대비 (Daebi |The Dowager Queen)
Istana seolah kehilangan warna sejak kematian Raja Munhyeong. Sesuai aturan protokoler istana, seluruh pegawai istana, dayang, pejabat, masyarakat, hingga keluarga kerajaan mengenakan pakaian berkabung berwarna putih. Tidak boleh ada seorang pun yang mengenakan pakaian selain warna putih selama dua tahun penuh menjadi pertanda masa berkabung di Joseon.
Di tengah suasana berkabung, persiapan pemindahan kekuasaan tetaplah dilaksanakan. Istana tak hanya sibuk menyiapkan pemakaman kerajaan untuk mendiang Raja tapi juga sibuk mempersiapkan Raja baru yang akan berkuasa. Namun, bukan hal yang mudah melakukan pemindahan kekuasaan pada sang Pewaris Takhta, ada serangkaian tugas dan aturan yang perlu dijalankan. Dan kini, masalah pelaksanaan wasiat mendiang Raja seakan menjadi batu sandungan kecil bagi Putra Mahkota Yeongak Yi Hyul untuk mengklaim kekuasaan.
Pagi ini, kedua pejabat pemerintahan tengah berbincang serius dengan tetua istana—Ibu Suri Jo, di ruangan pribadi sang Ibu Suri. Sebagai anggota kerajaan paling senior, sampai kenaikan takhta yang akan dilaksanakan, Ibu Suri Jo adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Itu sebabnya, kedua pejabat pemerintahan segera melaporkan kendala proses kenaikan takhta pada wanita tua tersebut.
“Seja keberatan melaksanakan wasiat mendiang Raja?”
Ibu Suri Jo terbelalak mendengar laporan yang disampaikan Perdana Menteri dan Sekretaris Istana hari ini. Tangannya yang sedang memegangi cawan teh, terhenti di udara karena terkejut dengan ucapan Perdana Menteri. Iris gelap wanita itu menatap bergantian pada Perdana Menteri dan Sekretaris Istana yang duduk di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Bagaimanapun, Ibu Suri Jo harus berhati-hati dalam situasi pemindahan kekuasaan seperti sekarang.
“Bagaimana bisa Seja keberatan melaksanakan wasiat mendiang Raja?” tandasnya seraya meletakkan kembali cawan teh di atas meja, mengurungkan niatnya untuk menyesap cairan berwarna keemasan jernih tersebut.
“Mohon maafkan kelancangan hamba, Daebi Mama. Tapi, apa yang disampaikan Perdana Menteri merupakan kebenaran. Seja Jeoha merasa ada kekeliruan atau menaruh kecurigaan bila surat wasiat mendiang Raja telah dipalsukan,” jelas Sekretaris Istana sambil membungkuk serendah mungkin ke arah Ibu Suri Jo.
Ibu Suri Jo terdiam mendengar penjelasan yang diberikan Sekretaris Istana. Sekalipun sudah berusia senja, wanita itu sudah sangat hapal dengan setiap intrik politik yang terjadi di istana. Menyadari cucunya yang biasanya bersikap patuh kini secara tak terduga menolak bahkan mencurigai isi surat wasiat mendiang putranya—Raja Munhyeong, jelas menimbulkan beragam pertanyaan di benak sang Ibu Suri.
“Seberapa yakin dan pasti kau bisa menjamin keaslian surat wasia tersebut, Doseungji? Mengingat aku sangat yakin, seorang sekretaris istanalah yang biasanya dipanggil oleh seorang Raja untuk menulis pesan terakhirnya,” tantang Ibu Suri Jo dengan tenang namun penuh kewaspadaan.
“Hamba bisa menjamin dengan nyawa hamba sendiri mengenai keaslian surat wasiat tersebut, Daebi Mama,” tambah Sekretaris Istana dengan lantang. Seakan menegaskan bahwa tuduhan ataupun tindakan yang dilakukan Putra Mahkota Yeongak sangatlah tidak berdasar.
Helaan napas panjang diembuskan Ibu Suri Jo setelah mendengar kesungguhan Sekretaris Istana yang menjamin keaslian surat wasiat mendiang Raja. Wanita itu tak mengatakan apapun selama beberapa menit ke depan, kepalanya seakan sibuk memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Sesekali, tangannya meraih cawan dan menyesap teh jeruk Tamra kesukaannya.
“Anda jelas sangat paham, Mama. Jika Seja Jeoha tak mau melaksanakan perintah terakhir mendiang Raja, hal itu bisa menjadi boomerang di kemudian hari saat Seja Jeoha telah duduk di takhta kelak. Karena itu, kami memutuskan melaporkannya secara langsung pada Anda.”
“Aku sangat paham hal seperti itu, Perdana Menteri. Aku berterima kasih karena kalian adalah abdi setia negara yang baik. Aku mengerti kekhawatiran kalian pada Seja Jeoha,” sahut Ibu Suri Jo dengan senyum meneduhkan.
“Ada baiknya Anda harus bertindak atau bahkan memberikan keputusan atas situasi genting ini, Daebi Mama. karena bagaimana pun, pasti ada serigala yang tengah bersiap mengintai mangsa di saat-saat seperti ini,” ujar Perdana Menteri yang sangat berharap bisa mendapatkan keputusan untuk bisa mempercepat proses kenaikan takhta.
Ibu Suri Jo mengangguk singkat, membenarkan ucapan Perdana Menteri. Tanpa perlu wejangan seperti itu, sang Ibu Suri sudah sangat paham akan bahaya yang mengintai saat ini. Terlebih, ia juga mengetahui hubungan buruk antara Putra Mahkota Yeongak dengan cucunya yang lain—Pangeran Agung Hyoyeom. itu sebabnya, ia harus sangat berhati-hati dalam menentukan sikap.
“Aku tahu, akan terkesan lancang jika seorang wanita istana meminta hal seperti ini. Sebelum aku bisa memutuskan, aku harus mengetahui isi dari wasiat mendiang Raja, dengan begitu aku bisa mempertimbangkan keputusan dengan bijak. Bagaimana?”
“Daebi Mama!” pekik kedua pejabat secara bersamaan. Keduanya tak menyangka dengan permintaan tak terduga Ibu Suri Jo pada mereka. Karena apa yang diminta Ibu Suri Jo sangat melanggar aturan protokoler istana.
“Daebi Mama, Anda jelas paham bahwa wanita istana tidak diperkenankan melihat dokumen negara terlebih surat wasiat mendiang Raja. Hanya Putra Mahkota dan pejabat terpilih yang bisa membacanya. Bagaimana bisa kami membenarkan tindakan Anda ini, Mama?”
“Aku sudah tahu kalian akan bereaksi seperti ini atas permintaanku,” balas Ibu Suri Jo dengan begitu tenang. Di tengah rasa terkejut yang menimpa kedua pejabat atas permintaannya, wanita itu kembali menyesap tehnya dengan anggun. “Itu sebabnya di awal aku sudah mengatakan bahwa tindakanku ini bersifat lancang, Daegam.”
Baik Perdana Menteri dan Sekretaris Istana hanya bisa saling melempar pandang satu sama lain, sebelum salah satu dari keduanya berdeham keras. Alasan Ibu Suri Jo ingin melihat surat wasiat cukup jelas dan sangat rasional, tapi semua itu benar-benar berbahaya.
“Jadi, bagaimana, Daegam? Jika kalian memperkenankanku membaca wasiat tersebut, maka aku bisa memberikan keputusan dengan bijak kelak.”
~THE RED MOON~
Sementara itu, di ruangan pribadinya Ratu Park terlihat mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali wanita itu memalingkan wajah ke arah pintu masuk setiap kali mendengar suara. Hingga, akhirnya wanita itu bisa bernapas sedikit lega ketika mendengar suara Dayang Kim yang meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan.
Begitu pintu ruangan terbuka dan sosok Dayang Kim muncul di ambang pintu, Ratu Park segera menyerbu ke arahnya. Dengan sedikit tak sabar, wanita itu segera membombardir asistennya dengan beragam pertanyaan.
“Bagaimana? Apa kau mendapatkan informasi? Apa saja isi wasiat itu? Apa itu menguntungkan masa depan Yeol kelak atau hal buruk akan terjadi?”
Dayang Kim tersenyum maklum mendengar Ratu Park yang benar-benar terlihat tak sabar dengan informasi yang akan dilaporkannya. Dengan ekspresi yang terpeta di wajahnya, Dayang Kim berusaha memberikan petunjuk pada sang Ratu.
“Harap tenang, Jungjeon Mama. Tampaknya Langit benar-benar mendengar suara hati Anda selama ini.”
“Apa sebenarnya yang kau katakan ini, Dayang Kim? Bicaralah dengan jelas supaya aku bisa mengerti!” balas Ratu Park dengan gigi sedikit bergemeretak menahan rasa kesal karena asistennya itu malah seperti hendak bermain-main.
“Hamba ucapkan selamat karena Anda akan memiliki gelar baru sebagai Ibu Suri, lalu Ibu Suri Jo juga mendapat gelar baru sebagai Ibu Suri Istana. Hamb—“
“Ck! Aku tak peduli dengan gelar baru yang akan kusandang, Dayang Kim!” potong Ratu Park yang benar-benar tak bisa menahan rasa jengkelnya pada Dayang Kim. Manik wanita itu memberikan lirikan tajam yang mematikan, membuat siapapun yang melihatnya bisa sangat ketakutan.
“Katakan padaku, apa kau mendapatkan informasi mengenai wasiat mendiang Raja?”
Dayang Kim mengangguk singkat dan meminta Ratu Park agar mendekat, supaya ia bisa menyampaikan informasi penting sekaligus paling berbahaya yang ia dapatkan beberapa menit lalu.
“Ye,Mama. Sesuai perintah Anda, hamba mendapatkannya. Menurut pejabat mata-mata Anda yang bertugas di kantor sekretariat istana serta menggabungkan kabar yang didapatkan dari dayang mata-mata di Istana Timur, mendiang Raja sepertinya meminta Seja Jeoha untuk memberikan posisi penting pada Hyoyeom Daegun Daegam.”
Ratu Park mundur beberapa langkah disertai dengan telapak tangan yang membungkam bibirnya sendiri. Wanita itu sangat terkejut dengan berita tersebut.
“Posisi penting? Posisi apa tepatnya yang diberikan Jeonha pada wasiatnya, Dayang Kim? Apa kau mendapatkan rincian lebih lengkap?”
“Sayangnya tidak, Jungjeon Mama. Namun, Pejabat di kantor sekretariat istana juga mengatakan bahwa posisi itu sepertinya sangat menguntung bagi Hyoyeom Daegun Daegam. Bahkan pagi ini, Tuan Sekretaris Istana beserta Tuan Perdana Menteri menghadap langsung pada Daebi Mama.”
Ratu Park bergeming, kepalanya terlalu pusing mencerna setiap informasi yang di dapatkannya. Hatinya kini mulai dialiri aliran hangat serta rasa optimis akan keamanan masa depan putranya semakin tinggi. Meski begitu, Ratu Park tak ingin berbesar kepala atau bersikap berlebihan, karena situasi bisa saja berputar balik di istana ini dan ia sangat memahaminya.
“Apapun itu, tetap kita perlu bersiap menghadapinya, Dayang Kim. Pastikan kau menjalankan perintah yang kuberikan padamu tempo hari.”
“Ye, Jungjeon Mama. Hamba akan memastikan rencana tersebut berjalan sesuai rencana Anda.”
~ THE RED MOON~
Malam tiba ditandai dengan bulan yang menggantikan matahari berkuasa di langit. Gong tengah malam baru saja berbunyi beberapa saat lalu tapi cahaya di salah satu ruangan Istana Timur tak kunjung padam. Di dalamnya, tampak sang pemilik ruangan tengah duduk bergeming di singgasananya. Sesekali tangannya bergerak untuk sekedar mengisi cawan yang telah kosong ataupun menandaskan isi cawan.
Yi Hyul sama sekali tak menunjukkan tanda bahwa pria itu akan beristirahat. Sejak beberapa jam yang lalu, pria itu terus termenung di singgasananya sambil menikmati arak beras yang sengaja ia minta disediakan pada Kasim Jang. Entah sudah berapa banyak arak beras yang ia habiskan, tapi ia tak menunjukkan tanda mabuk. Sebaliknya, otaknya malah semakin aktif berpikir.
“Bagaimana bisa Abba Mama memintaku mengangkat adik sialan itu sebagai pewaris?” geramnya yang kembali menenggak cawan berisi arak beras.
Ketika Hyul tengah berfokus mengisi lagi cawan yang telah kosong dengan arak beras, telinganya mendengar suara di depan pintu masuk ruangannya. Tanpa menunggu jawaban dari Hyul, pintu bergeser dan menampilkan Putri Mahkota Kang, yang kini melintasi ruangan secepat yang ia bisa dan menghentikan tangan Hyul yang akan menenggak arak.
“Bukan hal yang pantas jika Anda menghabiskan malam sambil mabuk terlebih dalam suasana berkabung seperti ini, Jeoha,” tegur Hyesun yang merebut guci berisi arak beras, dan meletakkan sedikit jauh dari jangkauan tangan Hyul.
“Saya membawakan sedikit camilan serta teh jeruk madu yang bisa menghilangkan pengar Anda. Sebaiknya Anda meminum ini dan segera beristirahat,” lanjut Hyesun yang kemudian menyodorkan cawan berisi teh jeruk ke arah Hyul. Sekalipun selalu bersikap dingin, Hyesun tetap berusaha melakukan tugasnya sebagai Putri Mahkota sebaik yang ia bisa.
Hyul terkekeh mendengar Hyesun yang mengomeli dirinya. Selama ini Hyul memang terbiasa menerima sikap dingin Hyesun begitupun sebaliknya. Dan melihat perhatian yang ditunjukkan Hyesun malam ini padanya, membuat pria itu terkeke.
“Kenapa kau bersikap tak biasanya, Sejabin? Biasanya kau akan bersikap acuh padaku, bukan?”
“Ini bukan waktu yang tepat Anda bertanya seperti itu, Jeoha. Saya hanya menjalankan tugas sebagai Putri Mahkota, tidak lebih. Terlebih, melihat Anda yang bersikap tak pantas seperti ini, sudah seharusnya saya menegur dan mengingatkan Anda. Anda harus menjaga tubuh kerajaan dengan baik karena ada hari penobatan yang menanti, Jeoha.”
Tawa sinis Hyul meledak mendengar Hyesun yang seakan lebih mementingkan status dan gelarnya di situasi seperti ini. Hal itu menyulut kemarahan akan segala hal yang dialami Hyul. Menyadari Hyesun hanya mementingkan gelar, membuat Hyul mengingat kewajibannya kelak untuk mengangkat adiknya sebagai pewaris.
“Jika memang kau hendak menunaikan tugas Putri Mahkota dengan baik, lalu... KENAPA KAU TAK BISA MELAHIRKAN SEORANG PUTRA UNTUKKU?!!”
Hyesun terlonjak mendengar bentakan Hyul. Wanita itu menatap tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Detik selanjutnya, Hyesun hanya bisa menjerit ketakutan kala Hyul melucuti pakaiannya dengan paksa.
“Jeoha! Anda tidak bisa melakukan ini pada saya! istana tengah berkabung, Jeohaa!”
~THE RED MOON~