부메랑 (Bumerang |Boomerang)
2 tahun kemudian...
Warna-warni kembali bermunculan menghias setiap sudut istana begitu masa berkabung Raja Munhyeong usai. Tak hanya di istana, musik jalanan yang menjadi hiburan bagi masyarakat di pasar-pasar kembali bergema. Semua awan kelabu seakan benar-benar telah sirna seiring matahari baru yang kini menguasai langit Joseon. Sang Pangeran Mahkota kini telah mengklaim takhta dan menyematkan gelar baru pada diri sebagai Raja Yeongak—penguasa baru Joseon.
Sisa-sisa embun pagi yang menyelimuti hari masih tampak di beberapa tempat di istana, namun hal itu seakan tak menghalangi seorang wanita yang mengenakan jaket hanbok ciri khas wanita istana, melangkah membelah pagi diikuti serombongan dayang di belakangnya.
Ratu Kang Hyesun sesekali tersenyum pada para dayang yang berpapasan dan membungkuk hormat ke arahnya. Ratu Kang selalu memulai aktivitas hariannya dengan mengunjungi kediaman Ibu Suri Park untuk menyampaikan salam pagi. Bahkan ia melaksanakannya sebelum matahari terbit.
Begitu Ratu Kang dan rombongan pelayannya tiba di kediaman Ibu Suri Park, seorang dayang senior melangkah mendekati mereka. Dengan kepala tertunduk, dayang senior itu menyapa dan menanyakan keperluan Ratu Kang mengunjungi paviliun Ibu Suri Park.
“Apa Anda datang untuk menyampaikan salam pagi, Jungjeon Mama?” tanyanya dengan sopan.
Ratu Kang mengangguk dan menyunggingkan senyum tipis. “Ne. Aku kemari untuk menyampaikan salam pagi. Apa Daebi Mama sudah siap untuk dikunjungi?”
“Ye, Jungjeon Mama. Daebi Mama bahkan sudah menanti kehadiran Anda. Silakan.”
Mengetahui bahwa ibu mertuanya telah menanti kedatangannya, Ratu Kang bergegas masuk ke dalam paviliun. Sementara Ratu Kang masuk, dayang senior tadi mulai memberi perintah pada dayang muda untuk menyiapkan teh beserta camilan untuk menemani kedua wanita istana itu berbincang.
~THE RED MOON~
“Daebi Mama, saya harap Anda memiliki istirahat yang baiksehingga hari ini Anda memiliki kesehatan terbaik,” sapa Ratu Kang yang pada akhirnya duduk berhadapan dengan Ibu Suri Park. Di antara mereka tersaji masing-masing sepoci teh beserta cawan dan beberapa penganan kecil untuk dinikmati bersama teh.
Ibu Suri Park tersenyum tipis dan memilih menikmati lebih dulu teh yang dihidangkan. Ia menghidu dalam aroma teh yang menenangkan sebelum akhirnya menyesapnya perlahan, membiarkan aliran hangat itu meluncur melewati tenggorok yang kemudian berakhir untuk menghangatkan perut.
“Aku bersyukur selama ini bisa beristirahat di tempat yang sangat nyaman berkatmu, Jungjeon,” ucapnya sembari meletakkan perlahan cawan teh dengan isi setengahnya. Kemudian secara tak terduga, ekspresi sendu melingkupi paras wanita itu. “Hanya saja, aku selalu merasa gelisah setiap kali bangun dari tidurku.”
“Apa yang membuat Anda merasa gelisah, Daebi Mama?” tanya Ratu Kang berusaha terdengar peduli meski wajahnya begitu datar tanpa riak. “Silakan utarakan pada saya, Daebi Mama jika Anda berkenan.”
Ibu Suri Park berdesah dengan helaan napas yang terdengar berat. Seakan ada beban berat yang tengah menjadi tanggungan wanita itu. Ia mengurungkan niatnya yang hendak menyesap teh lagi dan kini memusatkan perhatiannya pada Ratu Kang.
“Dua tahun telah berlalu sejak mendiang suamiku mangkat. Tapi, hingga detik ini aku tak kunjung mendengar kabar menggembirakan darimu, Jungjeon. Aku merindukan tawa anak kecil di istana ini. Tidakkah kau merasa istana begitu sunyi tanpa kehadiran anak kecil yang kelak tinggal di istana timur?”
Ratu Kang mendongak, balas menatap Ibu Suri Park. Cawan yang setengah jalan mendekati bibirnya, terhenti di udara sebelum akhirnya kembali diletakkan di atas meja. Rasa menyengat mulai menyebar di rongga d**a Ratu Kang, yang kembali disinggung karena tak kunjung memberi pewaris.
Ratu Kang hanya bisa mengatupkan bibir dengan rapat. Ia sendiri pun tak tahu, nasib buruk apa yang tengah menantinya. Sejujurnya, ia sudah lelah dengan pertanyaan tersebut sejak masih berstatus Putri Mahkota. Kini, setelah ia naik takhta mengikuti suaminya, pertanyaan itu semakin gencar ia dengar dari siapapun. Ia hanya berharap, kali ini suaminya bisa cukup bersabar menghadapi gempuran pertanyaan itu. Ratu Kang tak ingin lagi mengalami malam penuh siksaan kasar dari Raja Yeongak.
“Kapan kau memberikan negeri ini seorang pewaris, Jungjeon? Kau tak bisa mengabaikan tugasmu sebagai seorang Ratu,bukan?” cecar Ibu Suri Park dengan tatapan tajam.
Sadar dengan desakan yang semakin kuat diberikan Ibu Suri Park padanya, Ratu Kang segera membungkuk ke arah wanita yang tak lain adalah ibu mertuanya. Ratu Kang tak bisa menyalahkan tuntutan yang datang dari Ibu Suri Park, karena bagaimana pun hal tersebut merupakan salah satu tugas serta tanggung jawab dari gelar dan singgasana yang ia miliki saat ini.
“Mohon maafkan kekurangan saya, Daebi Mama. Saya sedang berusaha agar negeri ini bisa memiliki seorang pewaris. Mohon Anda bisa menunggu dengan sabar, saya pastikan akan memberikan pewaris sesegera mungkin.”
“Ck, jangan hanya berjanji seperti itu, Jungjeon. Aku sudah lelah mendengar janji yang kau ucapkan sejak kau masih berstatus Sejabin, “ sindir Ibu Suri Park yang benar-benar jengah mendengar permohonan maaf tersebut. “Jika kau memang tak bisa melakukannya, ada banyak cara yang bisa kau lakukan, kau pasti paham maksud ucapanku.”
Ibu Suri Park terus mengawasi setiap perubahan ekspresi pada roman Ratu Kang. Dengan tenang, wanita itu kembali mengisi cawannya yang telah kosong dengan teh. Tanpa Ratu Kang sadari, ada senyum penuh rasa puas yang tersembunyi di balik sikap perhatian yang diberikan Ibu Suri Park.
~THE RED MOON~
Meskipun telah menjalankan segudang aktivitas seperti biasanya, Ratu Kang tak bisa mengenyahkan pikirannya dari ucapan Ibu Suri Park. Bahkan, Ratu Kang hampir terjatuh beberapa kali setiap kali melakukan sesuatu. Seolah pikiran serta tubuh wanita itu terpisah, tak menyatu dengan baik.
Seperti saat ini, Ratu Kang sudah menyelesaikan segala kegiatannya hari ini dan berisitrahat di ruangannya. Ratu Kang pun bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan dangui berwarna peach. Tapi, semua itu tak mampu mengalihkan pikirannya dari ucapan Ibu Suri Park. Bahkan, Dayang Jang yang kini menjadi asisten sang Ratu, menyadari perilaku serta sikap aneh dari majikannya.
“Jungjeon Mama, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda? Teh yang hamba siapkan sejak tadi tak kunjung Anda minum. Apa Anda baik-baik saja,Mama?”
Ratu Kang tersentak dari pikirannya mendengar pertanyaan Dayang Jang. Sedikit gelapan, ia berusaha memfokuskan perhatian pada Dayang Jang yang tengah menatapnya khawatir.
“Aku baik-baik saja, Dayang Jang. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Dayang Jang menggeleng, membantah balasan Ratu Kang yang hanya diucapkan untuk mengusir kekhawatiran yang dirasakan oleh Dayang Jang. Meski belum terlalu lama melayani Ratu Kang, tapi Dayang Jang sudah mampu membaca dan memahami sikap dan karakteristik sang Ratu. Belum sempat Dayang Jang mengutarakan lagi rasa khawatirnya, suara pengumuman terdengar di luar pintu masuk ruangan Ratu Kang. Tak lama pintu terbuka dan memunculkan sosok Raja Yeongak yang melangkah memasuki ruangan pribadi Ratu Kang.
“Anda sudah datang, Jeonha. Silakan, saya akan meminta Dayang Jang membawakan teh dan camilan,” sambut Ratu Kang yang segera menyerahkan singgasananya untuk di duduki Raja Yeongak.
“Aku mendapat pesan kau ingin menemuiku saat masih memeriksa beberapa laporan. Itu sebabnya, aku kemari,” jelas Raja Yeongak setelah duduk nyaman di singgasana milik Ratu Kang. Iris gelap pria berjubah merah itu terlihat penuh tanda tanya. Tidak biasanya, Ratu Kang menemuinya lebih dulu. Hal ini jelas menandakan ada sesuatu yang genting.
“Jeonha, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Anda. Maukah Anda mendengarkan?”
Raja Yeongak mengangguk dengan sebelah tangan terangkat untuk menyesap teh yang baru saja dihidangkan oleh Dayang Jang. Kepala pria itu mengangguk, mempersilakan Ratu Kang untuk berbicara.
“Sudah beberapa tahun kita mencoba untuk memiliki keturunan. Namun, seperti yang Anda tahu, saya tak kunjung memiliki seorang pewaris,” Ratu Kang memulai ceritanya, irisnya menatap tepat pada kedua manik Raja Yeongak, “saya merasa mungkin ada sesuatu yang terjadi pada diri saya. Karena itu, saya berencana mengangkat selir bagi Anda. Apakah An—“
PRANG
Ratu Kang terlonjak dan tak mampu melanjutkan ucapannya melihat Raja Yeongak secara tak terduga melempar cawan yang ada dalam genggamannya. Ratu Kang menatap penuh tanda tanya dengan sikap Raja Yeongak. Sungguh, ia tak menduga dengan reaksi yang diberikan sang Raja atas ucapannya.
“J-jeonha....”
Manik Raja Yeongak menggelap, seiring dengan napas tersengal akibat kemarahan yang menyebar dengan cepat ke seluruh dirinya. Raja Yeongak sangat murka dengan ungkapan yang diutarakan oleh sang Ratu.
“Omong kosong macam apa yang kau bicarakan ini, Jungjeon!”
Raja Yeongak kemudian beranjak dari duduk dan melangkah mendekati Ratu Kang yang masih duduk di tempat dengan rasa terkejut yang menghias parasnya. Secara tak terduga, Raja Yeongak menarik simpul pengikat dangui yang dikenakan Ratu Kang.
Ratu Kang panik dengan sikap kasar dan tindakan Raja Yeongak. Kengerian kini menyebar ke sekujur tubuhnya. Wanita itu benar-benar tak mengharapkan mengalami mimpi buruknya di tengah perbincangan serius yang ia lakukan saat ini.
“J-jeonha, apa yang akan Anda lakukan? Jeonha, t-tidak. Jeonha, saya hanya mengatakan hal yang akan membantu Anda. Tidak! Tidak!”
Raja Yeongak mengabaikan jerit ketakutan sang Ratu. Pria itu secara tergesa dan semakin kasar melucuti satu persatu kain yang menutupi tubuh Ratu Kang. Kemarahannya tak bisa lagi terbendung akibat saran yang diucapkan sang Ratu.
“Putraku harus terlahir dari rahim seorang Ratu bukan selir! Tidakkah kau sadar bahaya yang muncul dari tindakanmu itu di kemudian hari? Kau harus melahirkan putraku, Jungjeon!”
“Saya mohon jangan bersikap seperti ini, Jeonha. Jeonha, tidaaaak!”
~THE RED MOON