnim, Anda baik-baik saja? Seobangnim? Daegam?” Yeonhwa melambaikan kedua tangannya di depan muka Yeol. Berharap lelaki itu bisa menyadari kehadiran Yeonhwa.
“Oh Buin....” Yeol tersentak dari lamunannya dan terkejut mendapati Yeonhwa sedang menatap lekat dirinya sembari melambai-lambaikan kedua tangan di depan wajah Yeol.
“Apa Anda baik-baik saja? Saya perhatikan, beberapa hari ini Anda terlihat gelisah,” ujar Yeonhwa dengan nada khawatir yang tak bisa ditutupi.
“Aku baik-baik saja,” sahut Yeol dengan senyum yang mengembang untuk mengurangi kekhawatiran Yeonhwa, “hanya ada beberapa hal yang kupikirkan tapi itu bukan sesuatu yang buruk.”
Yeonhwa mengangguk. Meski Yeol mengelak dan bersikap biasa saja, Yeonhwa yakin ada sesuatu yang pelik tengah mengganggu pikiran Yeol saat ini. Seperti biasanya, Yeonhwa memilih tak memaksa Yeol untuk membicarakannya dengan Yeonhwa. Bagaimana pun, Yeonhwa memahami pernikahan macam apa yang tengah dijalannya saat ini bersama Yeol. Mereka menikah karena dekrit kerajaan.
“Saya akan membawakan teh dan camilan malam supaya Anda bisa beristirahat dengan nyaman dan tenang.”
Yeol terdiam beberapa saat mendapati punggung Yeonhwa yang bergerak menjauh. Ada sesuatu yang mendorong Yeol untuk mengetahui pendapat Yeonhwa mengenai pertanyaan tak terduga dari ayahnya. Namun, lelaki itu merasa sulit untuk memulai percakapan itu, hingga bibirnya hanya mampu mengucapkan nama perempuan itu.
“Yeonhwa~ya....”
Langkah Yeonhwa otomatis terhenti kala mendengar Yeol memanggil dengan menyebutkan namanya. Ada ledakan kecil rasa senang di rongga dadanya, membuat jantungnya berdegup kencang. Sungguh, Yeonhwa merasa tak bisa mempercayai pendengarannya akibat Yeol yang secara tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan nama.
Yeonhwa berbalik, sorot matanya memancarkan kesan tak percaya atas tindakan Yeol beberapa saat lalu. Tubuh perempuan itu hanya bisa mematung di tempat, sama sekali tak memiliki kuasa untuk melangkah mendekati Yeol.
Keraguan kembali menghantam Yeol saat mendapati sorot mata Yeonhwa padanya. Lidahnya terasa kelu untuk membicarakan percakapan pribadi yang terjadi antara Yeol dan ayahnya. Tapi, hati kecil Yeol memiliki firasat kuat bahwa ada alasan kuat ayahnya bertanya seperti itu. Jika memang ada sesuatu yang dipersiapkan ayahnya, kehidupan Yeol ataupun Yeonhwa pasti akan terkena imbas atas hal yang mungkin dipersiapkan Raja Munhyeong.
“Menurutmu, bagaimana jika suatu hari nanti nasib kita berubah? Entah itu berubah menjadi baik ataupun buruk, apakah kau akan menyesalinya?”
“Apa ada sesuatu yang sangat Anda khawatirkan saat ini, Daegam?” tanggap Yeonhwa yang semakin percaya, ada sesuatu yang sangat besar yang tegah dikhawatirkan Yeol saat ini. Di sisi lain, ada rasa hangat yang menyelimuti hati Yeonhwa karena Yeol bertanya untuk mengetahui pendapatnya.
Yeol tersenyum tipis tapi tak berniat memberikan petunjuk lebih maksud dari pertanyaan yang ia ajukan. “Apa kau akan membenciku jika suatu hari nanti kehidupan kita berubah?”
“Jika kehidupan kita berubah suatu saat nanti, saya yakin itu bukan karena kesalahan siapapun. Saya yakin semua itu adalah goresan takdir yang sudah ditentukan oleh langit.”
~RED MOON~
Hyesun memilih untuk tidur membelakangi Hyul, agar suaminya tak melihat lelehan airmata yang mengaliri kedua pipinya. Hyesun tak lagi peduli jika sikapnya bisa saja memancing kemarahan Hyul. Wanita itu tak lagi peduli karena harga dirinya benar-benar telah hancur lebur oleh suaminya sendiri.
Sementara itu, Hyul yang terbaring di sebelah Hyesun memandangi langit-langit dalam diam. Pria itu bukan tak menyadari perlakuan kasar yang dilakukannya selama proses penyatuan malam ini. Ini bukan pertama kalinya Hyul melakukannya secara paksa pada Hyesun. Egonya sebagai pria sangat terluka karena Hyesun selalu menolak setiap kali proses penyatuan secara resmi dilaksanakan. Karena itu, jalan satu-satunya bagi Hyul adalah memaksa Hyesun untuk berhubungan badan dengannya.
Isakan tertahan terdengar dari sosok yang tengah memunggungi Hyul saat ini. Mendengar isakan tersebut membuat Hyul refleks menolehkan wajah dan menyunggingkan senyum skeptis. Sungguh, Hyul benar-benar membenci Hyesun yang bersikap lemah seperti sekarang.
“Apa kau benar-benar merasa jijik padaku?” tanya Hyul yang sejatinya cukup terluka dengan sikap Hyesun setelah penyatuan mereka beberapa saat lalu.
Hyesun tak menjawab pertanyaan tersebut. Satu hal yang pasti, hatinya terasa sakit setelah semua hal yang terjadi pada malam ini. Hyesun benar-benar membenci nasibnya.
“Kau tak mau menjawab pertanyaanku?” desak Hyul yang masih menumpukkan perhatiannya pada punggung polos di sampingnya. Egonya ingin kembali memaksa wanita itu agar berbalik menatapnya namun hati kecilnya merasa bahwa ia sudah cukup bertindak kasar pada istrinya.
“Aku tahu kau pasti merasa kotor setelah pemaksaan yang kulakukan. Tapi, satu hal yang harus kau ingat,” Hyul menjeda, memastikan agar kata yang ia pilih kelak akan terpatri dengan baik pada benak Hyesun.
“Sekeras apapun kau menolakku, pada akhirnya langit sudah menakdirkan bahwa kau milikku. Enyahkan dari pikiranmu bahwa semua ini bisa berakhir. Pada kenyataannya, aku tak akan pernah melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikku. Camkan itu, Sejabin.”
Tepat setelah mengatakan itu, Hyul beranjak dari pembaringannya. Pria itu meraih jubah tidur sutra miliknya, mengenakannya sedikit kasar sebelum akhirnya pergi dari ruangan. Hyul bahkan tak berhenti hanya untuk sekadar melihat bagaimana reaksi Hyesun atas ucapannya. Pria itu berlalu begitu saja dari ruang tidur sang Putri Mahkota Joseon setelah melaksanakan kewajibannya.
~RED MOON~
Suara langkah tergesa terdengar di sepanjang lorong paviliun istana utama—kediaman Raja Munhyeong. Hilir mudik tabib istana seakan tak berhenti memasuki ruang istirahat sang Raja. Sementara itu, Kasim Choi—kasim utama Raja Munhyeong, dengan setia menemani di sisi pembaringan pria penguasa Joseon tersebut. Kasim Choi berusaha bersikap tenang menghadapi situasi saat ini, meski sebenarnya jantung lelaki paruh baya itu berdegup kencang.
Raja Munhyeong terbatuk dengan keras, sesekali napasnya terengah, menandakan ia kesulitan untuk bernapas dengan baik. Tangan sang Raja melambai, menyuruh agar Kasim Choi mendekat ke arahnya. Dengan sigap, Kasim Choi menggeser duduknya agar lebih dekat dengan pembaringan tempat Raja Munhyeong tergolek lemah tak berdaya.
“Ye, Jeonha. Silakan katakan perintah Anda.”
Butuh beberapa menit bagi Raja Munhyeong untuk mengatakan perintahnya. Dadanya yang terasa seperti terhimpit ditambah dengan batuk yang tak berkesudahan membuatnya sangat tersiksa. Dengan satu tarikan napas, sang Raja berusaha mengucapkan perintahnya.
“Panggilkan sekretaris istana kemari, Kasim Choi. Katakan padanya, aku ingin menyampaikan wasiatku.” Setelah mengatakan itu Raja Munhyeong terbatuk hebat, membuat tubuhnya yang dulu terlihat gagah kini nampak kuyu juga lesu.
“Aku harus segera melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kedua putraku. Aku merasa waktuku sudah hampir habis,” tambah Raja Munhyeong pada Kasim Choi.
Kasim Choi terkejut setengah mati mendengar perintah sang Raja. Dengan cepat, ia mengangguk dan keluar ruangan untuk memanggil sekretaris istana. Tak hanya itu, Kasim Choi juga mengirim pesan pada seluruh keluarga kerajaan karena kondisi sang Raja yang semakin buruk.
~RED MOON~