피어나는 희망 (Pieonaeun Huimang |The Blooming Hope)
“Mama! Daebi Mama! Daebi Mama!”
Seorang dayang muda berlari tergesa melewati pekarangan paviliun kediaman Ibu Suri Park secepat yang ia bisa. Beberapa dayang yang berpapasan atau sedang membersihkan pekarangan sebagai aktivitas di pagi hari, menoleh untuk sekadar memperhatikan. Para dayang yang bekerja di paviliun Ibu Suri Park bertanya-tanya apa gerangan yang membuat dayang muda itu berani membuat keributan di pagi buta seperti ini.
Dayang muda itu bergegas masuk ke paviliun Ibu Suri Park, ia jelas tak boleh membiarkan salah satu tetua istana itu ketinggalan informasi penting. Kegaduhan yang dibuat dayang muda itu membuat Dayang Kim yang sedang berada di ruangan pribadi sang Ibu Suri keluar. Dayang senior itu melotot tajam pada dayang muda yang berani membuat kegaduhan di istana Ibu Suri.
“Kau! Berani sekali dayang muda sepertimu membuat keributan di sini!” hardik Dayang Kim pada dayang muda yang kini membungkuk memberi hormat.
“Mamanim, hamba mohon jangan marah dulu. Ada berita penting yang harus segera hamba sampaikan pada Daebi Mama. Hamba Dayang Han yang bertugas di Istana Tengah,” ujar Dayang muda itu berusaha meredakan kemarahan Dayang Kim padanya.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Dayang Kim memberi tanda agar Dayang Han menunggu lebih dulu, sementara ia memberitahukan perihal kedatangannya pada Ibu Suri Park. Dayang Han mengangguk patuh, tak mampu membantah karena tak ingin lagi mendapat omelan dari Dayang Kim. Gadis muda itu menunggu dengan gelisah dan tak berselang lama, Dayang Kim kembali keluar dengan perintah membawa masuk Dayang Han untuk menemui Ibu Suri Park.
~THE RED MOON~
Di ruangannya, Ibu Suri Park tengah sibuk berhias sambil duduk tenang di singgasananya. Ada beberapa dayang yang sedang membantunya memasang ornamen hiasan rambut sesuai gelarnya. Namun, ekspresi wanita itu berubah tajam seiring kehadiran Dayang Han yang seolah sudah mengacaukan pagi hari sang Ibu Suri.
“Laporan apa yang kau bawa sampai berani membuat keributan di kediamanku di pagi buta seperti ini?” tanya Ibu Suri Park dengan nada sedingin es, menyiratkan rasa tak suka karena keributan yang sudah di buat Dayang Han.
“Ampuni hamba karena sudah membuat keributan, Daebi Mama,” Dayang Han langsung meluruh dan bersimpuh di lantai setelah mendapat sambutan dingin Ibu Suri Park. “Hamba Dayang Han dari Istana Tengah, ada hal penting yang harus hamba sampaikan pada Anda sesegera mungkin.”
“Aku harap laporan itu sepadan dengan nyawamu, Dayang Han,” dengus Ibu Suri Park yang acuh lalu melanjutkan kegiatannya memilih hiasan rambut untuk ia kenakan pagi ini. Wanita itu benar-benar mengabaikan eksistensi Dayang Han dihadapannya.
“Daebi Mama, malam tadi Jeonha dan Jungjeon Mama terlibat dalam pertengkaran sengit.”
Gerakan tangan Ibu Suri Park yang hendak mengambil sebuah hiasan terhenti di udara diikuti dengan wajahnya yang menoleh pada Dayang Han. Tampaknya berita yang dibawakan Dayang Han memang sesuatu yang sangat menarik. Ibu Suri Park memutuskan untuk memberikan perhatiannya pada Dayang Han. Tangannya kemudian memberi tanda agar kedua dayang yang sedang membantunya berhias berhenti dan keluar dari ruangan.
“Bertengkar? Jusang dan Jungjeon?” ulang Ibu Suri Park yang tak mempercayai pendengarannya.
Dayang Han mengangguk, “Ye, Mama. semalam mereka terlibat dalam pertengkaran hebat. Semua disebabkan Jungjeon Mama meminta izin Jeonha untuk mengangkat selir dan Jeonha sangat marah dengan saran tersebut. Jeonha bahkan....”
Dayang Han secara tiba-tiba tak melanjutkan laporannya. Iris dayang muda itu menatap takut-takut ke arah Ibu Suri Park yang menunggu kelanjutan ceritanya. Gadis itu kembali menunduk takut, seakan khawatir ucapannya dinilai terlalu vulgar.
“Kenapa kau berhenti? Apa yang dilakukan Jusang? Segera selesaikan laporanmu!” tuntut Ibu Suri Park sambil menggebrak meja di depannya. Tampaknya, rasa penasaran sudah menguasainya.
“Mohon maafkan jika ucapan hamba selanjutnya terkesan lancang, Daebi Mama.”
“Lancang atau tidak aku tak peduli. Cukup lanjutkan saja laporanmu itu!”
Dayang Han mengangguk setelah mendapatkan sinyal bahwa Ibu Suri Park menyetujui apapun yang hendak ia laporkan. Dan, meluncurlah ringkasan mengenai kejadian semalam terkait pemerkosaan serta kekerasan yang didapatkan Ratu Kang karena memancing amarah Raja Yeongak. Dayang Han juga bahkan menjelaskan keadaan Ratu Kang di pagi ini. Sang Ratu benar-benar tak berdaya dan hanya berbaring.
Tawa Ibu Suri Park meledak begitu Dayang Han menyelesaikan laporannya. Sungguh, wanita itu tak menyangka bahwa isyaratnya pada Ratu Kang kemarin pagi, mampu memberikan dampak yang luar biasa. ibu Suri Park begitu senang karena dengan kejadian ini, hubungan Raja dan Ratu akan semakin renggang dan kesempatan dilaksanakannya wasiat semakin besar.
“Astaga, aku tak menyangka Langit akan mempermudah semuanya. Baiklah, kau bisa pergi dari ruanganku. Sebelum itu mintalah sekantung koin pada Dayang Kim atas laporanmu ini.”
Kedua manik Dayang Han berbinar mendengar Ibu Suri Park bahkan langsung memberikan bayaran atas laporan yang ia sampaikan. Dengan penuh semangat, dayang muda itu mengangguk dan segera meninggalkan ruangan Ibu Suri Park, membiarkan wanita istana itu sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Hanya tinggal selangkah lagi. Sekarang aku hanya perlu membujuk dan mempersiapkan Yeol secara perlahan,” ujar Ibu Suri Park dengan seringai yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
“Dayang Kim, apa kau di luar sana?” panggil Ibu Suri Park kemudian setelah berpikir untuk memastikan langkah selanjutnya.
Pintu bergeser diikuti Dayang Kim yang bergegas masuk ke dalam ruangan. Dayang Kim terlihat siap melaksanakan apapun perintah yang akan diberikan Ibu Suri Park saat ini.
“Ye,Mama. silakan katakan perintah Anda.”
“Sampaikan pesanku segera pada Hyekyung Bubuin. Aku ingin bertemu dengannya sore ini juga.”
“Hamba akan segera menyampaikan pesan Anda,Mama.”
~THE RED MOON~
Sementara itu, suasana damai dan tenang seakan selalu menyelimuti kediaman resmi dari Pangeran Agung Hyoyeom beserta istrinya, Putri Pendamping Hyekyung. Setelah melalui masa berkabung Raja selama dua tahun, warna serta keceriaan seakan memenuhi paviliun sederhana tersebut.
Berbanding terbalik dengan keadaan Raja dan Ratu yang terus ditekan dari berbagai pihak akan hadirnya seorang putra, saat ini istri Pangeran Hyoyeom tengah mengandung buah cinta mereka yang sudah memasuki usia kehamilan dua bulan. Kebersamaan mereka selama masa berkabung ternyata benar-benar menumbuhkan rasa nyaman satu sama lain diantara Yeol dan Yeonhwa, hingga akhirnya mereka bisa melakukan penyempurnaan pernikahan.
Seperti pagi ini, Yeol diikuti Kasim Choi hendak mengunjungi ruang pribadi Yeonhwa di rumah tersebut. Tak ketinggalan, setiap pagi Yeol selalu membawakan teh bunga hangat untuk meredakan rasa mual yang di alami Yeonhwa setiap pagi. Dan seperti yang sudah Yeol duga, begitu ia tiba di ruangan pribadi istrinya, Yeonhwa seakan mengeluarkan semua isi perutnya ke dalam cawan kuningan besar.
Melihat keadaan Yeonhwa, Yeol buru-buru mendekati istrinya dan membantu meredakan mual dengan mencoba mengurut lembut bagian belakang leher wanita itu.
Menyadari adanya sentuhan lembut di lehernya, membuat Yeonhwa menoleh dan terkejut mendapati suaminya berada di ruangannya bahkan menyaksikannya tengah mengeluarkan isi perut. Hal ini jelas menerbitkan rona merah di kedua pipi Yeonhwa. Wanita itu sangat malu pada Yeol.
“S-seobangnim? Sejak kapan Anda datang?” tanya Yeonhwa sedikit terbata karena kehadiran Yeol yang tak terduga.
“Aku baru saja datang dan hendak memberikan teh bunga seperti biasanya. Tapi, sepertinya aku terlambat,” balas Yeol yang menatap sendu pada Yeonhwa yang sepertinya kewalahan menghadapi gejala mual di pagi hari sejak kehamilannya.
Hati Yeonhwa dialiri rasa hangat mendapat perhatian Yeol. Sungguh, ia tak berharap lebih dari pernikahan dekrit ini. Memiliki suami yang menghormati dan menghargainya sudah lebih dari cukup bagi Yeonhwa dalam menjalani pernikahannya. Tapi, melihat perhatian dan sikap hangat Yeol dari hari ke hari, seakan memupuk sesuatu dalam hati Yeonhwa untuk bertumbuh. Yeonhwa tak bisa menampik buncahan rasa bahagia karena memiliki Yeol sebagai suaminya.
“Aku baik-ba—huek.... huek....”
Yeonhwa tak mampu melanjutkan ucapannya karena rasa mual yang kembali menyerang setiap kali membuka suara. Melihat Yeonhwa yang kembali muntah, Yeol dengan telaten membantu Yeonhwa untuk meredakan gejala mual tersebut.
“Minumlah ini, agar kau tak lagi merasa mual,” ujar Yeol sembari menyodorkan cawan berisi teh bunga hangat ke arah Yeonhwa. Yeol berharap, istrinya itu tak lagi memuntahkan isi perutnya. Yeol sangat khawatir karena kini wajah Yeonhwa terlihat begitu pucat.
Yeonhwa menyesap perlahan cawan berisi teh bunga yang diberikan Yeol. Ajaibnya, begitu cairan hangat itu membasahi rongga mulut dan tenggorok, rasa mula yang semula mendera, sirna dalam sekejap. Rasa mual yang hilang, kembali mampu menerbitkan senyum di paras Yeonhwa.
“Terima kasih, Seobangnim. Aku sudah merasa lebih baik,” ucap Yeonhwa dengan sebelah tangan kini mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. “Sepertinya kau menyadari kehadiran ayahmu. Benar begitu, Aga?” tanya Yeonhwa berusaha mengajak bayi dalam kandungannya berkomunikasi.
Yeol tertegun setiap kali melihat istrinya tengah mengajak bayi mereka berkomunikasi. Ada aura keibuan yang terpancar secara alami dari istrinya dan hal itu membuat Yeol terpana setiap kali melihatnya. Dengan senyum yang juga ikut menghias wajah, secara spontan membuat Yeol ikut mengulurkan tangan untuk mengusap perut Yeonhwa.
Yeonhwa mengangkat wajah dan balas tersenyum, mendapati tangan kokoh Yeol ikut mengusap lembut perutnya. Pasangan itu seakan melupakan waktu dan tempat, yang keduanya saling berfokus pada satu sama lain. Mereka seakan tak peduli bahwa memamerkan kedekatan dan kehangatan seperti ini di Joseon adalah sesuatu yang dianggap tabu. Keduanya seolah tengah berkomunikasi dan saling memahami melalui ekspresi dan tatapan.
Hingga, suatu panggilan, membuat waktu diantara keduanya terhenti hingga kembali pada realita. Fokus perhatian Yeol dan Yeonhwa kini tertuju pada sumber suara yang tengah mendekat. Salah seorang pelayan laki-laki mendekati mereka setelah sebelumnya membungkuk memberi hormat.
“Mohon maaf mengganggu waktu Anda berdua, Daegam, Manim, tapi hamba perlu menyampaikan pesan dari istana. Daebi Mama ingin bertemu Bubuin Mama di istana sore ini.”
~THE RED MOON~