우주의 게임 (Ujuui Geim |The Universe’s Game)
Guntur dan kilat masih mewarnai langit Joseon malam ini. Di tengah kegelapan beserta duka yang menyelimuti negeri, sosok dalam balutan hanbok putih dengan beberapa aksen bintang di bagian lengan dan d**a, tampak khusyu merapalkan sesuatu. Sosok tersebut adalah Dukun Yang, kepala dukun dari puri bintang milik keluarga kerajaan. Wanita paruh baya itu tengah meminta petunjuk akan masa depan Joseon setelah duka malam ini.
Dukun Yang terus menggosok kedua tangannya, bibirnya terus mengucapkan sesuatu yang tampaknya seperti doa agar Langit memberinya bayangan ataupun petunjuk. Hingga, tubuhnya sedikit limbung kala sekilat bayangan muncul di kepalanya. Namun Dukun Yang berhasil mengendalikan diri dan tetap berdiri tegak di depan altar dengan bau dupa yang menyengat.
Sekelebat demi sekelebat bayangan bermunculan secara bergantian di kepala Dukun Yang. Lambat laun, bayangan itu seakan terbentuk merangkai sebuah kejadian. Hantaman bayangan tersebut membuat Dukun Yang mengernyitkan dahi, sesuatu yang sangat panas seakan menyengat sekujur tubuhnya. Hingga kepala dukun itu tak mampu lagi menopang beban tubuh hingga meluruh ke lantai.
“Mamanim!”
Seorang dukun muda berlari, menangkap tubuh Dukun Yang yang melemah ke lantai. Tepat sebelum tubuh wanita tua itu benar-benar berada di lantai sepenuhnya. Terutama sebelum kepala Dukun Yang membentur lantai kayu.
“Mamanim, Anda baik-baik saja?” Dukun muda itu memastikan kondisi Dukun Yang sambil membantunya agar ketua dukun itu duduk.
Dukun Yang tak menjawab. Kepalanya masih dipenuhi beragam kilas bayangan sebagai pertanda akan kejadian yang akan datang. Tak hanya bayanagn tentang masa depan, beberapa penglihatan mengenai masa lalu pun ikut bermunculan.
Dukun Yang merasa kepalanya seperti akan meledak karena serbuan penglihatan tersebut, sampai pada akhirnya ia berusaha menguatkan diri dan mencerna segala sesuatu. Dukun Yang membuka matanya secara cepat dan berakhir dengan menatap nyalang meja altar yang berada di depannya. Semua bayangan itu sirna dan hanya menyisakan gema suara seseorang dengan nada yang begitu dingin.
Aku akan melakukan apapun untuk melindungi orang yang berharga untukku. Siapapun yang mengganggu, melukai, bahkan berencana membunuh orang-orang yang kusayangi, maka aku akan lebih dulu membunuhnya.
“Mamanim, Anda baik-baik saja?”
Pertanyaan yang sama kembali diucapkan si dukun muda karena sejak tadi, Dukun Yang tak kunjung memberi jawaban akan kepastian kondisinya. Dan pertanyaan itulah yang seakan mengantarkan Dukun Yang kembali pada waktu realita saat ini. Manik wanita itu mengedar dan menemukan salah seorang dukun junior memandanginya dengan sorot khawatir.
“Aku baik-baik saja,” tukas Dukun Yang sambil berusaha berdiri. Dengan sigap, dukun junior itu membantu Dukun Yang untuk berdiri dan memastikan bahwa keseimbangan tubuh kepala dukun puri bintang itu sudah kembali.
“Anda mendapat pesan dari istana, Mamanim,” sahut si dukun junior seakan menjelaskan kehadirannya yang tak terduga di ruang altar utama tersebut.
Gerakan Dukun Yang yang hendakmenaburkan kembali sesuatu pada cawan besar yang berisi dupa, terhenti di udara. Segera, Dukun Yang berbalik dan menatap dalam pada juniornya.
“Siapa yang mengirim pesan itu?”
“Daebi Mama yang mengirimkan pesan pada Anda, Mamanim. Beliau ingin agar Anda segera menemuinya.”
Tampak ada sedikit kegelisah pada nada suara si dukun junior pada akhir kalimatnya. Sekalipun ia masih berstatus sebagai dukun muda, namun kepekaannya terhadap sesuatu mengenai masa depan jauh lebih tajam dibandingkan dukun muda lainnya.
“Mamanim, di masa depan apakah Joseon akan baik-baik saja?” tanya si dukun muda hati-hati, seakan pertanyaan yang baru ia lontarkan bisa membuatnya menjadi tersangka utama dalam tuduhan pengkhianatan.
“Mari kita berharap bahwa lotus putih tidak berubah menjadi bulan merah dengan cepat.”
~RED MOON~
“Ini tidak mungkin. Tidak mungkin Abba Mama membuat wasiat seperti ini. Aku menolak percaya!”
Yi Hyul menggebrak meja setelah membaca surat wasiat sang Ayah yang dibawakan sekretaris istana. Secara hukum, Yi Hyul yang berstatus Putra Mahkota memang berhak untuk segera naik takhta setelah ayahnya meninggal. Namun, semua itu baru bisa dilaksanakan setelah para tetua setuju dan Hyul menyanggupi untuk menjalakan wasiat Raja sebelumnya.
Sejatinya, Hyul sangat paham aturan mengenai naik takhta. Pangeran pewaris itu memang akan mengikuti segala aturan yang berlaku agar ia bisa menduduki takhta dengan nyaman tanpa adanya hambatan di kemudian hari. Tapi, setelah ia mengetahui wasiat sang Ayah, keraguan serta pertentangan itu lebih menguasai dirinya. Hyul tak percaya jika wasiat itu dibuat oleh ayahnya, di mana semua isi dari wasiat itu sama sekali tak menguntungkan diirnya. Tak sedikitpun!
“Hamba berani bertaruh dengan nyawa mengenai keaslian wasiat ini, Jeoha. Mendiang Raja sendiri yang langsung mengatakan segala sesuatu yang tertulis pada perkamen ini,” sanggah Sekretaris Istana Choi setelah mendengar penolakan Hyul yang secara tak langsung membuat tuduhan tak langsung pada dirinya.
Hyul mendelik tajam pada Sekretaris Istana Choi. Kedua maniknya berkilat penuh bahaya. Sejak kecil Hyul sudah mengerti betapa jahatnya istana yang menjadi tempat tinggalnya tersebut. Tidak ada seorang pun yang bisa ia percayai selain dirinya sendiri.
“Apa kau pikir aku bisa mempercayainya begitu saja? Setelah melihat isi wasiat yang sama sekali tak memberikan keuntungan apapun?”
Perdana Menteri yang juga berada di ruangan pribadi Putra Mahkota berdeham kencang, menarik perhatian agar Hyul menyadari keberadaannya. Dehaman itu sukses membuat Hyul akhirnya melirik pada sang Perdana Menteri.
“Jeoha, mohon maafkan kelancangan hamba karena menyela pembicaraan Anda. Berdasarkan dari apa yang hamba yakin serta pahami selama menjadi Perdana Menteri dari mendiang Raja, isi surat wasiat sangat wajar jika bertolak belakang dengan apa yang selama ini Anda yakini dari mendiang Raja.”
Hyul mendengus keras dan kini benar-benar memusatkan perhatiannya pada Perdana Menteri, yang kini seolah sedang memojokkan sekaligus menghina dirinya. Bagaimana pun, Hyul hanya ingin memastikan keaslian serta keabsahan dari wasiat ayahnya sebelum ia harus menjalankannya.
“Jadi, apa aku terlihat seperti seorang Seja pembangkang yang tak ingin menunaikan wasiat terakhir dari mendiang Raja?” desis Hyul dengan gigi bergemeretak menahan kemarahannya. “Aku hanya ingin memastikan keaslian dari wasiat ini adalah perintah ayahku pada pewaris takhtanya,” tutup Hyul yang kembali menggebrak meja.
Perdana Menteri kembali berdeham sementara Sekretaris Istana memalingkan wajah, menghindari sorot tajam yang dilayangkan Hyul padanya. Sejatinya, Perdana Menteri dan Sekretaris Istana memaklumi sikap kehati-hatian yang diperlihatkan Hyul mengenai isi wasiat yang memang sangat tak menguntung di pihak Hyul sebagai pewaris takhta. Tapi, kedua pejabat itu sedikit tersinggung dengan sikap serta ucapan Hyul yang seakan menuduh kedua pejabat itu melakukan manipulasi atas surat wasiat mendiang Raja.
“Jika memang Anda tak bisa memberikan kepastian akan pelaksanaan wasiat ini, maka hamba akan menyampaikannya pada tetua istana. Dalam hal ini, sudah seharusnya tetua istana seperti nenek Anda—Daebi Mama, yang memutuskan. Terlebih, saat ini segel kerajaan pun telah diamankan dan dipegang oleh beliau,” pungkas Perdana Menteri seakan menandai berakhirnya pertemuan mereka pada dini hari ini.
Kedua pejabat istana itu kemudian beranjak dari duduknya dan membungkuk, memberi hormat sebelum akhirnya pamit dari hadapan Putra Mahkota Yeongak. Hyul yang mendapat penghinaan menatap nyalang pada kedua pejabat tua itu. tepat setelah pintu ruangannya kembali di tutup, Hyul menendang meja yang ada di depannya sebagai bentuk pelampiasan kemarahan.
“Beraninya! Beraninya kalian berdua bersikap selancang itu padaku! Kupastikan kalian akan membayar mahal penghinaan itu setelah aku resmi menduduki takhtaku!”
~RED MOON~
“Apa kau bilang? Katakan lagi dengan jelas, Dayang Kim.”
Ratu Park yang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun berkabung terbelalak setelah mendengar laporan yang disampaikan Dayang Kim beberapa saat lalu. Saat ini, Ratu Park berada di kediamannya sembari menenangkan diri atas rasa terkejut atas suaminya yang mangkat secara tak terduga malam tadi.
“Hamba mendengar kabar ada keributan yang terjadi di Istana Timur antara Perdana Menteri, Sekretaris Istana, juga Seja Jeoha, Mama. Berdasarkan laporan dari dayang yang kita tempatkan di sana, keributan itu bersumber karena wasiat Mendiang Raja,” ulang Dayang Kim.
“Wasiat Jeonha? Apa dayang mata-mata mendengar isi dari wasiat tersebut? Keributan apa tepatnya yang terjadi diantara mereka, Dayang Kim?” cecar Ratu Park yang semakin penasaran.
Dayang Kim menggeleng pelan. “Dayang itu tak tahu apa tepatnya isi wasiat tersebut, Mama. Tapi, satu hal yang pasti sepertinya wasiat itu membuat Seja Jeoha marah besar dan keberatan untuk menunaikan isi perintah terakhir Jeonha.”
Ratu Park terdiam setelah mendengar penjelasan lebih lanjut dari Dayang Kim. Kepalanya kini sibuk menduga-duga apa tepatnya isi wasiat dari mendiang suaminya hingga membuat putra tirinya begitu berang. Satu hal yang pasti, Ratu Park bisa meyakini bahwa isi wasiat itu bisa saja memiliki keterkaitan dengan putranya. Jika memang begitu, ia berharap wasiat mendiang Raja akan benar-benar menguntungkan dirinya serta Yeol.
“Apa yang sebenarnya Anda perintahkan hingga membuat pangeran arogan itu berang, Jeonha?” ujar Ratu Park lebih kepada dirinya sendiri. Jemarinya bergerak mengetuk-ngetuk meja di depannya untuk mengusir rasa penasaran serta kegelisah yang perlahan merayapi hatinya.
“Selain itu, hamba juga mendengar informasi bahwa Perdana Menteri dan Sekretaris Istana sepakat untuk melibatkan Daebi Mama dalam permasalahan ini karena Seja Jeoha tak kunjung memberikan kepastian akan kesanggupannya dalam melaksanakan perintah mendiang Raja. Lalu, segel kerajaan pun sudah di amankan dengan dipegang langsung oleh Daebi Mama.”
“Terima kasih atas laporanmu, Dayang Kim. Kau benar-benar membawakan informasi yang sangat bagus,” ujar Ratu Park yang tersenyum pada Dayang Kim.
Manik hazel wanita itu kini berpendar dan memancarkan tekad bulat yang membara. Bagaimana pun, setelah kematian suaminya, ia harus berjuang keras untuk memastikan keamanan dan keselamatan putra semata wayangnya. Ratu Park tak akan berhenti sampai berhasil mendudukkan putranya di takhta, dengan begitu ia benar-benar bisa bernapas lega.
“Kita tidak bisa menanti begitu saja apakah wasiat itu membawa pengaruh baik atau buruk pada kita kelak. Dayang Kim, sepertinya kita harus bergerak dan memastikan masa depanku benar-benar aman tanpa ancaman,” Ratu Park kini menatap lurus pada Dayang Kim yang masih setia duduk dihadapannya. Sebuah seringai perlahan menghias sudut bibir Ratu Park. “Kau tentu paham maksud ucapanku, Dayang Kim?”
Dayang Kim mengangguk dan balas tersenyum. “Ye, Mama. Hamb akan memastikannya untuk Anda.”
~THE RED MOON~