애도 (Aedo |The Mourning)
Guntur dan kilat di sertai hujan badai menghiasi malam Joseon kali ini. Langit seolah memberikan pertanda mutlak bahwa malam ini akan terjadi sesuatu yang kelak akan mengubah Joseon di masa depan. Para pengantar pesan yang diperintahkan Kasim Choi, sudah menyelesaikan tugas mereka. Hal ini terlihat adanya serombongan dayang dan pelayan yang melintasi halaman istana di tengah badai.
Tak peduli dengan derasnya hujan yang mengguyur, Putra Mahkota Yeongak bergegas menuju istana utama setelah mendengar kabar yang diterimanya beberapa saat lalu. Firasat pria berjubah kerajaan berwarna dongker itu sudah tak nyaman sejak sore. Nyatanya memang akan ada hal genting yang terjadi malam ini.
“Jeoha, mohon tenangkan diri Anda. Anda harus menjaga tubuh kerajaan Anda dengan baik. Payung akan segera datang, seseorang tengah mengambilnya. Hamba mohon berhenti sejenak di tempat yang teduh. Hujan malam ini sangat lebat, Jeoha.”
Kasim Kim yang berjalan tepat di belakang Yi Hyul, terlihat sangat cemas karena jubah yang dikenakan pangeran pewaris takhta itu telah basah kuyup. Pelayan lelaki itu khawatir jika Putra Mahkota Yeongak terkena demam atau yang lebih parah adalah flu berat. Namun, sekeras apa pun Kasim Kim mengingatkan dan menegur, Yi Hyul tak peduli. Hyul terus melangkah, tak peduli jika jubahnya terasa semakin berat karena basah.
Begitu tiba di paviliun utama—kediaman Raja Munhyeong, Kasim Kim segera memerintahkan seseorang mengambilkan pakaian ganti untuk Putra Mahkota Yeongak karena jubahnya telah basah kuyup ditambah bibir sang pangeran yang telah membiru kedinginan. Tak berselang lama, Yi Hyul segera mengganti pakaiannya dan bergegas menuju ruang istirahat tempat Raja Munhyeong terbaring lemah.
“Abba Mama, saya sudah disamping Anda.” Hyul menyapa dengan nada gemetar karena menahan rasa dingin yang masih menyelimuti tubuhnya ditambah dengan rasa sedih yang menyerangnya setelah melihat kondisi sang Ayah yang benar-benar pucat.
Sambil berbaring, Raja Munhyeong tersenyum mendapati kehadiran putra sulungnya. Dengan gerakan lemah, ia meminta agar Hyul mendekat padanya. Rasa bersalah dengan cepat menyerang d**a Raja Munhyeong karena tak pernah bisa mencurahkan kasih sayang yang besar pada Hyul. Sang Raja menyadari keirian yang dirasakan Hyul pada putra bungsunya—Yi Yeol.
“Kenapa tanganmu begitu dingin, Seja? Maaf aku menyuruhmu kemari di tengah hujan badai.”
Raja Munhyeong menyadari suhu tubuh Hyul yang sangat dingin ketika tangannya yang lemah menggenggam erat salah satu tangan Hyul. Secara tak berperi, rasa bersalah semakin menghantam diri sang Raja.
“Mianhae, karena aku selalu membuatmu terluka ataupun tersiksa. Bahkan di malam badai seperti ini, aku memintamu datang kemari.”
“Saya baik-baik saja, Abba Mama. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Anda harus berfokus pada kesehatan Anda.”
Raja Munhyeong terkekeh lalu terbatuk hebat mendengar ucapan Hyul. Melihat ayahnya yang terbatuk hebat, Hyul segera menuangkan air pada cawan dan mendekatkannya pada bibir Raja Munhyeong yang sangat pucat. Namun, sang Raja menolaknya, membuat Hyul dengan sangat terpaksa meletakkan kembali cawan pada tempat yang disediakan.
“Maafkan aku yang tak bisa melindungi kalian berdua dengan baik. Bagaimana pun, seseorang yang patut disalahkan atas hubungan buruk yang kalian miliki adalah aku. Aku tak bisa membuat kalian saling menyayangi satu sama lain. Seharusnya aku bisa melindungi kalian sebaik mungkin.”
Hyul mengernyit mendengar ucapan Raja Munhyeong yang tak bisa ia pahami maksudnya. Perasaan tak nyaman itu mulai menjalari hati Hyul. Sorot matanya yang tadi terlihat hangat, perlahan berubah menjadi lebih dingin.
“Apa maksud ucapan Anda, Abba Mama? Siapa yang harus Anda lindungi selama ini?”
Percakapan ayah dan anak itu di sela oleh suara pintu ruangan yang terbuka, secara refleks Hyul menoleh ke arah pintu masuk dan maniknya memancarkan sorot tajam yang dingin. Tanpa perlu penjelasan lebih lengkap, Hyul mulai paham maksud ucapan Raja Munhyeong beberapa saat lalu. Sejak dulu, predikat sebagai putra kesayangan sang Raja tidak pernah terganti.
Yi Yeol membungkuk ke arah kakak serta ayahnya, sebelum akhirnya duduk di dekat mereka. Jubah pangeran agung itu sedikit basah di beberapa bagian, menandakan bahwa Yeol juga menebus hujan badai untuk tiba di istana malam ini. Sementara itu, Hyul hanya diam sembari mengawasi segala tindakan Yeol.
“Abba Mama, saya sudah datang. Mohon maafkan kelancangan saya yang bertemu Anda dengan jubah yang sedikit basah.”
Raja Munhyeong tersenyum dan memaklumi sikap Yeol. Raja Munhyeong ikut mengulurkan tangannya agar bisa menggenggam tangan Yeol, sementara tangan lainnya masih menggenggam tangan Hyul yang bersuhu dingin. Dengan kedua tangan yang masing-masing menggenggam tangan kedua putranya, secara tiba-tiba Raja Munhyeong menyatukan tangan kedua putranya di bawah telapak tangannya. Selayaknya seorang ayah yang berusaha mendekatkan kedua putra yang selama ini selalu berselisih paham.
“Kalian berdua adalah putra yang sangat berharga untukku. Joseon diberkahi dua pangeran yang sangat hebat. Karena itu, kalian berdua harus saling melindungi satu sama lain. Sekalipun kalian dibesarkan layaknya saudara kerajaan, tapi aku berharap masing-masing dari kalian masih menyimpan kehangatan satu sama lain.”
“Jangan khawatir Abba Mama. Saya akan menjaga Hyungnim sebaik mungkin. Anda tak cemas dan silakan berfokus pada kesehatan Anda lebih dulu,” balas Yeol yang membalas genggaman erat sang ayah dan kakaknya.
Hal yang berbeda diperlihatkan Hyul. Ia menyadari adiknya memegang erat tangannya. Namun rasa sakit serta keirian yang sudah lama bersarang di hatinya, tak mampu mengalirkan rasa hangat dari tangan Yeol menuju hati Hyul. Hyul berteguh diri bersikap dingin dan tak peduli.
Raja Munhyeong tersenyum dan merasa senang melihat kedua putranya berada di sisinya dan saling menggenggam tangan satu sama lain. Pria itu kemudian menghela napas panjang, yang menandakan itu adalah napas terakhirnya. Detik di mana Raja Munhyeong memejamkan mata, detik itu pula kehidupannya di dunia berakhir.
~RED MOON~
“Jeonha! Jeonha! Anda tak bisa pergi begitu saja seperti ini! Jeonha! Anda tak boleh meninggalkanku sendiri!”
Ratu Park berlari sambil berteriak histeris saat mendapat kabar bahwa Raja Munhyeong telah mangkat beberapa menit lalu. Sang Ratu membelah hujan badai berusaha secepat mungkin menuju istana utama. Wanita itu tak lagi peduli bahwa pakaiannya sepenuhnya basah kuyup. Satu-satunya yang ada dalam pikiran sang Ratu saat ini adalah memastikan kebenaran mengenai suaminya. Sekalipun keduanya sempat bersitegang, Ratu Park tak menampik jika ia menaruh hati pada Raja Munhyeong yang memperlakukannya sangat baik selama pernikahan mereka.
“Jungjeon Mama, hamba mohon jangan berlari seperti itu, Mama! Anda harus menjaga tubuh kerajaan Anda. Mama! Jungjeon Mama!”
Dayang Kim berusaha mengejar kecepatan Ratu Park yang benar-benar seperti kesetanan setelah mendengar kabar mangkatnya sang Raja. Bahkan Ratu Park tak menyadari bahwa sejak tadi ia berlari tanpa menggunakan alas kaki. Hanya sepasang kaus kaki putih—boseon, yang melindungi kedua kaki sang Ratu.
Wajah Ratu Park semakin memucat kala maniknya menemukan barisan dayang serta kasim yang selama ini bertugas di istana utama, tengah bersimpuh sembari menangis dan meraung memanggil sang Raja di halaman. Tubuh Ratu Park membeku di tempat kala ia melihat Kasim Kim sudah berada di atap sambil membawa salah satu jubah kerajaan milik suaminya, bersiap memanggil ritual pelepasan arwah seorang Raja.
“Sangwibok... Sangwibok... Sangwibok....”
Kasim Kim berusaha berteriak melawan suara derasnya hujan serta gemuruh yang mewarnai langit malam Joseon. Sementara itu, kedua tangannya mengibarkan dan melambaikan jubah merah bersulam emas dengan lambang naga sambil melakukan ritual tersebut.
“Istana memanggil kembali arwah Yi Hyeok Raja Joseon, kembalilah pada kami dengan tenang, Jeonha!”
Tepat setelah Kasim Kim menyelesaikan ritual tersebut, ia melemparkan jubah tersebut ke atas, sebelum kain sutra merah itu meluncur perlahan ke bawah. Seiring dengan selesainya ritual pelepasan, raungan para dayang serta kasim di halaman istana utama semakin kencang, hingga seakan bergema ke seluruh negeri, mengabarkan kepergian matahari penguasa negeri.
“Jeonhaaaa! Jeonhaaaa! Jeonhaaaa!”
Ratu Park yang sejak tadi bergeming di tempat, perlahan tubuhnya meluruh ke tanah. Kedua kakinya seolah tak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Ratu Park menyadari bahwa malam ini adalah malam terburuk yang pernah ia alami sepanjang tinggal di istana.
“Jungjeon Mama!”
Dayang Kim langsung histeris dan berlari, berusaha menyongsong tubuh Ratu Park yang meluruh ke lantai. Asisten utama Ratu Park itu membantu agar sang Ratu untuk kembali berdiri. Dengan hati-hati, Dayang Kim memapah Ratu Park agar bisa segera tiba di paviliun utama untuk melihat sang Raja yang terakhir kali.
Sementara itu, gong istana yang berbunyi malam ini, membuat kehebohan rakyat di luar istana, ditambah keluarnya para petugas kerajaan yang mengumumkan kematian sang Raja bergerak ke seluruh pelosok negeri. Berita kematian Raja Munhyeong pun sampai ke telinga Yeonhwa.
Di tengah serbuan badai, sayup-sayup Yeonhwa bisa mendengar bunyi gong yang masih bergema. Yeonhwa menatap langit yang setia mengucurkan air. Perlahan, Yeonhwa mengarahkan tubuhnya menuju arah istana dan memberikan penghormatan sebanyak lima kali untuk ayah mertuanya yang telah mangkat pada malam badai ini. Malam itu, Joseon diselimuti duka akan kepergian sang Matahari.
~RED MOON~